Pertamina Tower, Gedung Pencakar Langit yang Akan Dibangun di Indonesia

Menara Pertamina sebagai salah satu gedung pencakar langit di Indonesia, Sumber: ekbis.sindonews.com

Sebagian besar masyarakat di Indonesia tentunya sudah sempat mendengar berita yang beredar beberapa saat lalu mengenai gedung Pertamina Tower yang akan dibangun di kawasan Jakarta. Gedung tersebut digadang-gadang akan menjadi salah satu gedung tertinggi di Indonesia yang bahkan ketinggiannya dapat mengalahkan Menara Kembar Petronas yang berada di Kuala Lumpur, Malaysia.

Namun, bagaimana saat ini nasib dari Gedung Pertamina tersebut? Apakah pembangunannya dirampungkan sesuai rencana atau justru terhenti? Mungkin pembahasan kali ini bisa menjawab rasa penasaran Anda!

Rencana Pembangunan Pertamina Tower di Indonesia

Rencana pembangunan menara Pertamina memang sudah diberitakan pada tahun 2013 silam dan seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Pertamina Energy Tower adalah sebuah gedung yang digadang-gadang akan menjadi salah satu gedung pencakar langit yang dimiliki oleh Indonesia. Rencana awal, gedung ini akan dibangun di kawasan Rasuna Epicentrum, Jakarta dengan tinggi kurang lebih 530 meter dan memiliki total 99 lantai.

Pertamina Tower akan dibangun di atas lahan seluas 5,7 hektar dengan luas total bangunannya sendiri sekitar 540 ribu m2 yang dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung. Berbagai fasilitas tersebut diantara seperti masjid yang memiliki kapasitas hingga 5 ribu orang, beberapa ruang pertemuan, pusat energi, hingga fasilitas olahraga.

Nantinya, Pertamina Tower juga ditargetkan akan menjadi tempat tinggal, bekerja, dan bermain yang mampu menampung sebanyak 23 ribu pekerja Pertamina dan seluruh anak perusahaan dengan tujuan agar para pekerja dapat bekerja secara efektif dan efisien untuk menangani berbagai aspek bisnis energi. Dengan biaya investasi sebesar, 1,7 miliar dolar AS, gedung ini dianggap akan menjadi simbol Pertamina di jajaran perusahaan kelas dunia.

Rencana pembangunan Pertamina Energy Tower saat ini, Sumber: civilarchitectureconstruction.blogspot.com
Rencana pembangunan Pertamina Energy Tower saat ini, Sumber: civilarchitectureconstruction.blogspot.com

Rencana serius pembangunan gedung Pertamina ini bahkan juga sudah ditandai dengan peletakan batu pertama pada Desember 2013 oleh Karen Agustiawan yang merupakan Dirut Pertamina pada saat itu. Tidak sampai disitu saja, rencana pembangunan Pertamina Tower ini juga akan menggandeng Skidmore Owings Merrill LLP (SOM) sebagai konsultan utama dan Turner Internasional sebagai project management.

Dimana keduanya merupakan konsultan yang terlibat dalam penggarapan proyek gedung tertinggi dan fenomenal di dunia yaitu Burj Khalifa yang terletak di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Dari dalam negeri, proyek pembangunan ini juga turut melibatkan PT Airmas Asri sebagai konsultan arsitek dan PT Wiratama & Associates sebagai konsultan struktur, KSO PT Pembangunan Perumahan, dan PT Hutama Karya sebagai pelaksana proyek Central Energy Plant.

Pertamina Energy Tower juga akan memanfaatkan seluruh potensi energi terbarukan seperti geothermal, elemen angin, elemen air, panas matahari, dan gas untuk menyokong aktivitas pada menara. Pasalnya, gedung ini akan menjadi ikon energi di Indonesia karena 80% dari menara ini diklaim hemat energi dan dimana 55% luas lahan akan digunakan sebagai area terbuka hijau yang terdapat sistem recycle air hujan serta dilengkapi dengan zero water run-off dan renewable energy showcase.

Dengan konsep green building yang diterapkan tersebut, diharapkan mampu membantu Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta untuk menjaga resapan air hujan. Namun meskipun begitu, pembangunan gedung Pertamina tetap harus memiliki perizinan lingkungan untuk meminimalisir dampak pembangunan bagi lingkungan di sekitarnya.

Untuk desain bangunannya sendiri, rencananya bagian paling atas menara akan didesain membulat dan terbuka, sehingga bagian tersebut bisa menjadi “corong angin” yang bermanfaat untuk mempercepat kecepatan angin di lantai atas agar menghasilkan energi. Desain tersebut disesuaikan juga dengan kawasan Jakarta untuk dapat mengurangi panas dari matahari.

Menara Pertamina sebagai salah satu gedung pencakar langit di Indonesia, Sumber: ekbis.sindonews.com
Menara Pertamina sebagai salah satu gedung pencakar langit di Indonesia, Sumber: ekbis.sindonews.com

Bagaimana Rencana Pembangunan Pertamina Tower Saat Ini?

Setelah peletakan batu pertama pada tahun 2013, lalu bagaimana dengan perkembangan pembangunan gedung Pertamina saat ini? Sayangnya rencana pembangunan tersebut hanya sebatas peletakan batu pertama, karena gedung pencakar langit yang pembangunannya ditargetkan rampung pada tahun 2020 lalu ini ternyata pembangunannya telah berhenti sejak tahun 2014. 

Bahkan hingga saat ini belum terdapat lagi aktivitas bahwa akan dilakukan pembangunan kembali. Kalaupun pembangunan Pertamina Energy Tower dilanjutkan kembali, tidak lagi dibangun setinggi 530 meter dan jumlah lantainya pun tidak mencapai 99 tetapi akan dikurangi. Lantas, apa yang menyebabkan pembangunan tersebut berubah dari rencana awal? 

Dilansir dari kompasiana.com, Dwi Soetjipto selaku Dirut Pertamina pengganti Karen Agustiawan menjelaskan bahwa jumlah lantai akan dikurangi menyusul pertimbangan tarif sewa tenant yang semakin mahal sehingga tidak sesuai dengan market dan menjadi tidak ekonomis. Untuk biaya sewa per meter2 saja dibandrol dengan harga 70 dolar AS, jadi sudah bisa dibayangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk 99 lantai.

Dengan biaya sebesar itu, dikhawatirkan akan membuat pembeli atau penyewa gedung enggan untuk membeli maupun menyewa. Tetapi beliau juga menegaskan, pembangunan gedung Pertamina berpotensi dilanjutkan kembali apabila harga minyak mentah dunia yang turun 50% dibanding tahun 2014 lalu sudah membaik.

Berhentinya pembangunan Pertamina Energy Pertamina Tower juga disusul karena adanya revisi Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP). Meskipun berpotensi untuk dilakukan pembangunan kembali, namun belum terdapat waktu pasti kapan pembangunannya akan mulai.

Karena saat ini, Pertamina masih fokus mendefinisikan proyek apa saja yang akan menjadi prioritas utama dari perusahaan yang terbentang dari hulu ke hilir, di dalam dan di luar negeri ini. Sayangnya dari berbagai prioritas tersebut, menara Pertamina tidak masuk dalam salah satu prioritas tersebut.

Sebenarnya cukup disayangkan pembangunan Pertamina Energy Tower dihentikan sampai waktu yang tidak ditentukan, karena mengingat proyek ini adalah proyek besar yang pastinya kehadirannya dinantikan terutama oleh para pekerja Pertamina. Dari rencana awal pembangunnya saja, sudah terbayangkan bahwa menara Pertamina akan menjadi bangunan yang megah dan mewah untuk bersaing di kelas dunia.

Ilustrasi hasil akhir menara Pertamina, Sumber: flickr.com
Ilustrasi hasil akhir menara Pertamina, Sumber: flickr.com

Apabila Dilanjutkan Kembali, Apakah Perlu Memiliki SLF?

Secara garis besar pembangunan Pertamina Tower tidak terkendala oleh perizinan dan lain halnya, hanya saja biaya yang semakin mahal memang menjadi alasan utama mengapa pembangunan gedung tersebut terhenti sementara waktu. Namun meskipun begitu apabila perencanaan pembangunan akan dilanjutkan kembali, gedung Pertamina tetap harus memiliki perizinan yang jelas terkait Sertifikat Laik Fungsi (SLF).

Karena jika gedung tidak memiliki dan tidak dapat membuktikan kelayakannya dengan Sertifikat Laik Fungsi, maka pembangunan yang telah dilakukan akan menjadi percuma. Sama halnya dengan bangunan lainnya, gedung Pertamina yang tidak dilengkapi dengan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) tidak akan dapat dioperasionalkan sebagaimana mestinya. Parahnya, gedung tersebut dapat dibongkar secara paksa.

Mengingat pentingnya Sertifikat Laik Fungsi (SLF) untuk sebuah bangunan termasuk Pertamina Tower, maka para pengembang atau pemilik gedung harus mengurus Sertifikat Laik Fungsi sebelum gedung dioperasikan. Mengurus Sertifikat Laik Fungsi dapat dilakukan dengan mudah, cepat, dan akurat apabila menggunakan konsultan SLF yang berpengalaman. 

Oleh karena itu, para pengembang harus benar-benar mencari konsultan SLF yang berkompeten untuk kelancaran operasional bangunan. Semoga informasi tersebut bermanfaat!