Pedoman Penggunaan APD di Tempat Kerja, Penting untuk Diketahui!

APD atau Alat Pelindung Diri pada masa pandemi memang familiar digunakan oleh seseorang di bidang medis. Namun faktanya, penggunaan APD juga penting untuk pekerjaan non media di tempat kerja mereka.

Mengapa? Karena APD dibutuhkan para pekerja untuk menjaga keamanan dan keselamatan di tempat kerja yang penuh risiko. 

Banyak potensi bahaya yang ada di tempat kerja, seperti kejatuhan benda berat, terluka oleh mesin produksi atau terpapar bahan kimia.

Maka pihak perusahaan perlu melakukan pengendalian untuk membantu para pekerja terhindar dari cedera, penyakit, dan potensi bahaya lainnya di tempat kerja. 

Pengendalian ini bisa dengan mengontrol langsung sumber bahaya di tempat kerja. Salah satunya dengan mengajukan perizinan SILO untuk setiap peralatan yang disediakan perusahaan untuk tenaga kerja.

Tetapi pencegahan secara teknis juga tidak akan memberikan perlindungan yang cukup, diperlukan alat pelindung diri untuk mencegah segala potensi bahaya di tempat kerja.

Pedoman Penggunaan APD

Untuk memahami eksistensi penggunaan APD oleh tenaga kerja, maka perusahaan dan tenaga kerja perlu memahami pedoman dalam penggunaanya.

Berikut beberapa poin pedoman penggunaan alat perlindungan diri yang perlu diperhatikan,

Peraturan Mengenai Alat Pelindung Diri sesuai K3

Berdasarkan Undang-undang No 1 Tahun 1970, Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan, Undang-undang No 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan dan Peraturan Pemerintah No 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, setiap tenaga kerja memiliki hak untuk mendapatkan jaminan atas keselamatan dan kesehatan kerja mereka.

Dengan kata lain penyediaan dan penggunaan APD di tempat kerja adalah salah satu bentuk implementasi keselamatan dan kesehatan kerja.

Sebagaimana yang sudah diatur dalam Pasal 1 angka 1 Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 8 Tahun 2010, menjelaskan bahwa alat pelindung diri adalah seperangkat alat yang mampu melindungi individu dengan cara menutup sebagian atau seluruh tubuh sehingga terhindar dari bahaya di tempat kerja.

Tujuan Penggunaan Alat Pelindung Diri

Tujuan penggunaan APD jika dijabarkan lebih rinci, maka bisa disimpulkan menjadi 3 poin.

Pertama, melindungi tenaga kerja dari potensi resiko bahaya K3. Kedua, meningkatkan efektivitas dan produktivitas kerja. Dan ketiga, menciptakan tempat kerja yang aman.

Manajemen APD

Berdasarkan pasal 7 Pemenakertrans No 8 Tahun 2010, manajemen APD meliputi

  1. Identifikasi kebutuhan dan syarat APD
  2. Memilih APD sesuai dengan jenis bahaya dan kebutuhan tenaga kerja
  3. Pelatihan
  4. Penggunaan, perawatan, dan penyimpanan
  5. Pembuangan atau pemusnahan
  6. Pembinaan
  7. Inspeksi
  8. Evaluasi dan Pelaporan

Fungsi dan Jenis APD

Berdasarkan Pasal 3 Pemenakertrans No 8 Tahun 2010, jenis alat pelindung diri diklasifikasikan menjadi sembilan jenis, diantaranya:

  1. Alat Pelindung Kepala
Alat Pelindung Kepala. Sumber: unplash.com
Alat Pelindung Kepala. Sumber: unplash.com

Fungsi dari alat pelindung kepala tentunya untuk melindungi kepala dari benturan, kejatuhan atau terpukul benda tajam yang bisa saja meluncur dari udara.

Selain itu alat pelindung kepala juga berfungsi untuk melindungi kepala dari terpapar oleh radiasi panas, api, percikan, bahan-bahan kimia, mikroorganisme dan suhu yang ekstrim.

Untuk alat pelindung kepala ini sendiri terdiri dari 3 jenis yakni helm pengaman (safety helmet), topi atau tudung kepala, dan penutup atau pengaman rambut.

  1. Alat Pelindung Mata dan Muka

Fungsi dari alat pelindung mata dan muka adalah melindungi mata dan muka dari paparan bahan kimia berbahaya, percikan benda-benda kecil, panas, atau uap panas, pancaran cahaya atau bahkan radiasi gelombang elektromagnetik yang mengion maupun yang tidak mengion.

Sama seperti alat pelindung kepala, alat pelindung mata dan muka terdiri dari beberapa alat. Diantaranya adalah kacamata pengaman, masker selam, tameng muka (face shield), dan goggles.

  1. Alat Pelindung Telinga

Telinga adalah salah satu bagian tubuh yang tak kalah penting untuk dilindungi. Karena terdapat banyak penyakit yang muncul akibat suara bising yang terdengar oleh telinga.

Oleh karena itu diperlukan alat pelindung telinga untuk melindungi alat pendengaran dari kebisingan atau tekanan.

Alat pelindung telinga ini seperti alat sumbat telinga (ear plug) dan penutup telinga (ear muff).

  1. Alat Pelindung Pernapasan

Alat pelindung pernapasan adalah alat pelindung yang berfungsi melindungi  organ pernapasan dengan cara menyaring udara yang tercemar bahan kimia, mikro organisme, partikel seperti debu, kabut dan menyalurkan udara yang bersih dan sehat untuk organ pernapasan.

Jenis alat ini terdiri dari masker, respirator, katrit, kanister, airline respirator, emergency breathing apparatus dan masih banyak lagi

  1. Alat Pelindung Tangan

Alat ini berfungsi untuk melindungi tangan dan jari-jari tangan dari pajanan api, suhu panas, suhu dingin, arus listrik, benturan, radiasi elektronik, pukulan dan goresan.

Alat ini terdiri dari sarung tangan yan terbuat dari logam,kulit, kain kanvas, kain atau bahan yang tahan akan bahan kimia

  1. Alat Pelindung Kaki
Alat Pelindung Kaki. Sumber: www.safetysign.co.id
Alat Pelindung Kaki. Sumber: www.safetysign.co.id

Fungsinya, untuk melindungi kaki dari terkena cairan panas atau dingin, uap panas, serta bahan kimia berbahaya. 

Selain itu, pelindung kaki juga memberikan perlindungan terhadap resiko tertusuk benda tajam, tertimpa benda berat, dan tergelincir.

Terlebih jika tempat kerja yang mereka kerjakan berpotensi menimbulkan bahaya dan ledakan maka penting bagi perusahaan untuk memberikan alat pelindung kaki kepada tenaga kerja.

Alat  yang termasuk dalam pelindung kaki adalah sepatu keselamatan pada pekerjaan pelebaran, konstruksi bangunan dan pengecoran logam.

  1. Pakaian Pelindung

Berfungsi untuk memberikan perlindungan terhadap sebagian atau seluruh bagian tubuh dari bahaya paparan api dan bena panas, temperatur panas atau dingin yang ekstrim.

Di samping itu, pakaian pelindung juga mampu melindungi dari bahaya percikan bahan-bahan kimia serta benturan, tergores dan radiasi.

Terlebih radiasi sangat berpotensi untuk menyebabkan kemandulan seseorang, maka untuk mencegah hal itu terjadi penting bagi tenaga kerja untuk menggunakan pakaian pelindung.

Pakaian pelindung terdiri dari jaket, rompi dan pakaian pelindung yang menutupi sebagian atau seluruh tubuh.

  1. Alat Pelindung Jatuh Perorangan

Alat ini berfungsi untuk membatasi gerak guna mencegah potensi jatuh pemakainya. Alat pelindung ini banyak digunakan pada mereka yang bekerja di tempat kerja jauh diatas permukaan tanah.

Dengan menggunakan alat ini, akan menjaga pemakainya untuk tetap berada pada posisi yang diinginkan.

Selain mencegah potensi jatuh, alat ini juga mampu menahan pemakainya sehingga tidak akan membentur lantai dasar langsung jika terjadi potensi jatuh.

harness. sumber: 5.imimg.com
harness. sumber: 5.imimg.com

Alat yang termasuk didalamnya adalah sabuk pengaman tubuh (harness),  tali koneksi, tali pengaman, alat penurun, alat penjepit tali dan masih banyak lagi.

  1. Pelampung

Untuk mereka yang bekerja di sekitar perairan atau berada di lingkungan yang memiliki potensi tenggelam, maka pelampung wajib disediakan oleh perusahaan.

Pelampung sendiri juga memiliki kemampuan untuk mengatur keterapungan agar pengguna berada pada posisi tenggelam atau melayang didalam air.

Yang termasuk dalam pelampung adalah rompi keselamatan, jaket keselamatan, dan rompi pengatur keterapungan.

Selain menyediakan alat pelindung diri secara cuma-cuma untuk tenaga kerja, perusahaan juga memiliki kewajiban mengumumkan secara tertulis atau memasang rambu-rambu mengenai kewajiban penggunaan APD di tempat kerja.

Nah itulah segala pedoman penggunaan APD yang bisa kami ulas untuk Anda. Kami harap dengan artikel ini bisa meningkatkan kesadaran perusahaan dan tenaga kerja mengenai pentingnya penggunaan APD di tempat kerja.

Mengenal Studi Kelayakan Proyek

Untuk menjalankan sebuah proyek tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Maka berbagai persiapan perlu dilakukan supaya proyek yang akan dijalankan bisa terlaksana dengan sukses dan memberikan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Salah satunya adalah dengan pengajuan studi kelayakan proyek.

Langkah pengajuan studi kelayakan proyek tersebut termasuk dalam langkah yang cukup kritis. Kenapa? karena dengan langkat tersebut akan membantu dalam memberikan gambaran apakah proyek memiliki peluang sukses atau justru menimbulkan kerugian.

Untuk mengenal lebih jauh mengenai studi kelayakan proyek, dalam artikel ini akan kami sediakan informasi lengkapnya untuk Anda. Oleh karena itu, simak hingga akhir artikel ini.

Apa itu Studi Kelayakan Proyek?

Sesuai dengan namanya, studi kelayakan proyek adalah sebuah studi pengkajian yang bersifat menyeluruh dan menyoroti segala aspek kelayakan proyek untuk memastikan bahwa pelaksanaan proyek dapat dilakukan dengan sukses.

Mengapa pengkajian ini dilakukan dengan mengidentifikasi dan menyoroti segala aspek? Alasannya supaya hasil dari studi ini dapat memetakan apa yang dapat menjadi hambatan potensial dan menawarkan solusi alternatif yang bisa dilakukan.

Terlebih masa yang akan datang penuh akan  ketidakpastian, maka studi yang dilakukan perlu dilakukan secara menyeluruh.

Mulai dari waktu, anggaran, hukum hingga persyaratan tenaga kerja turut menjadi faktor yang akan diperhitungkan dalam studi kelayakan proyek. 

Ketika sebuah studi kelayakan ini dilakukan dengan baik, maka hasil dari studi tersebut akan membantu pengusaha dalam menentukan apakah pengusaha tetap melanjutkan ide atau gagasan yang dimiliki atau perlu diperbaiki dahulu atau bahkan memutuskan untuk tidak melanjutkannya.

Dengan demikian studi kelayakan bisa dijadikan sebuah pedoman penting saat proyek berlangsung.

Manfaat Studi Kelayakan Proyek

Manfaat studi kelayakan proyek. sumber: grapadikonsultan.com
Manfaat studi kelayakan proyek. sumber: grapadikonsultan.com

Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa studi kelayakan proyek penting dilakukan untuk memberikan gambaran yang jelas tentang proyek yang akan dilakukan.

Tak hanya itu saja, studi kelayakan juga mendatangkan banyak manfaat jika dilakukan. Apa saja? simak penjelasan berikut ini

  1. Meningkatkan keefektifan dan fokus tim proyek
  2. Mampu mendeteksi dan memanfaatkan peluang baru
  3. Mampu mendiagnosis kesalahan sebelum itu terjadi dan mampu melakukan pencegahan
  4. Memberikan alasan kuat atau bukti, mengapa dan bagaimana proyek ini harus dilakukan
  5. Tim dan pengusaha akan mendapatkan wawasan berharga mengenai proyek yang akan dilakukan

Aspek-aspek Penting dalam Studi Kelayakan

Pada umumnya, aspek-aspek yang akan dikaji dalam studi kelayakan proyek meliputi 6 aspek. Apa saja? berikut penjelasannya di bawah ini,

1. Aspek Pasar

Hal yang dikaji dalam aspek ini adalah hal yang berkaitan dengan potensi pasar dan produk yang akan dipasarkan, analisis kekuatan pesaing yang mencakup program pemasaran yang dilakukan, serta estimasi penjualan yang mungkin dapat diraih atau yang disebut juga sebagai market share.

2. Aspek Teknik

Sedangkan dalam aspek teknik adalah segala hal mengenai pemilihan lokasi proyek, pemilihan peralatan dan pembuatan gambar.

Dengan kata lain pengkajian ini akan melihat apakah perusahaan memiliki sumber daya teknis untuk melaksanakan proyek. Dimana nantinya pengkajian ini akan membantu pengusaha dalam menentukan sumber daya teknis yang tersedia mampu mencapai goals yang diharapkan.

3. Aspek Keuangan

Aspek keuangan dalam studi kelayakan
Aspek keuangan dalam studi kelayakan

Sesuai dengan sebutannya, aspek ini mengkaji segala hal yang berkaitan dengan sumber dana yang akan diperoleh dan proteksi pengembalian dengan tingkat biaya modal dari sumber dana yang bersangkutan.

Aspek ini cukup penting supaya kegiatan alokasi sumber daya keuangan bisa terarah dan tersistem.

Selain itu pengkajian ini juga yang akan menentukan apakah kebutuhan perusahaan dapat terpenuhi dengan menyelesaikan proyek tersebut atau tidak. 

4. Aspek Hukum

Alasan dilakukannya pengkajian dalam aspek hukum tentunya untuk memastikan keberadaan proyek yang akan dibangun apakah sudah legal sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku atau belum.

Dengan dilakukannya pengkajian dalam aspek ini, akan menghemat waktu dan tenaga bagi perusahaan karena sudah mengetahui berbagai faktor yang membuat proyek tidak memungkinkan untuk dijalankan sejak  awal.

5. Aspek Sosial Ekonomi Budaya

Aspek yang kelima ini mencakup segala hal yang diperkirakan akan dipengaruhi dengan keberadaan proyek. Seperti pendapatan nasional, penambahan dan pemerataan kerja dan masih banyak lagi.

6. Aspek Manajemen

Terakhir aspek manajemen adalah segala hal yang berkaitan dengan manajemen dalam pembangunan proyek dan manajemen dalam operasional nya.

Dengan pengkajian dalam aspek ini pula dapat dinilai apakah proyek dapat diselesaikan dalam waktu yang masuk akal.

Tak  kalah penting dilakukan, aspek ini perlu dilakukan karena sebuah proyek akan dianggap gagal jika tidak dapat diselesaikan secara tepat waktu.

Tahapan dalam Studi Kelayakan

Karena studi kelayakan perlu dilakukan secara mendalam dan menyeluruh, maka tentu ada tahapan-tahapan yang harus dikerjakan. Berikut adalah tahapan dalam melakukan studi kelayakan proyek :

1. Tahap analisis

Tahap analisis dilakukan untuk menyaring ide-ide proyek sebelum menginvestasikan waktu, tenaga dan uang yang ekstensif.

Penentuan produk yang akan dijual secara spesifik dilakukan pada tahap ini. Seperti menentukan siapa target market, karakteristik dari produk dan masih banyak lagi.

Tak hanya dari segi produknya saja, pada tahap ini juga menentukan segala perkiraan rintangan-rintangan yang akan dihadapi.

2. Tahap menyiapkan proyeksi laporan laba rugi

Pada tahap ini adalah tahap penentuan besar pendapatan yang diharapkan dari proyek tersebut. Dengan demikian, bisa melakukan pertimbangan investasi atau biaya apa saja  yang diperlukan untuk menjalankan proyek tersebut.

3. Tahap survei pasar

Survey pasar. sumber: www.harmony.co.id
Survey pasar. sumber: www.harmony.co.id

Alasan tahap survei pasar dilakukan adalah untuk mengetahui apakah proyek tersebut memiliki peluang dalam menciptakan barang atau jasa yang diminati di pasar.

Dalam hal ini pengaruh geografis, faktor demografi dan analisis pesaing bisa dijadikan sebagai faktor pertimbangan survei pasar.

4. Tahap pertimbangan struktur organisasi proyek

Disini, pengusaha mulai menentukan rencana kerja pelaksana pembangunan proyek itu sendiri. Seperti jenis pekerjan, jumlah dan kualifikasi tenaga kerja, ketersediaan dana dan sumberdaya lainnya.

5. Tahap menyiapkan proyeksi neraca

Dalam menyiapkan proyeksi neraca, maka diperlukan proyeksi pengeluaran dan pendapatan.

Saat membuat daftar tersebut diperlukan keakuratan yang mencakup perkiraan aset dan kewajiban yang harus dipenuhi. 

6. Tahap meninjau dan menganalisis semua data

Setelah semua tahap sebelumnya dilakukan, maka perlu dilakukan pemeriksaan kembali. 

Untuk dilakukan sebuah peninjauan kembali dalam membandingkannya dengan proyek yang sudah selesai dilakukan ataupun proyek yang sedang dilakukan.

7. Tahap pengambilan keputusan

Jika peninjauan dan menganalisis semua data sudah dilakukan, tahap terakhir adalah tahap pengambilan keputusan.

Keputusan yang diambil harus memperhatikan dengan hasil pertimbangan sebelumnya, jika tidak layak maka sebaiknya dibatalkan dengan menyebutkan alasannya.

Setelah mengenal studi kelayakan proyek, maka dapat disimpulkan bahwa suatu proyek pembangunan atau konstruksi bisa dikatakan layak dan bisa dikerjakan juga sudah lolos dalam pengajuan kelayakan proyek untuk menghindari kerugian yang tidak diharapkan.

Tetapi ternyata tidak berhenti disitu saja, sebuah proyek yang sudah selesai dan bangunan siap digunakan memerlukan sebuah perizinan SLF. Dimana perizinan tersebut yang menandakan bahwa bangunan tersebut layak digunakan.

Namun untuk mendapatkan sertifikasi perizinan SLF ini perlu dilakukannya konsultasi terlebih dahulu. Jika Anda bingung konsultasi kemana, Anda bisa berkosultasi kepada kami, konsultan SLF eticon.co.id.

Pihak kami akan menyediakan fasilitas yang profesional karena sudah berpengalaman dalam pelayanan jasa pembuatan berbagai macam perizinan termasuk sertifikat SLF.

Selain itu Kami juga memiliki jaringan yang luas, karena Eticon membuka layanan jasa perngurusan sertifikat SLF di beberapa kota besar di Indonesia.

Ingin tambahan layanan lainnya? Anda hanya perlu menghubungi kami untuk mendapatkan layanan lainnya. Maka tunggu apa lagi? segera hubungi kami melaui kontak yang telah kami sediakan di bawah ini.