Persyaratan Penerbitan SLF (Sertifikat Laik Fungsi) di Kota Pontianak

SLF Pontianak

Sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Barat, Kota Khatulistiwa-Pontianak memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan lebih lanjut, baik dari sisi industri, kepariwisataan, maupun sumber daya manusianya. Mengingat peluang investasi yang sangat tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang diprediksi terus meningkat, maka dibutuhkan pengawasan yang ketat terhadap seluruh kegiatan pembangunan, utamanya yang berkaitan dengan penyelenggaraan fungsi bangunan gedung.

Continue reading

Pentingnya SLF (Sertifikat Laik Fungsi) di Kota Pontianak

Jasa SLF Pontianak

Selain sebagai ibukota Provinsi Kalimantan Barat, Kota Pontianak juga dikenal sebagai Kota Khatulistiwa. Disebut demikian karena kota ini dilalui garis lintang nol derajat bumi. Sebagai penanda, di utara kota ini dibangun Tugu Khatulistiwa.

Kota Pontianak juga cukup dekat dengan negara tetangga Malaysia dan Singapura. Kondisi geografis demikian membuat kota ini memiliki banyak peluang investasi dan potensi yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Belum lagi dengan adanya Sungai Kapuas yang menjadi sungai terpanjang di Indonesia.

Continue reading

Protokol Kesehatan di Lokasi Proyek Konstruksi saat Memasuki New Normal

Protokol Kesehatan di Lokasi Proyek Konstruksi

Pandemi COVID-19 telah memengaruhi seluruh aspek kehidupan, bahkan menghentikan aktivitas perekonomian di berbagai negara, tidak terkecuali Indonesia. Banyak masyarakat yang terkena dampaknya, mulai dari kehilangan pekerjaan akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga berkurangnya pendapatan. Di sisi lain, ketahanan perusahaan dalam menghadapi situasi seperti ini sangatlah menentukan nasib keberlanjutan bisnisnya. Beberapa perusahaan bahkan telah menyiapkan skenario terburuk dalam menghadapi dampak COVID-19.

Continue reading

Membangun Pariwisata Bersama Masyarakat

Pembangunan Pariwisata Berbasis Masyarakat

United Nation World Tourism Organizations (UNWTO) mengakui bahwa sektor pariwisata adalah sektor unggulan dan merupakan salah satu kunci penting dalam pembangunan wilayah di suatu negara maupun peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat. Meningkatnya jumlah destinasi dan investasi pariwisata menjadikan sektor pariwisata sebagai faktor kunci dalam peningkatan devisa, penciptaan lapangan kerja, pengembangan usaha dan infrastruktur.

Continue reading

Mengukur Keberhasilan Pengembangan Desa Wisata

Merintis dan Mengembangkan Desa Wisata

Pada artikel sebelumnya, kami telah menuliskan tahapan merintis dan mengembangkan desa wisata. Memang dalam beberapa tahun ini, tren pemberdayaan masyarakat terlihat lebih banyak mengarah pada program pengembangan desa wisata. Disadari atau tidak, memang setiap desa di Indonesia memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Selain dinilai berhasil untuk menaikkan pendapatan asli desa, pengembangan desa wisata diakui dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal di desa.

Continue reading

Upaya Pembangunan Pariwisata yang Berkelanjutan

Upaya Pembangunan Pariwisata yang Berkelanjutan

Seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan pandangan atas dampak dari pengembangan pariwisata di suatu negara. Pariwisata yang dibangun dengan dasar mendapatkan keuntungan ekonomi sebesar-besarnya dan mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya dipandang memiliki dampak destruksi terhadap lingkungan di destinasi, baik yang bersifat alam maupun sosial budaya.

Continue reading

Tahapan Merintis dan Mengembangkan Desa Wisata

Merintis dan Mengembangkan Desa Wisata

Model pengembangan desa wisata dianggap menjadi salah satu agenda pembangunan nasional yang cukup berhasil dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa. Program pengembangan desa wisata juga dianggap berhasil untuk menekan urbanisasi (perpindahan) orang desa ke kota. Ke depan, kami pun melihat bahwa pengembangan desa wisata akan menjadi tren dalam pembangunan wilayah.  Tren ini merupakan respon terhadap motivasi baru dalam berwisata, terutama masyarakat barat.

Continue reading

Prediksi Tren Perjalanan Wisata Tahun 2021

Tren Perjalanan Wisata Tahun 2021

Sejak Maret 2020, sektor pariwisata dunia seakan berhenti total. No-tourism adalah kenyataan yang terjadi pada saat itu. Banyak hotel yang tutup. Bisnis startup pariwisata menutup layanan secara permanen. Karyawan dirumahkan. Mewabahnya Corona adalah sesuatu yang tak disangka-sangka. Mereka yang sangat bergantung pada pariwisata merasa tak siap. Hampir seluruh negara melarang sarana transportasi beroperasi, termasuk juga pesawat. Masyarakatnya pun dilarang bepergian. Semua protokol untuk mencegah penyebaran penyakit menular disusun secara mendadak. Ekonomi pariwisata akhirnya lumpuh total.

Continue reading

Protokol Kesehatan di Destinasi Wisata saat Memasuki New Normal

Protokol Kesehatan objek Wisata

Kita sadari, bahwa pandemi COVID-19 telah membawa dampak buruk pada sektor pariwisata. Banyak masyarakat yang kehilangan pendapatannya. Banyak juga masyarakat yang kehilangan pekerjaannya. Perusahaan startup pariwisata pun ikut gulung tikar. Dengan dibukanya kembali objek wisata di bulan Juni mendatang, bukan berarti kita harus menutup kerugian secepat-cepatnya sehingga mengabaikan aspek lingkungan dan kesehatan manusia di destinasi wisata. Hal yang sangat penting adalah menjaga keseimbangan ekosistem dan aset bisnis wisata.


Dunia disebut akan memasuki era baru yang disebut sebagai New Normal. Kondisi ini memungkinkan adanya perubahan tatanan kehidupan manusia yang lebih menitikberatkan pada aspek kesehatan. Beradaptasi dan hidup berdampingan dengan COVID-19 bukanlah sesuatu yang mudah. Sampai vaksin belum ditemukan, bisa jadi kita akan hidup lebih lama bersama COVID-19.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pun telah melakukan persiapan penerapan protokol New Normal dalam rangka pemulihan ekonomi di sektor pariwisata yang terpuruk akibat pandemi COVID-19, di mana terdapat dua program yang akan terbagi menjadi dua periode.

Pada bulan Juni-Oktober disebut sebagai gaining confidence yang mencakup persiapan dan revitalisasi destinasi dengan mempersiapkan protokol CHS (cleanliness, health, and safety), perencanaan program promosi serta bantuan terhadap para pelaku pariwisata. Sedangkan pada bulan Oktober disebut sebagai appealing, yaitu pembukaan destinasi pariwisata secara bertahap dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat, promosi, penyelenggaraan even dan MICE roadshow, serta media campaign. Harapannya, pada tahun 2021 pariwisata Indonesia bisa kembali normal.

Selain sebagai magnet utama wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara, Bali dan Yogyakarta dipilih lantaran dipandang berhasil melakukan penanganan dan menekan angka pasien positif kasus COVID-19. Selain itu, keduanya menjadi destinasi yang cukup berpengalaman dalam melakukan pemulihan ekonomi di sektor pariwisata pascabencana, baik itu dari bencana kesehatan, alam (letusan gunung api, gempa bumi), maupun terorisme (bom bali, dsb).

Sementara itu, dalam waktu dekat -tepatnya pada bulan Juni- beberapa provinsi telah terkonfirmasi akan membuka objek wisatanya. Salah satunya adalah Bali.

Pedoman transisi menuju New Normal versi WHO

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerbitkan pedoman transisi menuju New Normal atau kelaziman baru. Adapun transisi menuju kelaziman baru harus memastikan enam poin berikut ini.

  1. Pemerintah dapat membuktikan bahwa transmisi virus COVID-19 sudah dapat dikendalikan
  2. Rumah sakit atau fasilitas kesehatan mampu untuk mengidentifikasi, menguji, mengisolasi, melacak kontak, dan mengkarantina pasien COVID-19
  3. Risiko penularan wabah sudah terkendali terutama di tempat dengan kerentanan tinggi
  4. Langkah pencegahan di lingkungan kerja/umum, seperti menjaga jarak, cuci tangan, dan etika saat batuk telah diterapkan
  5. Risiko penyebaran imported case dapat dikendalikan
  6. Masyarakat ikut berperan dan terlibat dalam menjalankan protokol kesehatan transisi New Normal

Dengan dikeluarkannya kebijakan di atas, semua sektor industri termasuk juga pariwisata tengah menyusun Standar Operasional Prosedural (SOP). Bahkan menurut kami, kondisi New Normal yang terjadi di sektor pariwisata ini tidak hanya akan merubah perilaku wisatawan yang lebih peduli terhadap aspek kesehatan saja. Melainkan juga akan merubah cara pandang kita dan pemangku kepentingan untuk membangun maupun mengelola sumber daya dengan mengutamakan aspek keberlanjutannya (sustainable dan responsible). Artinya, pariwisata tidak lagi berbicara kuantitas kunjungan, tetapi tentang kualitas kunjungan.  

Protokol kesehatan di destinasi wisata

Sebelumnya, Menteri Kesehatan RI telah menerbitkan Keputusan Menteri Nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlanjutan Usaha pada Situasi Pandemi. Dalam dokumen ini, telah dijabarkan hal-hal teknis yang dapat dilakukan tempat kerja dalam melakukan pengendalian penyebaran COVID-19. Namun jika dilihat dalam konteks pariwisata, reputasi destinasi/objek wisata dalam mencegah dan menanganani kasus COVID-19 sejak Februari lalu tentunya akan menjadi pertimbangan calon wisatawan sebelum mengambil keputusan.

Sebelum membuka kembali objek wisata di tengah pandemi COVID-19, sudahkah melakukan penilaian risiko atau kajian risiko? Dan bagaimana protokol kesehatan yang dapat diterapkan oleh pengelola objek wisata?

Melalui artikel ini, sebagai konsultan pengembangan wisata, kami berupaya terlibat aktif dalam memberikan rekomendasi penyusunan protokol kesehatan dan keselamatan di objek wisata. Berikut penjelasannya!

Protokol Kesehatan objek Wisata
Suasana Malioboro, Kota Yogyakarta sebelum pandemi COVID-19. Dokumentasi oleh Hannif Andy

1. Pembentukan Tim Penanganan COVID-19 di objek wisata

Sebelum membuka tempat wisata, ada baiknya pihak manajemen atau pengelola objek wisata dapat membentuk Tim Penanganan COVID-19. Tim yang telah terbentuk ini juga harus diperkuat dengan Surat Keputusan dari pihak pengelola objek wisata. Selain itu, pihak Tim Penanganan COVID-19 diharapkan dapat memantau dan memperbarui perkembangan informasi mengenai COVID-19 yang berada di zonanya.

Adapun tugas lain yang menjadi tanggung jawab Tim Penanganan COVID-19 di objek wisata adalah berkoordinasi aktif dan menjalin kemitraan dengan fasilitas kesehatan di kawasan objek wisata, baik itu Gugus Tugas Koordinasi Penanganan COVID-19 di tingkat desa/kecamatan, Dinas Kesehatan, Puskesmas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kabupaten/kota, maupun Rumah Sakit.

2. Kebersihan lingkungan destinasi adalah hal yang utama

Protokol kesehatan kedua yang harus diperhatikan adalah memastikan seluruh area objek wisata dalam keadaan bersih dan higienis. Pengelola objek wisata juga harus melakukan pembersihan fasilitas umum secara rutin menggunakan pembersih yang diperbolehkan atau desinfektan setiap 4 (empat) jam sekali. Adapun fasilitas umum yang dimaksud di antaranya adalah loket masuk, pegangan pintu atau tangga yang biasa tersentuh, peralatan kantor sekretariat bersama, toilet, maupun fasilitas umum lainnya.

Selain kebersihan fasilitas, kebersihan makanan minuman yang dijual di kawasan objek wisata haruslah diperhatikan. Penggunaan alat dapur maupun alat saji harus dipastikan bersih dan sehat. Dalam hal ini, seluruh area objek wisata beserta fasilitasnya harus dapat dipastikan bebas dari kotoran, termasuk di antaranya debu, sampah, dan bau.

Bahkan yang tidak kalah pentingnya juga adalah zero waste management di mana pengelola objek wisata harus memiliki strategi terkait pengelolaan sampah yang baik. Untuk itu, sangat penting pengelola objek wisata melakukan penataan ulang agar menghadirkan kesan yang lebih baik bagi wisatawan.

3. Menyediakan sarana cuci tangan yang bersih dan higienis

Saat ingin membuka objek wisata, hal yang harus dipastikan juga adalah penyediaan lebih banyak sarana cuci tangan yang dialiri air bersih untuk wisatawan. Lengkapi juga dengan sabun cuci tangan beserta poster edukasi cara mencuci tangan yang baik dan benar. Selain itu, pengelola wajib menyediakan handsanitizer dengan konsentrasi alkohol minimal 70% di tempat-tempat umum, seperti loket masuk, pintu masuk tempat wisata, food court, maupun tempat umum lainnya.

4. Memasang imbauan dan banner sosialisasi di tempat-tempat strategis

Pasanglah papan interpretasi yang disertai dengan imbauan maupun poster edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Menyebar ketakutan tentang bahaya COVID-19 tidaklah menyelesaikan masalah. Cobalah untuk mengemas informasi COVID-19 ke dalam bahasa yang tidak memengaruhi kenyamanan berwisata.

Misalnya adalah etika batuk dan pentingnya menutup mulut dan hidung ketika bersin, larangan meludah sembarangan, imbauan membungkus tisu bekas pakai ke dalam kantong plastik sebelum dibuang ke tempat sampah, atau imbauan untuk memperhatikan kebersihan tangan dan pakaian saat beraktivitas.

Selain banner sosialisasi, pihak pengelola diharapkan dapat memasang nomor penting darurat di dalam sekretariat maupun pusat informasi wisata. Misalnya, nomor kantor polisi, puskesmas, dan rumah sakit terdekat.

5. Membuat rekayasa engineering untuk mencegah penularan COVID-19 dengan memasang pembatas atau tabir kaca di loket pembelian tiket

Untuk mencegah penularan COVID-19 yang dibawa masuk oleh orang luar, maka pihak pengelola objek wisata dapat membuat pembatas/partisi seperti flexy glass. Pembatas ini difungsikan untuk memberikan perlindungan tambahan bagi pekerja/petugas operasional harian yang bertugas sebagai kasir, customer services, dan lainnya.

6. Manajemen pengunjung untuk memudahkan penerapan physical distancing

Hal yang tak kalah pentingnya untuk mencegah penularan COVID-19 dan mendukung keberlanjutan destinasi wisata adalah dengan melakukan pembatasan kunjungan. Selama ini kita tahu, pariwisata yang bersifat massal tidak hanya berdampak buruk terhadap kenyamanan wisatawan saja, melainkan juga terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.

Untuk itu, pengelola objek wisata wajib melakukan upaya dalam meminimalkan kontak langsung antar manusia dengan melakukan pembatasan kunjungan. Pembatasan ini dapat disepakati oleh pihak pengelola dengan penggunaan sistem kuota dan reservasi secara online. Misalnya, batas maksimal wisatawan yang dapat masuk dalam satu hari adalah sebanyak 100 orang.  

Selain membatasi wisatawan yang masuk, pihak pengelola juga dapat melakukan pengaturan jumlah pekerja/petugas operasional harial yang masuk agar memudahkan penerapan physical distancing. Jika terdapat ruangan untuk urusan operasional, lakukan pengaturan meja kerja di mana tempat duduk antar petugas berjarak minimal 1 (satu) meter.

7. Membatasi jam buka/kunjungan wisatawan

Selain menerapkan sistem kuota, untuk membatasi jumlah kunjungan wisatawan, pihak pengelola dapat menetapkan jam layanan/buka-tutup objek wisata sesuai dengan kebijakan pemerintah daerah setempat atau sesuai kesepakatan dari pihak manajemen/pengelola objek wisata. Misalnya, jam buka objek wisata adalah pukul 07.00–15.00 WIB.

8. Menerapkan physical distancing dalam kegiatan wisata

Penerapan physical distancing mulai diatur saat wisatawan memasuki area parkir objek wisata. Di sinilah peran petugas parkir sangat dibutuhkan untuk mengatur jarak wisatawan dalam memarkirkan kendaraannya. Selain itu, penerapan physical distancing juga berlaku saat wisatawan mengantre dan membeli tiket. Hal ini ditujukan agar wisatawan tidak berkerumun. Beri penanda dengan menggunakan garis di lantai maupun banner imbauan jaga jarak minimal 1 (satu) meter.

Physical distancing harus tetap diterapkan oleh pengelola objek wisata saat wisatawan melakukan kegiatan wisata. Caranya adalah dengan merekomendasikan wisatawan untuk menggunakan jasa pemandu wisata. Untuk setiap grupnya, idealnya pemandu objek wisata dapat membawa maksimal 6 (enam) wisatawan saja. Selain itu, sebelum memulai kegiatan wisata, pemandu diwajibkan untuk menyampaikan etika berwisata beserta protokol kesehatan yang berlaku. Dengan sistem ini, pengalaman berwisata setiap orang akan lebih maksimal.

9. Penggunaan masker

Baik pengelola maupun wisatawan, diwajibkan mengenakan masker saat melakukan aktivitas wisata. Jika terdapat wisatawan yang tidak membawa dan mengenakan masker, maka pihak pengelola dapat memberikan masker kepada wisatawan yang bersangkutan secara cuma-cuma.

10. Melakukan pengecekan (skrining) suhu menggunakan thermogun

Protokol kesehatan yang tak boleh terlewat adalah melakukan pengecekan suhu menggunakan thermogun kepada pekerja objek wisata yang bertugas maupun wisatawan yang masuk ke objek wisata. Pengecekan suhu ini baiknya dilakukan di pintu masuk tempat wisata. Hal ini ditujukan untuk memastikan bahwa wisatawan dan petugas operasional harian objek wisata tidak dalam kondisi terjangkit COVID-19. Jika terdapat wisatawan maupun petugas yang terlihat kurang sehat, pengelola tempat wisata wajib untuk melarangnya masuk.

11. Imbau wisatawan untuk membayar secara nontunai

Salah satu media penyebaran COVID-19 adalah melalui benda yang kerap kita sentuh. Milsanya adalah uang yang digunakan sebagai alat pembayaran. Untuk itu, upayakan wisatawan agar melakukan pembayaran secara nontunai.

Gunakan layanan mesin EDC (Elektronic Data Capture) atau e-money dalam bertransaksi. Jika terpaksa memegang uang, sediakan hand sanitizer dan imbau wisatawan untuk menggunakannya ketika selesai bertransaksi.

12. Jaga kondisi suhu ruangan agar tetap sehat

Bukalah pintu dan jendela ke arah ruang terbuka untuk memperlancar sirkulasi udara di dalam ruangan. Bersihkan kaca jendela dan lantai ruangan setiap dua kali sehari menggunakan pembersih kaca maupun lantai yang direkomendasikan.

13. Buatlah perencanaan dan mitigasi risiko

Kondisi New Normal tentunya juga memberi kita kesempatan untuk mengenali bagaimana mitigasi risiko dilakukan di destinasi wisata. Pahami juga bahwa sektor pariwisata dapat terpengaruh oleh faktor eksternal. Bukan hanya bencana kesehatan seperti COVID-19 yang terjadi saat ini. Melainkan juga perubahan iklim, terorisme, konflik sosial dan politik, juga bencana alam.

Untuk itu, maksimalkan peran kelembagaan objek wisata dalam menjalankan protokol kesehatan yang sudah dibuat dan disepakati. Jadikan momentum ini untuk terus berlatih menghadapi situasi-situasi darurat tak terduga. Buatlah program jangka pendek dan panjang mengenai mitigasi bencana agar SDM objek wisata semakin siap dan terlatih.

protokol kesehatan destinasi wisata di era new normal
Candi Prambanan merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada abad ke-9 masehi. Candi ini menjadi objek wisata favorit di DIY dan Jawa Tengah

14. Merekomendasikan destinasi alternatif untuk wisatawan saat objek wisata sudah memenuhi kuota

Pariwisata adalah soal berbagi kue manis agar dapat dinikmati secara bersama. Merasa cukup adalah cara terbaik agar kita tidak mengeksploitasi sumberdaya secara berlebihan.

Kami pun teringat saat berdiskusi langsung bersama I Gde Ardhika (Ketua Indonesia Sustainable Tourism Council). Pemerhati pariwisata yang pernah menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Tahun 2000-2004 ini pernah menyampaikan pandangannya terkait arah pembangunan pariwisata Indonesia.

Menurutnya, selama ini kita membangun pariwisata tanpa ada batas. Kita terus mengeksploitasi, baik sumber daya alam, manusia, dan finansial. Untuk itu, kita harus merubah pola pikir kita. Agar berkelanjutan, harus dilandasi oleh kata ‘cukup’.

Ia pun mengungkapkan bahwa apa yang kita kerjakan dan nikmati sekarang adalah titipan anak cucu di masa depan. Untuk itu, cukup menjadi batasan agar kita tahu diri dan tidak menjadi rakus.

Kita sadari, bahwa pandemi COVID-19 telah membawa dampak buruk pada sektor pariwisata. Banyak masyarakat yang berkurang pendapatannya. Banyak juga masyarakat yang kehilangan pekerjaannya. Beberapa perusahaan startup pariwisata pun ikut gulung tikar. Dengan dibukanya kembali objek wisata di bulan Juni mendatang, bukan berarti kita harus menutup kerugian secepat-cepatnya sehingga mengabaikan aspek lingkungan dan kesehatan manusia di destinasi wisata. Hal yang sangat penting adalah menjaga keseimbangan ekosistem dan aset bisnis wisata.

Untuk itu, andai objek wisata yang Anda kelola sudah memenuhi kuota, jangan memaksakan diri untuk menerima kembali wisatawan. Berbagilah dengan objek wisata lain di sekitar Anda dengan merekomendasikannya kepada wisatawan yang terlanjur datang ke objek wisata Anda.

15. Menerapkan dan mengampanyekan kembali Sapta Pesona

Terakhir, adanya kondisi New Normal ini harusnya tidak membuat pengelola objek wisata mengurangi kualitas dalam pelayanan. Justru dengan adanya transisi menuju New Normal ini, pengelola objek wisata harus memberikan pelayanan terbaiknya kepada wisatawan. Hal ini tentunya dimaksudkan agar wisatawan mendapatkan pengalaman dan kepuasan, sehingga mendapatkan kenangan sesuai dengan poin ketujuh dari Sapta Pesona.

Baik dalam kondisi New Normal maupun setelahnya, Sapta Pesona sebagai jiwa pariwisata Indonesia akan terus menjadi gerakan yang wajib dijalankan oleh pelaku wisata. Objek wisata yang kita kelola harus menjamin rasa aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan memberi kenangan bagi setiap wisatawan maupun masyarakat yang berada di sekitarnya.

Baca juga: Mempromosikan Destinasi Wisata di Tengah Pandemi COVID-19. Bagaimana Caranya?

Melalui artikel ini kami juga mengingatkan, di tengah banjirnya informasi, rasanya sangat sulit untuk dapat memilah mana berita terpercaya dan mana berita yang tidak benar. Informasi hoax tentunya dapat berakibat fatal, bahkan dapat mengancam nyawa seseorang karena tertular COVID-19. Untuk itu, gunakan informasi melalui situs-situs rujukan terpercaya saja.

Pada intinya, dari seluruh protokol yang telah disebutkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga poin penting kesuksesan protokol kesehatan objek wisata.

Pertama, tentu saja adalah keterbukaan informasi, baik dari pihak pengelola objek wisata yang bersangkutan maupun wisatawan yang akan melakukan aktivitas wisata. Jika terdapat kasus positif/reaktif di zona Anda, jangan terlalu nekat untuk membuka akses masuk objek wisata. Begitu juga wisatawan yang akan melakukan kegiatan. Berusahalah untuk jujur jika kondisi badan dirasa kurang sehat atau pernah kontak langsung dengan pasien COVID-19.

Kedua, adalah penerapan protokol kesehatan. Dengan dibuatnya protokol kesehatan yang disesuaikan dengan kondisi objek wisata, harapannya adalah dapat menekan penyebaran COVID-19.

Dan ketiga, adalah peran serta masyarakat dalam mengawasi dan menjalankan protokol yang berlaku. Seluruh protokol yang telah dibuat tersebut akan berhasil jika masyarakat, baik itu pihak pengelola objek wisata, masyarakat di sekitar objek wisata, dan wisatawan ikut serta dalam memberikan pengawasan dan menjalankan protokol kesehatan di objek wisata.

Referensi:

  • Global Guidelines to Restart Tourism. UNWTO
  • Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor Hk.01.07/Menkes/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi
  • Priorities for Tourism Recovery. UNWTO
  • Safe Travels: Global Protocols for the New Normal. World Travel & Tourism Council