Pentingnya Penilaian Daya Dukung di Destinasi Wisata

Pentingnya Penilaian Daya Dukung di Destinasi Wisata

Destinasi wisata yang populer akan terus menghadapi berbagai masalah, baik itu dalam hal infrastruktur, daya dukung lingkungan maupun sosial budaya yang mungkin pada akhirnya akan menyebabkan degradasi terhadap pengalaman wisatawan. Jika tidak diantisipasi, tentu akan berdampak pada hilangnya keseimbangan. Sedangkan destinasi baru tanpa perencanaan yang jelas dan sesuai dengan kaidah pembangunan maupun karakter daerahnya akan tumbuh secara tak tertata.

Jika melihat sejarah perkembangan pariwisata global dalam beberapa tahun terakhir, beberapa negara yang memiliki destinasi wisata populer sempat diramaikan oleh isu overtourism. Misalnya saja Venezia, Barcelona, Amsterdam, dan daerah lain yang kemudian mengakibatkan munculnya gerakan antituris

Overtourism adalah suatu kondisi di mana jumlah wisatawan di suatu destinasi wisata dianggap terlalu tinggi oleh masyarakat setempat sehingga mulai dirasa mengganggu. Saat ruang publik dan jalan umum menjadi macet karena kendaraan wisata, ketika satwa liar makin takut muncul, ketika wisatawan gagal melihat landmark suatu destinasi akibat terlalu ramai, ketika lingkungan mulai rusak, ini semua adalah tanda-tanda dari overtourism.

Dalam beberapa kasus di Indonesia, khususnya pada beberapa destinasi yang rentan terhadap kerusakan, sering kali kapasitas daya dukung dan pengelolaan pengunjung kurang mendapat perhatian. Masih ingat dengan kasus carut marut Gua Pindul di Yogyakarta? Atau menumpuknya sampah plastik di pesisir Bali?

Dari sini kita dapat melihat, hanya sedikit saja daerah yang benar-benar peduli terhadap daya dukung lingkungan di destinasi wisata. Pada semua tingkatan stakeholder, fokusnya lebih banyak tertuju pada perolehan kunjungan dan peningkatan pendapatan. Meskipun dalam perjalanannya sukses mencapai tujuan ekonomi, tetapi dampak terhadap lingkungan dan masyarakat (sosial budaya) meninggalkan banyak pertanyaan.

Perencanaan yang tidak menempatkan keberlanjutan sebagai tujuan jangka panjang pada akhirnya mungkin akan menjadi ancaman. Pengendalian pembangunan merupakan tantangan lain yang dihadapi oleh masyarakat lokal selaku tuan rumah. Untuk itu, di antara aspek yang paling penting yang perlu dipastikan adalah daya dukung destinasi dan ketaatan terhadap regulasi yang ada.

Butler (1980; 2006a), menyebutkan bahwa terdapat kesamaan antara siklus hidup destinasi dengan siklus hidup produk barang dan jasa. Umumnya, suatu destinasi akan memperlihatkan beberapa siklus, mulai dari tahap penemuan (exploration), keterlibatan (involvement), perkembangan (development), konsolidasi (consolidation), stagnasi (stagnation), dan kemungkinan adalah fase peremajaan (rejuvenation) atau bahkan mengalami penurunan (decline) setelah daya dukungnya terlampaui.

Meski teori Butler di atas masih sering diperdebatkan karena terlalu condong menyoroti faktor internal destinasi dan tidak menempatkan faktor-faktor eksternal seperti bencana alam, iklim politik, maupun konflik; teori Butler di atas menjadi basis konseptual yang digunakan untuk melihat secara kritis dinamika yang dialami destinasi wisata.

Oleh sebab itu, perencanaan yang baik menjadi proses awal yang sangat penting untuk menghindari terjadinya degradasi atau dampak yang merugikan. Tanpa perencanaan yang tepat dan sesuai dengan karakter daerah, pengembangan pariwisata tentunya akan berpotensi meninggalkan kerugian, baik bagi destinasi, masyarakat lokal, maupun pengalaman wisatawan.

Keterlambatan dalam mengevaluasi kapasitas sebuah akomodasi wisata yang sifatnya fisik seperti infrastruktur mungkin lebih mudah diidentifikasi dan diatasi. Misalnya seperti tingkat hunian, kerusakan struktur sebuah bangunan, maupun kepadatan lalu lintas. Namun, bagaimana dengan daya dukung lingkungan dan sosial?

Polusi udara dan suara, marjinalisasi komunitas, menumpuknya sampah, maupun makin menjauhnya satwa adalah dampak yang mungkin saja bisa terjadi jika tidak ada kontrol yang baik terhadap pengelolaan, khususnya pengaturan jumlah kunjungan wisatawan.

Isu strategis masalah lingkungan di destinasi wisata

Kaitannya dengan daya dukung lingkungan dan pembatasan pengunjung di destinasi wisata, terdapat beberapa isu strategis yang sering kali muncul dalam forum-forum kajian kepariwisataan. Adapun isu strategis tersebut di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Menurunnya fungsi ekologi

Penurunan daya dukung lingkungan akibat rusaknya ekosistem menimbulkan berbagai dampak, baik langsung maupun tidak langsung. Dampak langsung tersebut antara lain dapat berupa erosi tanah maupun ancaman banjir di musim penghujan. Potensi bencana alam ini bisa saja terjadi di destinasi wisata, terutama di daerah bantaran sungai. Sedangkan dampak tidak langsung yang berpotensi muncul adalah penurunan resapan air dan erosi tanah yang dapat berakibat pada penurunan kualitas maupun kuantitas air tanah.

2. Meningkatnya pencemaran lingkungan

Maraknya pembangunan akomodasi serta meningkatnya kunjungan wisatawan yang tidak terkontrol dan tidak diimbangi dengan kesadaran lingkungan yang baik akan memberi dampak terhadap aspek lingkungan. Dampaknya antara lain meningkatnya volume sampah padat baik organik, anorganik, maupun limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun); terjadinya pencemaran air tanah yang berasal dari limbah domestik; pencemaran bakteri coli dari aktivitas limbah buangan rumah tangga, serta pencemaran udara akibat emisi kendaraan bermotor. Hal-hal tersebut tentunya dapat mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan yang dapat merugikan kesehatan.

Sebagaimana yang telah diamanatkan dalam UU Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan yang menyebutkan bahwa pembangunan kepariwisataan diwujudkan melalui pelaksanaan rencana pembangunan kepariwisataan dengan memperhatikan keanekaragaman, keunikan, kekhasan budaya dan alam, serta kebutuhan manusia untuk berwisata. Oleh karena itu, penting adanya fasilitasi upaya pelestarian dan penataan kawasan agar sebuah kawasan destinasi tetap harmonis.

Di sisi lain, pariwisata berkelanjutan telah menjadi agenda pembangunan yang terus digalakkan oleh pemerhati pariwisata, akademisi, maupun kelompok-kelompok yang peduli terhadap aspek lingkungan. Banyak negara, termasuk juga Indonesia memahami betul manfaat dari berjalannya sektor pariwisata, khususnya bagi pembangunan wilayah. Bahkan, banyak negara yang menjadikan pariwisata sebagai tulang punggung perekonomian. Pada lingkup yang lebih kecil, banyak daerah yang menempatkan pariwisata sebagai visi misi pembangunan daerah. Misalnya saja Bali, Yogyakarta, atau Dieng-Jawa Tengah.

World Tourism Organization (WTO) menjelaskan bahwa pariwisata berkelanjutan adalah “tourism that takes full account of its current and future economic, social and environmental impacts, addressing the needs of visitors, the industry, the environment, and host communities.” Jika diterjemahkan, pariwisata berkelanjutan memiliki arti sebagai konsep pembangunan atau pengembangan pariwisata yang memperhitungkan sepenuhnya dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan saat ini maupun masa depan.

Bukan hanya dibahas dalam proses perencanaannya saja. Pariwisata berkelanjutan adalah konsep yang harus dipraktikkan, baik oleh wisawatan, masyarakat, maupun pemerintah selaku pembuat kebijakan. Selain itu, mengelola dan mengembangkan destinasi wisata secara berkelanjutan juga patut mempertimbangkan daya dukung sumber daya pariwisata.

Baca juga: Manajemen Pengelolaan yang Berkelanjutan Bagi Destinasi Wisata

Pentingnya Penilaian Daya Dukung di Destinasi Wisata

Pentingnya daya dukung atau carrying capacity bagi destinasi wisata

Daya dukung atau carrying capacity adalah batas maksimum populasi yang dapat didukung tanpa batas oleh lingkungan tertentu (Hixon, 2008). Carrying capacity bukan merupakan konsep baru karena merupakan isu dasar dalam manajemen sumberdaya (Trakolis, 2003:58). Oleh karena itu, penggunaan istilah carrying capacity dapat digunakan untuk berbagai macam agenda pembangunan, seperti dalam ekologi, biologi, maupun studi populasi.

Dalam kasus ekologi misalnya. Menurut Knight (1965) dalam Trakolis (2003:59), carrying capacity dapat diartikan sebagai jumlah total individu dari suatu spesies yang dapat hidup dalam suatu ekosistem atau habitat dalam kondisi tertentu. Sementara menurut UNWTO (1984:4) dalam Kennell (2017), menyebutkan bahwa daya dukung pariwisata (Tourism Carrying Capacity) merupakan jumlah maksimum orang yang dapat mengunjungi suatu tempat wisata pada saat yang sama tanpa menyebabkan kerusakan lingkungan fisik, ekonomi, sosial budaya, dan penurunan kualitas yang tidak dapat diterima terhadap kepuasan pegunjung.

Dengan itu, sebagai refleksi bersama, teruntuk destinasi wisata yang telah melebihi daya dukung, diperlukan pengaturan pengunjung. Pembatasan dan manajemen pengunjung juga menjadi salah satu cara untuk menyelamatkan lingkungan dan degradasi kualitas destinasi. Harapannya, pengunjung/wisatawan dapat merasakan kenyamanan dan kepuasan saat melakukan aktivitas wisata.

Baca juga: Pengembangan Pariwisata di Daerah Tertinggal

Referensi:

  • Butler, R.W. 1980. The Concept of a Tourist Area Life Cycle of Evolution: Implications for Management of Resources. Canadian Geographer, XXIV(1), 5-12.
  • Butler, R. 2006a. The Conceptual Context and Evolution of the TALC. In R. G. Butler (ed), The Tourism Area Life Cycle (Vol. 1): Conceptual and Theoretical Issues (pp. 1-6). Clevedon, UK: Channel View Publications.
  • Hixon, M. A. 2008. Carrying Capacity:  Encyclopedia of Ecology. Five-Volume Set (December 2008):528–30.
  • Kennell, James. 2017. Carrying Capacity: Encyclopedia of Tourism. (January 2016):133–35.
  • Milano, Cladio (2017). Overtourism and Tourismphobia: Global Trends and Local Context. Barcelona: Ostelea School of Toruism & Hospitality.
  • Trakolis, Dimitrios. 2003. Carrying Capacity – An Old Concept : Significance for the Management of Urban Forest Resources. New Medit 3:58–64.

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *