SLF (Sertifikat Laik Fungsi) untuk Pabrik

SLF Pabrik

Pabrik merupakan suatu bangunan industri besar di mana para pekerja dapat mengolah barang atau mengawasi proses kerja mesin dari satu produk menjadi produk lain sehingga memiliki nilai tambah. Di Indonesia sendiri, pabrik juga kerap disebut sebagai bangunan industri.

Menurut Peraturan Menteri Perindustrian RI Nomor 64/M-ID/PER/7/2016 tentang Besaran Jumlah Tenaga Kerja dan Nilai Investasi Untuk Klasifikasi Usaha Industri, adapun klasifikasi industri berdasar jumlah tenaga kerja dan nilai investasinya adalah sebagai berikut:

  1. Industri kecil, merupakan industri yang mempekerjakan paling banyak 19 (sembilan belas) orang tenaga kerja dan memiliki nilai investasi kurang dari 1 (satu) miliar rupiah (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha). Adapun tanah dan bangunan yang digunakan untuk kegiatan industri lokasinya menjadi satu dengan lokasi tempat tinggal pemilik usaha.
  2. Industri menengah, merupakan industri yang mempekerjakan paling banyak 19 (sembilan belas) orang tenaga kerja dan memiliki nilai investasi paling sedikit 1 (satu) miliar rupiah atau mempekerjakan paling sedikit 20 (dua puluh) orang tenaga kerja dan memiliki nilai investasi paling banyak 15 (lima belas) miliar rupiah.
  3. Industri besar, merupakan industri yang mempekerjakan paling sedikit 20 (dua puluh) orang tenaga kerja dan memiliki nilai investasi lebih dari 15 (lima belas) miliar rupiah.

Untuk memperjelas batasan klasifikasi industri berdasar jumlah tenaga kerja dan nilai investasinya, kami akan menggambarkan melalui matriks di bawah ini:

Tenaga kerja/nilai investasi< Rp 1.000.000.000Rp 1.000.000.000 – Rp 15.000.000.000> Rp 15.000.000.000
1-19 orangIndustri kecil (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha)Industri menengahIndustri menengah
Lebih dari/berjumlah 20 orangIndustri menengahIndustri menengahIndustri besar

Sementara itu, di dalam Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian disebutkan bahwa perusahaan industri yang didirikan pada suatu tempat wajib memperhatikan keseimbangan dan kelestarian sumber daya alam yang dipergunakan dalam proses industri serta mencegah timbulnya kerusakan dan pencemaran terhadap lingkungan hidup akibat usaha dan proses industri yang dilakukan.

Adapun dampak kerusakan yang dimaksud dalam penjelasan di atas dapat berupa gangguan dan bahaya keselamatan maupun kesehatan masyarakat di sekelilingnya yang ditimbulkan karena pencemaran tanah, air, udara, termasuk juga kebisingan suara oleh kegiatan industri.

Seperti kita ketahui bersama, seiring berjalannya waktu, pastinya akan muncul masalah-masalah pada bangunan pabrik yang kita gunakan dalam proses kerja industri. Misalnya seperti rapuhnya dinding, tidak berjalannya fungsi sistem pemadam kebakaran maupun penangkal petir secara normal, sistem pembuangan limbah yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, maupun kendala umum lainnya.

Jika hal ini dibiarkan dan tidak diatasi dengan tepat, bangunan pabrik yang dulunya aman digunakan akan menjadi sumber bahaya bagi pekerja maupun masyarakat di sekitarnya. Imbasnya, banyak bangunan-bangunan yang roboh/runtuh sebelum waktunya.

Untuk itu, dalam hal ini pemerintah perlu mengadakan pengaturan dan pembinaan untuk menanggulangi dampak buruk dari kegiatan industri termasuk juga bangunan gedung yang digunakan dalam proses industri.

Pengaturan dan pembinaan ini cukup jelas diatur dalam Undang-Undang RI No 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor 27/PRT/M/2018 tentang Sertifikat Laik Fungsi Bangunan Gedung.

Dari peraturan yang telah disebutkan di atas, dijelaskan bahwa tolok ukur keandalan bangunan gedung yang digunakan untuk proses industri dapat dilihat dari adanya Sertifikat Laik Fungsi (SLF) yang diterbitkan oleh pemerintah daerah setempat.

Adapun masa berlaku dari sertifikat ini adalah 5 (lima tahun). Dengan begitu, sebelum masa berlaku SLF habis, pemilik maupun pengguna pabrik harus mengajukan perpanjangan SLF dengan melengkapi beberapa dokumen yang telah dipersyaratkan.

Lantas, mengapa Sertifikat Laik Fungsi dijadikan sebagai salah satu dokumen yang harus dimiliki setiap pabrik?

Panduan Mengurus SLF (Sertifikat Laik Fungsi) Hingga Terbit
Setiap bangunan gedung atau pabrik yang digunakan untuk proses industri diharuskan memiliki Sertifikat Laik Fungsi

Pentingnya SLF untuk pabrik

Dalam Peraturan Menteri PUPR No.27/PRT/M/2018, disebutkan bahwa Sertifikat Laik Fungsi atau yag biasa disingkat SLF merupakan sertifikat yang diterbitkan oleh pemerintah daerah terhadap bangunan gedung yang telah selesai dibangun sesuai IMB (Izin Mendirikan Bangunan) dan telah memenuhi persyaratan teknis sesuai fungsi bangunan gedung berdasar hasil pemeriksaan dari instansi maupun konsultan SLF pabrik terkait.

Dari penjelasan di atas, terlihat bahwa setiap bangunan gedung atau pabrik yang digunakan untuk proses industri diharuskan memiliki Sertifikat Laik Fungsi. Dengan memiliki SLF bangunan gedung, Anda tidak lagi khawatir dalam memanfaatkan bangunan tersebut. Mengapa demikian?

Selain sebagai dokumen pelengkap dalam penggunaan bangunan gedung, adanya SLF untuk pabrik dapat menjadi penjamin bagi bangunan gedung yang Anda gunakan telah layak digunakan, baik secara administratif maupun teknis. Dapat dikatakan bahwa SLF ini adalah tanda legal dari sebuah bangunan gedung yang telah dinilai keandalannya. Tanpa adanya SLF, tentu bangunan pabrik yang Anda gunakan masih diragukan keandalannya.

Selain itu, adapun tujuan umum dari proses penerbitan SLF pabrik ini adalah sebagai berikut:

  1. Mewujudkan bangunan pabrik/industri yang laik secara fungsi serta memiliki tata bangunan gedung yang serasi dan selaras dengan lingkungannya
  2. Mewujudkan ketertiban dalam penyelenggaraan bangunan gedung/pabrik agar terjamin keandalan teknisnya, baik dari segi keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan
  3. Mewujudkan kepastian hukum dalam penyelenggaran bangunan gedung

Namun, siapa yang berhak untuk melakukan pengkajian teknis pada bangunan pabrik?

Pemeriksaan kelaikan fungsi bangunan pabrik yang digunakan dalam proses industri dapat dilakukan dan dinilai oleh pengkaji teknis. Adapun yang dimaksud pengkaji teknis adalah orang perorangan atau badan hukum yang memiliki sertifikat keahlian untuk melaksanakan pengkajian teknis atas kelaikan fungsi bangunan gedung sesuai peraturan perundang-undangan.

Baca juga : Mengenal Sertifikat Laik Fungsi dan Manfaatnya

Bagaimana proses pemeriksaan kelaikan bangunan?

Sesuai dengan amanat Undang-Undang, bahwa tolok ukur keandalan sebuah bangunan gedung dapat dilihat dari beberapa aspek, di antaranya adalah aspek keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan. Jika keempat aspek ini telah terpenuhi dan dapat dimanfaatkan dengan baik, pengkaji teknis dapat menerbitkan surat pernyataan bahwa hasil pemeriksaan teknis bangunan gedung telah laik fungsi.

Selain itu, terdapat beberapa persyaratan administrasi yang perlu disiapkan oleh pemohon. Secara umum, adapun dokumen administrasi yang perlu dipersiakan adalah sebagai berikut:

  1. Salinan/fotokopi KTP pemilik bangunan gedung
  2. Status hak atas tanah
  3. Status kepemilikan bangunan gedung
  4. IMB (Izin Mendirikan Bangunan)
  5. Surat permohonan kelaikan fungsi bangunan, dan
  6. As-Built Drawing

As-Built Drawing atau gambar rekaman akhir merupakan gambar yang dibuat sesuai dengan kondisi terbangun di lapangan yang telah mengadopsi semua perubahan yang terjadi selama proses konstruksi. Artinya, setiap perubahan yang terjadi dan berbeda dari desain aslinya harus dibuatkan As-Built Drawing dan diverifikasi oleh penyedia jasa konstruksi atau penyedia jasa SLF.

Baca juga : As-Built Drawing Sebagai Syarat Penerbitan SLF

PT Eticon Rekayasa Teknik sebagai penyedia jasa SLF pabrik

Jika Anda merasa kesulitan dalam mengurus penerbitan SLF untuk pabrik Anda, menggunakan jasa SLF PT Eticon Rekayasa Teknik adalah pilihan yang tepat. Perusahaan kami memiliki pengalaman panjang dalam membantu penerbitan SLF bagi pabrik maupun perusahaan besar di Karawang, Batam, Serang, Bekasi, Yogyakarta, Sidoarjo, Surabaya, Boyolali, DKI Jakarta, Pontianak, maupun kota industri lainnya.

PT Eticon Rekayasa Teknik juga memiliki tenaga profesional dengan berbagai latar belakang keilmuan yang dibutuhkan dalam uji teknis kelaikan bangunan gedung, di antaranya arsitektur, teknik sipil, utilitas bangunan, desain lanskap, desain interior, manajemen HSE (health, safety, environment), maupun keilmuan lainnya.

Jasa SLF Pabrik
Tim PT Eticon Rekayasa Teknik melakukan penilaian keandalan bangunan gedung di Kabupaten Klaten

Anggota tim PT Eticon Rekayasa Teknik juga merupakan arsitek dan insinyur bersertifikat dari berbagai asosiasi profesional seperti Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (INTAKINDO), dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sehingga proses penilaian bangunan gedung yang Anda lalui akan lebih mudah dan tepat.

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *