Persyaratan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Industri

Apa yang Dimaksud RTBL?

Guna mendorong percepatan pembangunan dan kemudahan pengawasan kawasan industri, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri, di mana setiap perusahaan industri baru wajib masuk ke dalam kawasan industri. Adapun yang dimaksud kawasan industri adalah kawasan tempat pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang yang dikembangkan dan dikelola oleh Perusahaan Kawasan Industri yang telah memiliki Izin Usaha Kawasan Industri.

Kawasan industri biasanya berlokasi di tepi ataupun di luar kawasan permukiman dari sebuah kota dan biasanya didukung dengan akses transportasi yang baik, terutama di kawasan tempat bertemunya jalan tol, stasiun, bandar udara, maupun pelabuhan. Salah satu contoh kawasan industri di Indonesia adalah Karawang International Industry City (Karawang), Kawasan Surya Cipta (Karawang), Kawasan Industri Jababeka (Bekasi), dan lainnya.

Dengan adanya kawasan industri, diharapkan dapat memberikan dampak sebagai berikut.

  1. Meningkatkan daya saing industri dan daya saing investasi di daerah
  2. Meningkatkan nilai investasi dengan menyediakan infrastruktur terintegrasi dalam satu lokasi
  3. Memberi kemudahan bagi dunia usaha dalam memperoleh kaveling industri beserta infrastruktur yang memadai setiap tahunnya sehingga dapat mempercepat pertumbuhan industri di daerah
  4. Memberi kepastian hukum terkait lokasi tempat usaha sehingga terhindar dari segala bentuk ancaman maupun ganggunan bagi dunia usaha
  5. Agar dapat memisahkan industri dengan kawasan perkotaan untuk mengurangi dampak sosial dan lingkungan dari industri

Namun di sisi lain, pembangunan dan perkembangan kawasan industri memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Meningkatnya jumlah pabrik/ bangunan gedung di kawasan industri dapat menyebabkan ketidakseimbangan antara ruang terbangun dengan ruang terbuka di kawasan industri. Hal inilah yang kemudian dapat menyebabkan berkurangnya rasa nyaman bagi para penghuni maupun pengguna bangunan gedung di kawasan industri.

Tak hanya masalah kenyamanan saja. Kurang terpenuhi dan tidak adanya ruang terbuka dapat menyebabkan beberapa masalah, di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Polusi udara, baik debu maupun asap semakin meningkat
  2. Suhu udara semakin panas
  3. Tingkat kebisingan yang semakin parah, dan
  4. Air tanah semakin terkuras

Melihat permasalahan di atas, maka pemerintah perlu mengatur serta mewajibkan adanya Ruang Terbuka Hijau (RTH) bagi setiap industri yang terbangun di kawasan industri. Hal ini diperlukan untuk menyeimbangkan ekosistem lingkungan dan perkembangan pembangunan industri di era modern.

Persyaratan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kawasan Industri
Meningkatnya jumlah pabrik/ bangunan gedung di kawasan industri dapat menyebabkan ketidakseimbangan antara ruang terbangun dengan ruang terbuka di kawasan industri.

Apa itu Ruang Terbuka Hijau?

Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan area memanjang/ jalur mengelompok yang penggunaannya lebih bersifat terbuka dan tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alami maupun sengaja ditanam. Ruang Terbuka Hijau di sini dapat berupa taman buatan maupun lapangan hijau.

Manfaat Ruang Terbuka Hijau

Sebagaimana yang kita tahu, bahwa manusia membutuhkan kehadiran lingkungan hijau di tengah pembangunan yang cukup pesat belakangan ini.

Setiap manusia bernapas normal sekitar 12-24 kali per menit. Dalam setiap kali tarikan napasnya, terdapat sekitar 3-4 liter udara yang masuk. Sehingga jika dihitung, udara yang dihirup manusia mencapai 9.5 ton di mana 23%-nya adalah oksigen. Disebutkan juga, bahwa satu pohon dapat menghasilkan sekitar 118 Kg oksigen setiap tahunnya. Sehingga dalam satu tahun, dibutuhkan setidaknya 7 hingga 8 pohon untuk memenuhi kebutuhan oksigen 1 orang (dr. Amadio D. Basfiansa, melalui situs AloDokter).

Kehadiran lingkungan hijau ditujukan untuk menjaga kelestarian, keserasian, dan keseimbangan ekosistem. Namun secara umum, adapun tujuan pengadaan Ruang Terbuka Hijau di sebuah industri yang menempati kawasan industri adalah sebagai berikut.

  1. Mengatasi permasalahan tata ruang sekaligus mengendalikan dampak pembangunan terhadap lingkungan akibat aktivitas industri
  2. Pengendalian tata air dan sarana estetika di kawasan industri
  3. Sebagai area mitigasi/ evakuasi ketika terjadi bencana, dan
  4. Area penciptaan iklim yang dapat mereduksi polusi kawasan industri

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwa sebuah bangunan gedung maupun pabrik di kawasan industri juga membutuhkan perlindungan terhadap radiasi matahari dan angin keras. Untuk itu, langkah yang paling sederhana dan cukup terjangkau adalah dengan melakukan penanaman tumbuhan atau pohon peneduh di sekitar bangunan gedung.

Dengan begitu, adanya tanaman, pohon/ vegetasi kayu dapat berfungsi sebagai pematah angin maupun peredam suara sehingga mengurangi kebisingan di kawasan bangunan gedung/ industri. Selain itu, pohon/ vegetasi yang tumbuh di Ruang Terbuka Hijau dapat memberikan perlindungan terhadap terik sinar matahari.

Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan Ruang Terbuka Hijau adalah sebagai paru-paru pabrik di kawasan industri.

Baca juga : 4 Aspek Bangunan Gedung yang Akan Diperiksa Saat Pengajuan SLF

Manfaat Ruang Terbuka Hijau
Adanya Ruang Terbuka Hijau berupa tanaman, pohon/ vegetasi kayu dapat berfungsi sebagai pematah angin maupun peredam suara sehingga mengurangi kebisingan di kawasan bangunan gedung/ industri

Kewajiban bangunan gedung/ pabrik dalam menyediakan RTH

Adapun pola penggunaan lahan kawasan industri sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor 40/M-IND/PER/6/2016 tentang Pedoman Teknis Kawasan Industri adalah sebagai berikut.

Jenis PenggunaanProporsi Penggunaan (%)Keterangan
Kaveling industriMaksimal 70%Setiap kaveling harus mengukuti ketentuan KDB (Koefisien Dasar Bangunan) sebesar 60:40
Jalan dan saluran8-10%Jaringan jalan yang terdiri dari jalan primer, jalan sekunder, dan saluran drainase
Ruang Terbuka HijauMinimal 10%Dapat berupa jalur hijau (green belt), taman, dan perimeter
Infrastruktur dasar lainnya, infastruktur penunjang, dan sarana penunjang8-10%Infrastruktur dasar lainnya berupa instalasi pengolahan air baku, instalasi pengolahan air limbah, instalasi penerangan jalan

Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor 40/M-IND/PER/6/2016 tentang Pedoman Teknis Kawasan Industri, di mana setiap kawasan industri dengan luas 20 hingga 500 hektar lebih, wajib memiliki Ruang Terbuka Hijau minimal 10%.

Ruang Terbuka Hijau kawasan industri disarankan dapat ditanami dengan jenis tanaman yang memiliki kesesuaian secara ekologis dengan kondisi setempat, mampu menyerap zat pencemar, ketahanan hidup yang lama, dan memiliki daya serap air yang baik.

Dengan adanya peraturan dan ketentuan Ruang Terbuka Hijau ini, pemerintah daerah secara proaktif melakukan pengawasan terhadap tata ruang kawasan industri sesuai dengan peruntukannya.

Untuk itu, pembangunan Ruang Terbuka Hijau menjadi keharusan yang harus diperhatikan bagi setiap pengembang, pemilik, maupun pengguna bangunan gedung, baik yang berada di kawasan industri maupun bukan kawasan industri.

Baca juga : Mengenal RTBL (Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan)

Referensi :

  • Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia Nomor 40/M-IND/PER/6/2016 tentang Pedoman Teknis Kawasan Industri
  • Undang-Undang RI No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *