Skip to content

6 Hal yang Harus Diperhatikan saat Mendesain Interior Museum

Pernahkan Anda memasuki museum yang terkesan kuno, tidak terawat, dan tidak menarik untuk dikunjungi? Tantangan terbesar dari sebuah museum adalah menciptakan kenyamanan dalam menyampaikan pesan/pengetahuan kepada pengunjung.

Tak jarang, banyak museum yang terhitung sepi dan kesulitan mendatangkan pengunjung. Bukan karena koleksinya yang tak menarik lagi. Bukan juga karena harganya yang terbilang mahal. Lantas, apa yang menyebabkan banyak museum sepi pengunjung?

Melalui artikel ini, kami akan mengajak Anda untuk melihat bagaimana Goppion, perusahaan terkemuka asal Italia mendesain interior sebuah museum dan melestarikan peninggalan budaya terkenal dunia. Memiliki lebih dari setengah abad pengalaman dalam industri museum, Goppion telah bekerja sama dengan museum paling terkenal di beberapa benua, juga berkolaborasi dengan arsitek dan desainer terkenal di seluruh dunia.

Melalui perancangan interior ruang galeri museum yang lebih baik, harapannya sebuah museum tak lagi terkesan kuno sehingga akan makin banyak pengunjung yang datang untuk menggali setiap informasi dan pesan di dalamnya.   

Memahami makna Museum

Sesuai KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), museum memiliki arti sebagai gedung yang digunakan sebagai tempat untuk pameran tetap benda-benda yang patut mendapat perhatian umum, seperti peninggalan sejarah, seni, dan ilmu.

Sementara jika merujuk pada Peraturan Pemerintah RI Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum, yang dimaksud museum adalah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat.

Definisi tersebut menjelaskan bahwa museum berfungsi sebagai tempat mengkomunikasikan tinggalan manusia dan peradabannya kepada publik/masyarakat umum. Oleh karena itu, museum menjadi media dalam melayani masyarakat dan mengkomunikasikan benda budaya serta lingkungannya untuk kepentingan pendidikan dan rekreasi yang bersifat kesenangan.

Di sisi lain, Alberta Museums Association menyatakan bahwa setidaknya terdapat tiga dasar yang harus dipenuhi dalam sebuah ekshibisi/pameran museum, di antaranya adalah a) menarik perhatian pengunjung; b) menyampaikan makna maupun pesan kepada pengunjung; dan c) mengalihkan perhatian pengunjung cukup lama untuk dapat berkomunikasi tentang pesan yang disampaikan (AMA, 1990: 271 dalam Perdana, Andini, 2010: 35-37).

Dengan begitu, adapun instrumen untuk menyalurkan pesan museum adalah penggunaan etalase yang efektif, serta dapat melindungi koleksi dari risiko kerusakan dan menyorotnya secara estetika. Hal ini juga sejalan dengan rumusan ICOM (International Council of Museum), di mana museum memiliki 9 (sembilan) fungsi, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Pengumpulan dan pengamanan warisan alam dan budaya
  2. Dokumentasi dan penelitian ilmiah
  3. Konservasi dan preservasi
  4. Penyebaran dan pemerataan ilmu untuk umum
  5. Pengenalan dan penghayatan kesenian
  6. Pengenalan kebudayaan antardaerah dan antarbangsa
  7. Visualisasi warisan alam dan budaya
  8. Cermin pertumbuhan peradaban umat manusia, dan
  9. Pembangkit rasa takwa dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa

Bagaimana cara mendesain interior museum?

Melalui artikel ini, kami akan menjelaskan beberapa pertimbangan visual dan praktis yang diadopsi langsung melalui beberapa proyek Goppion dalam pekerjaan museum. Harapannya, dengan ditampilkan beberapa contoh kasus ilustrasi dari Goppion, Anda mendapatkan gambaran mengenai cara mendesain interior sebuah museum. Berikut pertimbangan visual dan praktisnya!

1. Sesuaikan dengan jenis objek seninya

Berbagai jenis karya yang akan ditempatkan ke dalam museum tentunya memiliki bentuk dan kerentanan yang berbeda. Misalnya, lukisan bersejarah dari seorang maestro akan membutuhkan bingkai, atau sebuah patung/seni pahat akan membutuhkan etalase vertikal. Pertimbangan-pertimbangan tersebut tentunya harus disesuaikan dengan melihat karakteristik objek dan pengaturan galeri atau museum secara keseluruhan.

Misalnya, ada beberapa patung/seni pahat yang dapat ditampilkan secara langsung tanpa harus dibatasi atau dimasukkan ke dalam etalase berupa kaca. Namun, pada kasus koleksi lain yang memiliki risiko rapuh saat tidak sengaja tersentuh oleh pengunjung, akan lebih baik dan bijak jika diletakkan ke dalam elatase kaca.

interior museum
Kasing pajangan ditandai oleh kemurnian dalam bentuk dan ukuran. Terlihat di sana banyak seni pahat/ patung yang tidak dimasukkan ke dalam etalase kaca. Gambar di atas contoh dari galeri di Museum Lensa Louvre, Perancis. (Sumber gambar: Goppion)

2. Upaya konservasi/pencegahan

Benda-benda yang masuk ke dalam museum tentunya memiliki usia yang cukup tua dan rentan terhadap kerusakan. Oleh sebab itu, setiap manajemen museum harus mengupayakan upaya penyelamatan dan pencegahan terhadap benda-benda museum yang memiliki risiko kerusakan tinggi.

Misalnya, beberapa seni pahat/patung mungkin tidak memerlukan etalase sama sekali. Namun, bagi patung yang memiliki risiko kerusakan tinggi dan mudah rapuh karena kelembapan, menyimpannya ke dalam ruang galeri kedap udara sangatlah penting. Hal yang sangat penting juga adalah melihat batas maksimal ruang galeri/bangunan museum dengan jumlah pengunjung yang datang.

3. Ergonomi dan tata letak

Pada umumnya, untuk mengatur tampilan (display) perlu memperhatikan beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah posisi peletakan karya seni (apakah horisontal atau vertikal). Misalnya pada kasus relief atau lukisan, apakah harus disematkan dan menempel pada dinding, atau dapat menggunakan freestanding? Namun, pada kasus lain yang memiliki keterbatasan ruang pamer (display), Anda dapat mengakalinya dengan memadatkan jarak antar karya seni.

Adapun teknik peletakan koleksi museum terdapat 2 (dua) jenis, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Diorama yang mampu menggambarkan suatu peristiwa tertentu dengan dilengkapi penunjang suasana serta latar berupa lukisan maupun poster. Contohnya adalah Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali), Yogyakarta
  2. Sistem ruang terbuka

4. Desain/rancangan

Desain kasing untuk sebuah etalase karya seni sangatlah penting. Dengan desain kasing yang bagus, tentunya karya seni dapat mengalihkan perhatian pengunjung. Untuk itu, setiap desainer interior museum harus berusaha sebaik mungkin mendesain etalase karya seni yang tidak terlalu biasa.

Goppion menyebutkan bahwa kasing pajangan museum harus memenuhi dua fungsi berbeda secara bersamaan, yaitu untuk melindungi maupun melestarikan objek dan untuk memungkinkan pengunjung dapat menikmatinya.

cara desain interior museum
Etalase berupa dinding besar yang tidak beraturan pada Musée des Confluences (Confluence Museum) di Lyon, Perancis. (Sumber gambar : Goppion)
cara desain interior museum
Kotak display horisontal dengan satu atau dua pintu berputar pada engsel poros pada sumbu vertikal di Museum Smithsonian, Washington D.C. (Sumber gambar : Goppion)

5. Interaktivitas

Dalam beberapa kasus, etalase interaktif dapat membuat suasana museum menjadi lebih hidup. Etalase interaktif juga dapat berfungsi sebagai media edukasi yang tepat untuk anak-anak. Misalnya di Museum Sandi dan Museum Gunungapi Merapi, Yogyakarta di mana pengunjung anak usia sekolah dapat memperoleh informasi langsung dari sebuah etalase interaktif di museum.

Konsep interaktivitas ini dapat diaplikasikan pada museum bertema pendidikan. Konsep ini juga cukup ramah terhadap pengunjung yang memiliki minat baca rendah. Untuk itu, konsep interaktif melalui visual, suara, dan interaksi langsung dapat menjadi solusi alternatifnya. Tujuannya tentu untuk menciptakan lingkungan yang interaktif dan menahan lama kunjungan wisatawan di dalam museum.

6. Papan dan jalur interpretasi

Jalur antar ruang museum harus dapat menyampaikan informasi dan membantu pengunjung untuk memahami koleksi yang dipamerkan. Penentuan jalur pada sebuah museum juga harus disesuaikan dengan runtutan peristiwa atau cerita. Jangan sampai koleksi dan etalase yang Anda tawarkan bagus, tetapi memiliki jalur yang tidak runtut atau bahkan membuat pengunjung cepat bosan.

Baca juga : Prinsip Desain Dalam Arsitektur yang Wajib Diketahui

Referensi :

  • ICOM. 2013. ICOM Code of Ethics for Museum. Paris: International Council of Museum
  • Peraturan Pemerintah RI Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum
  • Perdana, Andini. 2010. Museum La Galigo Sebagai Media Komunikasi Identitas Budaya Sulawesi Selatan. Tesis. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Program Studi Arkoeologi