Prediksi Tren Perjalanan Wisata Tahun 2021

Tren Perjalanan Wisata Tahun 2021

Sejak Maret 2020, sektor pariwisata dunia seakan berhenti total. No-tourism adalah kenyataan yang terjadi pada saat itu. Banyak hotel yang tutup. Bisnis startup pariwisata menutup layanan secara permanen. Karyawan dirumahkan. Mewabahnya Corona adalah sesuatu yang tak disangka-sangka. Mereka yang sangat bergantung pada pariwisata merasa tak siap. Hampir seluruh negara melarang sarana transportasi beroperasi, termasuk juga pesawat. Masyarakatnya pun dilarang bepergian. Semua protokol untuk mencegah penyebaran penyakit menular disusun secara mendadak. Ekonomi pariwisata akhirnya lumpuh total.

Continue reading

Protokol Kesehatan di Destinasi Wisata saat Memasuki New Normal

Protokol Kesehatan objek Wisata

Kita sadari, bahwa pandemi COVID-19 telah membawa dampak buruk pada sektor pariwisata. Banyak masyarakat yang kehilangan pendapatannya. Banyak juga masyarakat yang kehilangan pekerjaannya. Perusahaan startup pariwisata pun ikut gulung tikar. Dengan dibukanya kembali objek wisata di bulan Juni mendatang, bukan berarti kita harus menutup kerugian secepat-cepatnya sehingga mengabaikan aspek lingkungan dan kesehatan manusia di destinasi wisata. Hal yang sangat penting adalah menjaga keseimbangan ekosistem dan aset bisnis wisata.


Dunia disebut akan memasuki era baru yang disebut sebagai New Normal. Kondisi ini memungkinkan adanya perubahan tatanan kehidupan manusia yang lebih menitikberatkan pada aspek kesehatan. Beradaptasi dan hidup berdampingan dengan COVID-19 bukanlah sesuatu yang mudah. Sampai vaksin belum ditemukan, bisa jadi kita akan hidup lebih lama bersama COVID-19.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun telah melakukan persiapan penerapan protokol New Normal dalam rangka pemulihan ekonomi di sektor pariwisata yang terpuruk akibat pandemi COVID-19, di mana terdapat dua program yang akan terbagi menjadi dua periode.

Pada bulan Juni-Oktober disebut sebagai gaining confidence yang mencakup persiapan dan revitalisasi destinasi dengan mempersiapkan protokol CHS (cleanliness, health, and safety), perencanaan program promosi serta bantuan terhadap para pelaku pariwisata. Sedangkan pada bulan Oktober disebut sebagai appealing, yaitu pembukaan destinasi pariwisata secara bertahap dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat, promosi, penyelenggaraan even dan MICE roadshow, serta media campaign. Harapannya, pada tahun 2021 pariwisata Indonesia bisa kembali normal.

Selain sebagai magnet utama wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara, Bali dan Yogyakarta dipilih lantaran dipandang berhasil melakukan penanganan dan menekan angka pasien positif kasus COVID-19. Selain itu, keduanya menjadi destinasi yang cukup berpengalaman dalam melakukan pemulihan ekonomi di sektor pariwisata pascabencana, baik itu dari bencana kesehatan, alam (letusan gunung api, gempa bumi), maupun terorisme (bom bali, dsb).

Sementara itu, dalam waktu dekat -tepatnya pada bulan Juni- beberapa provinsi telah terkonfirmasi akan membuka objek wisatanya. Salah satunya adalah Bali.

Pedoman transisi menuju New Normal versi WHO

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerbitkan pedoman transisi menuju New Normal atau kelaziman baru. Adapun transisi menuju kelaziman baru harus memastikan enam poin berikut ini.

  1. Pemerintah dapat membuktikan bahwa transmisi virus COVID-19 sudah dapat dikendalikan
  2. Rumah sakit atau fasilitas kesehatan mampu untuk mengidentifikasi, menguji, mengisolasi, melacak kontak, dan mengkarantina pasien COVID-19
  3. Risiko penularan wabah sudah terkendali terutama di tempat dengan kerentanan tinggi
  4. Langkah pencegahan di lingkungan kerja/umum, seperti menjaga jarak, cuci tangan, dan etika saat batuk telah diterapkan
  5. Risiko penyebaran imported case dapat dikendalikan
  6. Masyarakat ikut berperan dan terlibat dalam menjalankan protokol kesehatan transisi New Normal

Dengan dikeluarkannya kebijakan di atas, semua sektor industri termasuk juga pariwisata tengah menyusun Standar Operasional Prosedural (SOP). Bahkan menurut kami, kondisi New Normal yang terjadi di sektor pariwisata ini tidak hanya akan merubah perilaku wisatawan yang lebih peduli terhadap aspek kesehatan saja. Melainkan juga akan merubah cara pandang kita dan pemangku kepentingan untuk membangun maupun mengelola sumber daya dengan mengutamakan aspek keberlanjutannya (sustainable dan responsible). Artinya, pariwisata tidak lagi berbicara kuantitas kunjungan, tetapi tentang kualitas kunjungan.  

Protokol kesehatan di destinasi wisata

Sebelumnya, Menteri Kesehatan RI telah menerbitkan Keputusan Menteri Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlanjutan Usaha pada Situasi Pandemi. Dalam dokumen ini, telah dijabarkan hal-hal teknis yang dapat dilakukan tempat kerja dalam melakukan pengendalian penyebaran COVID-19. Namun jika dilihat dalam konteks pariwisata, reputasi destinasi/objek wisata dalam mencegah dan menanganani kasus COVID-19 sejak Februari lalu tentunya akan menjadi pertimbangan calon wisatawan sebelum mengambil keputusan.

Sebelum membuka kembali objek wisata di tengah pandemi COVID-19, sudahkah melakukan penilaian risiko atau kajian risiko? Dan bagaimana protokol kesehatan yang dapat diterapkan oleh pengelola objek wisata?

Melalui artikel ini, sebagai konsultan pengembangan wisata, kami berupaya terlibat aktif dalam memberikan rekomendasi penyusunan protokol kesehatan dan keselamatan di objek wisata. Berikut penjelasannya!

Protokol Kesehatan objek Wisata
Suasana Malioboro, Kota Yogyakarta sebelum pandemi COVID-19. Dokumentasi oleh Hannif Andy

1. Pembentukan Tim Penanganan COVID-19 di objek wisata

Sebelum membuka tempat wisata, ada baiknya pihak manajemen atau pengelola objek wisata dapat membentuk Tim Penanganan COVID-19. Tim yang telah terbentuk ini juga harus diperkuat dengan Surat Keputusan dari pihak pengelola objek wisata. Selain itu, pihak Tim Penanganan COVID-19 diharapkan dapat memantau dan memperbarui perkembangan informasi mengenai COVID-19 yang berada di zonanya.

Adapun tugas lain yang menjadi tanggung jawab Tim Penanganan COVID-19 di objek wisata adalah berkoordinasi aktif dan menjalin kemitraan dengan fasilitas kesehatan di kawasan objek wisata, baik itu Gugus Tugas Koordinasi Penanganan COVID-19 di tingkat desa/kecamatan, Dinas Kesehatan, Puskesmas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kabupaten/kota, maupun Rumah Sakit.

2. Kebersihan lingkungan destinasi adalah hal yang utama

Protokol kesehatan kedua yang harus diperhatikan adalah memastikan seluruh area objek wisata dalam keadaan bersih dan higienis. Pengelola objek wisata juga harus melakukan pembersihan fasilitas umum secara rutin menggunakan pembersih yang diperbolehkan atau desinfektan setiap 4 (empat) jam sekali. Adapun fasilitas umum yang dimaksud di antaranya adalah loket masuk, pegangan pintu atau tangga yang biasa tersentuh, peralatan kantor sekretariat bersama, toilet, maupun fasilitas umum lainnya.

Selain kebersihan fasilitas, kebersihan makanan minuman yang dijual di kawasan objek wisata haruslah diperhatikan. Penggunaan alat dapur maupun alat saji harus dipastikan bersih dan sehat. Dalam hal ini, seluruh area objek wisata beserta fasilitasnya harus dapat dipastikan bebas dari kotoran, termasuk di antaranya debu, sampah, dan bau.

Bahkan yang tidak kalah pentingnya juga adalah zero waste management di mana pengelola objek wisata harus memiliki strategi terkait pengelolaan sampah yang baik. Untuk itu, sangat penting pengelola objek wisata melakukan penataan ulang agar menghadirkan kesan yang lebih baik bagi wisatawan.

3. Menyediakan sarana cuci tangan yang bersih dan higienis

Saat ingin membuka objek wisata, hal yang harus dipastikan juga adalah penyediaan lebih banyak sarana cuci tangan yang dialiri air bersih untuk wisatawan. Lengkapi juga dengan sabun cuci tangan beserta poster edukasi cara mencuci tangan yang baik dan benar. Selain itu, pengelola wajib menyediakan handsanitizer dengan konsentrasi alkohol minimal 70% di tempat-tempat umum, seperti loket masuk, pintu masuk tempat wisata, food court, maupun tempat umum lainnya.

4. Memasang imbauan dan banner sosialisasi di tempat-tempat strategis

Pasanglah papan interpretasi yang disertai dengan imbauan maupun poster edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Menyebar ketakutan tentang bahaya COVID-19 tidaklah menyelesaikan masalah. Cobalah untuk mengemas informasi COVID-19 ke dalam bahasa yang tidak memengaruhi kenyamanan berwisata.

Misalnya adalah etika batuk dan pentingnya menutup mulut dan hidung ketika bersin, larangan meludah sembarangan, imbauan membungkus tisu bekas pakai ke dalam kantong plastik sebelum dibuang ke tempat sampah, atau imbauan untuk memperhatikan kebersihan tangan dan pakaian saat beraktivitas.

Selain banner sosialisasi, pihak pengelola diharapkan dapat memasang nomor penting darurat di dalam sekretariat maupun pusat informasi wisata. Misalnya, nomor kantor polisi, puskesmas, dan rumah sakit terdekat.

5. Membuat rekayasa engineering untuk mencegah penularan COVID-19 dengan memasang pembatas atau tabir kaca di loket pembelian tiket

Untuk mencegah penularan COVID-19 yang dibawa masuk oleh orang luar, maka pihak pengelola objek wisata dapat membuat pembatas/partisi seperti flexy glass. Pembatas ini difungsikan untuk memberikan perlindungan tambahan bagi pekerja/petugas operasional harian yang bertugas sebagai kasir, customer services, dan lainnya.

6. Manajemen pengunjung untuk memudahkan penerapan physical distancing

Hal yang tak kalah pentingnya untuk mencegah penularan COVID-19 dan mendukung keberlanjutan destinasi wisata adalah dengan melakukan pembatasan kunjungan. Selama ini kita tahu, pariwisata yang bersifat massal tidak hanya berdampak buruk terhadap kenyamanan wisatawan saja, melainkan juga terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

Untuk itu, pengelola objek wisata wajib melakukan upaya dalam meminimalkan kontak langsung antar manusia dengan melakukan pembatasan kunjungan. Pembatasan ini dapat disepakati oleh pihak pengelola dengan penggunaan sistem kuota dan reservasi secara online. Misalnya, batas maksimal wisatawan yang dapat masuk dalam satu hari adalah sebanyak 100 orang.  

Selain membatasi wisatawan yang masuk, pihak pengelola juga dapat melakukan pengaturan jumlah pekerja/petugas operasional harial yang masuk agar memudahkan penerapan physical distancing. Jika terdapat ruangan untuk urusan operasional, lakukan pengaturan meja kerja di mana tempat duduk antar petugas berjarak minimal 1 (satu) meter.

7. Membatasi jam buka/kunjungan wisatawan

Selain menerapkan sistem kuota, untuk membatasi jumlah kunjungan wisatawan, pihak pengelola dapat menetapkan jam layanan/buka-tutup objek wisata sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah setempat atau sesuai kesepakatan dari pihak manajemen/pengelola objek wisata. Misalnya, jam buka objek wisata adalah pukul 07.00–15.00 WIB.

8. Menerapkan physical distancing dalam kegiatan wisata

Penerapan physical distancing mulai diatur saat wisatawan memasuki area parkir objek wisata. Di sinilah peran petugas parkir sangat dibutuhkan untuk mengatur jarak wisatawan dalam memarkirkan kendaraannya. Selain itu, penerapan physical distancing juga berlaku saat wisatawan mengantre dan membeli tiket. Hal ini ditujukan agar wisatawan tidak berkerumun. Beri penanda dengan menggunakan garis di lantai maupun banner imbauan jaga jarak minimal 1 (satu) meter.

Physical distancing harus tetap diterapkan oleh pengelola objek wisata saat wisatawan melakukan kegiatan wisata. Caranya adalah dengan merekomendasikan wisatawan untuk menggunakan jasa pemandu wisata. Untuk setiap grupnya, idealnya pemandu objek wisata dapat membawa maksimal 6 (enam) wisatawan saja. Selain itu, sebelum memulai kegiatan wisata, pemandu diwajibkan untuk menyampaikan etika berwisata beserta protokol kesehatan yang berlaku. Dengan sistem ini, pengalaman berwisata setiap orang akan lebih maksimal.

9. Penggunaan masker

Baik pengelola maupun wisatawan, diwajibkan mengenakan masker saat melakukan aktivitas wisata. Jika terdapat wisatawan yang tidak membawa dan mengenakan masker, maka pihak pengelola dapat memberikan masker kepada wisatawan yang bersangkutan secara cuma-cuma.

10. Melakukan pengecekan (skrining) suhu menggunakan thermogun

Protokol kesehatan yang tak boleh terlewat adalah melakukan pengecekan suhu menggunakan thermogun kepada pekerja objek wisata yang bertugas maupun wisatawan yang masuk ke objek wisata. Pengecekan suhu ini baiknya dilakukan di pintu masuk tempat wisata. Hal ini ditujukan untuk memastikan bahwa wisatawan dan petugas operasional harian objek wisata tidak dalam kondisi terjangkit COVID-19. Jika terdapat wisatawan maupun petugas yang terlihat kurang sehat, pengelola tempat wisata wajib untuk melarangnya masuk.

11. Imbau wisatawan untuk membayar secara nontunai

Salah satu media penyebaran COVID-19 adalah melalui benda yang kerap kita sentuh. Milsanya adalah uang yang digunakan sebagai alat pembayaran. Untuk itu, upayakan wisatawan agar melakukan pembayaran secara nontunai.

Gunakan layanan mesin EDC (Elektronic Data Capture) atau e-money dalam bertransaksi. Jika terpaksa memegang uang, sediakan hand sanitizer dan imbau wisatawan untuk menggunakannya ketika selesai bertransaksi.

12. Jaga kondisi suhu ruangan agar tetap sehat

Bukalah pintu dan jendela ke arah ruang terbuka untuk memperlancar sirkulasi udara di dalam ruangan. Bersihkan kaca jendela dan lantai ruangan setiap dua kali sehari menggunakan pembersih kaca maupun lantai yang direkomendasikan.

13. Buatlah perencanaan dan mitigasi risiko

Kondisi New Normal tentunya juga memberi kita kesempatan untuk mengenali bagaimana mitigasi risiko dilakukan di destinasi wisata. Pahami juga bahwa sektor pariwisata dapat terpengaruh oleh faktor eksternal. Bukan hanya bencana kesehatan seperti COVID-19 yang terjadi saat ini. Melainkan juga perubahan iklim, terorisme, konflik sosial dan politik, juga bencana alam.

Untuk itu, maksimalkan peran kelembagaan objek wisata dalam menjalankan protokol kesehatan yang sudah dibuat dan disepakati. Jadikan momentum ini untuk terus berlatih menghadapi situasi-situasi darurat tak terduga. Buatlah program jangka pendek dan panjang mengenai mitigasi bencana agar SDM objek wisata semakin siap dan terlatih.

protokol kesehatan destinasi wisata di era new normal
Candi Prambanan merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini menjadi objek wisata favorit di DIY dan Jawa Tengah

14. Merekomendasikan destinasi alternatif untuk wisatawan saat objek wisata sudah memenuhi kuota

Pariwisata adalah soal berbagi kue manis agar dapat dinikmati secara bersama. Merasa cukup adalah cara terbaik agar kita tidak mengeksploitasi sumberdaya secara berlebihan.

Kami pun teringat saat berdiskusi langsung bersama I Gde Ardhika (Ketua Indonesia Sustainable Tourism Council). Pemerhati pariwisata yang pernah menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Tahun 2000-2004 ini pernah menyampaikan pandangannya terkait arah pembangunan pariwisata Indonesia.

Menurutnya, selama ini kita membangun pariwisata tanpa ada batas. Kita terus mengeksploitasi, baik sumber daya alam, manusia, dan finansial. Untuk itu, kita harus merubah pola pikir kita. Agar berkelanjutan, harus dilandasi oleh kata ‘cukup’.

Ia pun mengungkapkan bahwa apa yang kita kerjakan dan nikmati sekarang adalah titipan anak cucu di masa depan. Untuk itu, cukup menjadi batasan agar kita tahu diri dan tidak menjadi rakus.

Kita sadari, bahwa pandemi COVID-19 telah membawa dampak buruk pada sektor pariwisata. Banyak masyarakat yang berkurang pendapatannya. Banyak juga masyarakat yang kehilangan pekerjaannya. Beberapa perusahaan startup pariwisata pun ikut gulung tikar. Dengan dibukanya kembali objek wisata di bulan Juni mendatang, bukan berarti kita harus menutup kerugian secepat-cepatnya sehingga mengabaikan aspek lingkungan dan kesehatan manusia di destinasi wisata. Hal yang sangat penting adalah menjaga keseimbangan ekosistem dan aset bisnis wisata.

Untuk itu, andai objek wisata yang Anda kelola sudah memenuhi kuota, jangan memaksakan diri untuk menerima kembali wisatawan. Berbagilah dengan objek wisata lain di sekitar Anda dengan merekomendasikannya kepada wisatawan yang terlanjur datang ke objek wisata Anda.

15. Menerapkan dan mengampanyekan kembali Sapta Pesona

Terakhir, adanya kondisi New Normal ini harusnya tidak membuat pengelola objek wisata mengurangi kualitas dalam pelayanan. Justru dengan adanya transisi menuju New Normal ini, pengelola objek wisata harus memberikan pelayanan terbaiknya kepada wisatawan. Hal ini tentunya dimaksudkan agar wisatawan mendapatkan pengalaman dan kepuasan, sehingga mendapatkan kenangan sesuai dengan poin ketujuh dari Sapta Pesona.

Baik dalam kondisi New Normal maupun setelahnya, Sapta Pesona sebagai jiwa pariwisata Indonesia akan terus menjadi gerakan yang wajib dijalankan oleh pelaku wisata. Objek wisata yang kita kelola harus menjamin rasa aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan memberi kenangan bagi setiap wisatawan maupun masyarakat yang berada di sekitarnya.

Baca juga: Mempromosikan Destinasi Wisata di Tengah Pandemi COVID-19. Bagaimana Caranya?

Melalui artikel ini kami juga mengingatkan, di tengah banjirnya informasi, rasanya sangat sulit untuk dapat memilah mana berita terpercaya dan mana berita yang tidak benar. Informasi hoax tentunya dapat berakibat fatal, bahkan dapat mengancam nyawa seseorang karena tertular COVID-19. Untuk itu, gunakan informasi melalui situs-situs rujukan terpercaya saja.

Pada intinya, dari seluruh protokol yang telah disebutkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga poin penting kesuksesan protokol kesehatan objek wisata.

Pertama, tentu saja adalah keterbukaan informasi, baik dari pihak pengelola objek wisata yang bersangkutan maupun wisatawan yang akan melakukan aktivitas wisata. Jika terdapat kasus positif/reaktif di zona Anda, jangan terlalu nekat untuk membuka akses masuk objek wisata. Begitu juga wisatawan yang akan melakukan kegiatan. Berusahalah untuk jujur jika kondisi badan dirasa kurang sehat atau pernah kontak langsung dengan pasien COVID-19.

Kedua, adalah penerapan protokol kesehatan. Dengan dibuatnya protokol kesehatan yang disesuaikan dengan kondisi objek wisata, harapannya adalah dapat menekan penyebaran COVID-19.

Dan ketiga, adalah peran serta masyarakat dalam mengawasi dan menjalankan protokol yang berlaku. Seluruh protokol yang telah dibuat tersebut akan berhasil jika masyarakat, baik itu pihak pengelola objek wisata, masyarakat di sekitar objek wisata, dan wisatawan ikut serta dalam memberikan pengawasan dan menjalankan protokol kesehatan di objek wisata.

Referensi:

  • Global Guidelines to Restart Tourism. UNWTO
  • Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi
  • Priorities for Tourism Recovery. UNWTO
  • Safe Travels: Global Protocols for the New Normal. World Travel & Tourism Council

Total Station dalam Pengukuran dan Survei

Total Station dirancang untuk mengukur jarak horizontal dan kemiringan, sudut dan ketinggian horizontal dan vertikal dalam survei topografi dan pekerjaan geodetik, sebagaimana menjadi solusi survei. Hasil pengukuran dapat direkam ke dalam memori internal Total Station dan dapat ditransfer ke komputer pribadi. Kemampuan dasarnya adalah dapat melakukan pengkuran dengan rentang jarak yang jauh, cepat, dan akurat.

Continue reading

Pengembangan Pariwisata di Daerah Tertinggal

konsultan pengembangan wisata

Saat membahas pembangunan kepariwisataan Indonesia, acuan yang digunakan untuk mendalami arah pengembangan pariwisata adalah Undang-Undang RI No.10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan. Adapun dalam pelaksanaannya, dasar hukum pariwisata kita telah mengamanatkan bahwa pembangunan kepariwisataan harus terselenggara berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan (RIPPAR), yang terdiri dari RIPPAR Nasional, RIPPAR Provinsi, dan RIPPAR Kabupaten/kota.

Continue reading

Pariwisata Indonesia Pascapandemi COVID-19

Prediksi Tren Pariwisata Indonesia Pascapandemi Covid-19

Industri pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi COVID-19 dan memiliki efek berantai bagi sektor lain. Bagi Indonesia, sektor pariwisata jelas akan mendapat pukulan telak, khususnya di kuartal I-2020. Sektor terdampak lainnya adalah industri penerbangan domestik akibat penutupan beberapa rute.

Perubahan perilaku dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci bagi industri pariwisata dalam menghadapi pandemi ini. Selain itu, adanya pandemi COVID-19 ini memaksa kita untuk bisa merefleksikan dan memikirkan kembali tentang arah pembangunan pariwisata yang ideal. Bagaimana menerjemahkan arah pembangunan pariwisata yang ideal?

Continue reading

Mempromosikan Destinasi Wisata di Masa Pandemi COVID-19. Bagaimana Caranya?

Cara berpromosi wisata di tengah pandemi

Dalam publikasinya, Dcode Economic & Financial Consulting (2020) menyebutkan bahwa akibat pandemi COVID-19 ini, sektor pariwisata merupakan sektor yang paling terpuruk dibanding sektor lainnya. Sementara berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Organisasi Pariwisata Dunia atau UNWTO, kerugian yang dirasakan akibat pandemi COVID-19 ini mencapai USD 300-400 miliar. Kerugian secara ekonomi ini disebabkan karena penurunan 20 hingga 30% perjalanan wisata internasional.

Meski kondisi seperti ini pernah dirasakan sebelumnya pada tahun 2003 akibat wabah SARS, 2009 akibat krisis ekonomi global, dan 2012 akibat wabah MERS, pandemi COVID-19 ini diprediksi akan memberikan dampak yang lebih parah dibanding sebelumnya. Namun di sisi lain, adanya pandemi COVID-19 ini memberikan hikmah bagi banyak negara.

Misalnya saja di Jakarta, berlakunya kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) akibat pandemi COVID-19 pada bulan Maret lalu membuat kualitas udara ibukota menjadi lebih baik. Di India, di bulan yang sama, gugusan pegunungan Himalaya dapat terlihat sangat jelas dari jarak 200 Km setelah tertutup oleh polusi selama 30 tahun. Sementara di perairan Italia, seekor lumba-lumba terlihat berenang di sepanjang dermaga di Cagliria. Sebelumnya, lumba-lumba sangat jarang terlihat di kawasan ini.

Adanya pandemi COVID-19 yang telah mewabah ke 88 negara seakan memberikan berkah tersembunyi yang membuat banyak destinasi wisata untuk dapat ‘istirahat sejenak’ dan memberikan kesempatan kepada alam untuk memperbaiki dirinya.

Di sisi lain, banyak lembaga yang berusaha memprediksi mengenai kapan pandemi COVID-19 ini berakhir. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Singapore University of Technology and Design, diperkirakan bahwa pandemi COVID-19 di Indonesia akan berakhir 100% pada 7 Oktober 2020. Sementara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 memperkirakan pandemi ini akan berakhir pada Juni 2020.

Bagaimana Seharusnya Destinasi Wisata Berpromosi di Tengah Pandemi Covid-19?
Dampak COVID-19 pada berbagai sektor
Sumber: Dcode Economic & Financial Consulting (2020)

Seluruh prediksi di atas tentunya juga bergantung pada kebijakan pemerintah dalam menangani dan mencegah penyebaran COVID-19. Apabila pemerintah lambat dan tidak serius dalam mencegah penyebaran COVID-19, dan apabila terdapat pelonjakan kasus-kasus baru, maka prediksi waktu yang telah disebutkan di atas tentu menjadi tidak berlaku lagi.

Lantas, dengan penjelasan di atas, apakah masa pandemi ini membuat destinasi wisata berhenti melakukan promosi?

Secara garis besar, kondisi pandemi COVID-19 ini membuat seluruh pengelola destinasi maupun pelaku usaha wisata melakukan banyak cara untuk dapat bertahan hidup (surviving). Akibat pandemi ini, tak sedikit karyawan hotel yang dirumahkan sementara, bahkan terkena PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Bahkan hampir seluruh destinasi wisata menutup usahanya.

Dilansir dari Detik Travel (10/04), dalam waktu dua bulan lebih sejak COVID-19 masuk ke Indonesia, Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia (PHRI) mencatat setidaknya sebanyak 1.542 hotel yang tutup di 31 provinsi yang tersebar di Indonesia.

Melalui artikel ini, izinkan kami memberikan gambaran bagaimana nantinya pandemi COVID-19 akan merubah perilaku dan pergerakan wisatawan. Selain itu, kami juga akan memberikan panduan tentang apa saja yang dapat dilakukan oleh para pengelola destinasi wisata agar tetap eksis di tengah pandemi COVID-19 ini.

Mempromosikan Destinasi Wisata di Tengah Pandemi Covid-19
Data Kunjungan Wisatawan Mancanegara Januari-Maret 2019 dan 2020
Sumber : Ditjen Imigrasi dan BPS (diolah kembali oleh Pusat Data dan Sistem Informasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif)

Pergerakan wisatawan pascapandemi COVID-19

Dalam pandangan kami, pergerakan wisatawan pascapandemi COVID-19 ini akan dimulai dari jarak yang dekat. Kecenderungan calon wisatawan dalam memilih destinasi alam (back to nature) akan menjadi pilihan utama. Namun di sisi lain, diperkirakan juga calon wisatawan akan menghindari destinasi yang sifatnya massal/keramaian. Bahkan selama vaksin belum ditemukan dan dapat diproduksi secara massal, wisatawan tetap akan menjaga jarak dan mengikuti protokol kesehatan, seperti mengenakan masker dan membawa hand sanitizer saat berwisata.

Selanjutnya, destinasi yang mungkin akan menjadi pilihan calon wisatawan adalah destinasi yang mampu menjamin keselamatan, kesehatan, dan kenyamanan wisatawan. Dalam hal kesehatan, tentu yang dicari adalah kebersihan dan higienitas, baik dari sisi lingkungan destinasi, akomodasi, maupun ketersediaan makanan minuman.

Selain itu, adanya pandemi COVID-19 yang masuk sejak Februari lalu telah mengguncang perekonomian setiap orang. Bagi yang tidak menyimpan dan mempersiapkan dana darurat, berwisata bukanlah hal yang menjadi prioritas untuk mengobati kejenuhan bepergian. Dengan begitu, perjalanan wisata dan membelanjakan uang untuk menyewa akomodasi wisata pascapandemi tentunya hanya dapat dilakukan oleh orang-orang dengan tingkat ekonomi yang relatif tinggi.

Bagaimana Seharusnya Destinasi Wisata Berpromosi di Tengah Pandemi Covid-19?
Masyarakat menutup sementara kawasan desa wisata dan akses masuk kawasan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi lalu lintas/ keluar masuk orang luar. Dokumentasi: Hannif Andy

Strategi mempromosikan destinasi wisata di masa pandemi COVID-19

Adanya pandemi COVID-19 dan imbauan akan physical distancing ini bukan berarti membuat para pengelola destinasi wisata tidak melakukan apa-apa. Justru di masa ini, harusnya dapat menjadi momentum bagi pengelola untuk melakukan peremajaan destinasi dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

Peremajaan yang dimaksud di sini adalah usaha-usaha perawatan dan perbaikan dari sisi destinasi, akomodasi, maupun layanan agar tampak lebih up to date dan segar. Di bidang kelembagaan dan SDM, pengelola destinasi wisata dapat mengikuti pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan secara virtual atau online.

1. Tetap aktif di sosial media, sebarkan postingan positif

Dalam situasi tanggap darurat ini, rasanya bukan waktu yang tepat untuk melakukan promosi secara langsung (hard selling). Terlebih lagi jika memberikan diskon atau potongan harga agar masyarakat bersedia melakukan perjalanan wisata di masa pandemi ini.

Kami melihat bahwa penggunaan sosial media di masa pandemi ini dapat dijadikan sebagai momentum untuk membangun komunikasi maupun meningkatkan engagement yang baik antara pengelola destinasi dengan pengikut/calon wisatawan.

Kumpulkan kembali dokumentasi aktivitas wisatawan yang pernah mengunjungi destinasi Anda. Ceritakan aktivitasnya dan buatlah tulisan yang menarik. Selain itu, sebarkan postingan positif dengan mengangkat nilai-nilai lokal di destinasi.

Misalnya, tentang sosok petugas kebersihan yang ramah dan rajin. Atau tentang cerita rakyat, sejarah, dan filosofi mengenai daya tarik/destinasi wisata yang Anda kelola. Pada intinya, dalam berpromosi di sosial media, kekuatan cerita menjadi kuncinya. Storytelling juga dapat digunakan untuk meningkatkan apresiasi wisatawan terhadap kekayaan alam dan budaya di destinasi wisata.

Hal yang tak kalah pentingnya adalah selalu memperbarui status akun Google Bisnis (Google My Business) Anda. Jangan lupa untuk menutup waktu kunjungan destinasi. Buatlah jadwal untuk mengunggah cerita dan foto secara rutin supaya tetap menjadi destinasi yang dipertimbangkan oleh mesin pencari Google.

Bagaimana Seharusnya Destinasi Wisata Berpromosi di Tengah Pandemi Covid-19?
Masyarakat di Desa Wisata Bromonilan, Yogyakarta melakukan penanaman sayur dan tanaman obat keluarga di lahan kosong. Penanaman ini dilakukan sebagai bentuk usaha agar masyarakat desa wisata bisa bertahan hidup di tengah pandemi COVID-19.
Dokumentasi: Hannif Andy

2. Membuat konten kreatif

Di era digital ini, konten diibaratkan sebagai raja. Konten pun memiliki arti yang luas dan tidak hanya terpaku pada teks saja. Konten juga dapat diartikan sebagai bentuk gambar, video, atau film dokumenter pendek. Namun, bila isinya tidak sesuai, maka akan sulit diterjemahkan oleh pembaca maupun calon wisatawan.

Dalam kasus ini, kami ingin mengambil contoh tentang channel youtube Purba Production yang dikelola anak-anak muda kreatif dari destinasi wisata Gunungapi Purba Nglanggeran, Yogyakarta. Tema yang diangkat pun beragam. Mulai dari konten edukasi untuk tetap di rumah aja, maupun masalah-masalah umum yang terjadi di usia remaja dan lingkungan masyarakat. Untuk membuat Anda semakin penasaran, silakan menyaksikan sendiri konten-konten yang dipublikasikan tim Purba Production melalui YouTube.

3. Jalin komunikasi dengan wisatawan, supplier, dan masyarakat di sekitar destinasi

Dalam hal ini, betapa pentingnya destinasi wisata untuk menyediakan buku tamu, merekap, bahkan menyimpan database wisatawan yang pernah berkunjung ke tempat Anda. Database berupa nama, tempat tinggal, alamat surat elektronik (email), dan nomor telepon dapat digunakan untuk membangun komunikasi antara tuan rumah dan tamunya.

Buatlah rilis kebijakan mengenai kondisi saat ini agar wisatawan dapat mengetahui kabar dari destinasi wisata yang Anda kelola. Selain rilis mengenai kondisi destinasi wisata, Anda pun dapat mengirimkan artikel-artikel terbaru yang telah dipublikasikan melalui website.

Pada intinya, bangunlah komunikasi dengan memberikan empati, menanyakan kabar dan ikut mendoakan agar pandemi ini segera berakhir. Selain membangun komunikasi dengan wisatawan yang pernah berkunjung ke tempat Anda, bangunlah komunikasi yang baik dengan supplier maupun masyarakat di sekitar destinasi yang Anda kelola.

4. Perbaikan website dari sisi keamanan dan audit SEO

Strategi selanjutnya yang dapat dilakukan oleh pengelola destinasi wisata adalah perbaikan website. Cek kembali kualitas website Anda dari sisi kecepatan dan kemudahan aksesnya, baik saat menggunakan perangkat desktop, tablet, maupun mobile. Gunakan tools seperti GTMetrix atau Google PageSpeed Insights untuk melihat performa website yang Anda kelola.

Rapikan konten website dengan memperbanyak artikel-artikel edukasi saat berwisata. Misalnya, larangan memberi makan satwa liar saat berwisata, atau tips berkegiatan di luar ruangan di kala pandemi COVID-19. Selain itu, rutinlah melakukan publikasi artikel dengan memasukkan kata kunci relevan sesuai target pasar Anda. Jangan lupa untuk melakukan audit SEO (Search Engine Optimization) agar dapat bersaing dengan kompetitor.

5. Tinjau ulang strategi pemasaran yang telah dan akan dilakukan

Setiap organisasi yang mengelola destinasi wisata tentunya memiliki rencana program yang berkaitan dengan hal pemasaran. Di masa istirahat ini, Anda dapat mereview atau meninjau ulang strategi pemasaran yang telah dan akan dilakukan. Jika memungkinkan, libatkan mentor bisnis untuk membuat strategi baru.

Adanya pandemi COVID-19 ini juga membuat semua orang makin dekat dengan penggunaan internet dan teknologi. Banyak survei yang telah menyebutkan, bahwa calon wisatawan menginginkan proses reservasi yang mudah dan cepat. Untuk itu, jika destinasi wisata Anda belum memiliki platform digital untuk berpromosi dan sistem reservasi, segeralah untuk membuatnya.

Tren baru berwisata seperti reservasi daring, pembayaran digital, penggunaan Augmented Reality maupun Virtual Reality akan makin memperkaya pengalaman wisatawan saat mengunjungi destinasi. Untuk itu, beradaptasi dan melakukan inovasi adalah kunci agar destinasi wisata yang Anda kelola dapat bersaing di era revolusi digital ini.

6. Tinjau ulang harga dan paket wisata

Hal yang tak kalah pentingnya juga adalah meninjau ulang harga dan paket wisata yang ditawarkan. Cobalah untuk melakukan survei kecil kepada wisatawan terhadap tingkat kepuasan dan layanan di destinasi wisata. Apakah sudah sebanding dengan harga yang wisatawan keluarkan?

Selain itu, perkaya kembali paket wisata di destinasi yang Anda kelola. Galilah potensi-potensi yang belum diperkenalkan kepada wisatawan dan masukkan ke dalam perhitungan paket wisata yang akan Anda susun. Gabungkan dengan beberapa komponen seperti jasa fotografer, pemandu, kuliner, maupun akomodasi homestay di dalam paket wisata yang Anda susun.

7. Merumuskan keunikan dan branding (identitas) destinasi

Apakah destinasi wisata yang Anda kelola sudah cukup unik di mata wisatawan? Sudahkah memiliki brand? Jika belum, inilah saat yang tepat untuk menyusun dan mengonsep branding destinasi. Strategi destination branding sangatlah penting dilakukan agar destinasi wisata dapat berkembang dan dikenal oleh masyarakat luas.

Adapun definisi branding pada konteks ini adalah bagaimana destinasi wisata dapat mengelola image dan reputasi dengan cara memenuhi janji-janji (trust) kepada wisatawan. Dengan begitu, branding bukan hanya sekedar logo, slogan, maupun tagline. Namun, menyangkut janji dari destinasi wisata yang harus ditepati. Pada akhirnya, branding yang telah ditentukan akan menjadi image maupun reputasi yang akan selalu diingat dan dikenang oleh konsumen/wisatawan.

Baca juga : Pariwisata Indonesia Pascapandemi COVID-19

8. Memetakan maupun merencanakan kolaborasi antarlembaga dan perusahaan

Sektor pariwisata tidak pernah bisa berdiri dan berjalan sendiri. Ia membutuhkan kolaborasi antar dan lintas sektor agar keberlanjutan bisnis usahanya tetap berjalan. Maksimalkan peran dari lembaga di wilayah destinasi, seperti keterlibatan perangkat desa, pemerintah daerah, swasta (hotel, restauran, travel agent), akademisi, dan media. Cobalah untuk menjalin kerja sama antarperusahaan, atau dikenal dengan konsep B2B (Business to Business), seperti misalnya layanan tiketing online, transaksi digital (emoney), jasa asuransi, maupun model kerja sama lainnya.

Selain itu, buatlah saluran pemasaran atau chanel untuk memaksimalkan penjualan. Saluran pemasaran sangatlah dibutuhkan agar produk dan jasa yang ditawarkan destinasi wisata dapat sampai ke calon wisatawan.

Saluran pemasaran dapat dibentuk melalui dua cara, yaitu langsung dan tidak langsung. Saluran pemasaran langsung dapat dilakukan dengan mendatangkan wisatawan tanpa melalui perantara. Misalnya, melalui pengiriman proposal ke instansi, menyebar brosur paket harga destinasi wisata, dan lainnya. Sementara saluran pemasaran tidak langsung dapat dilakukan dengan cara melibatkan perantara untuk mendatangkan wisatawan. Misalnya, melakukan kerja sama dengan biro perjalanan wisata/travel agent, pramuwisata (guide), antar destinasi wisata, ASITA, PHRI, atau lainnya.

Itulah delapan strategi promosi destinasi wisata yang dapat Anda lakukan di tengah pandemi COVID-19 ini. Jika melihat linimasa sosial media, pascapandemi COVID-19 akan menjadi momen bagi semua orang untuk melakukan ‘balas dendam’ dengan kembali menghirup udara segar alam, berkumpul bersama keluarga di kampung halaman, dan melakukan perjalanan wisata. Untuk itu, pengelola destinasi wisata perlu memastikan bahwa produk dan jasa yang ditawarkan telah sesuai dengan harapan wisatawan.

Uji Kuat Tekan Beton Inti (Core Drill Test)

Uji Kuat Tekan Beton Inti (Core Drill Test)

Indikasi kekuatan tekan beton dalam struktur dapat ditentukan dengan menguji inti yang diambil dari strukturnya. Tujuan metode pengujian ini adalah untuk mendapatkan nilai estimasi kuat tekan beton pada struktur yang sudah dilaksanakan. Dalam periode ini, pengembangan telah terjadi sedemikian rupa sehingga sekarang dianggap sebagai metode yang kuat untuk mengevaluasi struktur beton yang memiliki hubungan dengan kekuatan dan daya tahan mereka selain dari penilaian bentuk dan kontrol kualitas beton bertulang.

Continue reading

Ingin Menggunakan Rangka Atap Baja Ringan? Perhatikan Beberapa Poin Ini!

Kelebihan rangka atap baja ringan

Atap menjadi elemen penting yang berfungsi untuk melindungi bagian dalam bangunan, termasuk juga penghuni di dalamnya. Adapun jenis bahan konstruksi rangka atap pun bermacam-macam. Mulai dari kayu, baja, maupun baja ringan.

Konstruksi rangka atap kayu merupakan jenis yang cukup populer digunakan di Indonesia. Namun belakangan ini, makin sulit untuk mendapatkan kayu yang berkualitas. Di sisi lain, kayu dengan kualitas yang standar juga memiliki harga yang cukup mahal.

Continue reading