Pariwisata Indonesia Pascapandemi COVID-19

Prediksi Tren Pariwisata Indonesia Pascapandemi Covid-19

Industri pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling terdampak pandemi COVID-19 dan memiliki efek berantai bagi sektor lain. Bagi Indonesia, sektor pariwisata jelas akan mendapat pukulan telak, khususnya di kuartal I-2020. Sektor terdampak lainnya adalah industri penerbangan domestik akibat penutupan beberapa rute.

Perubahan perilaku dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci bagi industri pariwisata dalam menghadapi pandemi ini. Selain itu, adanya pandemi COVID-19 ini memaksa kita untuk bisa merefleksikan dan memikirkan kembali tentang arah pembangunan pariwisata yang ideal. Bagaimana menerjemahkan arah pembangunan pariwisata yang ideal?

Dalam Undang-Undang RI Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan telah disebutkan, bahwa nilai yang ingin dicapai dalam pembangunan pariwisata Indonesia terfokus pada tiga hal, di antaranya adalah; 1) nilai ekonomi, seperti perolehan devisa negara, peningkatan pendapatan asli daerah/PAD, penciptaan lapangan kerja, pengurangan pengangguran dan kemiskinan, serta kesejahteraan masyarakat; 2) nilai sosial, seperti memajukan kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta tanah air dan kebanggaan akan kekayaan alam dan budaya, serta persatuan dan kesatuan budaya, dan; 3) nilai lingkungan, seperti pelestarian alam, lingkungan, dan sumber daya.

Jika melihat tujuan besar arah pembangunan di atas, seharusnya pembangunan pariwisata Indonesia telah sejalan dengan konsep sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan.

Adapun definisi pariwisata berkelanjutan menurut Organisasi Pariwisata Dunia atau UNWTO adalah pariwisata yang memperhitungkan secara penuh dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan, baik yang sekarang dan yang akan datang, menjawab kebutuhan pengunjung, industri (pariwisata), serta lingkungan dan komunitas tuan rumah.

Konsep Tri Hita Kirana, sebagai kearifan lokal Bali dapat menjadi contoh perencanaan ideal sebagai bagian dari prinsip pembangunan berkelanjutan. Tri Hita Karana yang berarti tiga penyebab terciptanya kebahagiaan menjadi falsafah hidup masyarakat Bali yang harmonis dengan Tuhan, alam sekitar tempat manusia tinggal, dan juga sesama manusia. Apabila keseimbangan/keharmonisan tercapai, manusia akan hidup damai dan tenang. 

Hal yang tak bisa diabaikan juga adalah mengenai daya saing pariwisata kita. Setiap dua tahun sekali, World Economic Forum (WEF) merilis laporan terkait The Travel & Tourism Competitiveness Report terhadap 140 negara di dunia. Penilaian ini ditujukan untuk mengukur faktor-faktor dan kebijakan pemerintah dalam pengembangan sektor pariwisata di suatu negara. Untuk itu, mari kita lihat penjelasan grafik di bawah ini!

Pariwisata Indonesia Pascapandemi Covid-19
NoINDIKATOR201520172019
1Business Environment636050
2Safety & Security839180
3Health & Hygiene109108102
4Human Resources & Labor Market536444
5ICT Readiness859167
6Prioritization of Travel & Tourism121510
7International Openness551716
8Price Competitiveness356
9Environmental Sustainability134131135
10Airport Infrastructure393638
11Ground & Port Infrastructure776966
12Tourist Service Infrastructure1019698
13Natural Resources191417
14Cultural Resources & Business Travel252324
Peringkat Global504240
Sumber: Travel and Tourism Competitiveness Index yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF) yang dikeluarkan pada tahun 2015, 2017, dan 2019

Kita akui, Indonesia memiliki keunggulan dalam hal sumber daya alam yang luar biasa (peringkat 17) dan harga yang kompetitif (peringkat 6). Adapun kelemahan kita sampai saat ini adalah mengenai infrastruktur pariwisata (peringkat 98), kesehatan dan higienitas (peringkat 102), dan keberlangsungan/keberlanjutan lingkungan (peringkat 135).

Apa artinya? Meskipun barangkali kita cukup optimis dalam menghadapi COVID-19, tetapi ketiga aspek di atas menjadi penting untuk diperhatikan.

Tantangan terkait keberlangsungan/keberlanjutan lingkungan menjadi isu yang terus digalakkan dari tahun ke tahun. Di sisi lain, masyarakat, pengelola destinasi wisata, dan wisatawan seringkali belum memahami betul dampak aktivitas wisata terhadap kerusakan lingkungan. Tata kelola destinasi wisata yang kurang baik, menjadikan destinasi wisata di Indonesia berbasis alam seringkali mendapatkan masalah, utamanya karena kebersihan dan kesehatan.

Untuk itu, besar harapan kami, pandemi COVID-19 benar-benar menjadi momentum untuk berkaca pada diri dan meminta maaf pada alam agar ke depan kita dapat membangun, mengelola, serta berwisata secara bijak dan beretika.

Prediksi tren pariwisata Indonesia pascapandemi COVID-19

Dalam pandangan kami, sektor pariwisata dipercaya akan pulih. Indonesia telah banyak belajar dari banyak bencana alam dan kesehatan. Misalnya saja wabah penyakit SARS (2003), terorisme pada bom Bali 2002, bencana alam letusan gunung api, maupun peristiwa yang mengancam keselamatan wisatawan lainnya. Pertanyaannya, seberapa cepat sektor pariwisata akan pulih akibat pandemi COVID-19 ini?

Dalam artikel sebelumnya, kami telah menjelaskan bahwa pergerakan wisatawan pascapandemi COVID-19 ini akan dimulai dari tingkat lokal dan domestik. Artinya, grafik pertumbuhan wisatawan nusantara akan terlihat lebih cepat dibanding wisatawan mancanegara.

Kecepatan untuk memulihkan pariwisata pun sangat bergantung pada kondisi perekonomian masyarakat. Seperti yang kami jelaskan sebelumnya, bahwa sejak Februari 2020, banyak masyarakat yang mulai kehilangan pekerjaannya akibat pemutusan hubungan kerja, pemotongan honor/gaji, maupun daya beli masyarakat yang makin menurun. Sementara bagi sebagian orang yang tidak memiliki dana darurat yang cukup, melakukan perjalanan wisata mungkin bukanlah menjadi hal yang prioritas.

Melalui artikel ini, kami mencoba untuk menjelaskan mengenai prediksi tren pariwisata pascapandemi COVID-19.

1. Lebih dekat dengan penggunaan teknologi

Wisatawan akan lebih dekat dengan penggunaan teknologi, baik sebelum melakukan perjalanan, saat melakukan perjalanan, dan setelah melakukan perjalanan. Selain itu, sebelum melakukan perjalanan, calon wisatawan akan melakukan banyak pertimbangan dengan melihat ulasan (review) pelanggan, foto kondisi destinasi, serta status keamanan destinasi melalui perangkat lunak terpasang.

Sementara itu, jika vaksin COVID-19 belum juga ditemukan dan diproduksi secara massal, akan ada kelompok masyarakat yang lebih memilih berlibur secara aman dengan menikmati destinasi wisata secara virtual tour atau memilih destinasi wisata yang telah berhasil dalam menerapkan protokol kesehatan. Dengan begitu, masyarakat akan makin familier dengan penggunaan teknologi. Meski demikian, kami melihat akan tetap ada kelompok masyarakat yang ‘nekat’ melakukan perjalanan wisata.

2. Grup atau privat?

Adanya pandemi COVID-19 juga menjadikan banyak orang memiliki rasa khawatir yang berlebih. Apalagi jika harus menengok kasus di Wuhan, Cina. Setelah dikabarkan kondusif dan masyarakat kembali beraktivitas normal, pada April 2020, Cina justru dihadapkan dengan gelombang kedua kasus COVID-19.

Melihat kejadian tersebut, kami memprediksi bahwa tren perjalanan wisata di Indonesia pascapandemi COVID-19 akan dimulai dari kelompok kecil dengan memilih destinasi wisata yang tidak ramai. Selain itu, apabila dalam beberapa tahun terakhir cukup ramai permintaan perjalanan jenis open trip, maka pascapandemi nanti, kelas perjalanan privat akan lebih diminati.

Namun, bagi masyarakat dengan ekonomi yang mapan, tidak akan segan untuk naik kelas saat melakukan perjalanan. Misalnya, dengan memesan tiket transportasi bisnis/privat dengan jaminan protokol keselamatan dan kesehatan yang ketat.

3. Pilihan destinasi

Meski nantinya pandemi COVID-19 telah berakhir dan aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) telah dicabut, masyarakat akan memulai perjalanan wisata dengan memilih rute pendek. Artinya, jarak dan waktu tempuh menjadi hal yang akan dipertimbangkan.

Pilihan transportasi pun nampaknya akan terpengaruh. Konsekuensinya, perjalanan akan dimulai menggunakan motor atau mobil pribadi.

Selain itu, destinasi wisata yang akan dipilih masyarakat adalah yang bertemakan alam dan minat khusus. Misalnya ekowisata, agrowisata, wisata kebugaran (wellness), wisata gastronomi, pantai dan laut, serta petualangan. Hal ini disebabkan rasa jenuh akibat karantina diri yang terlalu lama sehingga kecenderungan orang ingin ‘balas dendam’, bernostalgia, dan relaksasi dengan alam (back to nature).

Selain melakukan perjalanan wisata dengan kelompok kecil, memilih destinasi wisata yang dekat dan tidak ramai, beberapa kelompok masyarakat juga akan memilih untuk staycation (berlibur tanpa bepergian). Akan ada kelompok masyarakat yang lebih memilih berkumpul dengan keluarga dan teman dekat terlebih dahulu. Untuk itu, akomodasi wisata seperti hotel, homestay, resort harus memberikan jaminan kesehatan dan keamanan (healt and safety) kepada wisatawan. 

4. Waktu berlibur

Jika pandemi COVID-19 berakhir, banyak kemungkinan masyarakat akan kembali bekerja seperti biasa. Adanya kebijakan Work from Home di masa pandemi dari banyak perusahaan juga akan mengakibatkan pengambilan libur (cuti) tidak akan semudah biasanya. Untuk itu, pengambilan waktu berwisata akan jatuh pada hari weekend (Sabtu dan Minggu).

Sementara bagi pekerja bisnis, akan tumbuh tren bleisure, yakni gabungan dari kata business dan leisure. Artinya, kemungkinan akan banyak kelompok masyarakat yang berwisata di sela-sela perjalanan bisnisnya.

Baca juga : Mempromosikan Destinasi Wisata di Tengah Pandemi COVID-19. Bagaimana Caranya?

5. Perilaku wisatawan

Jika pandemi berakhir pada akhir 2020, terhitung sudah hampir setahun lamanya masyarakat Indonesia melakukan physical distancing. Kebiasaan selama dua belas bulan ini tentunya akan merubah kebiasaan lama seseorang. Kondisi ini disebut juga dengan ‘new normal’.

Misalnya, sensitif dan cukup hati-hati saat bepergian keluar rumah dan bertemu orang, maupun sangat memperhatikan kebersihan dan kesehatan. Untuk itu, kondisi pascapandemi ini akan membuat masyarakat cenderung memilih destinasi dengan lingkungan yang aman, sehat, dan bersih. Begitu juga saat pemilihan akomodasi dan makanan minuman selama di destinasi wisata.

Terakhir, adanya kecenderungan masyarakat untuk memperhatikan aspek sustainability (keberlanjutan). Masyarakat dunia, termasuk juga Indonesia akan makin sadar bahwa pariwisata massal memberikan dampak negatif terhadap keberlangsungan bumi. Untuk itu, kami memprediksi akan muncul kelompok masyarakat baru yang lebih memilih berlibur ke destinasi wisata yang mendukung ekonomi lokal, pengembangan budaya, dan pelestarian lingkungan hidup.

Sampai kapan perilaku wisatawan akan seperti ini?

Kami sendiri tidak dapat memastikan. Namun, mengingat karakter masyarakat Indonesia yang ‘cepat lupa’, kondisi ketakutan dan kekhawatiran tidak akan terjadi cukup lama. Jika tidak ada gelombang kasus reaktif baru, mungkin saja perilaku masyarakat Indonesia akan kembali seperti biasanya.

Bagi daerah-daerah yang sadar bahwa pariwisata adalah penggerak ekonomi, tentunya akan mempersiapkan segala hal untuk menyambut wajah baru pariwisata pascapandemi.

Badai pasti berlalu!

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *