Membangun Pariwisata Bersama Masyarakat

Pembangunan Pariwisata Berbasis Masyarakat

United Nation World Tourism Organizations (UNWTO) mengakui bahwa sektor pariwisata adalah sektor unggulan dan merupakan salah satu kunci penting dalam pembangunan wilayah di suatu negara maupun peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat. Meningkatnya jumlah destinasi dan investasi pariwisata menjadikan sektor pariwisata sebagai faktor kunci dalam peningkatan devisa, penciptaan lapangan kerja, pengembangan usaha dan infrastruktur.

Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan berbagai macam potensinya mampu memikat banyak orang untuk datang dan menjelajahi keunikannya. Tak heran, pariwisata dijadikan sebagai program pembangunan prioritas yang selalu diberi target pencapaian oleh pemerintah.

Dalam lima tahun terakhir, jumlah kunjungan wisatawan mancanagera ke Indonesia terus mengalami peningkatan. Angka kunjungan ini tentunya berpengaruh terhadap pertumbuhan devisa di Indonesia. Pada tahun 2017, pariwisata Indonesia menempati urutan kedua sebagai penyumbang devisa negara setelah sektor kelapa sawit dengan nilai USD 16,8 miliar.

pembangunan pariwisata berbasis masyarakat
Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada tahun 2009 hingga 2018
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS), 2019

Namun, sekali pun devisa dan kunjungan wisatawan mengalami kenaikan, ternyata tidak semua masyarakat di Indonesia menikmati ‘kue manis’ atau dampak ekonomi dari pariwisata. Pengembangan kepariwisataan yang terkonsentrasi pada destinasi wisata prioritas, ditambah dengan adanya istilah 10 Bali Baru menyebabkan banyak ketimpangan yang terjadi di daerah yang bukan menjadi prioritas.

Butler (1974) dalam Kementerian LHK (2019) mengilustrasikan dampak utama sektor pariwisata secara umum melalui gambar berikut.

Pembangunan Pariwisata Berbasis Masyarakat
Sumber: The Major Impact of Tourism (Butler, 1974) dalam Kementerian LHK (2019)

Jika melihat ilustrasi di atas, meski cukup banyak dampak positif yang didapatkan dari pariwisata, masih banyak dampak negatif yang harus diminimalisir agar pembangunan pariwisata dapat berkelanjutan. Untuk itu, sustainable tourism atau pariwisata berkelanjutan menjadi konsep yang dapat dipraktikkan dengan baik untuk menciptakan keberlangsungan pariwisata dari sisi ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Pentingnya pelibatan komunitas (masyarakat) dalam pembangunan pariwisata

Pendekatan sustainable tourism mengedepankan prinsip-prinsip sosial di mana masyarakat di sekitar destinasi wisata dapat terlibat dan ikut serta dalam menghidupkan potensi-potensi lokal yang ada. Tanpa partisipasi langsung dari masyarakat di destinasi wisata, mustahil pariwisata dapat berjalan secara berkelanjutan. Konsep inilah yang dikenal dengan pariwisata berbasis masyarakat.

Tosun dan Timothy (2003) juga menegaskan bahwa aspek penting dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan adalah penekanan pariwisata berbasis masyarakat. Pendekatan ini lebih fokus terhadap partisipasi masyarakat lokal dalam merencanakan dan mengembangkan potensi di destinasi pariwisata. Dengan terlibatnya masyarakat di suatu destinasi, maka pariwisata secara langsung dapat memberikan manfaat bagi masyarakat lokal.

Pada kenyataannya, membawa konsep pariwisata berkelanjutan dan pariwisata berbasis masyarakat tidaklah semudah apa yang dipikirkan. Untuk itu, aspek kepemimpinan/leadership juga sangat memberikan pengaruh terhadap proses pengembangan destinasi wisata.

Pengertian Community Based Tourism

ASEAN (2015) mendefinisikan pariwisata berbasis masyarakat atau dikenal dengan istilah Community Based Tourism (CBT) sebagai kegiatan kepariwisataan yang sepenuhnya dimiliki, dijalankan, dan dikelola oleh masyarakat sehingga berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui mata pencaharian yang berkelanjutan dan melindungi tradisi sosial-budaya yang bernilai maupun sumber daya alam dan warisan budaya.

