Ekowisata: Jalan Tengah Pariwisata yang Berlebihan

Pengembangan ekowisata di Indonesia

Baru-baru ini, tepatnya pada 6 Juli 2020, kita dikagetkan dengan berita dari Kampung Adat Baduy. Suku Baduy dikabarkan melayangkan surat terbuka kepada Presiden RI agar pemerintah dapat menghapus Kanekes dari daftar destinasi wisata lantaran alam dan tatanan budaya mereka rusak akibat pariwisata.

Memang tidak dapat dipungkiri, pariwisata yang berlebihan atau overtourism memberi dampak yang tidak menyenangkan bagi komunitas lokal di destinasi. Horton (2009), mengungkapkan bahwa pariwisata dalam beberapa kasus telah menarik masyarakat ke arah konsumerisme, materialisme, dan komodifikasi. Fenomena ini tentunya dapat menyebabkan perubahan perilaku sosial dan cara hidup masyarakat. Dampak terburuknya, budaya lokal akan tergerus dan tergantikan dengan budaya baru yang dibawa oleh wisatawan.

Untuk menekan dampak buruk dari pariwisata, khususnya yang terjadi di Kampung Adat Baduy, Johan Iskandar selaku peneliti Suku Baduy sekaligus Guru Besar Bidang Etnobiologi Universitas Padjajaran melalui akun Instagram Narasi News Room (14/07), berpendapat bahwa konsep yang paling sesuai dan menjadi jalan tengah dari permasalahan Baduy adalah melalui penerapan ekowisata, di mana terdapat pembatasan jumlah pengunjung sehingga dapat meminimalisir dampak buruk dari aktivitas pariwisata.

Apa itu ekowisata dan bagaimana penerapannya?

Ecotourism is an environmentally responsible travel and visitation to relatively undisturbed natural areas, in order to enjoy and appreciate nature (and any accompanying cultural features – both past and present) that promotes conservation, has low negative visitor impact, and provides for beneficially active socio-economic involvement of local populations. (TIES: 1990)

Penjelasan di atas mengartikan bahwa ekowisata merupakan perjalanan bertanggung jawab ke area/kawasan alami yang melestarikan lingkungan, mempertahankan kesejahteraan masyarakat setempat dan melibatkan interpretasi dan pendidikan, baik untuk masyarakat lokal maupun tamu (wisatawan).

Sementara Jika merujuk pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekowisata di Daerah, adapun yang dimaksud ekowisata adalah kegiatan wisata alam di daerah yang bertanggungjawab dengan memperhatikan unsur pendidikan, pemahaman, dan dukungan terhadap usaha-usaha konservasi sumber daya alam, serta peningkatan pendapatan masyarakat lokal.

Konsep pengembangan ekowisata

Menurut TIES (The International Ecotourism Society), terdapat 8 (delapan) pilar dalam pengembangan destinasi berbasis ekowisata. Adapun delapan pilar tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Meminimalkan dampak fisik, sosial, perilaku, dan psikologis

Konsep ekowisata harus berorientasi untuk menekan dampak negatif seminimal mungkin, baik itu dampak terhadap tatanan budaya maupun lingkungan. Untuk itu, konsep ekowisata pada sebuah destinasi harus direncanakan dan didesain dengan matang.

2. Membangun kesadaran dan rasa hormat terhadap budaya dan lingkungan

Karena sifat dari konsep ekowisata adalah niche dan menjadi filter dari dampak pariwisata yang berlebihan (overtourism), maka jumlah wisatawan pada ekowisata jumlahnya lebih kecil dibanding pariwisata massal. Dengan jumlah wisatawan yang lebih sedikit, maka dampak yang dihasilkan pun relatif lebih kecil. Selain itu, konsep berwisata pada destinasi ekowisata haruslah diarahkan sebagai bentuk dari pelestarian lingkungan dan penghormatan terhadap budaya lokal.

3. Memberikan pengalaman positif bagi wisatawan maupun masyarakat lokal

Dengan jumlah wisatawan yang relatif lebih sedikit, destinasi dengan konsep ekowisata cenderung dapat memberikan pengalaman positif yang lebih insentif terhadap masyarakat lokal, tamu (wisatawan), maupun lingkungan hidup.

4. Memberikan keuntungan ekonomi secara langsung untuk konservasi

Meskipun jumlah wisatawan yang datang lebih sedikit dibanding destinasi yang sifatnya massal, perputaran ekonomi pada destinasi ekowisata memberikan keuntungan yang signifikan. Saat mengunjungi destinasi yang mengusung konsep ekowisata, terkadang wisatawan rela membelanjakan atau mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk mendapatkan pengalaman yang berbeda.

Misalnya dengan belajar dan memahami kebudayaan (saba budaya) dari masyarakat lokal di Baduy, melihat secara langsung orangutan di alamnya, maupun ikut melepaskan tukik ke laut.

Pengembangan ekowisata di Indonesia
Tarsius, primata mungil sekaligus satwa langka yang memesona itu hidup di areal hutan Bukit Peramun, Belitung dan sering keluar pada saat senja hingga malam hari. Bukit Peramun menawarkan konsep ekowisata kepada wisatawan di mana wisatawan grup yang masuk kawasan ini harus dibatasi dan wajib menggunakan pemandu lokal. (Sumber gambar: Freepik Premium)

5. Memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat lokal

Konsep ekowisata mengondisikan masyarakat di area destinasi dan penyangganya untuk terlibat dalam menghidupkan potensi lokal yang dimiliki. Hal ini tentunya berbeda dengan konsep pariwisata massal yang cenderung membuat masyarakat lokal beralih profesi karena lebih tergiur pemasukan dari bisnis pariwisata. Namun, ekowisata justru sebaliknya. Konsep ekowisata justru akan membuat kehidupan di kawasan destinasi menjadi lebih kaya dan berkelanjutan (sustainable). Konsep ekowisata menawarkan masyarakat tetap dapat menekuni profesi utamanya, sementara pariwisata akan memberi nilai tambah.

6. Memberikan pengalaman interpretatif yang mengesankan kepada wisatawan sehingga membantu meningkatkan sensitivitas bagi iklim politik, lingkungan, maupun sosial

Saat konsep ekowisata dapat dijalankan secara optimal di sebuah destinasi, tidak mustahil lagi destinasi akan membawa dampak bagi para pengambil kebijakan untuk mengupayakan penguatan regulasi yang bertumpu pada pilar keberlanjutan (sustainability). Dengan begitu, sensitivitas masyarakat termasuk juga pemerintah akan lebih meningkat, khususnya untuk ikut serta dalam melestarikan budaya dan lingkungan di kawasan destinasi wisata.   

7. Merancang, membangun, dan mengoperasikan fasilitas berdampak rendah

Dalam pengembangan ekowisata, fasilitas yang didesain sebagai pendukung aktivitas wisata haruslah diarahkan untuk menghindari segala bentuk degradasi fisik dan atau visual lingkungan. Pembangunan fasilitas juga harus diarahkan untuk meminimalkan pencemaran udara, air, tanah, serta timbunan limbah. Bentuk fasilitas yang terbangun juga harus dikonsep untuk meningkatkan warisan sejarah, budaya otentik, tradisi, maupun kekhasan dari komunitas tuan rumah di destinasi.  

8. Mengakui hak dan kepercayaan spiritual penduduk asli di destinasi

Baik itu pendamping pengembangan destinasi maupun tamu (pengunjung) haruslah menghormati tatanan budaya, termasuk juga kepercayaan spiritual dari komunitas asli di destinasi. Adapun prinsip kemitraan pengembangan destinasi adalah untuk pemberdayaan masyarakat. Prinsip ini mengharuskan masyarakat supaya mendapatkan hak dalam berkontribusi secara langsung untuk menentukan nasib anak cucu mereka.

Baca juga: Membangun Pariwisata Bersama Masyarakat

Pengembangan ekowisata di Indonesia
Orang Mentawai termasuk penganut aninisme yang percaya kepada roh-roh dan segala sesuatu (benda) yang berjiwa. Tradisi yang khas adalah penggunaan tato di sekujur tubuh, yang terkait dengan peran dan status sosial penggunanya. (Sumber gambar: Freepik Premium)

Karakter wisatawan ekowisata (eco-tourist)

Siapa target destinasi yang mengusung konsep ekowisata? Tentu saja adalah eco-tourist.

Wearing dan Neil (2009), menjelaskan bahwa eco-tourist atau wisatawan ekowisata memiliki karakter khusus, di antaranya:

  1. Berlibur ke lokasi atau destinasi yang masih natural dan terjaga keasrian alamnya
  2. Memahami dan familier dengan konsep ekowisata
  3. Ingin mendapatkan pengalaman baru dan bertemu dengan pejalan/wisatawan dengan minat yang sama
  4. Motivasi dalam berwisata adalah untuk menikmati alam dan mendapatkan pengetahuan (edukasi)
  5. Menyukai aktivitas berbasis alam saat berlibur
  6. Ingin berkontribusi terhadap usaha-usaha konservasi lingkungan dan ekonomi masyarakat lokal
  7. Memiliki pengalaman dalam melakukan penjelajahan
  8. Berpendidikan tinggi dan relatif memiliki penghasilan yang cukup tinggi

Lantas, bagaimana cara menerapkan konsep ekowisata terhadap destinasi yang rentan terhadap kerusakan lingkungan dan perubahan tatanan budaya seperti yang terjadi di Kampung Adat Baduy?

Jika merujuk pada delapan pilar yang telah disebutkan di atas, terdapat beberapa rekomendasi untuk pemerintah sebagai penyusun regulasi. Adapun regulasi penerapan konsep ekowisata di suatu destinasi adalah sebagai berikut:

  1. Membatasi kunjungan ke dalam area kawasan destinasi
  2. Membuat program wisata dengan tema konservasi yang melibatkan kelompok konservasi di destinasi
  3. Mengarahkan pengunjung atau wisatawan ke wilayah yang boleh dikunjungi dan melarang pengunjung atau wisatawan untuk masuk ke wilayah yang tidak dibolehkan untuk dikunjungi
  4. Melibatkan masyarakat lokal sebagai penyedia jasa wisata, seperti pramuwisata/interpreter, penyedia akomodasi homestay, penjual makanan dan minuman, maupun usaha jasa layanan lainnya. Dalam hal ini, pemerintah memiliki tanggung jawab untuk melatih dan mengangkat masyarakat lokal menjadi pramuwisata/penerjemah bahasa resmi agar nilai edukasi, budaya, tradisi lokal dapat tersampaikan dengan baik kepada wisatawan
  5. Mewajibkan wisatawan grup untuk menggunakan pemandu/pramuwisata lokal
  6. Adanya sesi briefing khusus, brosur, papan interpretasi untuk menjelaskan pentingnya nilai konservasi dan penghormatan budaya sehingga wisatawan dapat menjaga perilaku dan menghargai privasi maupun budaya masyarakat setempat
  7. Menyadari dan menyepakati bahwa alam adalah elemen penting dalam keberlanjutan kehidupan
  8. Memastikan bahwa masyarakat di sekitar dan di kawasan destinasi tidak terganggu. Begitu pula dengan satwa liar yang ada di dalamnya

Baca juga: Upaya Pembangunan Pariwisata yang Berkelanjutan

Dari penjelasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep ekowisata berusaha menawarkan solusi bagi para pemangku kepentingan yang mengutamakan keberlanjutan destinasi. Dari sisi pengalaman berwisata, konsep ekowisata akan membuat wisatawan/pengunjung untuk dapat memahami dan menghargai nilai-nilai dari kegiatan wisata, baik itu nilai-nilai konservasi lingkungan maupun penghormatan terhadap budaya lokal di destinasi.

Referensi:

  • Horto, L.R. (2009). Buying up Nature: Economic and Social Impact of Costa Rica’s Ecotourism Boom. Latin American Perspectives, 36(3), 93-107
  • Laman website detik.com berjudul Suku Baduy Terganggu Wisatawan, Momen Tepat Batasi Turis. Diakses pada 20 Juli 2020 pukul 10.40 WIB.
  • Laman website ecotorurism.org berjudul TIES Announces Ecotourism Principles Revision. Diakses pada 20 Juli 2020 pukul 10.40 WIB.  
  • Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2009 tentang Pengembangan Ekowisata di Daerah
  • Wearing, S., & Neil, J. (2009). Ecotourism: Impacts, Potentials and Possibilities?. Routledge

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *