Istilah-Istilah dalam Pariwisata (I-W)

Istilah-Istilah dalam Pariwisata

Inbound Tourism

Inbound Tourism merupakan perjalanan wisata yang dilakukan seseorang ke negara lain yang bukan tempat tinggalnya.

Industrial Tourism

Industrial Tourism merupakan kegiatan kunjungan wisata ke situs industri yang ada saat ini maupun di masa lampau. Contoh situs yang menjadi destinasi Industrial Tourism dan dinilai cukup populer di antaranya adalah penanaman teh di Sri Lanka, penambangan tembaga di Canada, dan pabrik Airbus di Perancis.

Insta Tourism

Insta Tourism merupakan bentuk baru dari pariwisata yang muncul atas respon dari penggunaan platform media sosial Instagram. Setiap bulannya, tercatat ada lebih dari satu miliar orang yang menggunakan Instagram dan saling membagikan gambar dari seluruh dunia. Pada satu sisi, pengguna Instagram mayoritas membagikan konten ke teman dan keluarganya. Namun di sisi lain, terdapat pengguna Instagram yang berprofesi sebagai “influencer” dengan ribuan follower. Influencer Instagram dianggap memberikan pengaruh pada motivasi wisatawan seseorang sehingga tak jarang banyak negara menggunakan jasa influencer dalam mempromosikan tempat wisata. Contoh influencer yang membagikan konten pariwisata di antaranya adalah Sam Kolder, Pevita Pearce, Mariska Pruedence, dan lainnya.

International Tourism

International Tourism adalah sebuah perjalanan wisata lintas negara dengan tujuan bisnis ataupun mencari hiburan. Dalam beberapa tahun terakhir, International Tourism telah berkembang karena meningkatnya pendapatan ekonomi seseorang. International Tourism tergolong cukup populer di Eropa di mana negara-negaranya memiliki lokasi yang cukup berdekatan.

Iron Curtain Tourism

Iron Curtain Tourism berhubungan dengan kegiatan perjalanan ke suatu situs penting yang memiliki makna pada saat terjadinya Cold War ataupun berbentuk edukasi tentang Cold War itu sendiri. Istilah “Iron Curtain” digunakan oleh Winston Churchill untuk menggambarkan pembatas nasional yang memisahkan antara Blok Soviet dengan Barat sebelum kemunduran komunisme yang diikuti oleh agenda politik di Eropa Timur pada 1989. Iron Curtain Tourism juga meliputi kegiatan kunjungan ke atraksi wisata seperti bunker, batas penyeberangan, penjara, maupun museum. 

Jungle Tourism

Jungle Tourism pada dasarnya merupakan pariwisata yang berlangsung di hutan. Pariwisata ini dapat mencakup berbagai bentuk Eco and Sustainable Travel. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak resort yang sengaja dikembangkan di tengah hutan seperti yang ada di Amazon Rainforest, Rwanda, dan Costa Rica. Wisatawan juga seringkali terlibat dalam kegiatan-kegiatan petualangan selama mereka ada di hutan. Beberapa contoh aktivitas yang cukup populer pada destinasi Jungle Tourism ini adalah zip lining, jungle safaris, canoeing, dan canopy walks.

Justice Tourism

Justice Tourism merupakan kegiatan perjalanan dengan tujuan untuk meningkatkan kondisi perekonomian masyarakat yang tinggal di sekitar destinasi tujuan. Justice Tourism berfokus di seputar pertukaran budaya positif antara guest dan host melalui interaksi secara empat mata, perlindungan lingkungan, dan edukasi politik/sejarah. Konsep wisata Justice Tourism telah dipromosikan secara besar-besaran di Palestina dan Bosnia.

Lighthouse Tourism

Lighthouse Tourism merupakan kegiatan wisata dengan mengunjungi lighthouse atau mercusuar. Tujuan dari perjalanan ini tentunya adalah untuk menikmati pemandangan melalui mercusuar.

Linguistic Tourism

Linguistic Tourism adalah kegiatan wisata yang meliputi pembelajaran bahasa. Linguistic dapat berupa formal course atau dapat menjadi bagian dari pengalaman budaya yang lebih luas. Destinasi yang terkenal untuk mempelajari bahasa di antaranya adalah Spanyol dan Amerika Selatan untuk mempelajari Spanish, Perancis untuk mempelajari French, ataupun Italia untuk mempelajari Italian. Di Indonesia sendiri, terdapat Kampung Pare di Kabupaten Kediri sebagai destinasi berlibur sekaligus mendalami penguasaan Bahasa Inggris.

Literary Tourism

Literary Tourism meliputi perjalanan ke suatu tempat yang berhubungan dengan suatu karya fiksi. Sebagai bentuk dari Cultural Tourism, Literary Tourism menawarkan sebuah kunjungan ke destinasi yang muncul dalam buku, rumah atau makam dari seorang penulis. Contoh destinasi yang cukup populer di antaranya adalah Startford Upon Avon, rumah dari Shakespear dan Edunburght, serta rumah dari J.K Rowling.

Marine/Nautical Tourism

Marine Tourism atau Nautical Tourism merupakan bentuk pariwisata yang bergerak seputar penggunaan perahu/kapal sebagai bagian dari pengalaman wisata. Kegiatan yang dilakukan biasanya lebih banyak menggunakan kapal, seperti kapal pesiar ataupun dalam bentuk sailing trip. Selain itu, Marine Tourism juga menawarkan liburan dalam bentuk even atau aktivitas berperahu seperti regatta, boat tour, ataupun deep sea fishing.

Mass Tourism

Mass Tourism dapat diartikan sebagai pergerakan manusia dalam jumlah besar dengan tujuan menghabiskan waktu luang mereka di suatu tempat. Destinasi wisata seperti ini biasanya berhubungan dengan liburan yang murah dan cenderung bersifat musiman. Di sisi lain, Mass Tourism juga dikaitkan dengan konotasi negatif, seperti penurunan kualitas lingkungan, pengikisan budaya, dan overpopulasi. Oleh karena itu, Mass Tourism juga seringkali dihubungkan dengan overtourism.

Baca juga: Overtourism dan Solusinya

Minimoon Tourism

Minimoon adalah suatu bentuk dari short break setelah dilaksanakannya pernikahan. Minimoon dilakukan sebelum berlangsungnya honeymoon sehingga dapat memberi kesempatan bagi pasangan untuk menabung dan merencanakan perjalanannya. Bentuk wisata ini biasanya berlangsung selama 2 hingga 4 hari dan cenderung memilih destinasi yang berada tidak terlalu jauh dari tempat tinggal serta tergolong lebih murah dibandingkan dengan honeymoon.

Mountain Tourism

Kegiatan Mountain Torusim mengambil lokasi di wilayah pegunungan. Biasanya kegiatan wisata ini meliputi aktivitas-aktivitas seperti climbing, hiking, atau mountain bike riding. Di Indonesia sendiri, cukup banyak destinasi wisata berupa gunung. Misalnya saja seperti Semeru, Merbabu, Rinjani, Tambora, dan lainnya.

Nature Tourism

Nature Tourism adalah bentuk dari responsible tourism yang berfokus pada alam, konservasi lingkungan, dan kegiatan-kegiatan yang melibatkan alam. Aktivitas dalam Nature Tourism yang cukup populer di antaranya adalah bird watching, hiking, camping, dan wildfire spotting.

Niche Tourism

Niche Tourism merupakan kebalikan dari Mass Tourism. Konsep wisata ini lahir untuk memenuhi kebutuhan konsumen berdasarkan minat-minat tertentu. Meski berskala kecil, Niche Tourism memiliki jenis dan bentuk yang bervariasi.

Nightlife Tourism

Nightlife Tourism merupakan jenis pariwisata yang meliputi aktivitas-aktivtas di malam hari. Meski Nightlife Tourism biasanya berpusat seputar klub malam ataupun pesta-pesta, pariwisata ini juga dapat berupa evening show, konser, pertunjukan, dan lain-lain. Di Indonesia, destinasi Nightlife Tourism yang cukup populer adalah Bali dan Yogyakarta, khususnya saat hari-hari tertentu di sepanjang kawasan Malioboro.

Outbound Tourism

Outbound Tourism mengacu pada perjalanan yang ditempuh seseorang dari negara asalnya untuk mengunjungi destinasi wisata di luar negeri. Negara-negara kecil atau yang tidak memiliki variasi destinasi cenderung mengalami outbound tourism dalam skala besar.

Overlanding

Overlanding merupakan bentuk wisata yang meliputi perjalanan jarak jauh dengan mengunakan kendaraan off-road. Isitilah ini umumnya diasosiasikan dengan perjalanan pada ‘jalan yang jarang dilalui’. Overlanding lebih banyak dikenal oleh para wisatawan yang menyukai petualangan, di mana destinasi overloading meliputi banyak wilayah.

Overtourism

Overtourism merupakan dampak pariwisata bagi destinasi atau bagiannya yang secara berlebihan memengaruhi kualitas hidup dari penduduk atau kualitas pengalaman yang dirasakan wisatawan secara negatif. Overtourism juga dianggap sebagai hasil dari meningkatnya jumlah wisatawan di suatu kawasan. Contoh destinasi yang mengalami dampak overtourism di antaranya adalah Maya Bay di Thailand, Barcelona, Maccu Picchu, Bali, dan baru-baru ini adalah Kampung Adat Baduy. Dalam sejumlah kasus, beberapa usaha telah dilakukan untuk mengatasi dampak yang ditimbulkan dari overtourism. Misalnya seperti membatasi jumlah wisatawan, meningkatkan pajak, ataupun menutup beberapa atraksi.

Package Tourism

Package Tourism mengacu pada liburan yang terencana di mana komponen-komponen wisata yang sifatnya individual digabungkan dan dijual dalam bentuk paket. Package Tourism biasanya direncanakan oleh agensi wisata (Biro Perjalanan Wisata) di mana paket ini juga mencakup akomodasi, transportasi, dan tiket masuk ke suatu destinasi. Namun saat ini, telah berkembang post-modern packages yang meliputi berbagai komponen yang dipaketkan untuk memenuhi minat dan kebutuhan dari Niche Tourism seperti volunteer tourism package. Selain itu, terdapat peningkatan jumlah wisatawan yang memilih untuk merencanakan liburannya sendiri dengan menggunakan dynamic packaging.

Photographic Tourism

Photographic Tourism merupakan aktivitas yang berbentuk kunjungan ke suatu destinasi dengan tujuan untuk mengambil/mengabadikan gambar menggunakan kamera profesional. Destinasi tersebut biasanya memiliki pemandangan yang menarik, tidak biasa, dan memiliki unsur keindahan. Ruang lingkup fotografi yang diambil dapat mencakup pemandangan alam, karya seni, kebudayaan, alam liar, makanan, maupun arsitektur.

Pilgrimage Tourism

Pilgrimage Tourism merupakan cabang dari Religious Tourism. Bentuk pariwisata ini meliputi pelaksanaan ziarah yang mungkin merupakan satu-satunya tujuan seseorang, ataupun juga dapat berupa bagian dari pengalaman wisata yang lebih luas. Destinasi Pilgrimage Tourim yang populer di antaranya adalah Mekah di Arab Saudi, Kota Vatican di Roma, Western Wall di Israel, maupun ziarah Wali Songo di Indonesia.

Postmodern Tourism

Postmodern Tourism menggambarkan kegiatan wisata dan aktivitas yang tergolong baru atau muncul sebagai kebalikan dari bentuk konvensional. Postmodern Tourism umumnya dikaitkan dengan destinasi baru ataupun yang masih dalam tahap pengembangan.

Pro-poor Tourism

Pro-poor tourism bukan hanya bagian dari sektor industri pariwisata semata, namun lebih mengarah ke pendekatan terhadap industri pariwisata itu sendiri. Pro-poor tourism atau yang dikenal dengan singkatan PPT memiliki tujuan untuk memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Manfaat tersebut dapat berupa keuntungan ekonomi, pertukaran serta peningkatan peran sosial dan budaya, maupun semakin lestarinya lingkungan.

Red Tourism

Red Tourism merupakan bagian penting dari industri pariwisata di China yang berfokus pada lokasi dengan makna sejarah yang kental dengan komunisme di China. Menurut catatan pemerintahan China, lebih dari 800 juta perjalanan Red Tourism dilakukan setiap tahunnya. Destinasi Red Tourism yang tergolong populer adalah Shaoshan, Nanchang, Jinggang Mountain, dan Zunyi.

Religious Tourism

Religious Tourism atau yang dikenal dengan Faith Tourism merupakan sebuah kegiatan wisata yang bertujuan untuk melakukan ziarah, missionary, ataupun urusan keagamaan. Sebagai bagian dari Cultural Tourism, bentuk pariwisata ini termasuk dalam bentuk pariwisata yang sudah ada sejak awal.

Responsible Tourism

Responsible Tourism merupakan pariwisata yang dilaksanakan dengan cara yang bertanggung jawab. Bentuk pariwisata ini memiliki hubungan yang erat dengan sustainable tourism dan mengedepankan kondisi lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi dengan cara meminimalkan dampak buruk sebisa mungkin.

Rural Tourism

Menurut World Tourism Organisation, Rural Tourism adalah jenis aktivitas wisata di mana wisatawan mendapat pengalaman terkait berbagai produk yang dihasilkan dari aktivitas berbasis alam, pertanian, gaya hidup dan budaya pedesaan. Lokasi yang dipilih sebagai Rural Tourism biasanya meliputi wilayah non-urban. Sedangkan aktivitas Rural Tourism yang cukup diminati di antaranya adalah cycling, walking, ataupun belajar kebudayaan di desa/destinasi Rural Tourism.

Safari Tourism

Safari adalah bagian dari ekspedisi di alam liar. Dulunya, pariwisata ini meliputi kegiatan berburu di alam liar. Namun saat ini, Safari Tourism lebih berpusat pada pengamatan dan fotografi. Safari biasa ditemukan di Afrika. Safari Holiday biasanya memiliki harga yang cukup mahal dan hanya ditujukan kepada orang-orang dengan kelas menengah ke atas.

Self-guided Tourism

Self-guided Tourism merupakan pariwisata yang direncanakan dan difasilitasi oleh wisatawan itu sendiri. Dengan cara mencari informasi sendiri, self-guided map, tur dan instruksi, wisatawan memegang kuasa penuh dalam rencana perjalanan mereka sendiri.

Sex Tourism

Sex Tourism adalah perjalanan ke suatu destinasi untuk mencari sexual service. Sex Tourism biasanya berkaitan dengan prostitusi, walaupun industri Sex Tourism juga mencakup pencarian terhadap “mail bride”, sex show, dan sex slavery. Di kebanyakan negara, Sex Tourism dianggap ilegal. Namun demikian, beberapa negara tetap dikenal sebagai destinasi Sex Tourism, seperti Amsterdam, Thailand, dan Gambia.

Shopping Tourism

Shopping Tourism dapat diartikan sebagai aktivitas belanja yang dilakukan selama perjalanan atau dalam waktu senggang ketika sedang liburan. Aktivitas belanja yang dilakukan dapat bervariasi, mulai dari berbelanja di bandara, mengunjungi street market, ataupun berbelanja di shopping mall. Shopping Tourism juga dapat menjadi tujuan utama dalam liburan seseorang ataupun hanya bagian dari perjalanan yang dilakukan.

Slow Tourism

Slow Tourism berbasis pada konsep kecepatan. Konsep wisata ini dapat berupa perjalanan wisata santai dengan jangka waktu yang lama sehingga wisatawan mendapatkan pengalaman secara mendalam. Sebagai bentuk wisata alternatif, Slow Tourism biasanya juga dihubungkan dengan sustainable practice, di mana konsep wisata ini mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, maupun ekonomi. Meski Slow Tourism dapat dilakukan di berbagai destinasi, bentuk pariwisata ini sangat populer di rute backpacking konvensional seperti Asia Tenggara, Amerika Tengah, dan Australia.

Smart Tourism

Smart Tourism didefinisikan berdasarkan kemampuan teknologi di suatu destinasi, atraksi, maupun pada wisatawan itu sendiri. Banyak destinasi yang saat ini menjadi lebih modern akibat peningkatan penggunaan smart technology dalam sistem operasional, mulai dari metode pembayaran maupun aktivitas interaktif. Negara yang saat ini dianggap paling maju dalam industri Smart Tourism adalah China, di mana wisatawan yang datang dapat menggunakan telepon genggam mereka untuk membayar taxi, memesan makanan, mengecek antrian, dan membaca informasi di tempat wisata yang mereka kunjungi dengan menggunakan QR Code yang disediakan.

Space Tourism

Space Tourism merupakan pariwisata yang berfokus seputar antariksa. Pariwisata ini memiliki kegiatan seperti mengunjungi museum bertemakan antariksa, menonton peluncuran roket, ataupun berwisata ke destinasi yang terkenal untuk stargazing.

Special Interest Tourism

Special Interest Tourism adalah bagian dari aktivitas wisata yang berfokus pada ketertarikan tertentu. Kebanyakan bentuk Special Interest Tourism juga merupakan Niche Tourism. Sebagai paradoks dari Mass Tourism, Special Interest Tourism memiliki berbagai jenis kegiatan mulai dari seni, olahraga, kebugaran, kebudayaan, dan tema-tema spesifik lainnya.

Sports Tourism

Sports Tourism dapat dikategorikan menjadi empat segmen, yakni Sport Event Tourism, Nostalgia Sport Tourism, Active Sport Tourism, dan Passive Sport Tourism.

Sport Event Tourism adalah suatu aktivitas kunjungan atau menonton even olahraga skala besar seperti Olympics atau Footworld World Cup. Sedangkan Nostalgia Sport Tourism berbentuk kunjungan ke lokasi yang memiliki arti penting bagi dunia olahraga seperti Calgary Olympic Park. Active Sport Tourism adalah perjalanan yang dilakukan wisatawan untuk melakukan aktivitas fisik seperti yoga, golf, ataupun surfing. Sementara Passive Sport Tourism adalah kegiatan berupa perjalanan untuk menyaksikan pertandingan, seperti tenis di Wimbledon Championship atau menonton pertandingan sepak bola di Manchester United.

Sustainable Tourism

Sustainable Tourism memiliki pengertian yang mirip dengan konsep Responsible Tourism. Prinsip dari Sustainable Tourism bertujuan untuk meminimalisir dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif dari pariwisata.

TEFL Tourism

TEFL Tourism merupakan sebuah perjalanan wisata yang dilakukan dengan tujuan untuk mengajar Bahasa Inggris. Sedangkan TEFL Tourist dapat didefinisikan sebagai seseorang yang melakukan perjalanan keluar lingkungan tempat tinggalnya untuk mengajar Bahasa Inggris sebagai bagian dari bahasa asing. Destinasi TEFL yang dinilai populer di antaranya adalah China, Thailand, Costa Rica, dan Mexico.

Urban Tourism

Urban Tourism mengacu pada gagasan untuk melakukan aktivitas wisata di wilayah urban. Aktivitas wisata yang dinilai cukup populer di antaranya adalah kunjungan monumen, pengamatan arsitektur dan pemanfaatan fasilitas budaya seperti museum, local hospitality dan entertainment.

Istilah-Istilah dalam Pariwisata
Wisatawan menikmati suasana di Kota Tua, Jakarta dengan cara bersepeda, berswafoto, dan memotret arsitektur bangunan.

Village Tourism

Village Tourism atau desa wisata meliputi perjalanan ke suatu desa melalui tour yang terorganisir ataupun sebagai bagian dari perjalanan individu. Bentuk pariwisata ini merupakan bagian dari Rural Tourism mengingat kebanyakan desa terletak di area rural. Di Indonesia sendiri, konsep desa wisata cukup berhasil di wilayah DIY, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, NTB, dan NTT.

Baca juga: Tahapan Merintis dan Mengembangkan Desa Wisata

Virtual Tourism

Virtual Tourism adalah penggunaan teknologi untuk mensimulasikan destinasi perjalanan dan fitur-fiturnya. Meski Virtual Tourism dianggap tidak akan pernah bisa menggantikan kunjungan ke destinasi secara langsung, tetapi Virtual Tourism dianggap telah menjadi alat pemasaran yang cukup kuat. Bentuk wisata ini juga digunakan untuk meningkatkan pengalaman yang dirasakan wisatawan di berbagai atraksi wisata.

Volunteer Tourism (voluntourism)

Volunteer Tourism atau voluntourism adalah jenis pariwisata di mana seseorang atau kelompok melakukan perjalanan ke suatu destinasi yang dianggap ‘kurang berkembang’ atau ‘sedang berkembang’ dengan bentuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Seseorang atau kelompok yang melakukan kegiatan ini biasanya akan membantu komunitas yang berada di sebuah destinasi. Misalnya seperti mengajar, memperbaiki fasilitas sekolah, memulihkan kerusakan lingkungan, menjadi tenaga medis, dan lainnya.  

War Tourism

War Tourism berhubungan dengan perjalanan tujuan rekreasi ke wilayah bekas perang ataupun wilayah di mana perang tersebut sedang terjadi. Meningkatnya tren peminat gaya berwisata ini turut berdampak pada bertambahnya agensi yang menjual paket wisata ke destinasi rawan konflik seperti Syria, Somalia, Iraq, maupun Israel.

Wellness Tourism

Wellness Tourism adalah cabang dari Health Tourism. Pariwisata ini berbentuk kegiatan wisata dengan tujuan kesehatan fisik dan mental. Sektor Wellness Tourism cenderung mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, terlebih lagi saat adanya bencana kesehatan seperti COVID-19. Destinasi Wellness Tourism yang terkenal contohnya adalah Islandia untuk spa break, India untuk ayurveda treatment, dan Bali untuk yoga retreats

Winter Tourism

Winter Tourism berhubungan dengan aktivitas wisata yang dilaksanakan pada iklim yang dingin. Aktivitas Winter Tourism yang cukup populer adalah skiing, snowboarding, sledging, wildlife spotting, dan ice fishing.

Baca juga: Istilah-Istilah dalam Pariwisata (A-H)

Referensi:

Diterjemahkan dari artikel Types of tourism: A Glossary yang ditulis oleh Dr. Hayley Stainton lewat laman website Tourism Teacher yang telah diperbarui pada 22 Mei 2020.

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *