Mengenal Apa Itu Sistem AC Central Beserta Kelebihan & Kekurangannya

AC central, Sumber: googleapis.com

Indonesia adalah negara dengan iklim cenderung panas. Oleh sebab itu, penggunaan pendingin ruangan menjadi salah satu kebutuhan penting. Diantara jenis AC yang ada di pasaran, sistem AC central menjadi salah satu yang paling populer dan banyak dijadikan opsi. Khususnya pada bangunan-bangunan besar.

Air Conditioning Central atau sistem AC sentral adalah jenis pendingin ruangan yang dimana proses pendinginannya ditempatkan atau terpusat pada satu titik tertentu. Kemudian untuk mendapatkan kesejukannya, suhu akan didistribusikan ke seluruh ruangan yang ada pada bangunan.

Dibandingkan dengan jenis AC biasa, AC central ini memang memiliki kapasitas yang lebih besar juga lengkap dengan teknologi canggihnya. Sehingga sistem AC satu ini dapat mengcover area yang luas dan mampu memberikan distribusi udara merata yang sesuai dengan kebutuhan ruangan itu sendiri.

Awalnya, AC central banyak dijadikan opsi untuk kebutuhan bangunan-bangunan besar, seperti gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, dan lain sebagainya. Namun seiring berjalannya waktu, tidak sedikit pula yang memilih AC central untuk dipasang di hunian tapi tentunya dengan beberapa pertimbangan. 

AC central bekerja dengan mengambil udara dari dalam ruangan melalui saluran udara atau duct. Kemudian udara akan didinginkan melalui proses pendinginan menggunakan refrigerant. Barulah setelahnya, udara dingin akan didistribusikan ke seluruh ruangan melalui sistem ductwork.

Dengan fakta tersebut, AC central menjadi salah satu fasilitas selain lift bangunan yang seharusnya ada di dalam sebuah bangunan, apalagi bangunan besar. Karena keberadaannya mampu memberikan kenyamanan bagi pengguna untuk melakukan aktivitas tanpa khawatir akan mengalami kegerahan.

Apa Saja Jenis AC Central?

Jenis-jenis AC central, Sumber: kompas.com
Jenis-jenis AC central, Sumber: kompas.com

Terdapat beberapa jenis sistem AC central yang populer digunakan di bangunan komersial. Semuanya hadir dengan kapasitas pendinginan dan pengaturan yang bervariasi tergantung kebutuhan. Di bawah ini adalah beberapa jenis AC central antara lain: 

1. AC Split Duct

Jenis split duct menggunakan sistem ducting untuk mendistribusikan udara ke seluruh penjuru ruangan. Sistem ducting terdiri dari saluran udara yang bekerja untuk mendistribusikan udara baik ke dalam maupun ke luar sistem AC. AC split duct sangat ideal diaplikasikan pada hotel, restoran, sampai ke pusat perbelanjaan.

2. AC Split Cassette

Jenis split cassette terdiri dari satu unit di indoor dan satu unit di outdoor yang kemudian terhubung melalui pipa refrigerant (freon) dan kabel listrik. Unit indoor biasanya dipasang pada dinding atau langit-langit. Dimana unit ini bertugas untuk mengatur sirkulasi udara ke seluruh ruangan.

3. AC Multi-Split

Jenis AC central selanjutnya adalah multi-split. Multi-split memiliki cara kerja yang sama dengan sistem single-split, yang membedakannya hanya sistem AC central satu ini dapat menghubungkan beberapa unit AC indoor ke satu unit outdoor. AC ini akan memberikan kesan menarik jika unit AC outdoor yang digunakan sedikit. 

Karena semakin sedikit unit AC outdoor yang digunakan, semakin sedikit pula ruang yang dibutuhkan untuk sistem AC secara keseluruhan. Sehingga jika dilihat dari luar, bangunan tidak akan dipenuhi dengan unit AC outdoor tersebut.

4. VRF atau VRV

VRF atau Variable Refrigerant Flow umumnya menyerupai AC multi-split dimana satu unit outdoor dapat menghubungkan banyak unit indoor. Bedanya, VRF mempunyai kapasitas yang lebih besar dan mampu menjangkau lebih banyak serta lebih jauh unit indoor.

VRF menggunakan teknologi canggih yang dapat mengatur kecepatan kerjanya secara otomatis sesuai kebutuhan ruang. Selain itu, VRF juga hadir lengkap dengan kemampuan mengatur suhu secara independen di setiap ruangan. Hal inilah yang mampu menghambat operasional dalam jangka panjang.

5. AC Unit Chiller

Terdapat dua jenis vapor compression chiller. Chiller dengan pendingin udara dan chiller dengan water cooling. Chiller dengan pendingin udara bekerja dengan mengeluarkan panas ke luar ruangan. Kapasitasnya dihitung dengan satuan refrigeration ton, tergantung ukuran, model dan kebutuhan.

Sementara chiller dengan water cooling ini mendinginkan air dan mendistribusikan ke ruangan yang didinginkan. Kapasitasnya dihitung dengan satuan refrigeration ton, tergantung ukuran, model, dan kebutuhan.

Kelebihan Menggunakan Sistem AC Central

Kelebihan menggunakan AC Central, Sumber: kompas.com
Kelebihan menggunakan AC Central, Sumber: kompas.com

Sistem AC central yang sampai saat ini masih dijadikan sebagai pilihan banyak orang karena hadir dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya. Di antara beberapa keunggulan yang dimiliki air conditioning dengan sistem central meliputi: 

1. Efisiensi Energi

Dibandingkan dengan unit AC individual, sistem AC central memang cenderung lebih efisien dan ekonomis dalam penggunaan energi karena menggunakan teknologi terbaru. Hal ini juga disebabkan karena penggunaan satu unit pendingin besar yang mampu mendistribusikan suhu dingin ke seluruh ruangan. 

Dengan begitu, konsumsi energi dapat diatur secara lebih optimal dan dapat menurunkan biaya listrik secara keseluruhan. Namun perlu diingat, ini berlaku untuk ruangan dengan kapasitas besar seperti gedung perkantoran, hotel, pusat perbelanjaan, dan gedung-gedung besar lainnya.

2. Pengaturan Suhu Konsisten

Kemampuannya dalam memberikan pengaturan suhu yang konsisten ke seluruh ruangan atau bangunan juga menjadi keunggulan dari sistem AC central ini. Hal ini karena penggunaan satu unit besar AC juga dilengkapi dengan thermostat canggih yang dapat mengatur suhu secara optimal. Sehingga dapat memastikan bahwa setiap ruangan memiliki suhu yang dapat meningkatkan kenyamanan penggunanya dan meminimalkan perbedaan suhu antara satu ruangan dengan ruang lainnya.

3. Kemudahan dalam Pengoperasian

Karena pengaturannya terpusat dan dapat diakses melalui satu unit kontrol saja, membuat sistem AC central lebih mudah dalam proses pengoperasian. Hal ini juga berpengaruh terhadap keteraturan proses maintenance. 

Mengapa? Karena teknisi dapat memeriksa seluruh sistem dari satu lokasi pusat. Sehingga mengurangi kerepotan yang biasanya dialami ketika menggunakan sistem AC individual.

4. Desain Lebih Fleksibel

Sistem AC central yang dipasang pada satu titik pusat memungkinkan memberikan fleksibilitas dalam desain interior ruangan. Hal ini karena dalam pemasangannya tidak ada unit AC terpisah yang mungkin bisa saja berpotensi membatasi tata letak furniture atau dekorasi seperti AC individual.

5. Menghasilkan Kualitas Udara yang Baik

AC central dilengkapi dengan filter udara yang lebih baik dan tidak jarang lebih canggih dari sistem filter unit AC individual. Filter inilah yang dapat menyaring partikel debu, alergen, dan polutan lainnya dari udara. Sehingga mampu menghasilkan kualitas udara yang lebih baik untuk penghuni bangunan. 

Kekurangan Menggunakan Sistem AC Central

Kekurangan sistem AC central, Sumber: disway.id
Kekurangan sistem AC central, Sumber: disway.id

Selain kelebihan, sistem AC central juga hadir lengkap dengan berbagai kekurangannya yang perlu dipertimbangkan sebelum akhirnya Anda memutuskan untuk memasang jenis AC satu ini untuk bangunan. Di antara berbagai kekurangannya sebagai berikut: 

1. Biaya Instalasi Tinggi

Salah satu kekurangan sistem AC central adalah biaya instalasinya yang relatif tinggi. Karena membutuhkan perencanaan matang, peralatan khusus, dan tenaga ahli. Dimana semua elemen tersebut berkontribusi pada tingginya biaya awal instalasi. 

2. Maintenance yang Sulit

Meskipun di atas disebutkan bahwa maintenance AC central lebih teratur, tetapi hal ini bisa jadi lebih sulit dan kompleks. Jika terjadi masalah, dibutuhkan teknisi ahli untuk memperbaikinya. Hal inilah yang menambah biaya operasional, karena tidak bisa dilakukan secara mandiri.

3. Terbatas dalam Mengontrol Suhu Setiap Ruang

Kekurangan terakhir adalah terbatasnya fleksibilitas dalam pengaturan suhu. Hal ini karena sistem AC tidak bisa mengatur suhu individual untuk setiap ruangan mengingat sistemnya mengontrol suhu secara keseluruhan. Ini bisa menjadi kurang nyaman jika penghuni memiliki preferensi suhu yang berbeda di setiap ruangnya.

Demikianlah informasi mengenai sistem AC central yang banyak diaplikasikan untuk bangunan-bangunan besar. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya yang bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan sebelum memutuskan mengaplikasikan jenis AC tersebut. 

Selain informasi seputar sistem AC central, laman website Eticon juga menawarkan informasi lainnya yang tidak kalah menarik. Dari berbagai desain hotel unik di dunia, berbagai jenis arsitektur menarik, sampai informasi seputar SLF juga bisa Anda temukan di sini. Jadi, jangan sampai ketinggalan!

Mengenal Apa Itu Trash Chute System yang Biasa Ada di Gedung-Gedung Tinggi

Trash chute system, Sumber: medium.com

Setiap bangunan pasti membutuhkan tempat pembuangan sampah yang memadai. Pada hunian, tempat sampah berbentuk kotak sering diletakkan di halaman depan atau di dapur. Lantas bagaimana dengan tempat sampah di apartemen atau gedung tinggi lainnya? Untuk yang satu ini, trash chute system adalah jawabannya.

Setiap harinya, manusia menghasilkan limbah atau sampah dalam menjalankan aktivitas sehari-harinya. Seperti ketika selesai memasak, hunian pasti akan menghasilkan limbah rumah tangga atau jenis sampah-sampah lainnya. Jika sudah begitu, tentunya keberadaan tempat pembuangan sampah sangat dibutuhkan. 

Hal tersebut guna memastikan bahwa sampah terbuang dengan baik dan hunian tidak menjadi kotor. Nah, berbeda dengan pembuangan sampah di rumah, di apartemen atau gedung-gedung bertingkat lainnya memiliki sistem khusus untuk pembuangan sampah ini. 

Mereka menggunakan trush chute system untuk membuang sampah secara praktis. Sehingga penghuni apartemen atau gedung tidak perlu melakukan effort lebih turun ke lantai dasar hanya sekedar untuk membuang sampah. Sistem pembuangan sampah semacam ini memudahkan pengguna dan pengelola bangunan. 

Apa Itu Trash Chute System

Trash chute, Sumber: constructionkenya.com
Trash chute, Sumber: constructionkenya.com

Tapi sebenarnya apa yang dimaksud dengan trash chute system itu sendiri? Bagi mereka yang bekerja atau tinggal di high rise building seperti apartemen, hotel, atau gedung pencakar langit mungkin sudah cukup familiar dengan istilah trash chute ini. Karena penggunaannya sudah diadopsi di gedung-gedung bertingkat.

Secara harfiah trash chute dapat diartikan sebagai parasut sampah atau orang-orang cukup familiar dengan nama saluran sampah. Namun secara lengkap, trash chute adalah saluran pembuangan sampah berbentuk tabung dan dibangun secara vertikal yang biasanya ada pada gedung-gedung tinggi. 

Pada dasarnya, trash chute system dibuat dari lantai paling atas sampai ke lantai dasar. Dimana sistem pembuangan ini akan langsung terhubung dengan tempat pembuangan sampah yang berada di lantai dasar, atau tepatnya berada di luar ruangan bangunan tersebut.

Penggunaan trash chute dinilai sangat efektif sebagai tempat pembuangan sampah pada gedung bertingkat tinggi. Karena dapat memudahkan petugas kebersihan dalam mengambil sampah. Pun, penghuni apartemen tidak perlu mengumpulkan sampah sampai bertumpuk-tumpuk yang dapat menimbulkan bau tidak sedap.  

Belum lagi, pengguna gedung tidak perlu turun langsung untuk membuang sampah ke lantai dasar, karena melalui trash chute system sampah akan langsung terkumpul di satu tempat khusus. Sehingga lebih efisien waktu dan tenaga untuk mengumpulkan sampah tersebut.

Material untuk Membuat Trash Chute System

Salah satu material untuk membuat trash chute, Sumber: kulonprogokab.go.id
Salah satu material untuk membuat trash chute, Sumber: kulonprogokab.go.id

Trash chute adalah tempat pembuangan sampah yang terbuat dari material tidak mudah terbakar, seperti PVC, beton, dan stainless steel. Namun, dari beberapa material tersebut yang paling sering dan umum digunakan untuk membuat trash chute adalah stainless steel. Karena materialnya menawarkan berbagai benefit. 

Seperti yang kita tahu, stainless steel adalah material yang anti karat, sehingga maintenance pun tidak terlalu kompleks. Lalu, stainless steel juga tidak mudah kotor dengan kandungan krom tinggi yang membuatnya bisa digunakan dalam jangka waktu lama karena tahan lama.

Terakhir, tampilan stainless steel dengan warna abu mengkilapnya dinilai mampu memberikan nilai estetika untuk sebuah bangunan. Jadi, itulah mengapa stainless steel menjadi satu dari beberapa material yang sering dijadikan material utama untuk membuat trash chute.

Komponen-Komponen dan Cara Kerja Trash Chute System

Cara kerja trash chute, Sumber: waste4change.com
Cara kerja trash chute, Sumber: waste4change.com

Sebelum membahas bagaimana cara kerja dari trash chute system, kita juga perlu tahu komponen-komponen yang ada di di dalamnya. Karena bagaimanapun, trash chute tidak bisa dibuat secara sembarangan dan harus sesuai standar dan aturan yang berlaku.

  • Trash chute harus dibuat dari material yang benar-benar tidak mudah terbakar, seperti PVC, beton, dan stainless steel agar resiko kebakaran pada gedung bisa diminimalisir.
  • Ukuran trash chute pada pipa pembuangan setidaknya memiliki diameter sekitar 60 cm sampai 90 cm atau lebih. Dan setiap lantai harus tersedia penampungan sampah sementara.
  • Pintu penutup yang ada di setiap lantai harus memiliki ukuran 38 x 46 cm dan dilengkapi dengan alat pemadam kebakaran, lampu, serta semprotan pembersih di dekatnya.
  • Pada bagian atas trash chute harus dilengkapi dengan ventilasi sebagai tempat sirkulasi udara. Agar bau sampah tidak terperangkap pada saluran pembuangan dan mengganggu kenyamanan penghuni.
  • Bak penampung beroda harus disediakan pada bagian dasar trash chute untuk membantu memudahkan petugas kebersihan dalam memindahkan tumpukan sampah ke tempat lain.

Cara kerja trash chute sebenarnya cukup sederhana. Setelah sampah dibuang melalui “pintu masuk”, sampah akan ditampung sementara dan dipilah berdasarkan jenis sampahnya. Setelah dipilah, kemudian sampah akan disalurkan melalui pipa pembuangan menuju tempat pembuangan di lantai dasar. Sederhana, bukan? 

Aturan Membuang Sampah di Trash Chute System

Jenis sampah yang tidak boleh dibuang lewat trash chute, Sumber: tjetak.com
Jenis sampah yang tidak boleh dibuang lewat trash chute, Sumber: tjetak.com

Meskipun membuang sampah di trash chute sangat efektif dan efisien, namun terdapat beberapa aturan yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Khususnya perihal sampah apa saja yang tidak boleh dibuang di melalui trash chute. Beberapa jenis sampah yang tidak boleh dibuang dalam trash chute, diantaranya: 

1. Sampah Mudah Terbakar

Meskipun dibuat dari material stainless steel yang tidak mudah dibakar, tetapi ada baiknya untuk menghindari pembuangan sampah atau barang-barang mudah terbakar dalam trash chute.

Seperti puntung rokok, korek api, dan kaleng aerosol. Karena bagaimanapun, potensi terjadinya kebakaran bisa saja terjadi karena barang-barang tersebut dibuang dalam trash chute

2. Kotak Kardus Besar

Kotak kardus besar juga sebaiknya dibuang secara langsung ke tempat pembuangan akhir, jangan dibuang melalui trash chute. Karena dengan ukurannya yang besar, dapat mengganggu saluran pembuangan dan dapat menyumbat pipa pembuangannya.

Selain kardus kotak besar, kotak pizza utuh juga tidak disarankan dibuang pada trash chute. Jika ingin membuangnya melalui trash chute, bisa kotak bisa dipotong kecil-kecil terlebih dahulu agar tidak menyumbat pipa pembuangannya.

3. Tanaman Berukuran Besar

Jika pada gedung atau apartemen, Anda memelihara tanaman dengan ukuran cukup besar dan mulai layu, jangan sesekali membuangnya melalui trash chute. Karena lagi dan lagi, dengan ukurannya yang besar dikhawatirkan tanaman tersebut menyumbat pipa pembuangan.

Akan lebih baik, memotongnya menjadi potongan-potongan kecil terlebih dahulu apabila ingin membuangnya melalui trash chute.

4. Barang Menonjol dan Sampah Lepas

Oleh pihak pengelola, biasanya sampah atau barang semacam ini tidak dibolehkan untuk dibuang melalui trash chute. Karena dapat merusak trash chute akibat gesekan dari stainless steel dan barang menonjol tersebut. Pun, sampah lepas dapat mengotori trash chute sehingga perawatan yang dilakukan juga lebih ekstra. 

Secara tidak langsung, juga perlu mengeluarkan biaya lebih untuk membersihkan dan memperbaiki trash chute. Barang-barang tersebut diantaranya seperti kaleng, kotak kemasan, dan sisa makanan. Selain beberapa jenis sampah tersebut, sampah popok bekas pakai juga sangat dilarang dibuang melalui trash chute.

Nah, demikianlah ulasan mengenai trash chute system yang banyak dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan pada gedung-gedung bertingkat seperti apartemen, pusat perbelanjaan, sampai gedung perkantoran. Semoga kita tidak lagi penasaran ya bagaimana mereka yang ada di gedung bertingkat membuang sampahnya!

High Rise Building: Mengenal Pengertian serta Karakteristiknya

Bangunan tinggi di New York, Sumber : thetowerinfo.com

Pengertian dari high rise building yaitu bangunan gedung yang memiliki struktur tinggi. Biasanya bangunan ini digunakan untuk hunian apartemen, selain itu juga digunakan sebagai gedung yang difungsikan untuk perkantoran. Namun baru bisa dikatakan sebagai bangunan tinggi apabila memenuhi beberapa karakteristik, sehingga bukan karena tinggi saja lalu bisa dikatakan sebagai high rise building.

Meskipun pengertian dari high rise building adalah bangunan tinggi, namun hanya bangunan yang memiliki ketinggian minimal 23 meter sajalah yang masuk dalam karakteristik bangunan tinggi. Bangunan pencakar langit ini menjadi ideal karena terdapat lift di dalamnya, selain itu juga dilengkapi dengan struktur bangunan yang kuat dan kokoh.

Seperti yang kita ketahui, bahwa Indonsia merupakan salah satu negara yang memiliki rangkaian gunung api teraktif di dunia. Selain itu wilayah Indonesia juga bertepatan dengan pertemuan tiga lempeng bumi. Oleh sebab itu, Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi bencana alam seperti gempa bumi ataupun letusan gunung api. Sehingga memiliki struktur bangunan yang kokoh dan kuat adalah sebuah keharusan dari bangunan gedung.

Bangunan tinggi di Jakarta, Sumber : thejakartapost.com
Bangunan tinggi di Jakarta, Sumber : thejakartapost.com

Sesuai dengan Undang-undang RI Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, mengenai tolok ukur keandalan sebuah bangunan gedung haruslah meliputi empat aspek yaitu keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan. Semakin tinggi sebuah bangunan tentu saja akan semakin memiliki risiko yang bisa mengancam keselamatan penghuni gedung, jika tidak dilakukan pemeriksaan serta pengawasan secara berkala.

Pengawasan dan pemeriksaan tersebut dilakukan oleh tim pengkaji teknis untuk melakukan penilaian apakah bangunan tersebut sudah laik fungsi. Jika bangunan gedung sudah laik fungsi maka bisa dibuktikan dengan adanya kepemilikan Sertifikat Laik Fungsi atau biasa dikenal dengan SLF. SLF akan diterbitkan oleh pemerintah daerah setempat yang terkait.

Karakteristik dari Bangunan Tinggi (High Rise Building)

High rise building memiliki pengertian sebagai bangunan tinggi, namun ada beberapa karakteristik gedung ini bisa disebut sebagai bangunan tinggi. Biasanya bangunan pencakar langit ini banyak dijumpai di kota-kota besar, seperti di Jakarta contohnya. Di bawah ini merupakan karakteristik dari high rise building yang dapat Anda simak.

1. Ketinggian Bangunan

Sebuah gedung dapat dikatakan sebagai bangunan tinggi atau high rise building apabila memiliki tinggi minimal 23 meter. Setara dengan bangunan gedung yang memiliki 6 lantai menjulang ke atas. Bangunan-bangunan dengan tinggi minimal 23 meter ini, sudah banyak didirikan di kota-kota besar termasuk di beberapa wilayah Indonesia.

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, bangunan tinggi ini biasanya digunakan untuk berbagai kepentingan. Salah satunya sebagai kepentingan bisnis yang bangunan tersebut difungsikan untuk hunian apartemen, hotel, hingga gedung perkantoran.

2. Struktur Bangunan

Penggunaan struktur bangunan yang kokoh dan sesuai dengan aturan yang berlaku dapat meminimalisir kecelakaan saat gedung dioperasikan. Sehingga bangunan dapat dengan kuat menahan beban dan tidak mudah roboh. Terdapat 3 macam struktur bangunan yang biasa digunakan pada high rise building yakni flat slab, bearing wall system, dan open frame.

Flat slab merupakan struktur bangunan dari pelat beton yang dijadikan sebagai tempat menancapkan kerangka pada sebuah bangunan gedung. Bearing wall system merupakan sistem struktur yang memakai dinding sebagai tempat untuk menumpu beban sebuah bangunan. Open frame adalah sebuah struktur yang menggabungkan balok dengan kolom, yang kemudian akan membentuk sambungan yang dapat menahan beban bangunan.

3. Luas Lantai

Karakteristik dari bangunan tinggi atau high rise building selanjutnya ialah dilihat dari luas lantainya. Sebuah bangunan dapat dikatakan sebagai high rise building bila memiliki minimal luas lantai 750 meter persegi hingga 1500 meter persegi. Lahan yang luas diperlukan dalam pembangunan high rise building ini, agar mengimbangi tinggi dari gedung tersebut.

Bangunan tinggi di Dubai, Sumber : dubai-marina.com
Bangunan tinggi di Dubai, Sumber : dubai-marina.com

4. Memiliki Sistem Aerodinamika

Untuk bangunan tinggi diperlukan sistem aerodinamika yang baik, bertujuan agar high rise building tersebut tahan akan terpaan angin dan tahan akan gempa bumi. Pengertian dari sistem aerodinamika sendiri adalah salah satu cabang dinamika yang berkaitan dengan pergerakan udara, khususnya pada saat udara tersebut berinteraksi dengan benda padat.

Jadi apabila sebuah bangunan tinggi dilengkapi dengan sistem aerodinamika yang baik, maka bangunan akan tahan terhadap getaran akibat gempa bumi. Selain itu juga akan tahan akan terpaan angin, walaupun memiliki bangunan yang tinggi.

5. Solusi dari Keterbatasan Lahan

Dibangunnya high rise building termasuk mengatasi keterbatasan lahan pada wilayah perkotaan. Seiring berjalannya waktu, setiap tahunnya daerah perkotaan mengalami peningkatan penduduk. Sehingga banyak lahan yang digunakan untuk membangun perumahan untuk hunian masyarakat. Oleh sebab itu, semakin lama lahan yang tersisa semakin terbatas.

Dengan adanya high rise building ini dapat mengatasi keterbatasan lahan tersebut. Karena bangunan ini dibangun tinggi keatas, sehingga akan menghemat lahan yang digunakan. Misalnya saja dengan adanya bangunan apartemen, maka masyarakat akan memanfaatkan bangunan tersebut sebagai hunian untuk menghemat penggunaan lahan.

6. Memiliki Bentuk Bangunan Lurus ke Atas

Berkaitan dengan solusi untuk mengatasi permasalahan lahan yang terbatas, disebabkan high rise building ini memiliki bentuk bangunan yang lurus ke atas. Sehingga tidak akan memakan banyak lahan untuk mendirikan bangunan ini. Ada juga beberapa bangunan tinggi yang didesain secara unik, namun telah diperhitungkan secara matang sehingga tidak membahayakan penghuninya.

Bangunan tinggi di Singapura, Sumber : caingram.info
Bangunan tinggi di Singapura, Sumber : caingram.info

7. Memiliki Kebutuhan Energi yang Besar

Bangunan yang menjulang tinggi tentu saja akan membutuhkan energi yang besar. Oleh sebab itu, high rise building ini memiliki kebutuhan energi yang besar. Apalagi banyak bangunan tinggi ini digunakan sebagai apartemen maupun perkantoran, sehingga sudah dipastikan bahwa memerluka pasokan energi listrik yang besar.

8. Nilai Arsitektur Tinggi

High rise buiding tidak hanya berfokus pada fungsinya saja, namun juga dibangun dengan menerapkan nilai estetik di dalamnya. Banyak contoh bangunan tinggi memiliki arsitektur yang indah dan memukau. Desain megah dan mewah yang dimiliki gedung pencakar langit ini, tentu saja memiliki nilai yang tinggi dalam dunia arsitektur.

9. Memiliki Risiko Tinggi

Dibangunnya bangunan tinggi ini tentu saja juga memiliki risiko yang tinggi. Apabila tidak dibangun sesuai dengan perhitungan yang tepat serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku, maka risiko robohnya bangunan tersebut akan semakin tinggi. Diperlukan pondasi yang kuat untuk mendirikan bangunan yang menjulang tinggi tersebut.

Bangunan tinggi di New York, Sumber : thetowerinfo.com
Bangunan tinggi di New York, Sumber : thetowerinfo.com

Itu tadi informasi mengenai high rise building, mulai dari pengertian hingga karakteristiknya. Untuk membangun sebuah bangunan gedung tidak boleh melewatkan aspek penting mengenai keselamatan, kesehatan, kenyamanan, serta kemudahan. Supaya setelah gedung dioperasikan dapat menjamin keamanan dan keselamatan penghuni gedung tersebut.