Dark Tourism: Mendatangi dan Merenungi yang Kelam

Dark Tourism

Pariwisata merupakan sektor yang memberikan sumbangan cukup signifikan bagi pendapatan negara. Dilansir dari CNN Indonesia, berdasarkan data dari Laporan Kinerja Kementrian Pariwisata tahun 2018, sektor pariwisata turut menyumbang 5,25% pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB) di Indonesia. Tingginya kontribusi pariwisata membuat Pemerintah RI bersama pemerintah daerah menggunakan momentum ini untuk terus mengembangkan sektor kepariwisataan di daerahnya masing-masing. 

Dalam pandangan kami, setiap daerah memiliki potensi yang dapat dikembangkan lebih lanjut. Selain alam dan budaya, potensi lain yang dapat dikembangkan adalah berkaitan dengan sejarah, baik yang sifatnya menyenangkan maupun menakutkan seperti halnya objek saksi bencana alam dan kematian.

Namun anehnya, kondisi tersebut justru menjadi daya tarik bagi kelompok wisatawan yang gandrung terhadap nilai-nilai sejarah yang kelam, sehingga mereka selalu tertarik untuk menelusuri keberadaan dari sejarah dan kebudayaan tersebut. Konsep wisata ini kemudian berkembang dan dikenal dengan sebutan dark tourism atau wisata kelam.

Mengenal Dark Tourism

Istilah dark tourism pertama kali dikenalkan oleh John Lennon dan Malcolm Foley lewat bukunya berjudul “Dark Tourism: The Atraction of Death and Disaster”. Pada awalnya, dark tourism hanya dikaitkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan kematian, perang, dan bencana. Namun seiring berjalannya waktu, aktivitas dan perihal yang dianggap tidak wajar oleh mayoritas orang termasuk di dalamnya hal-hal yang bersifat mistis seringkali dikaitkan dengan dark tourism.

Di sisi lain, Seaton (1996) dalam Dirgantara (2013) membuat satu terminologi baru bernama ‘Thana Tourism’, yaitu keseluruhan atau sebagian, baik itu nyata maupun simbolik tentang kematian sebagai motif untuk berkunjung. Sementara itu, Damanik (2012) menjelaskan dark tourism adalah perjalanan ke situs-situs yang memiliki tragedi , kisah, atau sejarah tentang kematian manusia secara tragis dan memilukan/mengenaskan dan kegiatan untuk menguatkan ingatan atas peristiwa dan korbannya di situs tersebut.

Beberapa daerah pun telah memasukkan ‘keanehan-keanehan’ tersebut untuk menjadi bagian dari atraksi wisata. Selain memberi dampak positif pada ekonomi lokal, gaya berwisata seperti ini diyakini dapat memberikan banyak perenungan terhadap sebuah peristiwa dan sejarah kepada wisatawan.

Bentuk-bentuk dark tourism

Menurut Stone (2006), dark tourism memiliki beberapa bentuk, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Dark Fun Factories

Dark tourism yang didasari oleh suatu peristiwa fiksi maupun nonfiksi, seperti Benteng Abad Pertengahan di Romania karena banyak orang yang menganggap memiliki kaitan dengan kisah Dracula.

2. Dark Exhibitions

Dark tourism dalam bentuk menampilkan barang atau hal-hal yang berkaitan dengan kematian seperti “Body Worlds” Exhibition yang menampilkan mayat-mayat yang diawetkan dan ditujukan untuk pendidikan kaitannya dengan kesehatan. Bentuk Dark Exhibitions juga dapat dilihat di Tana Toraja.

3. Dark Dungeos

Dark tourism dalam bentuk penampilan sejarah kelam yang terjadi di masa lampau dengan tujuan pendidikan dan hiburan seperti Galeri Keadilan di Nottingham yang merupakan bekas penjara di masa lampau, atau Lawang Sewu di Semarang.

4. Dark Resting Places

Dark tourism yang menawarkan penjelajahan pemakaman terkait sejarah-sentris, conservational, dan commemorative ethic seperti pada pemakaman Pere-Lachaise di Paris, atau di Ereveld (Makam Kehormatan Belanda) yang berada di Leuwi Gajah, Kota Cimahi.

5. Dark Shrines

Dark tourism dalam bentuk objek wisata yang berfungsi sebagai penghormatan dan memorial terhadap orang yang sudah meninggal seperti Gerbang Kensington Palace yang berfungsi untuk mengenang kematian Laddy Diana, Princess of Wales tahun 1997, atau Monumen Ground Zero Bali (Tugu Peringatan Bom Bali).

6. Dark Conflict Sites

Dark tourism dalam bentuk pendidikan terkait segala hal yang berhubungan dengan perang dan sejarahnya, seperti Monumen Plataran di Kabupaten Sleman atau Monumen Junyo Maru di Kota Cimahi sebagai peringatan Perang Dunia II bagi mereka yang tewas dalam bencana kapal Junyo Maru.

7. Dark Camps of Genocide

Dari keenam bentuk dark tourism yang telah dibahas sebelumnya, bentuk ini tergolong sebagai bentuk dark tourism yang paling kejam, yang berupa obyek wisata yang dulunya memiliki sejarah pembunuhan, genosida, maupun bencana alam yang menelan banyak korban. Misalnya adalah letusan Gunung Tambora, bencana tsunami di Aceh yang diabadikan lewat Museum Tsunami, maupun destinasi wisata lainnya.

Dark Tourism

Pandangan masyarakat terhadap dark tourism

Perkembangan konsep dark tourism tidak lepas dari pro dan kontra. Menurut Kendall Hill seperti yang dilansir dalam World Nomads, dark tourism dapat menjadi konsep berwisata yang cukup berpeluang untuk dikembangkan. Beberapa negara seperti Rwanda, Mozambik, dan Kamboja bahkan dikabarkan mendapat pemasukan yang cukup signifikan dari paket wisata ini.

Meski konsep berwisata sejatinya adalah bersenang-senang, dark tourism justru sebaliknya; menawarkan kesedihan. Namun, apa yang diharapkan ketika wisatawan telah mendatangi situs atau objek dark tourism? Tentu saja adalah bentuk perenungan dan penghormatan.

Destinasi dark tourism juga dapat menjadi jembatan yang menghubungkan antara masa lalu dengan masa sekarang. Wisatawan yang mengunjungi destinasi dark-tourism juga dapat merasakan emosi-emosi sedih yang tidak akan mereka dapatkan jika mengunjungi objek wisata pada umumnya. Namun di sisi lain, dark tourism dinilai dapat mengganggu kesakralan dari destinasi wisata yang menurut sebagian orang seharusnya perlu dijaga dan dipertahankan.

Baca juga: Prediksi Tren Perjalanan Wisata Tahun 2021

Potensi dark tourism di Indonesia

Di Indonesia, pengembangan daya tarik dark tourism sangatlah potensial. Misalnya saja dengan mengangkat cerita tentang letusan dahsyat Gunung Tambora di Pulau Sumbawa pada tahun 1815. Letusan Sang Ancala ini juga menjadi bencana kelam yang sangat bersejarah bagi masyarakat Indonesia.

Dalam banyak catatan sejarah, suara letusan Gunung Tambora telah terdengar hingga Sumatra. Lebih dari 2.000 Km dampak letusannya terasa. Dampak tsunaminya membekas dan melahirkan Danau Satonda. Tidak kurang dari 71.000 jiwa telah menjadi korban. Sampai saat ini, riwayat letusan Gunung Tambora selalu dikenang masyarakat dunia.

Lebih nahas lagi, satu tahun pascaletusan Tambora, dunia mengalami perubahan cuaca drastis selama tiga tahun. Iklim Asia Timur pun terganggu. Kegagalan panen besar terjadi. Sulit mengetahui berapa banyak orang yang meninggal akibat kelaparan. Letusan Tambora juga membawa dampak ke Eropa yang menyebabkan 200 ribu jiwa tewas pada tahun berikutnya.

Selain sejarah dan cerita Gunung Tambora, terdapat tempat-tempat lain yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Contohnya adalah Lubang Buaya di Jakarta, Desa Trunyan di Bali, Museum Tsunami di Aceh, Bunker Kaliadem di Yogyakarta, Monumen Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Museum Perang Dunia II di Tarakan, dan masih banyak lagi.

Dark Tourism
Kuburan di Tana Toraja memiliki bentuk yang bermacam-macam. Ada yang berupa kuburan gantung, kuburan batu, kuburan goa, dan kuburan pohon. Setiap kuburan di Toraja juga memiliki cerita masing-masing.

Hal yang perlu diperhatikan saat mengunjungi dark tourism

Sebelum mengunjungi objek dark tourism, perlu ditentukan terlebih dulu niat maupun alasan dari masing-masing individu. Selain itu, perlu dipahami juga bahwa tidak semua tuan rumah/masyarakat lokal dapat menerima dark toursim secara terbuka.

Berangkat dari niat yang telah disampaikan sebelumnya, hal yang tak boleh dilewatkan oleh wisatawan adalah mengenai etika. Berbeda dengan objek wisata pada umumnya, objek dark tourism terkadang memiliki aturan tertentu yang tidak boleh dilanggar. Kepekaan sangatlah dibutuhkan. Untuk itu, menjaga lisan dan perbuatan adalah keharusan.  

Film dokumenter Dark Tourist – Netflix. Dalam acara ini, jurnalis David Farrier berfokus pada pariwisata gelap dan perilaku wisatawan menuju situs-situs wisata gelap populer yang secara historis dikaitkan dengan kematian dan/atau tragedi.

Baca juga: Overtourism dan Solusinya

Daftar pustaka

  • Damanik, Janianton. 2012. Tipologi Dark Tourism. Jakarta: Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
  • Dirgantara, Ahmad Rimba. 2013. Kajian Dark Tourism Gempa Bumi Sichuan. Program Magister Perencanaan Kepariwisataan Institut Teknologi Bandung
  • Laman website CNN Indonesia. Menghitung Kontribusi Sektor Pariwisata bagi Ekonomi RI. Diakses pada 8 Agustus 2020 Pukul 15.00
  • Laman website World Nomads. Is Dark Tourism Ever OK?. Diakses pada 8 Agustus 2020 Pukul 15.00 WIB.
  • Smith, Wayne. (2002). Dark Tourism: The Attraction of Death and Disaster. Annals of Tourism Research. 29. 1188–1189
  • Stonem, Philip. (2006). A Dark Tourism Spectrum: Towards a Typology of Death and Macabre Related Tourist Sites, Attractions, and Exhibitions. TOURISM. 54. 145-160

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *