Protokol Kesehatan di Lokasi Proyek Konstruksi saat Memasuki New Normal

Protokol Kesehatan di Lokasi Proyek Konstruksi

Pandemi COVID-19 telah memengaruhi seluruh aspek kehidupan, bahkan menghentikan aktivitas perekonomian di berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia. Banyak masyarakat yang terkena dampaknya, mulai dari kehilangan pekerjaan akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga berkurangnya pendapatan. Di sisi lain, ketahanan perusahaan dalam menghadapi situasi seperti ini sangatlah menentukan nasib keberlanjutan bisnisnya. Beberapa perusahaan bahkan telah menyiapkan skenario terburuk dalam menghadapi dampak COVID-19.

Dunia juga disebut akan memasuki era baru atau New Normal. Kondisi ini memungkinkan adanya banyak perubahan tatanan kehidupan manusia yang lebih menitikberatkan pada aspek kesehatan. Pada intinya, kondisi new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal dengan memperhatikan penerapan kesehatan guna mencegah penyebaran COVID-19. 

Protokol kesehatan dalam penyelenggaraan jasa konstruksi

Sebelumnya, Menteri Kesehatan RI telah menerbitkan Keputusan Menteri Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020. Dalam dokumen ini, telah dijabarkan hal-hal teknis yang dapat dilakukan perusahaan untuk melakukan pengendalian penyebaran COVID-19. Protokol kesehatan tersebut kemudian diperkuat dengan disusulnya Instruksi Menteri PUPR Nomor 2/IN/M/2020 tentang Protokol Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) dalam Penyelenggaraan Jasa Konstruksi.

Mengacu pada dua keputusan meneri ini, kami akan merangkum sekaligus menjelaskan bagaimana protokol kesehatan yang dapat diterapkan perusahaan untuk pekerjaan yang berkaitan dengan proyek konstruksi.

1. Membentuk Satuan Tugas Pencegahan COVID-19

Dalam tahap awal, perusahaan diharuskan membentuk Satuan Tugas pencegahan COVID-19. Satuan Tugas setidaknya berjumlah paling sedikit 5 (lima) orang yang terdiri dari 1 ketua yang merangkap sebagai anggota dan 4 (empat) anggota yang dapat mewakili pemilik/penyelenggara proyek, konsultan, kontraktor, subkontraktor, maupun vendor/supplier.

Pihak Satuan Tugas yang telah dibentuk diharapkan dapat memantau dan memperbarui perkembangan informasi mengenai COVID-19 yang berada di wilayahnya. Selain itu, Satuan Tugas Pencegahan COVID-19 memiliki tanggung jawab untuk melakukan sosialisasi, edukasi, mencegah, memeriksa, maupun menangani kasus yang berkaitan dengan COVID-19.

2. Membuat kerja sama penanganan dengan fasilitas kesehatan setempat

Pihak perusahaan kontraktor bersama Satuan Tugas diharapkan dapat menjalin koordinasi dan kerja sama dengan rumah sakit atau fasilitas kesehatan setempat. Dengan dibangunnya koordinasi yang baik, jika sewaktu-waktu terdapat kasus reaktif di area kerja, pihak perusahaan dapat dengan cepat memberikan penanganan maupun merujuk pasien.

3. Menyediakan fasilitas pencegahan COVID-19

Adapun fasilitas kesehatan yang dimaksud pada poin ini adalah ruang klinik yang dilengkapi sarana kesehatan memadai, seperti tabung oksigen, pengukur suhu badan, pengukur tekanan darah, obat-obatan, nomor telepon darurat, termasuk juga petugas medis.

Selain fasilitas kesehatan pada ruang klinik, perusahaan kontraktor diwajibkan menyediakan fasilitas pencuci tangan beserta sabun, hand sanitizer dengan konsentrasi alkohol minimal 70%, tisu, dan poster edukasi mengenai tata cara mencuci tangan yang baik dan benar.

Perusahaan juga diharapkan dapat menyediakan vitamin dan nutrisi tambahan bagi setiap pekerja. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga stamina dan kekebalan tubuh pekerja dari risiko terinfeksi virus.

4. Mengedukasi karyawan dan seluruh orang untuk dapat menjaga diri dari COVID-19

Bentuk edukasi pencegahan COVID-19 dapat dilakukan dalam dua cara, yaitu melalui sosialisasi langsung dan tidak langsung. Proses sosialisasi langsung dapat dilakukan sebelum karyawan memulai pekerjaan atau dikenal dengan penyuluhan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) di pagi hari (safety morning talk) dan setelah menyelesaikan pekerjaan.

Sementara sosialisasi tidak langsung dapat dilakukan melalui pemasangan poster pada tempat yang strategis dan menyebar poster digital mengenai imbauan mencuci tangan secara teratur, menggunakan masker, menjaga jarak, maupun langkah pencegahan lainnya.

5. Skrining kesehatan karyawan secara teratur

Manajer proyek di lapangan haruslah menyediakan alat pengukur suhu atau thermogun untuk memeriksa suhu setiap pekerja maupun pengunjung yang masuk ke area lapangan. Pengecekan suhu ini sebaiknya juga dilakukan secara teratur, baik di waktu pagi, siang, dan sore. Jika terdapat pekerja atau pengunjung yang terlihat kurang sehat dan suhu tubuh tinggi, manajer proyek di lapangan wajib untuk melarangnya masuk dan membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat.

Protokol Kesehatan di Lokasi Proyek Konstruksi

6. Menjaga kebersihan dan higienitas area kerja

Banyak orang yang menghabiskan kesehariannya di tempat kerja. Untuk itu, kebersihan dan higienitas area kerja adalah hal yang utama. Di masa pandemi COVID-19 ini, pihak perusahaan harus melakukan pembersihan fasilitas secara rutin.

Lakukan penyemprotan disinfektan secara berkala. Pemilihan disinfektan juga harus sesuai dengan persyaratan perdagangan dari pemerintah setempat, termasuk peraturan-peraturan yang berlaku. Larutan disinfektan harus dipersiapkan dan digunakan sesuai instruksi dari Kementerian Kesehatan/departemen kesehatan, termasuk instruksi untuk melindungi keselamatan dan kesehatan petugas disinfeksi, penggunaan alat pelindung diri, dan tidak mencampur disinfektan-disinfektan kimia yang berbeda.

Disinfeksi harus diprioritaskan untuk permukaan-permukaan yang sering disentuh, termasuk juga permukaan meja, pegangan pintu, laptop, remote control, mouse, maupun peralatan kerja yang digunakan saat di lapangan.

Selain itu, koordinator proyek di lapangan juga harus mengatur penggunaan alat kerja masing-masing karyawan. Bila harus bergantian, pastikan peralatan kerja (sharing tools) telah dibersihkan menggunakan cairan disinfektan.

7. Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)

Adapun alat pelindung diri yang wajib dikenakan oleh setiap pekerja adalah masker dan sarung tangan. Jika memungkinkan, gunakan masker jenis N95, atau minimal masker kain yang diganti setiap empat jam sekali. Tentunya, pihak perusahaan kontraktor harus berusaha menyediakan masker bagi para pekerja.

Untuk menjaga aspek kesehatan dan kebersihan area kerja, sediakan juga tempat pembuangan tertutup untuk membuang bahan-bahan yang telah terpakai agar area kerja tetap terjaga higienisnya.  

Protokol Kesehatan di Lokasi Proyek Konstruksi

8. Melakukan physical distancing di area proyek

Virus COVID-19 dapat menular dengan mudah melalui kontak langsung maupun percikan/partikel droplet dari penderita. Risiko paparan COVID-19 menurut WHO adalah adanya kemungkinan kontak erat (di bawah 1 meter)  dengan orang-orang yang telah terinfeksi COVID-19. Untuk itu, sosialisasikan juga mengenai pengaturan jarak antarpekerja minimal satu meter pada setiap aktivitas kerja.

Pengorganisasian kerja dengan menggunakan panggilan telepon, surat elektronik, maupun rapat virtual dapat menjadi alternatif cara untuk menjalin komunikasi antarpekerja. 

9. Membatasi jumlah pekerja dan pengunjung di lokasi proyek

Physical distancing atau menjaga jarak akan semakin mudah jika jumlah orang yang ada di area proyek sedikit. Untuk itu, jumlah pekerja dan pengunjung haruslah dibatasi. Buatlah kebijakan mengenai pembatasan pengunjung maupun jadwal kerja karyawan. Meskipun pembatasan jumlah pekerja akan berdampak terhadap jadwal proyek yang telah ditentukan, keselamatan dan kesehatan lingkungan kerja tetaplah harus diutamakan.  

10. Menghentikan sementara pekerjaan jika terindikasi karyawan yang terpapar COVID-19

Menurut Instruksi Menteri PUPR Nomor 2/IN/M/2020, penyelenggaraan jasa konstruksi dapat diberhentikan sementara jika teridentifikasi:

  1. Memiliki risiko tinggi akibat lokasi proyek berada di pusat/zona penyebaran COVID-19
  2. Telah ditemukan pekerja yang positif dan/atau berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP), atau
  3. Pimpinan kementerian/lembaga/instansi/kepala daerah telah mengeluarkan peraturan untuk menghentikan kegiatan sementara akibat keadaan kahar

Baca juga: Protokol Kesehatan di Destinasi Wisata saat Memasuki New Normal

Langkah-langkah khusus untuk lokasi kerja dan pekerjaan berisiko tinggi

Selain langkah-langkah yang telah disebutkah di atas, WHO telah menerbitkan protokol kesehatan yang dapat diimplementasikan untuk kegiatan dan pekerjaan berisiko tinggi.

  1. Buatlah penilain risiko dan rencana aksi pencegahan dan mitigasi COVID-19
  2. Penggunaan masker medis, jubah sekali pakai, sarung tangan, dan perlindungan mata untuk pekerja di lingkungan yang berisiko tinggi atau berada di dalam zona merah
  3. Latih pekerja dalam praktik-praktik pencegahan dan pengendalian infeksi serta penggunaan alat pelindung diri
  4. Jangan menugaskan pekerja yang memiliki gangguan kesehatan bawaan, mengandung, atau berusia lebih dari 60 tahun untuk menjalankan tugas-tugas berisiko tinggi

Pencegahan dan penanganan COVID-19 tidak akan berjalan sukses tanpa dukungan dari kita semua, termasuk juga organisasi pekerja. Untuk itu, organisasi pekerja memiliki peran penting untuk ikut berpatisipasi dalam melakukan pencegahan penularan. Organisasi pekerja juga harus ikut mengawasi dan mengedukasi setiap pekerja agar mengikuti praktik protokol kesehatan yang telah disusun oleh perusahaan.

Pandemi COVID-19 yang melanda seluruh negara menunjukkan fungsi penting penyelenggaraan K3 untuk setiap bidang pekerjaan. Selain untuk memastikan tempat kerja aman digunakan, K3 sangat penting untuk menjamin kesehatan maupun membatasi penyebaran virus yang mudah menular. Dengan begitu, penerapan K3 di area kerja menjadi kunci dalam melindungi kesehatan pekerja dan keluarganya.

Dengan memiliki rencana mitigasi risiko darurat di tempat kerja, maka penyebaran COVID-19 dapat dengan mudah diatasi. Selain itu, setiap pengawas K3 diharapkan tetap melakukan pemantauan terhadap kondisi area kerja. Hal ini sangat diperlukan untuk memastikan bahwa langkah-langkah pengendalian COVID-19 telah dijalankan dengan baik.

Baca juga: Persyaratan Kesehatan Bangunan Gedung

Referensi:

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *