Retak Struktural dan Non-Struktural pada Bangunan

retak pada bangunan

Aktivitas Foreksik

Pengamatan Visual

Pelaksanaan dalam pengamatan visual kondisi struktur bangunan adalah langkah awal yang sangat penting dalam memutuskan (justifikasi) kondisi dari sebuah bangunan. Aktivitas ini merupakan sebuah metode forensik yang ditujukan untuk mengenali kondisi terakhir bangunan.

Adapun teknis pengamatan biasanya dilakukan dengan cara memperhatikan kondisi pada elemen-elemen struktur yang dapat terdiri dari balok, kolom, sekitar pondasi dan sambungan. Meski begitu, terdapat bagian non-struktural yang harus diperhatikan karena bisa saja mempengaruhi kondisi elemen struktural.

Anomali Struktur

Pada saat pengamatan visual, parameter yang cukup penting adalah tidak adanya anomali struktur. Dalam bahasa sehari-hari, anomali dapat juga diartikan sebagai suatu keganjilan, keanehan, atau penyimpangan dari yang biasa/ normal kemudian terlihat berbeda. Pada dimensi struktur bangunan, anomali digambarkan sebagai suatu penyimpangan yang dapat terjadi pada seluruh atau beberapa elemen struktur bangunan.

Pada bangunan beton bertulang, anomali yang biasa terlihat adalah adanya keretakan pada elemen balok, kolom, dan pelat. Hal ini tidak serta merta dapat mudah ditemukan karena bisa saja tidak terekspos atau dibungkus dengan pola arsitektural.

Selanjutnya adalah melihat apakah penampang longitudinal dari elemen balok dan kolom tidak mengalami lendutan. Jika terlihat secara jelas, tentu hal ini merupakan indikasi anomali/ penyimpangan elemen struktur bangunan yang kuat.

Bangunan Beton Bertulang

Kelemahan beton

James K. Wight (2016) dalam bukunya yang berjudul “Reinforced Concrete-Mechanics and Design” menyampaikan ada beberapa kelemahan beton, di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Kuat tarik yang rendah
    Kuat tarik beton sangat jauh di bawah jika dibandingkan dengan kuat tekannya, yakni hanya sekitar 10% saja. Oleh karena itu, beton dapat mengalami keretakan jika terkena tekanan tarik.
  2. Secara relatif kekuatannya rendah, per unit berat atau volume
    Untuk mencapai kekuatan yang sama dengan baja, maka dibutuhkan penampang, volume, dan ukuran yang besar, sehingga pilihan untuk membuat struktur bentang panjang biasanya akan jatuh kepada struktur baja dibanding struktur beton. Pada desain Giant Structure seperti pada bendungan, basement, parkiran dengan luas yang lebar, area pengecoran yang sangat besar, maka harus diperhatikan tahapannya karena jika perbedaan panas hidrasi bagian inner dan outer telalu tinggi, maka akan menimbulkan keretakan.
  3. Perubahan volume bergantung pada waktu
    Baik beton maupun baja mengalami jumlah ekspansi dan kontraksi termal yang kurang lebih sama. Hal ini disebabkan karena baja adalah konduktor yang lebih baik dibanding beton. Struktur baja pada umumnya juga dipengaruhi oleh perubahan suhu ke tingkat yang lebih besar daripada struktur beton. Di sisi lain, beton mengalami susut pengeringan yang jika tertahan dapat menyebabkan defleksi atau keretakan. Sementara dalam pembebanan yang tetap, faktor rangkak akan menambah beban pada struktur beton.

Sinyal bahaya

Pada dasarnya, keretakan atau retak merupakan sebuah peringatan akan adanya anomali struktur atau kerusakan pada bangunan. Keretakan juga menunjukan sebuah perilaku beban yang bekerja serta memberikan informasi apakah keretakan ini sifatnya struktural atau non-struktural.

Pola retak

Non-struktural

Retak dapat juga dialami pada bagian non-struktural. Adapun beberapa tipe retak non-struktural menurut Hidayat (2009) adalah sebagai berikut.

1. Crazing

Crazing termasuk jenis retak non-struktur yang terjadi akibat pasir yang digunakan banyak mengandung butiran halus dan plesteran yang terlalu banyak di trowel (roskam). Untuk memperbaiki retak crazing cukup mudah, yaitu dengan cara mengorek retak dan menutupnya menggunakan dempul.

Retak crazing pada bangunan memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  • Membentuk jaringan retak yang halus, dangkal, dan tidak bersambung
  • Membentuk pola heksagonal dengan jarak retak 5 mm sampai 75 mm
  • Terjadi dalam selang waktu beberapa jam setelah aplikasi plesteran
  • Retak sulit terlihat sampai debu atau uap air membuat retak menjadi terlihat

2. Map Cracking

Selain retak crazing, jenis retak lain pada bangunan adalah map cracking. Map Cracking terjadi akibat terlalu banyak menggunakan semen. Selain itu, plesteran yang dibiarkan terlalu cepat mengering akibat kehilangan air yang berlebihan juga menyebabkan terjadinya retak map crazing.

Kehilangan air dapat disebabkan oleh penguapan. Hal ini terjadi apabila dinding tidak terlindungi dari sinar matahari dan angin, terserap ke dalam tembok, dan kekurangan butiran halus pada pasir. Map Cracking mempunyai ciri jaringan retak yang menyerupai peta (map) dan membentuk pola heksagonal dengan jarak sampai 200 mm.

Baca juga : Penerapan Sistem “Strong Column And Weak Beam” Pada Struktur Bangunan

Struktural

Retak struktural merupakan indikasi paling rawan dari kondisi sebuah bangunan. Retak struktural dapat disebabkan oleh pengaruh lentur, geser, dan torsi. Kondisi tersebut dapat terlihat pada elemen struktural seperti balok, kolom, dan pelat lantai.

Lebar retak yang berlebihan akan membuat kebocoran pada bidang penampang yang akan menyebabkan korosi pada penulangan dan kemerosotan kualitas pada beton secara gradual (bertahap). Kondisi retak pada penampang akan mengurangi luas tahanan penampang, sehingga akan mengurangi inersia (kelembaman) penampang. Jika hal tersebut terjadi, maka kekakuan lentur beton juga akan menurun tajam.

Pada tekanan tarik yang terjadi pada balok sederhana dan balok kantilever akan menunjukkan retakan lentur yang khas. Hal ini dapat dilihat dari dua ilustrasi di bawah ini.

Selanjutnya untuk retak yang ditimbulkan karena gaya geser dapat dilihat pada ilustrasi di bawah ini. Retak geser memiliki ciri khas berupa keretakan arah diagonal.

Pada kondisi di lapangan, biasanya kegagalan geser dan lentur bekerja secara bersama-sama. Hal ini akan menimbulkan retak geser dan lentur. Kondisi tersebut dapat dilihat melalui ilustrasi di bawah ini.

Retak lentur dan geser
Retak lentur dan geser (Wight, 2016)

Sementara retak yang bisa juga ditemukan di lapangan adalah retak akibat torsi. Hal ini biasanya disebabkan oleh elemen balok berupa kantilever. Pola retak torsi dapat terlihat melalui ilustrasi di bawah ini.

Pola Retak yang diakibatkan torsi/puntir
Pola Retak yang diakibatkan torsi/ puntir (Wight, 2016)

Referensi :

  1. Hidayat, S., 2009. Semen-Jenis dan Aplikasinya. Kawah Media
  2. Wight, K.J. 2016. Reinforced Concrete-Mechanics and Design. Seven Edition Pearson

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *