Smart City: Kota untuk Orang Pintar?

Smart City: Kota untuk Orang Pintar?

Kota yang semakin berkembang cenderung akan memiliki masalah yang turut menyertainya. Saat ini, kota-kota di berbagai belahan dunia sedang dihadapkan pada isu-isu seperti polusi, konsumsi sumberdaya yang tidak terkontrol, emisi gas, dan social enquality.

Kondisi demikian juga diperburuk dengan peningkatan jumlah penduduk yang tinggal di kota dan kuantitas lahan perkotaan yang semakin terbatas sehinga mau tidak mau menggerakkan pemerintah untuk dapat mencari alternatif perencanaan dalam menanggulangi isu permasalahan tersebut. Konsep Smart City kemudian muncul sebagai konsep yang dapat menjadi alternatif bagi pemerintah dalam melakukan perencanaan dan pengembangan kota.

Sesuai dengan istilahnya, Konsep Smart City atau Kota Cerdas mengoptimalkan fungsi dari Information and Communnication Technologies (ICT) dan mengintegrasikan pelayanan infrastruktur eksisting dengan teknologi digital. Intervensi teknologi dalam konsep Smart City tersebut diharapkan dapat  mengatasi isu dan permasalahan yang sedang dihadapi oleh kota-kota tersebut secara lebih efisien dan berkelanjutan (Ahad et. al, 2020).

Mengenal Smart City

Istilah Smart City mulai berkembang sejak tahun 1990, yang ditandai dengan mulai digunakannya ICT dan infrastruktur modern di kota-kota pada saat itu (Albino et. al, 2015:: 3-21 dalam Ahad, et al, 2020). Dalam dua dekade terakhir, Smart City semakin berkembang dan konsep ini mulai berorientasi kepada penanggulangan permasalahan yang terjadi di perkotaan secara berkelanjutan dan menciptakan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapat pelayanan dari infrastruktur perkotaan yang sudah bersifat lebih modern.

Hal tersebut dapat diwujudkan dengan pemanfaatan teknologi untuk mengkonversi segala entitas dan pelayanan di perkotaan yang masih bersifat konvensional menjadi otomatis dengan meminimalkan intervensi dari luar.

Dua Sisi pada Smart City

Meski Smart City seringkali disandingkan dengan penggunan ICT pada pengembangan kota, tetapi di sisi lain menurut (Sutrisno & Akbar, 2018), Smart City juga dapat dikaitkan dengan ekonomi dan pemerintahan yang diakselerasi oleh inovasi, kreativitas, dan kewirausahaan yang dijalankan oleh Smart People.

Smart City yang mengacu pada penggunan ICT ditandai dengan semakin banyaknya penggunaan perangkat komputer dan teknologi seperti jaringan nirkabel, perangkat sensor, maupun kamera-kamera di jaringan jalan yang digunakan untuk mengawasi, mengelola, dan mengatur lalu lintas secara real-time. Kondisi ini didefinisikan oleh Greenfield (2006) dengan istilah ”everyware”, yang menggambarkan kondisi bahwa perangkat teknologi dapat ditemukan di berbagai tempat di lingkungan perkotaan.

Smart City yang berkaitan pada pengembangan ekonomi menjelaskan bahwa kota dapat dikatakan “pintar” jika ekonomi ataupun pemerintahan di suatu kota sanggup mendorong kreativitas, inovasi,dan kewirausahaan oleh masyarakat “pintar”. Pada persepsi ini, ICT merupakan komponen yang penting dalam mewujudkan inovasi dan kreatif tersebut.

Namun, terlepas dari kedua persepsi yang berbeda di atas, Holland (2008: 303-320) dalam Sutrisno & Akbar (2018: 191-207) beranggapan bahwa kedua sisi tersebut merupakan satu-kesatuan dan perlu ada agar suatu kota dapat dikatakan sebagai Smart City secara utuh. Hal ini dikarenakan menurut Caragliu, et. al., (2009), keberadaan teknologi tersebut perlu didukung oleh kondisi sumber daya manusia, sosial, dan kebijakan ekonomi agar dapat mengangkat pertumbuhan dan pengembangan kota.

Indikator Smart City

Smart City memiliki 20 indikator seperti yang yang ditampilkan pada gambar di bawah ini.

Smart City
Indikator Smart City
Sumber: Ahad, M. A., et,al (2020)

Menurut Ahad, et. al,. (2020), kata ‘Smart’ pada setiap komponen memberi arti bahwa adanya suatu sistem atau mekanisme yang bersifat otomatis dalam menjalankan segala kegiatan pada masing-masing domain. Di sektor pemerintahan, kegiatan yang dimaksud adalah dalam menyimpan, mengatur, mengirim, maupun maintenance data. Sedangkan bagi masyarakat, kegiatan yang dimaksud adalah mengakses dan mendapat pelayanan dari masing-masing indikator.  

Sementara menurut Caragliu, et. al., (2011) dan (Lombardi, et. al., 2012), Smart City memiliki 6 (enam) indikator utama. Di antaranya adalah Smart Government, Smart Environment, Smart Economy, Smart People, Smart Mobility, dan Smart Living. Keenam indikator memiliki karakteristik yang dapat dilihat rinciannya melalui gambar berikut ini.  

Smart City
Indikator Smart City
Sumber: Caragliu et. al., (2011); Lombardi et. al., (2012)
  1. Smart Government, suatu kota dapat dikatakan ‘cerdas’ apabila masyarakat yang tinggal di kota tersebut dapat memiliki kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, menerima pelayanan publik secara optimal, transparansi dalam sistem pemerintahan, serta adanya strategi politik yang berkualitas.
  2. Smart Environment, menunjukan bahwa kota yang cerdas menyediakan kondisi lingkungan yang indah dan minim polusi serta didukung oleh pengelolaan yang berkelanjutan.
  3. Smart Economy, menunjukan kondisi di mana kota yang cerdas dapat mendorong semangat kewirausahaan, inovasi, dan kreativitas masyarakat yang tinggal di dalamnya. Selain itu, Indikator ini juga dapat tercermin pada kemampuan kota untuk dapat bertransformasi dan adanya integrasi pasar ke taraf internasional. 
  4. Smart People, mengacu pada kondisi masyarakat kota yang fleksibel, toleran, kreatif, dan aktif dalam partisipasi ruang publik.  
  5. Smart Mobility, berkaitan dengan tingkat aksesibilitas pada taraf lokal, ketersediaan ICT pada pengelolaan transportasi, serta sistem perencanaan transportasi yang berkelanjutan.
  6. Smart Living, menyangkut tentang kualitas hidup yang dapat dirasakan oleh penduduk yang tinggal di kota tersebut, seperti ketersediaan pelayanan infrastruktur, kesetaraan jaminan keamanan antara pria dan wanita, serta daya tarik pagi para wisatawan yang hendak datang.
Smart City: Kota untuk Orang Pintar?

Smart City di Indonesia

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, konsep Smart City hingga saat ini sudah menjadi tren yang cukup populer bagi kota-kota di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kota Bandung merupakan salah satu kota di Indonesia yang telah mengimplementasikan konsep Smart City di berbagai tatanan pengembangannya.

Dilansir pada laman Bandung Smart City, berdasarkan Buku Rencana Induk Bandung Kota Cerdas (Master Plan Bandung Smart City) tahun 2018-2023, Kota Bandung menerapkan 6 (enam) indikator, di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Smart Governence, dengan sasaran pelayanan, birokrasi, dan kebijakan
  2. Smart Branding, dengan sasaran tourism branding, business branding, dancity appearance branding
  3. Smart Economy, dengan sasaran industri berdaya saing, kesejahteraan rakyat, dan membangun ekosistem transaksi keuangan
  4. Smart Living, dengan sasaran harmonisasi tata ruang wilayah, mewujudkan prasarana kesehatan, dan menjamin ketersediaan transportasi
  5. Smart Society, dengan sasaran mewujudkan efisiensi interaksi masyarakat, lingkungan belajar yang kondusif, dan tata keamanan masyarakat
  6. Smart Environment, dengan sasaran pengembangan program proteksi lingkungan, waste management, dan tata kelola energi yang bertanggung Jawab

Jika dibandingkan dengan keenam indikator dari Caragliu et. al., (2011) dan Lombardi et. al., (2012), Kota Bandung menggunakan beberapa Indikator yang lebih spesifik seperti Smart Branding dan Smart Society.

Hal ini menunjukan bahwa terlepas dari indikator yang sudah ada pada kajian-kajian atau penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, tetap perlu adanya penyesuaian mengikuti karakteristik fisik dan nonfisik dari masing-masing kota agar objek perencanaan yang disasar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang sebenarnya. 

Baca juga: Pengembangan Pariwisata di Daerah Tertinggal

Referensi:

  • Ahad, M. A., Paiva, S., Tripathi, G., Feroz, N. (2020). Enabling technologies and sustainable smart cities. Sustainable Cities and Society. 61.
  • Caragliu, A., Del Bo, C. and Nijkamp, P., (2011). Smart cities in Europe. Journal of urban technology, 18(2), pp.65-82.
  • Lombardi, P., Giordano, S., Farouh, H. and Yousef, W., (2012). Modelling the smart city performance. Innovation: The European Journal of Social Science Research, 25(2), pp.137-149.
  • Peraturan Wali Kota Bandung Nomor 1470 Tahun 2018 Tentang Rencana Induk Bandung Kota Cerdas (Master Plan Bandung Smart City) Periode 2018-2023
  • Sutrisno, B & Akbar, I. (2018). E-Partisipasi Dalam Pembangunan Lokal (Studi Implementasi Smart City Di Kota Bandung). Jurnal Sosioteknologi. 17(2). pp,191-207.

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *