Waspadai Jejak Karbon pada Bangunan yang Dapat Membahayakan Manusia dan Lingkungan!

Beton menjadi salah satu penghasil karbon. Sumber: unsplash.com @evandemicoli

Banyak yang tidak sadar bahwa ternyata aktivitas yang kita lakukan sehari-hari dapat membahayakan kelangsungan hidup bumi dan segenap makhluk hidup yang ada di dalamnya. Yap, ada banyak kegiatan sehari-hari yang berkontribusi dalam peningkatan jejak karbon di muka bumi yang menjadi cikal bakal berbagai bencana alam. Sebagai seorang warga yang baik sudah selayaknya kita menjaga bumi ini dengan cara mengurangi jumlah jejak karbon di negeri ini.

Apa itu Jejak Karbon?

Barangkali masih banyak diantara pembaca sekalian yang belum mengetahui tentang jejak karbon. Jejak karbon bisa dibilang ialah ukuran banyak sedikitnya jumlah gas emisi atau gas rumah kaca (termasuk diantaranya gas metana dan karbon dioksida) yang dihasilkan dari beragam kegiatan manusia dalam rentang waktu tertentu yang mana mempunyai dampak negatif bagi lingkungan. 

Ada banyak sekali dampak atau efek yang ditimbulkan dari jejak karbon yang semakin banyak di muka bumi, dan semuanya adalah efek negatif. Setidaknya dengan jejak karbon yang semakin meningkat menjadikan munculnya cuaca ekstrim, berbagai bencana alam, kekeringan, kurangnya pasokan air bersih, serta beragam kerusakan alam lainnya.

Berbagai Penyebab yang Ditimbulkan

Lalu mengapa jejak karbon semakin meningkat dari tahun ke tahun? Ternyata hal ini bukan karena alasan. Ada banyak sekali kegiatan sehari-hari yang biasa kita lakukan yang ternyata turut andil dalam meningkatkan jejak karbon. Sebut saja saat hendak bepergian menggunakan alat transportasi, ketika sedang menggunakan listrik untuk sekedar menyetrika, atau memakai AC di rumah.

Waspadai jejak karbon di sekitar kita. Sumber:  unsplash.com @marcinjozwiak
Waspadai jejak karbon di sekitar kita. Sumber: unsplash.com @marcinjozwiak

Berikut ini beberapa aktivitas yang paling banyak menyumbang dalam peningkatan jejak karbon yang ada.

1. Menggunakan Alat Transportasi

Sudah bisa dipastikan bahwa dalam satu hari setiap orang membutuhkan sebuah alat transportasi untuk membantu menunaikan aktivitas sehari-hari. Sehingga bila dihitung banyak sekali waktu yang dihabiskan setiap orang untuk berada di transportasi seperti mobil, bus, motor, kereta, sepeda, dan sebagainya.

Perlu diketahui dengan seksama, semua alat transportasi yang berbahan bakar minyak, disaat alat transportasi tersebut digunakan maka kendaraan itu akan memperburuk lingkungan karena menghasilkan emisi dan polusi yang akhirnya mengancam kesehatan bumi ini. Kendaraan akan menghasilkan CO2 yang ini nanti menjadi efek rumah kaca.

2. Memakai Energi Air dan Listrik 

Tidak hanya alat transportasi, listrik juga menjadi penyumbang terbesar capaian emisi karbon di bumi. Mengapa bisa? Ini karena di negeri ini sumber energi masih menggunakan bahan bakar yang cukup usang dan tak terbarukan, yaitu batu bara. Karena itulah apabila suatu listrik semakin banyak digunakan, maka secara logika semakin banyak gas emisi yang digunakan.

Untuk air bersih sendiri, perlu adanya banyak proses guna mengelola sebuah air. Adapun proses untuk menjadikan air mineral bersih dan dapat digunakan memerlukan proses yang tidak singkat, yang jikan semakin lama durasi prosesnya maka semakin banyak pula gas emisi yang dihasilkan. Karena dalam proses tersebut menggunakan energi fosil sebagai bahan bakarnya.

Maka dari itu, cobalah untuk bisa menggunakan air sebaik-baiknya, secukupnya saja. Tidak perlu berlebih-lebihan dalam menggunakan air agar air bisa awet untuk waktu yang lama sehingga tidak perlu sering melakukan proses pengelolaan air. Begitu pula dengan penggunaan listrik, gunakan seperlunya dan hemat sebisanya.

3. Limbah Makanan

Salah satu penyumbang limbah terbesar yakni makanan. Sumber gas emisi ternyata juga ada pada setiap makanan yang dikonsumsi. Proses pembuatan makanan dari hulu, yakni dari bagaimana mengekstrak bahan baku, lalu proses produksi dengan menjaga kualitas, kemudian proses distribusi yang rapi sampai sebuah produk sampai ke tangan konsumen menghasilkan gas emisi yang tidak sedikit.

Limbah makanan menjadi salah satu penyebab banyaknya jejak karbon. Sumber: unsplash.com
Limbah makanan menjadi salah satu penyebab banyaknya jejak karbon. Sumber: unsplash.com

Maka dari itu, setelah mengetahui demikian Anda bisa mengurangi keinginan untuk menjajal jajanan yang banyak limbahnya, dan juga mengurangi makanan yang berasal dari luar negeri. Mengapa bisa? Makanan dari luar negeri memerlukan proses distribusi yang cukup panjang, yang dalam proses tersebut banyak gas emisi yang dihasilkan. Karenanya jika seseorang suka mengkonsumsi makanan dari luar negeri, secara tidak langsung ia telah membantu proses peningkatan jejak karbon.

Cara Mencegah Timbulnya Jejak Karbon

Setelah mengetahui sedikit banyak tentang jejak karbon, ada beberapa yang dapat Anda lakukan untuk mencegah peningkatan jejak karbon di bumi ini.

1. Menggunakan Transportasi Non BBM

Cara pertama mencegah peningkatan jejak karbon adalah dengan mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak. Bila Anda ada keperluan pergi ke suatu tempat, usahakan untuk menggunakan alat transportasi non BBM seperti sepeda terlebih dahulu. BBM akan menguap dan menjadi gas emisi yang pastinya tidak baik bagi kesehatan bumi kita.

2. Transportasi Umum

Apabila Anda ingin bepergian ringan sekitar diatas satu dua jam, tentunya menggunakan sepeda akan cukup melelahkan. Karenanya, memakai transportasi umum bisa menjadi pilihan tepat. Transportasi merupakan kendaraan yang selalu menjadi kebutuhan setiap orang. Dengan transportasi umum setidaknya jejak karbon bisa diminimalisir. 

Transportasi umum menjadi pilihan tepat kurangi jejak karbon. Sumber: unsplash.com @ashgerlach
Transportasi umum menjadi pilihan tepat kurangi jejak karbon. Sumber: unsplash.com @ashgerlach

3. Bijak dalam Penggunaan Listrik

Sudah disampaikan sebelumnya bahwa ternyata penggunaan listrik dalam keseharian di rumah juga memberikan andil peningkatan jejak karbon. Agar tidak meningkat secara drastis, Anda bisa membantu mengurangi jejak karbon dengan cara memanajemen penggunaan listrik sesuai kebutuhan.

Dengan ikut melakukan berbagai upaya diatas, harapannya Anda bisa berkontribusi untuk senantiasa menjadikan bumi sehat dan berbagai bencana tidak datang melanda.

Jejak Karbon pada Bangunan

Anda jangan salah, ternyata pembuatan bangunan juga dapat menghasilkan banyak CO2 yang sangat mencemari bumi kita. Baja dan beton yang merupakan bahan utama berbagai bangunan ternyata banyak melepaskan karbon dioksida. Setidaknya produksi baja punya andil sebesar 8 persen emisi bahan bakar di bumi. Ini jelas merupakan kabar yang kurang menyenangkan.

Beton menjadi salah satu penghasil karbon. Sumber: unsplash.com @evandemicoli
Beton menjadi salah satu penghasil karbon. Sumber: unsplash.com @evandemicoli

Lantas bagaimana membangun bangunan yang baik dan tanpa polusi? Bagi Anda yang menginginkan bangunan dengan desain yang hijau dan menyehatkan, maka Anda bisa mencoba konsep desain arsitektur hijau yang tidak hanya estetik dan apik namun juga menyehatkan. 

Secara singkat konsep desain arsitektur menyehatkan ini adalah  sebuah desain yang menitik beratkan pada proses pembuatan bangunan yang tetap memperhatikan kesehatan lingkungan alias ramah lingkungan. Dimulai dari bahan bangunan yang tidak menyebabkan pencemaran lingkungan seperti kayu dan minimalisir beton juga baja, sampai kepada sirkulasi udara, dan pemberian ecogreen atau tanaman-tanaman hijau di dalam dan disekitar bangunan.

Harapannya dengan didirikannya bangunan seperti ini bisa menjadi bahan percontohan bagi masyarakat umum agar juga membangun bangunan dengan model demikian. Mudah-mudahan semakin banyak bangunan yang mengusung desain ramah lingkungan hal ini dapat turut berperan dalam menjadikan bumi sehat seperti sedia kala.

Akhir kata, jejak karbon merupakan hal sederhana yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Karena seremeh apapun aktivitas kita ternyata punya dampak pada kesehatan bumi, yang berimbas pada kelangsungan kehidupan seluruh umat manusia. Semoga artikel ini bermanfaat, sampai jumpa.

Bagaimana Cara Kerja Alat Penangkal Petir? Begini Penjelasan Detailnya

Mengenal cara kerja alat penangkal petir, Sumber: news.indotrading.com

Petir merupakan salah satu gejala alam yang bisa berbahaya baik itu untuk manusia maupun bangunan. Jadi tidak heran jika banyak orang yang waspada akan datangnya petir. Namun untuk sebuah bangunan terdapat sebuah alat penangkal petir yang bisa melindungi bangunan dari sambarannya.

Pada umumnya, bangunan yang rawan tersambar petir adalah yang memiliki ukuran tinggi. Misalnya saja hunian bertingkat seperti apartemen, gedung perkantoran, hotel, dan lain sebagainya. Namun bukan berarti rumah biasa yang tidak tinggi lolos dari ancaman petir. 

Jadi meskipun bangunan tidak tinggi, Anda juga perlu membutuhkan alat penangkal petir rumah sebagai langkah pencegahan. Untuk gedung-gedung tinggi yang mengantongi Sertifikat Laik Fungsi (SLF), biasanya sudah dilengkapi dengan sistem penangkal petir. Penangkal petir tersebut akan diletakkan di bagian puncak bangunan gedung.

Fungsi Penangkal Petir

Perlu Anda ketahui, bahwa material penangkal petir ini terbuat dari bahan yang memenuhi syarat dan dilapisi bahan anti korosi. Material tersebut adalah tembaga dan aluminium, yang tentunya sudah memenuhi standar.

Fungsi utama dari sistem penangkal petir adalah untuk menyelamatkan bangunan dari sambaran petir. Perlu Anda pahami, petir dapat menimbulkan musibah yang besar seperti kebakaran misalnya. Jadi untuk mengantisipasinya, diperlukan sebuah alat untuk menangkalnya.

Biasanya petir akan sering muncul ketika musim hujan. Petir tersebut akan membawa aliran listrik yang besar, bahkan hingga ribuan volt. Tidak bisa dibayangkan bagaimana dampaknya jika petir tersebut menyambar sebuah bangunan. Tentu saja akan sangat merugikan dan bisa menimbulkan korban jiwa.

Petir sangat rawan mengenai hal-hal tinggi yang posisinya dekat dengan awan. Misalnya saja seperti pohon maupun bangunan bertingkat tinggi. Jadi biasanya untuk bangunan bertingkat tinggi sudah memasang penangkal petir untuk melindungi bangunan beserta isinya dari sambaran petir.

Jadi alat penangkal petir yang telah dipasang bisa digunakan untuk menghalau petir. Dengan begitu, petir tidak bisa menyambar berbagai macam benda maupun bangunan yang letaknya ada di bawah awan. Alat tersebut akan menyerap muatan listrik yang kemudian dialirkan ke tanah. Sehingga petir yang menyambar tidak langsung ke bangunan.

Alat penangkal petir, Sumber: brainacademy.id
Alat penangkal petir, Sumber: brainacademy.id

Komponen Penangkal Petir

Lightning rods atau yang biasa dikenal dengan sebutan alat penangkal petir ini memiliki 3 komponen utama. Komponen tersebut terdiri dari batang penangkal petir, kawat konduktor, dan tempat pembumian. Berikut penjelasan dari 3 komponen utama penangkal petir tersebut.

1. Batang Penangkal Petir

Pada bagian batang alat penangkal petir ini memiliki bentuk berupa batang tembaga yang di bagian ujungnya runcing. Di bagian tersebut memang dibuat runcing karena muatan listriknya memiliki sifat yang mudah berkumpul dan lepas di ujung logam yang runcing.

Dengan begitu, bagian tersebut bisa memperlancar proses tarik menarik muatan listrik yang ada di awan. Batang runcing tersebut akan dipasang di bagian puncak suatu bangunan.

2. Kawat Konduktor

Komponen selanjutnya adalah kawat konduktor, kawat konduktor ini terbuat dari jalinan kawat tembaga. Jalinan kabel konduktor tersebut memiliki diameter kira-kira 1 hingga 2 cm. Kabel konduktor ini memiliki fungsi untuk meneruskan aliran muatan listrik.

Aliran muatan listrik yang ada di bagian batang akan diteruskan menuju tanah. Untuk tempat pemasangannya, kawat konduktor ini akan dipasang di bagian dinding luar bangunan.

3. Tempat Pembumian

Fungsi dari tempat pembumian (grounding) adalah untuk mengalirkan muatan listrik dari kabel konduktor menuju batang pembumian. Batang pembumian tersebut tertanam di dalam tanah. Batang pembumian memiliki diameter sekitar 1,5 cm dengan panjang sekitar 1,8-3 m. Bagian tersebut terbuat dari bahan tembaga yang berlapis baja.

Penggunaan penangkal petir sangat penting untuk bangunan, Sumber: nusabali.com
Penggunaan penangkal petir sangat penting untuk bangunan, Sumber: nusabali.com

Tipe Penangkal Petir

Perlu Anda ketahui bahwa penangkal petir memiliki 3 tipe yang berbeda. Tipe penangkal petir tersebut terdiri dari penangkal petir elektrostatis, radioaktif, dan konvensional. Simak penjelasan ketiga tipe penangkal petir tersebut di bawah ini.

1. Penangkal Petir Elektrostatis

Tipe penangkal petir yang satu ini menggunakan sistem E.S.E. (Early Streamer Emission) yang lebih aktif untuk menangkap petir. Jadi ada 1 elemen tambahan yang ada pada tipe ini, yakni head terminal. Head tersebut bisa menyimpan ion-ion positif yang berasal dari dalam bumi dengan jumlah besar.

2. Penangkal Petir Radioaktif

Untuk alat penangkal petir tipe yang satu ini sudah dilarang penggunaannya berdasarkan kesepakatan internasional. Hal ini dikarenakan pemakaian zat radioaktif yang digunakan tersebut bisa mengganggu kehidupan makhluk hidup sekitar dan menimbulkan bencana dari zat yang digunakan.

Untuk cara kerjanya dilakukan dengan reaksi netralisasi ion yang menggunakan bahan-bahan radio station aktif. Tipe penangkal petir ini akan menghambat sistem ionisasi yang dimainkan dengan cara memakai zat radioaktif selayaknya Radium 226 dan Ameresium 241. Namun untuk saat ini penggunaannya sudah dilarang.

3. Penangkal Petir Konvensional

Tipe konvensional merupakan penangkal petir sederhana yang umumnya menunggu datangnya petir untuk menyambar bagian ujung penangkal. Prinsip kerja dari tipe ini adalah menangkap petir secara pasif. Penangkal petir konvensional memiliki bentuk seperti tiang dan membutuhkan kabel konduktor. 

Karena bersifat pasif, bangunan yang memiliki area luas sering menggunakan beberapa penangkal sekaligus pada bagian puncak atapnya. Penangkal petir yang satu ini bisa diaplikasikan di mana saja. Namun akan lebih optimalnya digunakan untuk bangunan yang memiliki area sempit, misalnya saja seperti rumah tinggal.

Bangunan akan tetap aman dari petir ketika musim hujan jika menggunakan penangkal, Sumber: pinhome.id
Bangunan akan tetap aman dari petir ketika musim hujan jika menggunakan penangkal, Sumber: pinhome.id

Cara Kerja Alat Penangkal Petir

Terdapat penjelasan mengenai cara kerja alat penangkal petir yang dikutip dari laman wikipedia. Jadi ketika muatan listrik negatif yang ada di bawah awan sudah terpenuhi, maka muatan listrik positif yang ada di tanah akan segera tertarik. 

Muatan listrik tersebut akan mulai merambat naik melalui kabel konduktor. Kemudian akan langsung menuju ke bagian ujung batang penangkal petir. Pada saat muatan listrik negatif sudah dekat dengan atas atap, maka daya tarik antara kedua muatan akan semakin kuat.

Muatan positif yang berada di ujung alat penangkal petir akan tertarik menuju ke arah muatan negatif. Pertemuan antara kedua muatan tersebut akan menghasilkan sebuah aliran listrik. Aliran listrik yang terbentuk tersebut akan mengalir ke tanah melalui kabel konduktor. Jadi sambaran petir tidak akan mengenai bangunan.

Namun apabila kabel konduktor tadi terhubung dengan kawat listrik, maka sambaran petir yang terjadi akan merambat ke dalam bangunan melalui kawat listrik. Jika begitu, maka akan memunculkan bahaya. Misalnya saja seperti merusak berbagai alat elektronik di bangunan yang terhubung ke jaringan listrik.

Selain itu juga bisa mengakibatkan kebakaran maupun sebuah ledakan. Namun untuk mencegah kerusakan yang terjadi akibat jaringan listrik yang tersambar petir, di dalam bangunan akan dipasangi sebuah alat. Alat tersebut disebut dengan istilah penstabil arus listrik (surge arrester).

Mengenal cara kerja alat penangkal petir, Sumber: news.indotrading.com
Mengenal cara kerja alat penangkal petir, Sumber: news.indotrading.com

Itulah tadi informasi mengenai cara kerja alat penangkal petir. Ketika sebuah bangunan memiliki penangkal petir, maka bangunan tersebut terminimalisir dari risiko tersambar petir. Dengan memiliki SLF, bangunan gedung akan semakin terjamin keamanannya.

Untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi penghuni bangunan gedung, hendaknya pihak pengelola mengurus SLF terlebih dahulu. Jika Anda pihak pengelola gedung, Anda bisa meminta bantuan dari jasa konsultan SLF yang profesional dan terpercaya.

Salah satu jasa penyedia SLF yang siap membantu Anda adalah PT Eticon Rekayasa Teknik. Kami memiliki tim profesional yang berpengalaman dalam pengurusan SLF. Sudah banyak pihak yang mempercayakan pengurusan SLF kepada kami. Untuk informasi lebih lanjutnya, silahkan hubungi kami.

High Rise Building: Mengenal Pengertian serta Karakteristiknya

Bangunan tinggi di New York, Sumber : thetowerinfo.com

Pengertian dari high rise building yaitu bangunan gedung yang memiliki struktur tinggi. Biasanya bangunan ini digunakan untuk hunian apartemen, selain itu juga digunakan sebagai gedung yang difungsikan untuk perkantoran. Namun baru bisa dikatakan sebagai bangunan tinggi apabila memenuhi beberapa karakteristik, sehingga bukan karena tinggi saja lalu bisa dikatakan sebagai high rise building.

Meskipun pengertian dari high rise building adalah bangunan tinggi, namun hanya bangunan yang memiliki ketinggian minimal 23 meter sajalah yang masuk dalam karakteristik bangunan tinggi. Bangunan pencakar langit ini menjadi ideal karena terdapat lift di dalamnya, selain itu juga dilengkapi dengan struktur bangunan yang kuat dan kokoh.

Seperti yang kita ketahui, bahwa Indonsia merupakan salah satu negara yang memiliki rangkaian gunung api teraktif di dunia. Selain itu wilayah Indonesia juga bertepatan dengan pertemuan tiga lempeng bumi. Oleh sebab itu, Indonesia merupakan wilayah yang rawan terjadi bencana alam seperti gempa bumi ataupun letusan gunung api. Sehingga memiliki struktur bangunan yang kokoh dan kuat adalah sebuah keharusan dari bangunan gedung.

Bangunan tinggi di Jakarta, Sumber : thejakartapost.com
Bangunan tinggi di Jakarta, Sumber : thejakartapost.com

Sesuai dengan Undang-undang RI Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, mengenai tolok ukur keandalan sebuah bangunan gedung haruslah meliputi empat aspek yaitu keselamatan, kesehatan, kenyamanan, dan kemudahan. Semakin tinggi sebuah bangunan tentu saja akan semakin memiliki risiko yang bisa mengancam keselamatan penghuni gedung, jika tidak dilakukan pemeriksaan serta pengawasan secara berkala.

Pengawasan dan pemeriksaan tersebut dilakukan oleh tim pengkaji teknis untuk melakukan penilaian apakah bangunan tersebut sudah laik fungsi. Jika bangunan gedung sudah laik fungsi maka bisa dibuktikan dengan adanya kepemilikan Sertifikat Laik Fungsi atau biasa dikenal dengan SLF. SLF akan diterbitkan oleh pemerintah daerah setempat yang terkait.

Karakteristik dari Bangunan Tinggi (High Rise Building)

High rise building memiliki pengertian sebagai bangunan tinggi, namun ada beberapa karakteristik gedung ini bisa disebut sebagai bangunan tinggi. Biasanya bangunan pencakar langit ini banyak dijumpai di kota-kota besar, seperti di Jakarta contohnya. Di bawah ini merupakan karakteristik dari high rise building yang dapat Anda simak.

1. Ketinggian Bangunan

Sebuah gedung dapat dikatakan sebagai bangunan tinggi atau high rise building apabila memiliki tinggi minimal 23 meter. Setara dengan bangunan gedung yang memiliki 6 lantai menjulang ke atas. Bangunan-bangunan dengan tinggi minimal 23 meter ini, sudah banyak didirikan di kota-kota besar termasuk di beberapa wilayah Indonesia.

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, bangunan tinggi ini biasanya digunakan untuk berbagai kepentingan. Salah satunya sebagai kepentingan bisnis yang bangunan tersebut difungsikan untuk hunian apartemen, hotel, hingga gedung perkantoran.

2. Struktur Bangunan

Penggunaan struktur bangunan yang kokoh dan sesuai dengan aturan yang berlaku dapat meminimalisir kecelakaan saat gedung dioperasikan. Sehingga bangunan dapat dengan kuat menahan beban dan tidak mudah roboh. Terdapat 3 macam struktur bangunan yang biasa digunakan pada high rise building yakni flat slab, bearing wall system, dan open frame.

Flat slab merupakan struktur bangunan dari pelat beton yang dijadikan sebagai tempat menancapkan kerangka pada sebuah bangunan gedung. Bearing wall system merupakan sistem struktur yang memakai dinding sebagai tempat untuk menumpu beban sebuah bangunan. Open frame adalah sebuah struktur yang menggabungkan balok dengan kolom, yang kemudian akan membentuk sambungan yang dapat menahan beban bangunan.

3. Luas Lantai

Karakteristik dari bangunan tinggi atau high rise building selanjutnya ialah dilihat dari luas lantainya. Sebuah bangunan dapat dikatakan sebagai high rise building bila memiliki minimal luas lantai 750 meter persegi hingga 1500 meter persegi. Lahan yang luas diperlukan dalam pembangunan high rise building ini, agar mengimbangi tinggi dari gedung tersebut.

Bangunan tinggi di Dubai, Sumber : dubai-marina.com
Bangunan tinggi di Dubai, Sumber : dubai-marina.com

4. Memiliki Sistem Aerodinamika

Untuk bangunan tinggi diperlukan sistem aerodinamika yang baik, bertujuan agar high rise building tersebut tahan akan terpaan angin dan tahan akan gempa bumi. Pengertian dari sistem aerodinamika sendiri adalah salah satu cabang dinamika yang berkaitan dengan pergerakan udara, khususnya pada saat udara tersebut berinteraksi dengan benda padat.

Jadi apabila sebuah bangunan tinggi dilengkapi dengan sistem aerodinamika yang baik, maka bangunan akan tahan terhadap getaran akibat gempa bumi. Selain itu juga akan tahan akan terpaan angin, walaupun memiliki bangunan yang tinggi.

5. Solusi dari Keterbatasan Lahan

Dibangunnya high rise building termasuk mengatasi keterbatasan lahan pada wilayah perkotaan. Seiring berjalannya waktu, setiap tahunnya daerah perkotaan mengalami peningkatan penduduk. Sehingga banyak lahan yang digunakan untuk membangun perumahan untuk hunian masyarakat. Oleh sebab itu, semakin lama lahan yang tersisa semakin terbatas.

Dengan adanya high rise building ini dapat mengatasi keterbatasan lahan tersebut. Karena bangunan ini dibangun tinggi keatas, sehingga akan menghemat lahan yang digunakan. Misalnya saja dengan adanya bangunan apartemen, maka masyarakat akan memanfaatkan bangunan tersebut sebagai hunian untuk menghemat penggunaan lahan.

6. Memiliki Bentuk Bangunan Lurus ke Atas

Berkaitan dengan solusi untuk mengatasi permasalahan lahan yang terbatas, disebabkan high rise building ini memiliki bentuk bangunan yang lurus ke atas. Sehingga tidak akan memakan banyak lahan untuk mendirikan bangunan ini. Ada juga beberapa bangunan tinggi yang didesain secara unik, namun telah diperhitungkan secara matang sehingga tidak membahayakan penghuninya.

Bangunan tinggi di Singapura, Sumber : caingram.info
Bangunan tinggi di Singapura, Sumber : caingram.info

7. Memiliki Kebutuhan Energi yang Besar

Bangunan yang menjulang tinggi tentu saja akan membutuhkan energi yang besar. Oleh sebab itu, high rise building ini memiliki kebutuhan energi yang besar. Apalagi banyak bangunan tinggi ini digunakan sebagai apartemen maupun perkantoran, sehingga sudah dipastikan bahwa memerluka pasokan energi listrik yang besar.

8. Nilai Arsitektur Tinggi

High rise buiding tidak hanya berfokus pada fungsinya saja, namun juga dibangun dengan menerapkan nilai estetik di dalamnya. Banyak contoh bangunan tinggi memiliki arsitektur yang indah dan memukau. Desain megah dan mewah yang dimiliki gedung pencakar langit ini, tentu saja memiliki nilai yang tinggi dalam dunia arsitektur.

9. Memiliki Risiko Tinggi

Dibangunnya bangunan tinggi ini tentu saja juga memiliki risiko yang tinggi. Apabila tidak dibangun sesuai dengan perhitungan yang tepat serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku, maka risiko robohnya bangunan tersebut akan semakin tinggi. Diperlukan pondasi yang kuat untuk mendirikan bangunan yang menjulang tinggi tersebut.

Bangunan tinggi di New York, Sumber : thetowerinfo.com
Bangunan tinggi di New York, Sumber : thetowerinfo.com

Itu tadi informasi mengenai high rise building, mulai dari pengertian hingga karakteristiknya. Untuk membangun sebuah bangunan gedung tidak boleh melewatkan aspek penting mengenai keselamatan, kesehatan, kenyamanan, serta kemudahan. Supaya setelah gedung dioperasikan dapat menjamin keamanan dan keselamatan penghuni gedung tersebut.