Bagaimana Perspektif Perkembangan Smart City di Indonesia?

Smart City: Kota untuk Orang Pintar?

Apa yang terlintas di benak Anda ketika mendengar istilah smart city? Tentu saja ini adalah cerminan kota yang sangat maju, canggih dengan berbagai perkembangan teknologinya, bukan? Berbicara tentang smart city, apakah di Indonesia terdapat kota dengan predikat tersebut? Mari kita cari tahu penjelasan lengkapnya di ulasan ini.

Konsep Smart City di Indonesia

Kota yang semakin berkembang cenderung akan memiliki masalah yang turut menyertainya. Saat ini, kota-kota di berbagai belahan dunia sedang dihadapkan pada isu-isu seperti polusi, konsumsi sumberdaya yang tidak terkontrol, emisi gas, dan social enquality. Kondisi demikian juga diperburuk dengan peningkatan jumlah penduduk yang tinggal di kota dan kuantitas lahan perkotaan yang semakin terbatas.

Sehinga mau tidak mau menggerakkan pemerintah untuk dapat mencari alternatif perencanaan dalam menanggulangi isu permasalahan tersebut. Konsep Smart City kemudian muncul sebagai konsep yang dapat menjadi alternatif bagi pemerintah dalam melakukan perencanaan dan pengembangan kota.

Sesuai dengan istilahnya, Konsep Smart City atau Kota Cerdas mengoptimalkan fungsi dari Information and Communnication Technologies (ICT) dan mengintegrasikan pelayanan infrastruktur eksisting dengan teknologi digital. Intervensi teknologi dalam konsep Smart City tersebut diharapkan dapat  mengatasi isu dan permasalahan yang sedang dihadapi oleh kota-kota tersebut secara lebih efisien dan berkelanjutan.

Istilah Smart City mulai berkembang sejak tahun 1990, yang ditandai dengan mulai digunakannya ICT dan infrastruktur modern di kota-kota pada saat itu (Albino et. al, 2015:: 3-21 dalam Ahad, et al, 2020). Dalam dua dekade terakhir, Smart City semakin berkembang dan konsep ini mulai berorientasi kepada penanggulangan permasalahan yang terjadi di perkotaan secara berkelanjutan dan menciptakan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapat pelayanan dari infrastruktur perkotaan yang sudah bersifat lebih modern.

Hal tersebut dapat diwujudkan dengan pemanfaatan teknologi untuk mengkonversi segala entitas dan pelayanan di perkotaan yang masih bersifat konvensional menjadi otomatis dengan meminimalkan intervensi dari luar.

Perkembangan Smart City di Indonesia

Di Indonesia sendiri, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dapat dikatakan sebagai salah satu aspek untuk menunjang penerapan smart city. Kementerian Komunikasi dan Informatika pun berupaya menghadirkan 100 kota cerdas di tanah air melalui program gerakan menuju 100 smart city

Hal ini didukung juga dengan perkembangan penggunaan internet oleh masyarakat Indonesia yang kian hari kian meningkat. Namun sayangnya, penggunaan tersebut hanya didominasi untuk penggunaan entertainment melalui media sosial, atau hanya sekedar untuk berinteraksi antara masyarakat lainnya. 

Sehingga tidak semua masyarakat di Indonesia mendapatkan manfaat dan nilai tambah dari adanya teknologi ini. Oleh sebab itu, agar program gerakan 100 smart city di Indonesia dapat terwujud, pemerintah memiliki peran utama untuk mengembangkannya. Tapi apakah hanya pemerintah saja? 

Tentu saja tidak, peran dari masyarakat pun begitu dibutuhkan agar program yang diinginkan pemerintah dapat terwujud sesuai rencana dan masyarakat pun mendapatkan dampak positif dan manfaat dari kota cerdas tersebut. Branding kota cerdas di Indonesia tidak hanya akan dimaksimalkan dengan keefektifan penggunaan teknologi untuk berbagai kebutuhan. 

Namun juga akan diciptakan melalui budaya-budaya dan produk-produk lokal wilayah setempat. Dengan tujuan dapat menjangkau seluruh wilayah di Indonesia bahkan luar negeri sehingga dapat meningkatkan nilai ekonomi.

Apa Saja Indikator Smart City?

Smart City memiliki 20 indikator seperti yang yang ditampilkan pada gambar di bawah ini.

Smart City
Indikator Smart City
Sumber: Ahad, M. A., et,al (2020)

Menurut Ahad, et. al,. (2020), kata ‘Smart’ pada setiap komponen memberi arti bahwa adanya suatu sistem atau mekanisme yang bersifat otomatis dalam menjalankan segala kegiatan pada masing-masing domain. Di sektor pemerintahan, kegiatan yang dimaksud adalah dalam menyimpan, mengatur, mengirim, maupun maintenance data. Sedangkan bagi masyarakat, kegiatan yang dimaksud adalah mengakses dan mendapat pelayanan dari masing-masing indikator.  

Sementara menurut Caragliu, et. al., (2011) dan (Lombardi, et. al., 2012), Smart City memiliki 6 (enam) indikator utama. Di antaranya adalah Smart Government, Smart Environment, Smart Economy, Smart People, Smart Mobility, dan Smart Living. Keenam indikator memiliki karakteristik yang dapat dilihat rinciannya melalui gambar berikut ini.  

Smart City
Indikator Smart City
Sumber: Caragliu et. al., (2011); Lombardi et. al., (2012)
  1. Smart Government, suatu kota dapat dikatakan ‘cerdas’ apabila masyarakat yang tinggal di kota tersebut dapat memiliki kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, menerima pelayanan publik secara optimal, transparansi dalam sistem pemerintahan, serta adanya strategi politik yang berkualitas.
  2. Smart Environment, menunjukan bahwa kota yang cerdas menyediakan kondisi lingkungan yang indah dan minim polusi serta didukung oleh pengelolaan yang berkelanjutan.
  3. Smart Economy, menunjukan kondisi di mana kota yang cerdas dapat mendorong semangat kewirausahaan, inovasi, dan kreativitas masyarakat yang tinggal di dalamnya. Selain itu, Indikator ini juga dapat tercermin pada kemampuan kota untuk dapat bertransformasi dan adanya integrasi pasar ke taraf internasional. 
  4. Smart People, mengacu pada kondisi masyarakat kota yang fleksibel, toleran, kreatif, dan aktif dalam partisipasi ruang publik.  
  5. Smart Mobility, berkaitan dengan tingkat aksesibilitas pada taraf lokal, ketersediaan ICT pada pengelolaan transportasi, serta sistem perencanaan transportasi yang berkelanjutan.
  6. Smart Living, menyangkut tentang kualitas hidup yang dapat dirasakan oleh penduduk yang tinggal di kota tersebut, seperti ketersediaan pelayanan infrastruktur, kesetaraan jaminan keamanan antara pria dan wanita, serta daya tarik pagi para wisatawan yang hendak datang.
Smart City: Kota untuk Orang Pintar?

Contoh Smart City di Indonesia

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, konsep Smart City hingga saat ini sudah menjadi tren yang cukup populer bagi kota-kota di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kota Bandung merupakan salah satu kota di Indonesia yang telah mengimplementasikan konsep Smart City di berbagai tatanan pengembangannya.

Dilansir pada laman Bandung Smart City, berdasarkan Buku Rencana Induk Bandung Kota Cerdas (Master Plan Bandung Smart City) tahun 2018-2023, Kota Bandung menerapkan 6 (enam) indikator, di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Smart Governence, dengan sasaran pelayanan, birokrasi, dan kebijakan
  2. Smart Branding, dengan sasaran tourism branding, business branding, dancity appearance branding
  3. Smart Economy, dengan sasaran industri berdaya saing, kesejahteraan rakyat, dan membangun ekosistem transaksi keuangan
  4. Smart Living, dengan sasaran harmonisasi tata ruang wilayah, mewujudkan prasarana kesehatan, dan menjamin ketersediaan transportasi
  5. Smart Society, dengan sasaran mewujudkan efisiensi interaksi masyarakat, lingkungan belajar yang kondusif, dan tata keamanan masyarakat
  6. Smart Environment, dengan sasaran pengembangan program proteksi lingkungan, waste management, dan tata kelola energi yang bertanggung Jawab

Jika dibandingkan dengan keenam indikator dari Caragliu et. al., (2011) dan Lombardi et. al., (2012), Kota Bandung menggunakan beberapa Indikator yang lebih spesifik seperti Smart Branding dan Smart Society.

Hal ini menunjukan bahwa terlepas dari indikator yang sudah ada pada kajian-kajian atau penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, tetap perlu adanya penyesuaian mengikuti karakteristik fisik dan nonfisik dari masing-masing kota agar objek perencanaan yang disasar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan yang sebenarnya. 

Baca juga: Pengembangan Pariwisata di Daerah Tertinggal

Referensi:

  • Ahad, M. A., Paiva, S., Tripathi, G., Feroz, N. (2020). Enabling technologies and sustainable smart cities. Sustainable Cities and Society. 61.
  • Caragliu, A., Del Bo, C. and Nijkamp, P., (2011). Smart cities in Europe. Journal of urban technology, 18(2), pp.65-82.
  • Lombardi, P., Giordano, S., Farouh, H. and Yousef, W., (2012). Modelling the smart city performance. Innovation: The European Journal of Social Science Research, 25(2), pp.137-149.
  • Peraturan Wali Kota Bandung Nomor 1470 Tahun 2018 Tentang Rencana Induk Bandung Kota Cerdas (Master Plan Bandung Smart City) Periode 2018-2023
  • Sutrisno, B & Akbar, I. (2018). E-Partisipasi Dalam Pembangunan Lokal (Studi Implementasi Smart City Di Kota Bandung). Jurnal Sosioteknologi. 17(2). pp,191-207.

Indonesia Rawan Bencana, Apa Saja Faktor yang Menjadi Penyebabnya?

Indonesia Strategis Bencana dan Pentingnya Keandalan Bangunan Gedung

Dilansir dari laman Okezone, sejak awal Januari hingga Mei 2020, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya telah terjadi 1.296 bencana alam di Indonesia. Sebagai negara yang dianggap rawan bencana, dari kasus bencana alam yang terjadi di Indonesia didominasi oleh bencana hidrometeorologi yang meliputi banjir, puting beliung, tanah longsor, dan gelombang pasang.

Continue reading

Melihat Wilayah Calon Ibu Kota Baru dalam Kacamata Spasial

Melihat Wilayah Calon Ibu Kota Baru dalam Kacamata Spasial

Pemindahan Ibu Kota Indonesia sebenarnya bukan merupakan hal baru. Pada saat pemerintahan Soekarno, ibu kota negara pernah dipindah sementara ke beberapa lokasi seperti Yogyakarta dan Sumatra Barat dengan berbagai alasan. Misalnya saja keamanan yang memang pada saat itu dinilai cukup mengkhawatirkan akibat adanya ancaman, baik dari Belanda maupun Jepang. Kondisi ini bertahan hingga 17 Agustus 1950, di mana setelah itu Ibu Kota Negara Indonesia dikembalikan ke Jakarta.

Continue reading

Istilah-Istilah dalam Pariwisata (I-W)

Istilah-Istilah dalam Pariwisata

Inbound Tourism

Inbound Tourism merupakan perjalanan wisata yang dilakukan seseorang ke negara lain yang bukan tempat tinggalnya.

Industrial Tourism

Industrial Tourism merupakan kegiatan kunjungan wisata ke situs industri yang ada saat ini maupun di masa lampau. Contoh situs yang menjadi destinasi Industrial Tourism dan dinilai cukup populer di antaranya adalah penanaman teh di Sri Lanka, penambangan tembaga di Canada, dan pabrik Airbus di Perancis.

Continue reading

Istilah-Istilah dalam Pariwisata (A-H)

Istilah-Istilah dalam Pariwisata

Accessible Tourism

Accessible Tourism adalah tentang bagaimana membuat industri pariwisata dapat diakses oleh semua orang. The United Nations World Tourism Organization (UNWTO) menyatakan semua akses terhadap fasilitas wisata, produk, dan pelayanan harus menjadi tanggung jawab utama dan diatur dalam kebijakan terkait Sustainable Tourism (pariwisata berkelanjutan). Hal ini juga menyangkut tentang bagaimana membuat pariwisata menjadi inklusif dan terbuka bagi semua orang terlepas dari keterbatasan fisik, disabilitas, maupun usia.

Continue reading

Dark Tourism: Mendatangi dan Merenungi yang Kelam

Dark Tourism

Pariwisata merupakan sektor yang memberikan sumbangan cukup signifikan bagi pendapatan negara. Dilansir dari CNN Indonesia, berdasarkan data dari Laporan Kinerja Kementrian Pariwisata tahun 2018, sektor pariwisata turut menyumbang 5,25% pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB) di Indonesia. Tingginya kontribusi pariwisata membuat Pemerintah RI bersama pemerintah daerah menggunakan momentum ini untuk terus mengembangkan sektor kepariwisataan di daerahnya masing-masing. 

Continue reading