Tahun ke tahun, masa ke masa konsep arsitektur memang berkembang semakin pesat. Banyak pilihan yang dapat diaplikasikan untuk bangunan dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan serta selera. Salah satu konsep arsitektur yang berkembang di era modern dan cukup dikenal di kalangan masyarakat adalah arsitektur industrial.
Selain arsitektur gaya Eropa, arsitektur industrial memang menjadi satu dari sekian banyaknya konsep yang cukup diminati dan dijadikan sebagai pilihan untuk diaplikasikan pada hunian. Ini tentu bukan tanpa alasan, karena arsitektur industrial mempunyai keunikan dan nilai estetikanya tersendiri.
Arsitektur industrial bisa dikatakan sebagai salah satu konsep yang mengusung penggabungan antara sederhana dan kuno. Dimana konsep utama dari gaya arsitektur satu ini adalah dengan memanfaatkan kembali barang-barang bekas yang sekiranya masih bisa digunakan sebagai furniture.
Selain itu, gaya arsitektur industrial juga identik dengan bangunannya yang memberikan tampilan dengan kesan setengah jadi atau kita menyebutnya dengan istilah unfinished. Sehingga tampilan detail arsitekturnya dibiarkan terbuka dengan menampilkan material pembuatanya.
Misalnya seperti penggunaan batu-bata sebagai dinding rumah yang dibiarkan terbuka tanpa plester. Meskipun sekilas tampilannya tampak suram, namun justru hal inilah yang akan menampilkan sisi unik, modern, dan penuh estetika jika berhasil disusun dengan tepat.

Sekilas Tentang Sejarah Arsitektur Industrial
Konsep arsitektur industrial sendiri pertama kali menyebar pada tahun 1950 dan pertama kali dikenalkan berasal dari Benua Biru, Eropa. Gaya arsitektur ini pertama kali muncul seiring dengan banyaknya pabrik bekas di tahun tersebut yang sudah tidak dioperasionalkan kembali dan berujung terbengkalai.
Nah, untuk memanfaatkan banyaknya pabrik terbengkalai pada saat ini, maka muncullah ide untuk menciptakan hunian sederhana. Dengan cara merenovasi pabrik menjadi sebuah bangunan layak huni yang nyaman digunakan dan tanpa menghilangkan unsur asli dari bangunan aslinya.
Jadi, karena itulah mengapa bangunan dengan mengusung konsep arsitektur industrial ini memiliki kesan seperti bangunan yang belum selesai dan apa adanya. Ya, karena bangunan baru dibuat dengan tetap mempertahankan karakter aslinya.
Karena keunikannya ini, gaya industrial menjadi sebuah konsep arsitektur yang begitu diminati khususnya bagi mereka yang menyukai konsep unik dan penuh nilai seni di dalamnya. Baik itu untuk hunian pribadi, restoran, cafe, hingga co-working space.
Apa Saja Karakteristik Arsitektur Industrial?
Setiap gaya arsitektur tentu memiliki karakteristiknya masing-masing, dan itulah yang akhirnya menjadi pembeda satu gaya dengan gaya lainnya. Tak terkecuali dengan konsep arsitektur industrial ini yang juga kental akan karakteristik uniknya.
Selain konsepnya yang unik, gaya industrial juga memiliki beberapa karakteristik khusus yang membedakannya dari konsep arsitektur lainnya. Apa saja? Berikut penjelasannya.
1. Memanfaatkan Material Upcycle dan Recycle
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa ciri utama dari gaya industrial adalah penggunaan material upcycle dan recycle. Apa perbedaan keduanya? Upcycle artinya barang bekas yang dimodifikasi atau dikombinasikan dengan barang baru, sehingga menciptakan fungsi yang baru pula.
Sementara recycle adalah proses mendaur ulang barang-barang bekas agar bisa dimanfaatkan kembali secara layak. Penggunaan material seperti inilah yang semakin menambah kesan gloomy pada bangunan dengan konsep arsitektur industrial.
Di samping itu, penggunaan kedua material tersebut juga dapat membuat kita menjadi lebih hemat karena bisa memanfaatkan barang-barang yang sudah ada sebelumnya tanpa membeli baru.
2. Minim Proses Finishing
Selain penggunaan barang bekas, karakteristik khas dari gaya industrial juga terletak pada bangunannya yang minim proses finishing. Seperti penggunaan batu-bata misalnya. Kita tahu bahwa sebagian besar bangunan akan memoles batu-bata menggunakan plester dari semen.
Kemudian mengecatnya dengan warna-warna cat dinding favorit. Namun beda halnya dengan konsep industrial ini, karena proses finishing dengan pemolesan semen akan dihilangkan. Sehingga membuat unsur utama batu-bata merah terekspos dengan sempurna.
Dinding yang minim finishing dan dibiarkan apa adanya inilah yang menciptakan kesan khas industrial kusam, usang, namun terlihat sangat cantik di satu waktu yang sama. Atau bisa dikatakan, keindahan dari industrial ini effortless namun bernilai seni tinggi.

3. Sistem Bangunan Terekspose
Karakteristik gaya industrial selanjutnya adalah sistem bangunan yang dibiarkan terekspose. Dengan kata lain, banyak elemen pada bangunan industrial yang sengaja dibiarkan “terlihat”. Namun meskipun begitu, tidak menjadikannya terlihat berantakan justru sebaliknya.
Dengan penataan sedemikian rupa, elemen yang sengaja dibiarkan “terlihat” itu justru tampak rapi dan terkonsep. Biasanya elemen-elemen yang dibiarkan terekspose pada gaya ini seperti pendingin udara, ventilasi, saluran listrik, hingga pipa air.
Konsep seperti ini tentu sungguh berbeda dengan konsep arsitektur lain karena biasanya elemen tersebut akan di sembunyi di balik dinding atau lainnya. Dimana konsep ekspose ini mampu menambah kesan bangunan seperti pabrik tua khas Eropa.
Namun, satu hal yang perlu diperhatikan adalah tidak semua elemen sistem bangunan gaya industrial bisa diekspose. Tetap harus tahu mana elemen yang layak diperlihatkan dan mana yang tidak.
4. Penggunaan Warna Monokrom
Konsep arsitektur industrial juga identik dengan penggunaan elemen-elemen alam, seperti batu-bata, kayu, logam dan lain sebagainya. Dimana elemen-elemen tersebut disajikan secara apa adanya dengan warna aslinya yang monokrom.
Nah, warna monokrom inilah yang juga menjadi salah satu karakteristik dari konsep industrial. Jadi, rasanya tidak heran apabila sebagian besar interior atau furniture pada bangunan dengan gaya industrial identik dengan penggunaan warna-warna monokrom dan warna earth-tone.
5. Elemen Lantai
Terakhir yang juga identik dengan karakteristik bangunan industrial adalah penggunaan elemen lainnya yang unik. Lantai granit, marmer, atau keramik adalah beberapa jenis lantai yang memang seringkali dipilih untuk menyempurnakan tampilan interior bangunan.
Tetapi pada gaya industrial, keberadaan lantai tersebut justru dapat mengurangi nilai-nilai keusangan dan kesederhanaannya. Untuk lantai, umumnya bangunan industrial memanfaatkan lantai beton, semen, acian, atau parquet. Unsur lantai tersebut nyatanya dapat meningkatkan kesan industrial yang sangat khas.
Agar terlihat lebih manis dan tidak kusam, kombinasikan bersama dengan warna-warna monokrom pada elemen bangunan lainnya.

Kesimpulan
Itu dia informasi mengenai konsep arsitektur industrial, mulai dari pengertian, sejarah, hingga beberapa karakteristik khas dari gaya tersebut. Semoga dengan informasi yang diberikan dapat memberikan insight bagi Anda yang ingin menerapkan konsep industrial untuk hunian atau bangunan lainnya.
Membuat hunian atau bangunan lain dengan konsep industrial mungkin bisa dilakukan dengan mudah. Tetapi, akan menjadi sangat sulit apabila tidak dibarengi dengan adanya perencanaan terlebih dahulu. Karena sejatinya perencanaan adalah modal awal untuk mewujudkan bangunan impian.
Oleh karena itu, apabila Anda berniat untuk membangun sebuah bangunan dengan konsep arsitektur industrial pastikan menggunakan jasa desain dan perencanaan yang profesional. Karena dengan bantuannya, kesempatan Anda dalam mewujudkan bangunan industrial impian dapat direalisasikan dengan lebih mudah.
Pastikan untuk memilih jasa desain dan perencanaan yang sudah jelas reputasi dan track recordnya agar benar-benar terbantu!