Secara konseptual, prinsip pembangunan pariwisata berbasis masyarakat adalah dengan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan melalui pemberdayaan dalam berbagai kegiatan kepariwisataan sehingga manfaat dari pariwisata sebesar-besarnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

Adapun prinsip pembangunan pariwisata berbasis komunitas menurut ASEAN (2015) di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Melibatkan dan memberdayakan komunitas agar pengelolaan dapat dipastikan transparan
  2. Membangun kerja sama dengan pihak-pihak (stakeholder) terkait, yang dalam hal ini dikenal dengan konsep pentahelix (pemerintah, swasta, media, akademisi, dan komunitas)
  3. Memperoleh pengakuan dari otoritas terkait
  4. Meningkatkan kesejahteraan sosial dan martabat manusia
  5. Menerapkan mekanisme pembagian keuntungan yang adil dan transparan
  6. Meningkatkan skema hubungan ekonomi dengan pihak lokal dan regional
  7. Menghargai tradisi dan budaya lokal
  8. Berkontribusi terhadap konservasi sumber daya alam
  9. Meningkatkan kualitas pengalaman wisatawan dan tuan rumah dengan memperkuat interaksi yang bermakna antara tuan rumah (pelaku wisata) dengan tamu (wisatawan)
  10. Bekerja untuk menuju kemandirian finansial

Dalam beberapa kasus, masyarakat lokal pada umumnya tidak memiliki informasi, sumber daya, dan kekuatan yang cukup untuk mengambil keputusan dalam pembangunan pariwisata. Untuk itu, dibutuhkan pihak-pihak khusus dan profesional yang dapat mengatasi keterbatasan-keterbatasan masyarakat lokal untuk menguatkan organisasi lokal secara kontinyu, sehingga dapat lebih baik dalam mengembangkan destinasi wisata.

Beberapa contoh di lapangan menunjukkan bahwa pengembangan destinasi wisata dapat dilakukan melalui kesepakatan dan kerja sama yang baik dengan pihak akademisi. Dalam hal ini, akademisi dapat mengambil peran untuk membantu proses pendampingan masyarakat di sektor pertanian, ekonomi kreatif, atau lainnya. Contoh lain yang seringkali kami jumpai adalah dengan melibatkan konsultan pariwisata untuk merancang atau mendesain pengembangan wilayah.

Di sisi lain, komunikasi dan koordinasi antar-stakeholder tidak boleh dilewatkan. Organisasi lokal di destinasi wisata haruslah membangun kerja sama dan komunikasi yang baik dengan instansi pemerintah di daerahnya. Dengan adanya hubungan yang baik, diharapkan dapat mempercepat pembangunan program jangka pendek dan panjang di destinasi wisata.

Wujud dari konsep Community Based Tourism atau pariwisata berbasis masyarakat adalah dengan dikembangkannya desa-desa wisata, di mana masyarakat desa ikut dilibatkan dalam mengenali dan mengembangkan potensinya, baik yang berupa sumber daya alam, budaya, maupun sumber daya manusianya.

Salah satu contoh nyata penerapan pembangunan pariwisata berbasis masyarakat yang berhasil adalah Desa Wisata Pentingsari di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Desa wisata yang berjarak 7 Km dari Gunung Merapi ini pernah menerima penghargaan berupa Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) kategori ekonomi pada tahun 2017 dan 100 Top Destinasi Wisata Berkelanjutan di Dunia versi Global Green Destinations Days pada 2019.

Bentuk partisipasi masyarakat di Desa Wisata Pentingsari juga dapat dilihat dalam penyediaan akomodasi penginapan homestay. Sesuai dengan definisinya, homestay menjadi jenis akomodasi penginapan sederhana yang memanfaatkan rumah tinggal masyarakat lokal untuk digunakan atau disewa oleh wisatawan dalam waktu sementara. Dengan adanya homestay di desa wisata, pemilik rumah dapat secara langsung merasakan manfaat ekonomi dari kunjungan wisatawan.

Baca juga: Tahapan Merintis dan Mengembangkan Desa Wisata

Referensi:

  • ASEAN. 2015. ASEAN Community Based Tourism Standard. Cambodian Ministry of Tourism. Phnom Penh, Cambodia
  • Panduan Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Taman Nasional. 2019. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
  • Tosun, Cevat and Timothy, Dallen J. 2003. Arguments for Community Participation in the Tourism Development Process. The Journal Of Tourism Studies 14: 1-15

Recommended Posts

2 Comments

  1. Avatar

    Saya tertarik dengan artikel tentang hal tersebut diatas, apakah saya boleh meminta jasa perencanaan untuk merencanakan konsep tempat pariwisata di desa saya ?

    • admin

      Selamat pagi Bapak Alberts Luna. Salam kenal dari kami Eticon Tourism

      Terima kasih atas apresiasinya. Mengenai jasa perencanaan, tim kami akan menghubungi Bapak melalui email. Terima kasih banyak


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *