Uji Kuat Tekan Beton Inti (Core Drill Test)

Uji Kuat Tekan Beton Inti (Core Drill Test)

Indikasi kekuatan tekan beton dalam struktur dapat ditentukan dengan menguji inti yang diambil dari strukturnya. Tujuan metode pengujian ini adalah untuk mendapatkan nilai estimasi kuat tekan beton pada struktur yang sudah dilaksanakan. Dalam periode ini, pengembangan telah terjadi sedemikian rupa sehingga sekarang dianggap sebagai metode yang kuat untuk mengevaluasi struktur beton yang memiliki hubungan dengan kekuatan dan daya tahan mereka selain dari penilaian bentuk dan kontrol kualitas beton bertulang.

Uji kuat tekan beton inti (core drill test) dilakukan ketika data-data kuat tekan di laboratorium tidak sesuai dengan syarat yang diinginkan dan pengerjaan struktur telah terlaksana. Pada uji kuat tekan diambil benda uji untuk core drill berupa silinder hasil pengeboran pada struktur beton. Selanjutnya pada pengambilan sampel data, jumlah benda uji pada sebuah proyek tidak boleh kurang dari 3 sampel (SNI 03-3403-1994).

Core Drill Test pada beton
Core drill test pada beton

Benda uji berupa kubus atau silinder terbuat dari sampel beton yang representatif, selanjutnya diambil dari komponen struktur tertentu sesuai engineering judgement.

Harus dipahami, bahwa kekuatan spesimen kubus tidak dapat sama dengan kekuatan elemen struktur karena perbedaan pada tingkat pemadatan, standar curing, keseragaman beton, penguapan, kehilangan air pencampuran, dll. Namun dalam hal ini yang terbaik adalah hasil kubus atau silinder hanya dapat memberikan perkiraan kasar dari kekuatan sebenarnya dari elemen struktur.

Sampel Inti beton
Sampel Inti Beton (J.H. Bungey et al, 2006)

Untuk sampai pada gambaran yang lebih baik tentang kekuatan elemen struktur yang sebenarnya, maka upaya yang dilakukan adalah memotong inti dari beton induk dan menguji inti untuk kekuatan. Upaya ini mungkin akan memberikan gambaran yang lebih baik tentang kekuatan beton yang sebenarnya pada elemen struktur.

Beton inti dapat dibor pada bagian struktur yang ditengarai bermasalah/lemah atau untuk mendeteksi pemisahan atau menyisir honeycombing (rongga-rongga udara) atau untuk memeriksa ikatan pada sambungan konstruksi dan verifikasi ketebalan perkerasan jalan.

Kerugiannya adalah bahwa ketika memotong inti beton, integritas struktural beton di seluruh penampang penuh dapat dipengaruhi sampai batas tertentu. Kaping (meratakan permukaan dengan semen putih) pada kedua ujung akan diperlukan mengingat hal tersebut dapat menimbulkan beberapa perbedaan dalam kekuatan. Keberadaan tulangan juga akan menghasilkan kesulitan dalam memotong beton inti yang utuh.

Pemotongan inti beton untuk menentukan kekuatan beton dari struktur akutal yang mungkin mengindikasikan segregasi dan honey combing pada beton. Pada beberapa kasus, spesimen balok juga digergaji dari struktur perkerasan jalan dan perkerasan pada struktur runway di bandara untuk mendapatkan kuat lenturnya.

Dalam praktiknya, terlihat bahwa nilai kuat tekan beton inti lebih rendah dibanding kuat tekan dari uji silinder beton standar. Di samping alasan tersebut, faktor utamanya adalah karena kualitas kontrol curing saat proyek selalu lebih rendah dibanding saat kondisi standar di laboratorium.

Age (days)  Strength (MPa)
Standard cylinders
Strength (MPa)
Cores
Core strength as a proportion of strength of
28-day standard cylinder
766.057.90.72
2880.458.50.73
5686.061.20.76
18097.970.60.88
365101.375.40.94
Pengaruh kuat inti beton yang dipengaruhi waktu (M.S. Shetty, 2005)

Pengurangan kekuatan inti tampaknya lebih besar pada beton yang memiliki kuat tekan yang lebih tinggi. Pengurangan kekuatan bisa mencapai 15% untuk mutu beton sebesar 40 MPa.

Umumnya, pengurangan 5 hingga 7% dianggap masuk akal. Telah disampaikan oleh banyak peneliti bahwa beton insitu memperoleh kekuatan yang sangat kecil setelah 28 hari.

Pengujian pada beton mutu tinggi menunjukkan bahwa meskipun kekuatan inti meningkat seiring bertambahnya usia, tetapi kuat tekan inti beton bahkan yang hingga mencapai usia 1 tahun nilainya tetap lebih rendah dibanding kekuatan silinder standar 28 hari.

Namun, ada hal yang menarik dalam penelitian C.Y. Kog et al (2019), yang menyimpulkan bahwa beberapa faktor yang mempegaruhi kuat tekan beton inti in-situ dari berbagai penelitian yakni kondisi kelembaban inti, kekosongan dalam inti, masa curing inti, rasio panjang/diameter inti, diameter inti, arah pengeboran, metode capping, dan penguatan (Bungey dan Millard, 1996).

Sementara Lee et al. (1989) mengemukakan perilaku tegangan (retakan yang dikembangkan) dari struktur yang ada sebagai faktor potensial yang mempengaruhi kekuatan insitu yang diperkirakan oleh uji inti.

Bungey dan Millard (1996) berpendapat bahwa masa curing inti tidak signifikan untuk beton matang dan rongga dalam inti hanya relevan dari sudut pandang pada spesifikasi material. Oleh karena itu, masa curing dan void dalam inti beton tidak signifikan untuk kekuatan insitu yang diperkirakan dengan uji inti untuk struktur beton yang ada.

Selanjutnya, dengan kondisi di atas, maka penelitian yang dilakukan C.Y. Kog mendapatkan sebuah hasil. Berdasarkan analisis dari hasil pengujian 35 struktur yang berumur dari 4 hingga 73 tahun yang dibangun dengan mutu beton 20-41.5, sebagian besar faktor yang mempengaruhi kekuatan tekan in-situ dari struktur beton yang ada diperkirakan oleh uji inti dan NDT yang dilaporkan oleh Malhotra dan Carino (2004) serta Bungey dan Millard (1996) ditemukan tidak signifikan untuk tujuan praktis. Hal ini tidak mengherankan, karena sebagian besar penelitian yang mengidentifikasi faktor-faktor tersebut dilaporkan terbatas pada beton muda di laboratorium.

Baca juga : Retak Struktural dan Non-Struktural pada Bangunan

Tingkat kontrol kualitas untuk pelaksanaan beton adalah faktor penting yang mempengaruhi kekuatan insitu dari struktur beton yang ada yang diperkirakan oleh uji inti dan NDT (Non-destruktif Tes).

Dari 35 struktur yang dianalisis, tingkat kontrol kualitas untuk operasi beton yang dibangun setelah Perang Dunia II hingga pertengahan 1960-an dan periode setelah 1980-an lebih baik dibanding struktur yang dibangun pada periode lain.

Referensi :

  • SNI 03-3403-1994 tentang Metode Pengujian Kuat Tekan Beton Inti Pemboran
  • Bungey, J.H., Millard, S.G., dan Grantham, M.G., 2006. Testing of Concretes in Structures. Taylor and Francis Group
  • Kog, C.Y., 2019. Factors Influencing In Situ Strength of Existing Concrete Structure Estimated by Core Test and NDTs. American Society of Civil Engineers
  • Shetty, M.S., 2005. Concrete Technology. S. Chand & Company Ltd

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *