Indonesia ‘Strategis’ Bencana

Indonesia Strategis Bencana dan Pentingnya Keandalan Bangunan Gedung

Dilansir dari laman Okezone, sejak awal Januari hingga Mei 2020, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya telah terjadi 1.296 bencana alam di Indonesia. BNPB menambahkan, bahwa dari kasus bencana alam yang terjadi di Indonesia didominasi oleh bencana hidrometeorologi yang meliputi banjir, puting beliung, tanah longsor, dan gelombang pasang.

Namun demikian, melihat dari sejarah kejadian bencana yang telah terjadi, Indonesia juga memiliki rekam jejak kejadian bencana geologis seperti halnya letusan gunung api dan gempa bumi yang tergolong cukup tinggi, baik terkait jumlah kejadian maupun dampak yang ditimbulkan.

Tahun BencanaKorban Hilang dan MeninggalKerusakan RumahKerusakan Fasilitas
201525925.247498
201652269.0002.311
201737747.4422.083
20184.231374.0003.158
201958973.7262.024
Sumber: Data diolah dari Kebencanaan BNPB per 13 Januari 2020

Di lain hal, berdasarkan  data dalam lima tahun terakhir, bencana alam yang terjadi di Indonesia menimbulkan dampak yang cukup signifikan, baik secara fisik berupa kerusakan bangunan maupun non-fisik berupa korban jiwa. Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa jumlah kerusakan dan korban jiwa yang ditimbulkan cenderung fluktuatif. Adapun dampak bencana paling besar terjadi pada tahun 2018 di mana terdapat setidaknya 4.231 jiwa korban hilang dan meninggal, 374.000 bangunan rumah mengalami kerusakan, serta 3.158 fasilitas yang rusak.

Letak yang strategis?

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, sejak tahun 2015 hingga tahun 2019, kejadian bencana di Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Hal tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan; mengapa bisa demikian?

1. Indonesia berada di pertemuan 3 lempeng tektonik aktif

Secara geografis, fakta menunjukan bahwa Indonesia terletak pada pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik aktif dunia, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Eurasia. Pertemuan inilah yang kemudian menyebabkan munculnya lebih dari 70 sesar aktif dan belasan zona (subduksi) yang tidak stabil dan terus bergerak sehingga pada suatu titik tertentu menyebabkan gempa bumi.  

Secara umum, terdapat beberapa sesar atau patahan yang dikenal aktif dan sangat berbahaya di Indonesia, di antaranya adalah Sesar Sumatra, Sesar Mentawai, Sesar Lembang, dan Sesar Palu Kuro. Selain itu, karena titik pertemuan dari ketiga lempeng tektonik tersebut terletak di laut sehingga ketika terjadi gempa yang besar dengan kedalaman dangkal dapat berpotensi menimbulkan tsunami.

bencana gempa bumi di indonesia
Gambar klasifikasi berdasarkan lokasi pada zonasi gempa yang diambil dari draft pedoman umum Perencanaan Pusat Informasi Pengembangan Permukiman dan Bangunan (PIP2B). Jika melihat gambar zonasi wilayah gempa Indonesia di bawah ini, maka tergambar bahwa terdapat 6 (enam) wilayah gempa, di mana wilayah gempa 1 (warna putih) adalah wilayah dengan kegempaan paling rendah dan wilayah gempa 6 (warna merah) dengan kegempaan paling tinggi.

2. Indonesia dilewati oleh Alpide Belt

Alpide Belt merupakan rangkaian pegunungan yang membentang di sepanjang batas selatan Lempeng Eurasia yang melewati Indonesia, tepatnya Pulau Jawa dan Sumatra yang kemudain berlanjut ke Himalaya, Mediterania, hingga Atlantik.

Alpide Belt yang juga merupakan sabuk seismik dan orogenik seringkali dikenal sebagai jalur gempa bumi paling aktif kedua di dunia. Maka tak heran jika Indonesia, khususnya Pulau Jawa dan Sumatra yang dilewati sabuk ini seringkali dilanda gempa bumi.

3. Indonesia dalam Lintasan Cincin Api (Ring of Fire) Pasifik

Cincin api merupakan sebuah jalur yang memiliki setidaknya 75% gunung api di dunia. Jalur ini membentang sejauh 40.000 km dari pantai barat Amerika Selatan, kemudian mengarah ke Amerika Utara, Kanada, Semananjung Kamtschatka, Jepang, lalu Indonesia. Hal ini secara tidak langsung mengindikasikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah gunung api terbanyak di dunia.

Benar saja. Terbukti lewat laman Republika, Wahyu Wilopo (ahli geologi UGM) meyampaikan bahwa Indonesia memiliki sebanyak 127 gunung api yang masih aktif. Kondisi tersebut pada akhirnya menyebabkan Indonesia seringkali mengalami erupsi dan gempa bumi yang diakibatkan aktivitas vulkanik dari gunung-gunung api.

4. Indonesia beriklim tropis

Di samping ketiga penyebab yang telah disebutkan sebelumnya, ternyata posisi Indonesia secara astronomis juga berpengaruh terhadap faktor kebencanaan. Indonesia yang secara astronomis terletak di antara koordinat 60 LU-110 LS menyebabkan negara Zamrud Khatulistiwa ini beriklim tropis.

Iklim tersebut tidak semerta-merta memberi dampak positif kepada Indonesia, tetapi juga berpengaruh terhadap munculnya bencana-bencana tertentu. Dilansir dari laman website Vice, Ngadisih selaku peneliti dari Pusat Studi Bencana UGM menyampaikan bahwa iklim tropis yang diperparah dengan curah hujan tinggi dapat meningkatkan peluang terjadinya bencana banjir maupun tanah longsor.

Indonesia Strategis Bencana dan Pentingnya Keandalan Bangunan Gedung

Pentingnya keandalan bangunan gedung

Mengingat kondisi geologis di Indonesia yang cukup rumit dan rentan terhadap bencana alam, setiap kelompok masyarakat haruslah memiliki pengetahuan terkait kebencanaan dan cara meminimalisir segala risikonya. Tidak hanya itu, setiap kegiatan pembangunan gedung, baik yang diperuntukan umum, pemerintah, maupun masyarakat haruslah direncanakan dengan baik.

Bangunan gedung sebagai tempat manusia melakukan kegiatannya memiliki peranan yang sangat strategis dalam pembentukan watak, perwujudan produktivitas, dan jati diri manusia yang menempatinya. Oleh karena itu, penyelenggaraan bangunan gedung perlu diatur dan dibina agar lebih tertib dan aman saat difungsikan.

Penetapan fungsi atas bangunan gedung ini dilakukan dan ditentukan oleh pemerintah daerah pada saat proses pemberian IMB (Izin Mendirikan Bangunan) berdasarkan rencana teknis yang disampaikan oleh calon pemilik bangunan gedung dan harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang diwajibkan sesuai dengan fungsi bangunan gedungnya.

Selain itu, fungsi bangunan gedung biasanya diusulkan oleh pemilik bangunan gedung dalam bentuk rencana teknis bangunan gedung dan tidak boleh bertentangan dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Kabupaten/Kota dan/atau Rencana Teknis Ruang Kota.  

Sementara itu, saat membuat perencanaan suatu konstruksi bangunan, diperlukan landasan dan analisa struktur yang berpedoman pada peraturan yang berlaku di Indonesia. Perencanaan dari suatu konstruksi bangunan gedung juga harus memenuhi persyaratan struktur bangunan gedung yang telah ditentukan, yakni kuat, kokoh dan stabil sehingga dapat digunakan sesuai fungsinya.

Jika merujuk pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung, maka setiap bangunan gedung haruslah memiliki struktur yang kuat, kokoh, dan stabil dalam memikul beban. Sedangkan untuk mencegah terjadinya keruntuhan struktur yang tidak diharapkan, pemeriksaan keandalan bangunan gedung harus dilakukan secara berkala. Pemeriksaan keandalan bangunan tersebut ditujukan untuk menjamin bangunan gedung tetap memenuhi kriteria laik fungsi sesuai dengan amanat Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung.

Dalam Pasal 16, telah disebutkan bahwa keandalan bangunan gedung adalah keadaan bangunan gedung yang memenuhi persyaratan keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan bangunan gedung sesuai dengan kebutuhan fungsi yang telah ditetapkan.

Baca juga: Siapa yang Berhak Melakukan Kajian Teknis untuk SLF?

Sertifikat Laik Fungsi (SLF) sebagai bukti bangunan gedung telah layak digunakan

Untuk meminimalkan risiko kegagalan struktur pada bangunan gedung yang kita tempati, maka diperlukan adanya suatu metode pemeriksaan keandalan bangunan gedung. Pemerintah pun telah menegaskan bahwa setiap bangunan publik harus sudah mengantongi Sertifikat Laik Fungsi (SLF).

SLF atau Sertifikat Laik Fungsi merupakan sertifikat yang diterbitkan oleh pemerintah daerah terhadap bangunan gedung yang telah selesai dibangun sesuai IMB (Izin Mendirikan Bangunan) dan telah memenuhi persyaratan kelaikan teknis sesuai fungsi bangunan berdasar hasil pemeriksaan dari instansi maupun konsultan/penyedia jasa SLF terkait.

Dengan terbitnya SLF (Sertifikat Laik Fungsi), maka nilai bangunan akan semakin meningkat sehingga ke depannya dapat menguntungkan pemilik maupun pengguna bangunan gedung. Sementara bagi pemerintah daerah, penerbitan SLF dapat digunakan untuk meningkatkan investasi dan mendorong perekonomian daerah.  

Baca juga: Panduan Mengurus SLF (Sertifikat Laik Fungsi) hingga Terbit

Referensi:

  • Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 29/PRT/M/2006 tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan Gedung
  • Undang-Undang RI No. 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung
  • Laman website nasional.republika.co.id berjudul 127 Gunung Api Aktif di Indonesia 19 di Pulau Jawa. Diakses pada 23 Juli 2020 Pukul 15.00 WIB.
  • Laman website nasional.okezone.com berjudul 1.221 Bencana Menimpa Indonesia Sepanjang 2020. Diakses pada 23 Juli 2020 Pukul 15.00 WIB.
  • Laman website vice.com berjudul Alasan Tragedi Tanah Longsor Semakin Sering Terjadi di Indonesia. Diakses pada 23 Juli 2020 Pukul 15.00 WIB.

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *