Mengenal Sistem Konstruksi Beton Pracetak yang Memiliki Kelebihan Dibandingkan Konvensional

Konstruksi Pracetak

Memahami kelebihan penggunaan beton untuk keperluan struktural dan non-struktural pada sistem pracetak merupakan hal yang sangat penting dan menguntungkan saat ini, terlebih mengenai efisiensi waktunya. Konstruksi beton pracetak adalah tipe konstruksi beton yang elemen-elemennya dicetak bukan pada area sekitar pelaksanaan konstruksi dilakukan.

Beton pracetak dapat bekerja secara komposit dengan tulangan dan/atau tendon pratekan. Sistem konstruksi pracetak dapat diterapkan hampir di seluruh metode konvensional pelaksanaan konstruksi bangunan seperti perumahan, bangunan untuk parkir, apartemen, perkantoran, bangunan industri, jembatan, maupun bangunan gedung lainnya.

Sistem Konstruksi Pracetak
Pelaksanaan konstruksi pracetak menjadi hal yang sangat menguntungkan saat ini, terlebih mengenai efisiensi waktunya

Kelebihan sistem konstruksi pracetak

Sistem pracetak memiliki beberapa perbedaan dibandingkan dengan sistem konstruksi konvensional. Perberdaan pertama, konstruksi beton in-situ dilaksanakan secara konvensional di lapangan. Sedangkan untuk sistem pracetak, beton dan komponennya dicetak di pabrik. Kedua, pelaksanaan pekerjaan beton secara konvensional membutuhkan perancah (formwork) yang jauh lebih banyak, terlebih saat pengecoran. Dengan kondisi tersebut, maka perbedaan ketiga dari konstruksi konvensional adalah akan melibatkan jumlah pekerja yang lebih banyak.

Jika dibandingkan dengan kondisi konstruksi konvensional di atas, maka kelebihan pelaksanaan sistem pracetak yang pelaksanaan cetak beton dilakukan di pabrik, maka kualitas produk akan bermutu tinggi karena harus melewati parameter kontrol yang ketat.

Selanjutnya saat pelaksanaan di lapangan, sistem ini hanya perlu merangkai setiap komponen-komponen dari batang vertikal, batang horizontal, dan sistem pelat tanpa perlu menunggu masa matang beton. Dengan begitu, proses konstruksi bangunan akan berdampak pada efisiensi waktu.

Secara finansial, biaya bisa saja menjadi lebih ekonomis. Alasannya karena selain cepatnya masa konstruksi, proses pencetakan bersifat repetitif dan tidak membutuhkan banyak pekerja. Pada konteks non-struktural, sistem ini sangat memudahkan saat proses finishing, karena ketidakpastian bentuk akhir sangatlah minim. Ketika pelaksanaan pracetak beton dilaksanakan di pabrik, maka dampak pada lingkungan proyek seperti kebisingan dan pencemaran lingkungan tentu dapat diminimalisir.

Baru-baru ini, dunia konstruksi Indonesia menunjukkan keahliannya dalam bidang sistem pracetak. Kementrian PUPR melalui BUMN yang terpilih (PT Wika Gedung) menggunakan sistem modular ini untuk proses pembangunan fasilitas Observasi dan Karantina COVID-19.

Pembangunan ini menggunakan sebanyak 372 paket modular untuk luas area sebesar 5100 m2. Dengan teknologi dan kemampuan yang mumpuni, proyek ini hanya memakan waktu 8 (delapan) hari saja. Hal ini tentunya menjadi sinyal bagi pelaku industri konstruksi bahwa Indonesia juga memiliki kualitas perencanaan, teknologi, dan aplikasi pelaksanaan yang mumpuni.

Baca juga : Bagaimana Cara Mengantisipasi Penyebaran COVID-19 di Tempat Kerja?

Namun bukan berarti konstruksi beton pracetak tidak memiliki kelemahan. Terdapat beberapa pertimbangan yang menjadi konsekuensi teknis dan non teknis dalam pelaksanaanya. Pertama, jika elemen yang digunakan hanya sedikit, maka harganya tidak lagi menjadi ekonomis. Pekerjaan pracetak ini akan menjadi lebih hemat jika dipesan/ dilakukan dengan skala besar.

Kedua, dalam pelaksanaanya membutuhkan ketelitian yang sangat tinggi. Deviasi jarak antar elemen sangat berpengaruh terhadap kemudahan pemasangan. Jika deviasi besar, maka akan mempersulit penyambungan antar elemen.

Ketiga, panjang dan bentuk elemen sangat terbatas. Hal ini disebabkan karena transportasi dari pabrik ke proyek dibatasi dengan truk atau kapal yang memiliki ukuran maksimal, serta disesuaikan dengan kendaraan dan aturan lalu lintas.

Keempat, pelaksanaan metode ini sangat membutuhkan alat berat dan tenaga ahli yang terlatih dalam pengerjaannya.

Sistem Konstruksi Pracetak
Proses perangkaian elemen struktur

Sambungan pada Sistem Pracetak

Salah satu perhatian khusus dalam sistem ini adalah memastikan bahwa sambungan tiap elemen dapat bekerja dengan baik, sehingga struktur dapat bekerja secara sistemik bukan per elemen. Adapun sambungan yang dapat digunakan adalah sambungan kering dan sambungan basah.

Sambungan kering merupakan sistem pelat besi yang menghubungkan antar elemen beton pracetak seperti balok-kolom, balok-balok dan balok-pelat. Sambungan ini dapat berupa baut atau las bermutu tinggi. Desain dan analisa sambungan akan dibuat sedemikian rupa sehingga elemen-elemen struktur dapat bekerja secara sistem dan berespon terhadap gaya secara monolit.

Sementara sambungan basah adalah sistem yang mengatur tulangan besi sehingga terdapat panjang penyaluran dari ujung beton. Selanjutnya, antar tulangan tersebut akan dikaitkan menggunakan komponen mechanical joint, mechanical coupled, splice sleeve atau panjang penyaluran yang didesain sesuai kebutuhan. Pada bagian tersebut selanjutnya akan dicor di tempat.

Tipe connection ini dapat memaksimalkan kapasitasnya untuk mengurangi beban tambah akibat faktor rangkak susut dan perubahan suhu. Sambungan tipe ini juga memiliki respon yang lebih baik ketika ada gaya gempa yang bekerja pada bangunan beton pracetak, karena sifat sambungan lebih menyatu dengan komponen-komponen strukturnya.

Sambungan akan selalu menjadi komponen kritis dalam struktur beton pracetak. Hal ini disebabkan area yang tidak monolit terjadi pada bagian tersebut. Riset dan pengembangan sambungan yang bisa merespon gaya gravitasi dan gaya gempa merupakan sebuah tantangan yang terus akan dihadapi oleh pelaku konstruksi.

Sambungan pada Sistem Pracetak
Sebuah rongga yang disiapkan untuk sambungan basah (Pampanin, 2009)

Meskipun memiliki kelebihan, namun tetap perlu diperhatikan bahwa konstruksi beton pracetak ini perlu dilakukan pengecekan lagi. Jadi ketika bangunan sudah selesai di bangun, pihak pengelola bangunan pun perlu melakukan pengkajian mengenai kondisi bangunan secara keseluruhan.

Hal tersebut bisa dilakukan dengan mengurus penerbitan SLF (Surat Laik Fungsi). Apabila sebuah bangunan gedung telah mengantongi SLF, maka bangunan tersebut sudah terjamin kelayakannya. Sehingga bisa digunakan sebagaimana mestinya secara nyaman dan aman. 

Untuk mengurus dan menerbitkan SLF, pemilik atau pihak pengelola gedung bisa meminta bantuan ke jasa SLF. Salah satu perusahaan yang berpengalaman untuk membantu mengurus dan menerbitkan SLF adalah PT Eticon Rekayasa Teknik. Tim Eticon akan dengan senang hati menjadi partner untuk membantu penerbitan SLF tersebut.

Baca juga : Penerapan Sistem “Strong Column And Weak Beam” Pada Struktur Bangunan

Referensi :

Pampanin, S. 2009. Emerging Solutions for Damage Resisting Precast Concrete Buildings: An Update of New Zealand’s Practice and R&D. New Zealand. SAFECAST, Ispra.

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *