Green Architecture: Konsep Desain Bangunan yang Ramah Lingkungan

Green Architecture : Konsep Desain Bangunan yang Ramah Lingkungan

Perubahan iklim global terus memperlihatkan kondisi yang mengkhawatirkan dan menjadi topik permasalahan yang hangat diperbincangkan. Meningkatnya suhu global, perubahan cuaca dan curah hujan selama beberapa dekade adalah salah satu buktinya. Bahkan, lapisan es di kutub utara dan selatan bumi mencair lebih cepat.

Pemanasan global adalah hal yang nyata. Dampak perubahan cuaca dan pemanasan global terhadap manusia dapat dirasakan di berbagai sektor kehidupan. Bahkan sesungguhnya, manusia sangat bergantung pada iklim bumi.

Natural Resource Defence Council menjelaskan bahwa pemanasan global atau global warming pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan suhu rata-rata permukaan bumi akibat konsentrasi gas rumah kaca yang berlebih.

Sementara penggunaan efek rumah kaca merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan bumi yang memiliki efek seperti rumah kaca di mana panas matahari terperangkap di dalam atmosfir bumi.

Melihat fenomena di atas, maka bencana alam dapat saja terjadi kapan saja. Banjir, tanah longsor, angin kencang, kebakaran hutan, gelombang laut yang tinggi, kekeringan adalah bencana alam yang dapat terjadi sewaktu-waktu, tanpa bisa diprediksi secara akurat.

Kondisi bumi yang semakin sensitif ini juga diakibatkan dengan ulah manusia yang apatis terhadap alam. Eksploitasi secara berlebih, pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan, maupun bentuk perlakuan buruk lainnya. Untuk itu, kita perlu peduli akan risiko dari pemanasan global.

Arsitektur Hijau
Banjir, tanah longsor, angin kencang, kebakaran hutan, gelombang laut yang tinggi, kekeringan adalah bencana alam yang dapat terjadi sewaktu-waktu, tanpa bisa diprediksi secara akurat.

Di samping faktor di atas, efek pemanasan global juga disebabkan karena faktor industri, transportasi, dan bangunan. Roaf, S (2005) dalam Nugroho, Agung Cahyo (2011:12), menyebutkan bahwa proyek bangunan setidaknya mengkonsumsi 32% dari sumber daya alam di bumi dan menghasilkan 40% sampah dan 40% pencemaran udara.

Lantas, di mana peran arsitektur dalam melakukan pencegahan dan mitigasi bencana akibat pemanasan global? Selain dengan mengurangi penggunaan energi fosil, hemat penggunaan listrik, dan ikut melestarikan lingkungan alam, seorang arsitektur juga harus memiliki sifat kehati-hatian.

Membaca dan mengetahui regulasi mengenai tata ruang wilayah sangatlah penting untuk merumuskan maupun mendesain proyek pembangunan. Jika lokasi pembangunan tidak sesuai dengan peruntukan tata ruangnya, maka ada baiknya untuk tidak memaksakan diri.

Solusi berikutnya tentu dengan merekomendasikan masyarakat untuk menggunakan desain yang ramah lingkungan. Dalam ilmu arsitektur, konsep ini juga dikenal dengan Sustainable Architecture atau arsitektur berkelanjutan.

Arsitektur berkelanjutan

Arsitektur berkelanjutan merupakan konsep terapan dalam bidang arsitektur untuk mendukung konsep pembangunan berkelanjutan, yakni konsep yang berusaha meminimalkan dampak negatif lingkungan bangunan dengan melakukan efisiensi dan moderasi dalam penggunaan bahan, energi, maupun ruang pengembangan dan ekosistem secara luas.

Sementara menurut UIA (International Union of Architect) pada Deklarassi Copenhagen yang dilaksanakan pada 7 Desember 2009, menyebutkan bahwa konsep desain arsitektur yang berkelanjutan ini didefinisikan ke dalam 9 (sembilan) butir, di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Konsep arsitektur berkelanjutan dimulai dari tahapan awal proyek dan pelibatan komitmen seluruh pihak, baik itu klien, desainer, insinyur, pemerintah, kontraktor, pemilik, pengguna, maupun komunitas/ masyarakat di sekitar lokasi pembangunan
  2. Mengintergasikan aspek konstruksi dan penggunaannya berdasarkan Full Life Cycle Analysis and Management (analisa dan manajemen dari daur hidup bangunan)
  3. Harus mengoptimalkan efisiensi melalui desain. Setiap penggunaan energi terbarukan, teknologi modern dan ramah lingkungan harus diintegrasikan dalam praktik penyusunan konsep proyek
  4. Harus menyadari bahwa proyek-proyek arsitektur dan perencanaan merupakan sistem interaktif yang kompleks dan terkait dengan lingkungan sekitar yang lebih luas dan mencakup warisan sejarah, kebudayaan, dan nilai-nilai sosial masyarakatnya
  5. Harus mencari material bangunan yang sehat (healthy materials) untuk menciptakan bangunan yang sehat, tata guna lahan yang tepat, dan kesan estetik yang mengispirasi, meyakinkan, dan memuliakan
  6. Harus bertujuan mengurangi carbon imprints (jejak karbon), penggunaan material berbahaya dan dampak kegiatan manusia, khususnya dalam lingkup lingkungan binaan terhadap lingkungan
  7. Harus mengusahakan dan meningkatkan kualitas hidup, mempromosikan kesetaraan baik lokal maupun global, memajukan kesejahteraan ekonomi, serta menyediakan kesempatan untuk kegiatan bersama masyarakat (pemberdayaan masyarakat)
  8. Sistem desa-kota yang terintegrasi, saling terkait untuk keberlangsungan hidup (air bersih, udara, makanan, tempat tinggal, pekerjaan, pendidikan, kesehatan, kebudayaan, dan lainnya)
  9. Mendukung keberagaman budaya sebagai sumber pertukaran, penemuan, dan kreativitas

Pada intinya, arah dari arsitektur berkelanjutan ini adalah untuk memastikan bahwa tindakan dan keputusan yang kita ambil saat ini tidak menghalangi peluang generasi mendatang, serta memberi kontribusi positif untuk lingkungan sosial di dalamnya.

Pendekatan lain yang sejalan dengan konsep arsitektur berkelanjutan adalah arsitektur hijau. Disebut arsitektur hijau (green architecture) karena pendekatan desainnya didasarkan atas prinsip-prinsip ekologi dan konservasi lingkungan.

Apa tujuan dari konsep arsitektur hijau (green architecture)?

Pertama, untuk meminimalkan penggunaan energi dan sumberdaya, terutama yang berasal dari sumberdaya yang tidak dapat diperbarui, misalnya bahan tambang. Kedua, meminimalkan emisi (buangan) yang berasal dari proses konstruksi, pemakaian, maupun pembongkaran bangunan.

Konsep desain arsitektur hijau (green architecture) dapat mengadopsi dari rumah tradisional yang sesungguhnya mencerminkan cara masyarakat dalam membangun rumah dan hidup bersama-sama dengan alam.

Baca juga : Prinsip Desain Dalam Arsitektur yang Wajib Diketahui

Prinsip Arsitektur Hijau (Green Architecture)

Lalu, bagaimana kita tahu jika desain bangunan telah mengadopsi prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan maupun arsitektur hijau (green architecture)?

Adapun yang menjadi rujukan dalam mewujudukan konsep arsitektur hijau ini adalah LEED (Leadership in Energy and Environmental Design) yang dikeluarkan oleh USGBC (United States Green Building Council) pada tahun 1988.

Adapun parameter arsitektur hijau menurut LEED adalah sebagai berikut.

  1. Tapak/ lokasi yang berkelanjutan (sustainable site), meliputi pemilihan lokasi, kepadatan dan konektivitas dengan lingkungan, transportasi alternatif, pengembangan tapak, dan pengurangan polusi
  2. Efisiensi air (water efficiency), meliputi pengurangan penggunaan air, penataan air yang efisien, dan inovasi teknologi pengelolaan air limbah
  3. Energi dan atmosfir (energy and atmosphere), meliputi optimalisasi kinerja energi, sistem energi terbarukan pada tapak, manajemen AC, dan penggunaan energi ramah lingkungan
  4. Material dan sumberdaya (material and resource), meliputi konservasi bangunan, manajemen pengelolaan sampah konstruksi, penggunaan ulang material, daur ulang, dan penggunaan kayu yang legal
  5. Kualitas lingkungan ruang dalam (indoor environmental quality), meliputi optimalisasi ventilasi, manajemen kualitas udara, material dengan emisi yang rendah, sistem yang terkontrol untuk pencahayaan dan penghawaan buatan, optimalisasi pencahayaan alami dan pemandangan luar
  6. Inovasi perancangan (innovation in design)
  7. Prioritas regional (regional priority)
Konsep Arsitektur Hijau
Penggunaan energi terbarukan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Kampanye go green dan dekat dengan alam terus digalakkan oleh pemerhati lingkungan, tak terkecuali oleh mereka yang berprofesi di bidang arsitektur.

Sustainable Architecture dan Green Architecture menjadi sebuah konsep terapan yang ideal dalam bidang arsitektur untuk mendukung konsep berkelanjutan dan berusaha meminimalkan pengaruh buruk terhadap lingkungan alam maupun manusia. Untuk itu, konsep green architecture atau arsitektur hijau sangat diperlukan untuk menjawab tantangan dan persoalan lingkungan yang kondisinya semakin buruk.

Lantas, bagaimana jika sudah terlanjur melakukan pembangunan dan menempati sebuah bangunan? Kehadiran Ruang Terbuka Hijau dapat menjadi salah satu alternatifnya. Selain memberikan estetika pada bangunan dan memperbaiki iklim di lingkungan tempat tinggal, kehadiran Ruang Terbuka Hijau dapat mengendalikan emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari bangunan rumah kita.

Konsep Arsitektur Hijau
Kehadiran Ruang Terbuka Hijau (RTH) dapat menjadi salah satu alternatif dalam mengurangi emisi efek rumah kaca yang dihasilkan dari tempat tinggal kita

Pustaka :

Recommended Posts

3 Comments

  1. Terimakasih atas info di atas,

    • Terima kasih sudah berkunjung dan mengikuti artikel kami. Semoga bermanfaat 🙂

  2. Pendekatan lain yang sejalan dengan konsep arsitektur berkelanjutan adalah arsitektur hijau. Disebut arsitektur hijau


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *