Sosial Media Untuk Promosi Wisata, Bagaimana? (Penjelasan)

Wisata Candi Prambanan, Sumber : yukngetrip.com

Di dalam perkembangan dunia digital yang cukup pesat ini, tentu saja Anda tidak akan asing dengan sosial media. Saat ini sosial media digunakan untuk berbagai hal termasuk untuk promosi wisata. Dilansir dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), pengguna internet di Indonesia saat ini sekitar 63 juta jiwa. Kemudian untuk 95% dari data tersebut mengakses internet untuk bermain di jejaring sosial.

Dari data tersebut sudah terlihat bagaimana potensi yang bisa didapatkan dari promosi di sosial media. Semakin banyak orang yang mengakses media sosial, maka semakin besar pula peluang untuk mempromosikan produk atau jasa agar dilirik penggunanya. Sebenarnya penggunaan media sosial untuk promosi sudah lama digunakan oleh pelaku bisnis.

Namun masih banyak pelaku usaha yang belum memaksimalkan medsos untuk promosi produk maupun jasa yang ditawarkannya. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk memanfaatkan sosial media dengan tepat. Apalagi dimasa pandemi seperti saat ini, yang melemahkan perekonomian dari berbagai aspek termasuk pariwisata.

Wisata Candi Prambanan, Sumber : yukngetrip.com
Wisata Candi Prambanan, Sumber : yukngetrip.com

Bahkan sejak masuknya covid-19 ke Indonesia, sudah banyak destinasi wisata yang ditutup untuk menurunkan penyebaran virus corona. Hal ini tentu saja menyebabkan banyak orang harus kehilangan pekerjaannya. Selain itu pendapatan negara dari sektor pariwisata juga ikut menurun, karena menurunnya jumlah wisatawan yang datang berkunjung.

Tetapi bukan berarti pelaku usaha yang ada di dunia pariwisata menyerah akan masalah ini. Banyak pelaku usaha yang terus berusaha agar tempat usahanya tetap hidup. Salah satunya dengan memanfaatkan sosial media untuk tetap berinteraksi dengan wisatawan. Walaupun tempat wisata ditutup sementara jangan sampai promosi terhenti.

Pemilik usaha tetap bisa mempromosikan tempat wisata saat pandemi melalui jalur online. Salah satunya dengan menggunakan sosial media, bisa melalui facebook, instagram, twitter, tiktok, dan jejaring sosial lainnya. Sehingga pada saat wisatawan sudah diperbolehkan melakukan perjalanan wisata, destinasi wisata tersebut bisa menjadi tujuan bagi para pengunjung.

Tips Memaksimalkan Sosial Media Untuk Promosi Pariwisata

Ada beberapa cara untuk memaksimalkan penggunaan sosmed sebagai wadah promosi pariwisata. Sehingga walaupun dunia pariwisata sedang mengalami penurunan di masa pandemi, pelaku usaha tetap berusaha agar usahanya bisa bertahan. Berikut beberapa tips yang bisa diikuti oleh pemilik usaha untuk pengembangan pariwisata.

1. Rutin Membuat Konten

Gunakan tren terkini untuk memperkaya konten pada sosial media sebuah tempat wisata. Dengan rutinnya konten yang dihasilkan, dapat membuat konsumen semakin penasaran. Buatlah konten yang berhubungan dengan tempat wisata, misalnya saja membahas satu per satu mengenai spot yang ada di destinasi wisata tersebut.

Selain itu juga bisa memperlihatkan keindahan pemandangan di lingkungan sekitar. Berikan berbagai informasi yang bermanfaat untuk konsumen, dengan begitu akan menumbuhkan kepercayaan di dalam diri konsumen terhadap tempat wisata tersebut. Cara ini dapat membantu untuk meningkatkan jumlah pengikut atau followers pada sosial media yang digunakan sebagai tempat promosi.

Dalam membuat konten juga tidak boleh asal-asalan, untuk menarik perhatian pengunjung dibutuhkan visual konten yang menarik. Bisa juga disisipi dengan promo atau diskon yang diadakan secara berkala. Informasi tersebut dapat menarik perhatian pengunjung untuk datang mengunjungi destinasi wisata tersebut. Dampak positif sosial media tersebut secara tidak langsung dapat meningkatkan pengunjung.

Rutin membuat konten menarik, Sumber : uprint.id
Rutin membuat konten menarik, Sumber : uprint.id

2. Menggunakan Influencer

Bukan hal baru di dalam dunia sosial media menggunakan influencer untuk mempromosikan sebuah jasa atau produk. Banyaknya pengikut atau followers dari si influencer ini bisa berdampak pada kenaikan pengunjung di tempat wisata yang direkomendasikan oleh influencer. Ada banyak influencer dari berbagai bidang dan usia, sehingga pelaku usaha dapat menyesuaikan sendiri mana yang cocok untuk mempromosikan usahanya.

Untuk menentukan menggunakan jasa influencer juga tidak boleh sembarangan, diperlukan riset terlebih dahulu. Riset tersebut bisa dilakukan dengan cara melihat rentang usia pengikut si influencer, kemudian jumlah followersnya, serta cara komunikasi si influencer itu sendiri. Sehingga barulah dipilih mana yang sesuai dengan brand image tempat wisata tersebut.

Menggunakan jasa influencer, Sumber : aqi.co.id
Menggunakan jasa influencer, Sumber : aqi.co.id

3. Sering Melakukan Interaksi dengan Pengikut

Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk melakukan interaksi kepada pengikut di sosial media. Salah satunya bisa dengan membuat konten yang berisi permainan semacam kuis atau pertanyaan yang seru dan menarik. Dengan adanya interaksi tersebut dapat menumbuhkan rasa kedekatan diantara pelaku usaha dengan konsumennya.

Baca juga : Pariwisata Berkelanjutan: Apa yang Bisa Dilakukan?

Seringnya melakukan interaksi dengan pengikut di sosial media juga akan berdampak pada kemudahan saat akan riset market. Pemilik usaha bisa dengan mudah mengumpulkan data-data dari konsumen, misalnya saja tren apa yang sedang disukai oleh banyak orang saat ini. Sehingga dapat digunakan untuk memperbaiki pelayanan serta fasilitas yang disediakan di tempat wisata tersebut.

Ilustrasi melakukan interaksi dengan followers, Sumber : ultimatoom.com
Ilustrasi melakukan interaksi dengan followers, Sumber : ultimatoom.com

4. Mengumpulkan Testimoni Pelanggan

Testimoni pelanggan merupakan sesuatu hal yang penting dalam memasarkan produk atau jasa, termasuk promosi wisata. Anda bisa mengumpulkan berbagai cerita mengenai kunjungan wisata oleh pengunjung tersebut, kemudian di upload ulang dengan menambahkan beberapa kata agar konten lebih menarik perhatian.

Testimoni pelanggan tersebut dapat menumbuhkan rasa kepercayaan terhadap calon pengunjung lainnya. Sehingga calon pengunjung akan semakin tertarik dan penasaran ingin segera mengunjungi destinasi wisata Anda. Selain itu, testimoni yang diupload kembali di sosial media juga dapat dijadikan sebagai bentuk apresiasi kepada pengunjung yang telah datang berwisata di destinasi tersebut.

Mengumpulkan testimoni, Sumber : sippfm.com
Mengumpulkan testimoni, Sumber : sippfm.com

5. Memanfaatkan Fitur Iklan di Sosial Media

Jika Anda menggunakan instagram sebagai wadah untuk promosi tempat wisata di sosial media, maka bisa memanfaatkan fitur instagram ads. Fitur ini bisa membantu Anda untuk menjangkau lebih luas lagi target pasar yang ingin Anda tuju. Semakin luas jangkauannya, maka peluang untuk naiknya pengunjung juga menjadi lebih besar.

Fitur instagram ads, Sumber : eraspace.com
Fitur instagram ads, Sumber : eraspace.com

Itulah tadi penjelasan mengenai sosial media untuk promosi wisata. Kondisi seperti sekarang ini membuat para pelaku usaha untuk terus mengupayakan bagaimana cara agar tempat wisatanya tetap bertahan. Salah satunya dengan memaksimalkan penggunaan sosial media untuk terus melakukan branding pariwisata, agar terus berkembang dan tidak terlupakan masyarakat.

Fasilitas di Tempat Wisata: Apa Saja Itu?

Wisata hutan mangrove, Sumber : unsplash.com

Kurangnya atau tidak memadainya fasilitas penunjang yang ada di tempat wisata, dapat berdampak pada sepinya pengunjung. Salah satu cara untuk memperbaiki kualitas dari destinasi wisata ialah memberikan fasilitas lengkap untuk seluruh wisatawan. Fasilitas pariwisata inilah yang nantinya dapat mendukung terciptanya kemudahan, kenyamanan, dan keselamatan bagi para wisatawan saat mengunjungi destinasi wisata.

Pariwisata di Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang menunjang perekonomian, oleh sebab itu perlu dilakukan pengembangan pariwisata ke arah yang lebih baik. Salah satu solusi untuk membangun pariwisata ke arah yang lebih baik adalah dengan menerapkan konsep pariwisata berkelanjutan (Sustainable Tourism).

Konsep pariwisata berkelanjutan (Sustainable Tourism) ini merupakan konsep pengembangan pariwisata dengan memperhitungkan serta memperhatikan keseluruhan dampak ekonomi, sosial, serta lingkungan untuk saat ini maupun di masa yang akan datang. Maka dari itu, memperbaiki fasilitas yang tidak terawat dan membangun fasilitas lain di tempat wisata menjadi salah satu usaha untuk mengembangkan wisata.

Wisata hutan mangrove, Sumber : unsplash.com
Wisata hutan mangrove, Sumber : unsplash.com

Faktanya masih banyak ditemukan beberapa destinasi wisata yang tidak memiliki fasilitas umum yang lengkap, sehingga menyulitkan wisatawan. Bahkan ada juga yang sudah memiliki fasilitas penunjang, namun tidak dirawat dengan baik dan dibiarkan kotor begitu saja. Padahal apabila disediakan fasilitas yang lengkap dapat memudahkan serta membuat wisatawan nyaman saat liburan.

Hal tersebut juga relevan dengan pasal 7 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, mengenai salah satu pilar yang ada dalam pembangunan kepariwisataan yakni pembangunan destinasi pariwisata. Di dalam pembangunan destinasi pariwisata mencakup pembangunan daya tarik wisata, fasilitas pariwisata, prasarana dan infrastruktur, hingga pemberdayaan masyarakat.

Fasilitas di Tempat Wisata

Lalu apa sajakah fasilitas pariwisata yang dapat mendukung terciptanya kemudahan, kenyamanan, dan keselamatan wisatawan? Berikut beberapa fasilitas penunjang yang dibutuhkan di destinasi wisata, sebagai upaya untuk pengembangan pariwisata ke arah yang lebih baik.

1. Tersedianya Fasilitas Toilet yang Memadai

Untuk setiap tempat wisata sudah seharusnya memiliki toilet yang memadai. Bukan hanya dari segi jumlahnya yang banyak, namun juga harus terawat kebersihannya agar wisatawan nyaman menggunakannya. Karena pada kenyataannya banyak sekali destinasi wisata yang menyediakan toilet dengan kondisi yang memprihatinkan, atau dalam kata lain tidak bersih dan tidak terawat.

Memiliki tim yang mengatur kebersihan toilet, sudah seharusnya dimiliki oleh tempat wisata. Pihak pengelolalah yang wajib mengatur mengenai kebersihan dari fasilitas paling penting di destinasi wisata ini. Ketika toilet bersih dan wangi, pengunjungpun merasa nyaman untuk berlama-lama di tempat tersebut.

Toilet yang bersih dan terawat, Sumber : unsplash.com
Toilet yang bersih dan terawat, Sumber : unsplash.com

2. Tersedianya Tempat Sampah

Ketersediaan fasilitas tempat sampah di lokasi wisata, sampai saat ini masih menjadi catatan penting bagi pengelola tempat wisata. Seperti yang kita ketahui, permasalahan sampah di tempat wisata masih menjadi hal penting yang perlu diatasi. Banyak sekali ditemukan sampah-sampah plastik yang dibuang ke sembarang tempat.

Bahkan untuk tempat wisata alam seperti laut, banyak sekali ditemukan sampah plastik yang dibuang ke laut. Jika dibiarkan terus-menerus hal tersebut dapat mencemari laut. Apabila laut tercemar, maka akan berdampak besar pada rusaknya ekosistem laut. Oleh sebab itu, kesadaran membuang sampah pada tempatnya dan mengurangi penggunaan sampah plastik harus terus digalakkan.

Tersedianya tempat sampah yang memadai, Sumber : intisari.grid.id
Tersedianya tempat sampah yang memadai, Sumber : intisari.grid.id

3. Tersedianya Fasilitas Ramah Difabel

Seluruh destinasi wisata merupakan tempat umum yang bisa dikunjungi oleh siapa saja, termasuk bagi teman difabel. Namun ketersediaan fasilitas penunjang bagi difabel di destinasi wisata masih kurang. Sehingga diperlukan upaya untuk menciptakan tambahan fasilitas di setiap destinasi wisata yang ramah difabel.

Mulai dari adanya petugas yang mengusai bahasa isyarat hingga toilet khusus difabel. Bahkan peraturan mengenai fasilitas difabel terkait toilet juga telah diatur oleh pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum (Permen PU) Nomor 60 Tahun 2006. Dengan adanya fasilitas ramah difabel ini, diharapkan dapat memberikan kemudahan, kenyaman, serta keselamatan bagi teman difabel.

Ilustrasi toilet khusus difabel, Sumber : genpi.co
Ilustrasi toilet khusus difabel, Sumber : genpi.co

4. Ketersediaan Ruang Hijau

Adanya ruang hijau di tempat wisata juga akan membantu meyediakan udara yang sejuk dan asri di sekitar tempat wisata. Hal itu juga merupakan upaya untuk menjaga kelestarian alam sekitar. Banyaknya tumbuhan dan tanaman hijau dapat memberikan pengaruh positif bagi lingkungan sekitar. Ruang hijau ini akan diletakkan pada titik-titik tertentu di sekitar tempat wisata agar memberikan sirkulasi udara yang baik.

Saat ini sudah banyak daerah yang membangun ruang hijau di pusat kota. Ruang hijau tersebut bisa berupa taman kota hingga hutan kota yang amat bermanfaat untuk pengunjung wisata di kota tersebut. Bisa juga dimanfaatkan untuk aktivitas warga lokal.

Ilustrasi ruang hijau, Sumber : kampusundip.com
Ilustrasi ruang hijau, Sumber : kampusundip.com

5. Tersedianya Tempat Ibadah

Fasilitas yang tidak kalah penting yang harus ada di lokasi wisata adalah tempat ibadah, misalnya saja seperti masjid atau mushola. Dengan adanya mushola ini dapat membantu pengunjung muslim yang akan menunaikan ibadah. Mushola yang tersedia di tempat wisata inipun juga harus dijaga kebersihannya, mulai dari tempat mengambil air wudhu hingga karpet yang digunakan di dalam mushola atau masjid.

Mushola di tempat wisata, Sumber : news.detik.com
Mushola di tempat wisata, Sumber : news.detik.com

6. Terdapat Akses yang Mudah

Fasilitas selanjutnya adalah ketersediaan akses yang mudah bagi para wisatawan. Misalnya saja kondisi jalan yang baik sehingga nyaman dan memudahkan pengunjung untuk sampai ke tempat wisata tersebut. Kemudian lahan parkir resmi yang luas untuk kendaraan roda empat dan roda dua. Bisa juga dengan disediakannya angkutan umum yang membawa wisatawan dari tempat parkir menuju spot tertentu yang diinginkan.

Akses jalan menuju lokasi wisata mudah, Sumber : properti.kompas.com
Akses jalan menuju lokasi wisata mudah, Sumber : properti.kompas.com

7. Tersedianya Area Food Court

Area wisata yang di dalamnya tersedia area makanan atau food court, maka akan semakin lengkap. Biasanya wisatawan yang datang berkunjung, setelah selesai berkeliling tempat wisata akan merasakan haus atau lapar. Untuk itu, tersedianya fasilitas food court ini dapat membantu bagi para wisatawan yang ingin makanan maupun bersantai di area kuliner tersebut.

Area makanan di tempat wisata, Sumber : ardhakesuma.wordpress.com
Area makanan di tempat wisata, Sumber : ardhakesuma.wordpress.com

Terima kasih telah berkenan membaca artikel di atas, mari bersama-sama membantu untuk menyukseskan pengembangan pariwisata di Indonesia. Ikut membangun pariwisata bersama masyarakat juga termasuk dalam upaya untuk pengembangan pariwisata menuju ke arah yang lebih baik.

Arsitektur Rumah Adat Bali: Penarik Perhatian Wisatawan

Gaya arsitektur Bali, Sumber : cekindo.com

Bali merupakan salah satu destinasi wisata paling populer bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Dari berbagai daya tarik yang dipancarkan Bali, ada satu hal yang termasuk dari kebudayaan Indonesia yang menarik bagi wisatawan. Hal tersebut ialah gaya arsitektur rumah adat Bali yang mempesona, gaya arsitektur yang unik dan tradisional tersebut mampu menarik perhatian wisatawan.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, jumlah total wisatawan domestik yang mengunjungi Bali pada tahun 2019 adalah 10.545.039 jiwa. Sedangkan untuk wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali pada tahun yang sama berjumlah 6.275.210 jiwa. Jika dilihat dari data kunjungan tersebut, Bali menarik banyak wisatawan untuk datang berkunjung.

Apabila merujuk pada konsep pariwisata berkelanjutan, yang di dalamnya terdapat 4 pilar yang mencakup pengembangan wisata. Salah satunya adalah pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung (Culture). Rumah adat Bali termasuk ke dalam kebudayaan Indonesia, maka dari itu sudah seharusnya masyarakat serta wisatawan menjaga kelestariannya.

Keindahan Danau Beratan Bedugul, Sumber : travelspromo.com
Keindahan Danau Beratan Bedugul, Sumber : travelspromo.com

Empat pilar utama untuk pengembangan pariwisata tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Pariwisata No. 14 Tahun 2016 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan. Kemudian pilar tersebut telah dirumuskan oleh Badan Pariwisata Berkelanjutan Dunia yang mencakup beberapa kriteria berikut:

  1. Pengelolaan destinasi parwisata berkelanjutan (Sustainability Management)
  2. Pemanfaatan ekonomi untuk masyarakat lokal (Social-Economy)
  3. Pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung (Culture)
  4. Pelestarian lingkungan (Environment)

Oleh sebab itu melestarikan warisan budaya merupakan tujuan yang perlu diperhatikan dalam menyusun perancanaan pariwisata berkelanjutan, yang dalam hal ini mencakup rumah adat Bali. Untuk menciptakan pengembangan pariwisata tersebut dibutuhkan dukungan dari semua aspek, mulai dari masyarakat, wisatawan, hingga pemerintah.

Keunikan Arsitektur Rumah Adat Bali

Rumah adat Bali telah diwariskan dari zaman dulu hingga saat ini dan sudah berkembang secara turun temurun. Gaya arsitektur bali didesain dengan mencerminkan tradisi masyarakat setempat untuk membangun sebuah bangunan, struktur, maupun rumah-rumah. Gaya arsitektur Bali sangat kental dengan tradisi Hindu Bali yang dikombinasikan dengan Jawa Kuno.

Arsitektur rumah adat Bali memiliki karekteristik budaya yang kental, dapat dilihat dengan ukiran yang terdapat pada setiap desainnya. Selain itu material atau bahan yang biasa digunakan untuk membangun rumah seperti bambu, batu bata, kayu jati, atap jerami, atau bahan lokal yang lainnya. Berikut keunikan dari gaya arsitektur rumah adat Bali.

1. Terdapat Beberapa Bangunan dalam Satu Hunian

Apabila mengunjungi Bali, maka kita akan disuguhkan dengan pemandangan rumah adat Bali yang memiliki beberapa bangunan yang berdiri di dalam satu lahan. Bangunan tersebut terpisah-pisah dan tidak dalam satu atap, namun masih menjadi kesatuan dari rumah tersebut. Berbagai bangunan tersebut memiliki fungsinya masing-masing, seperti kamar tidur, dapur, tempat ibadah, dan yang lainnya.

Baca juga : Pariwisata Indonesia Pascapandemi COVID-19

Rumah adat Bali dibangun dengan aturan Asta Kosala Kosali. Asta Kosala Kosali ini mirip dengan Feng Shui jika dilihat dari budaya China. Untuk membangun rumah adat Bali, terdiri dari beberapa bagian yang dikenal dengan sebutan Tri Hita Karana. Bagian-bagian yang terdapat pada Tri Hita Karana meliputi Palemahan, Pawongan, dan Parahyangan.

Terdapat beberapa bangunan dalam satu hunian, Sumber : pegipegi.com
Terdapat beberapa bangunan dalam satu hunian, Sumber : pegipegi.com

2. Pintu Masuk Rumah Adat Bali Terdapat Gapura Candi Bentar

Pada umumnya rumah adat Bali memiliki pintu masuk yang berupa gapura Candi Bentar. Peletakkan gapura Candi Bentar tersebut bertujuan untuk menambah keindahan dari pintu masuk rumah. Detail yang terdapat di gapura Candi Bentar ini lebih ornamental. Sehingga dapat memancarkan kesan hunian yang indah dan etnik.

Gapura Candi Bentar di pintu masuk rumah adat Bali, Sumber : indonesiatraveler.id
Gapura Candi Bentar di pintu masuk rumah adat Bali, Sumber : indonesiatraveler.id

3. Terdapat Pengaruh Kepercayaan Polytheisme

Sebelum datangnya ajaran Hindu ke Pulau Bali, masyarakat sekitar menganut kepercayaan Polytheisme. Polytheisme merupakan bentuk kepercayaan dengan mengakui adanya banyak dewa atau bisa dikatakan memuji kepada banyak dewa. Oleh sebab itu, terkadang masih banyak ditemui unsur kebudayaan tersebut pada gaya arsitektur Bali.

Bahkan hingga saat ini masih banyak dijumpai di Bali, masih ada yang menganut unsur kebudayaan tersebut. Dengan adanya satu kompleks hunian yang di dalamnya terdapat beberapa pura, pura-pura tersebut digunakan untuk memuja dewa yang berbeda-beda.

Terdapat pura keluarga di kompleks rumah, Sumber : turuslumbung.blogspot.com
Terdapat pura keluarga di kompleks rumah, Sumber : turuslumbung.blogspot.com

4. Letak Bangunan Menurut Arah Mata Angin

Di Bali arah utara merupakan arah yang dianggap suci, sedangkan untuk arah sebaliknya yakni selatan dianggap buruk. Konsep tersebut diambil dari Tri Angga, yakni panduan tata letak. Biasanya peletakkan tempat ibadah diletakkan pada sudut bagiat utara sebuah rumah, karena merupakan tempat suci. Sehingga peletakkan pura keluarga ada di paling utara sebuah rumah adat di Bali.

Baca juga : Pentingnya Penilaian Daya Dukung di Destinasi Wisata

Menurut konsep dari Tri Angga, bagian yang paling depan disebut dengan istilah utama mandala, yakni sebagai tempat suci untuk ibadah. Kemudian untuk bagian tengah disebut dengan madya mandala sebagai tempat tinggal untuk penghuni rumah. Lalu untuk bagian yang paling belakang disebut dengan istilah Nista manala sebagai tempat yang digunakan untuk dapur.

Letak ruangan menurut arah mata angin, Sumber : toriqa.com
Letak ruangan menurut arah mata angin, Sumber : toriqa.com

5. Bangunan Dirancang Dekat dengan Nuansa Alam

Keunikan selanjutnya dari rumah adat Bali adalah bangunan dirancang dekat dengan nuansa Alam. Umumnya rumah adat Bali memiliki halaman yang luas, dengan tujuan agar manusia dapat akrab dan dapat berkomunikasi dengan alam sekitar.

Ventilasi di rumah Bali ini juga dibuat dengan adanya tambahan ruang di antara atap dan dinding. Tujuannya agar sirkulasi udara di dalam ruangan dapat berjalan dengan baik. Sehingga manusia dapat berkomunikasi dengan alam secara lancar.

Gaya arsitektur Bali, Sumber : cekindo.com
Gaya arsitektur Bali, Sumber : cekindo.com

Mari bersama-sama lestarikan warisan budaya Indonesia agar tidak rusak. Karena dengan menjaga kelestarian kebudayaan dapat berpengaruh terhadap perkembangan pariwisata Indonesia di masa ini maupun di masa yang akan datang.

Pengertian, Tujuan, dan Manfaat RIPPARDA untuk Pembangunan Pariwisata Daerah

pentingnya RIPPARDA atau RIPPDA

Pembangunan sektor pariwisata yang berhasil bukan saja dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah melalui kontribusi terhadap PAD (Pendapatan Asli Daerah). Jika dapat dikelola secara baik dan bertanggung jawab, kehadiran sektor pariwisata dapat menjamin kelestarian alam dan budaya, serta penyediaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan. Untuk itu, pembangunan kepariwisataan daerah perlu diatur dalam sebuah regulasi yang diarahkan untuk peningkatan kualitas lingkungan (environment), sosial budaya (community), serta ekonomi (economy). Lantas, bagaimana caranya?

Continue reading

Pelatihan Tata Kelola Homestay dan Pondok Wisata Kabupaten Sumenep

Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang luar biasa terhadap banyak industri, termasuk juga pariwisata. Banyak pula pengamat dan pakar pariwisata yang berpendapat bahwa pandemi COVID-19 akan merubah perilaku seseorang dalam melakukan bepergian. Misalnya saja adalah pilihan destinasi, di mana akan ada kelompok masyarakat yang akan menghindari destinasi yang ramai.

Continue reading

Pelatihan Tata Kelola Destinasi Wisata Kabupaten Sumenep di Era AKB

Pelatihan Tata Kelola Destinasi Wisata Sumenep

Pandemi COVID-19 memukul seluruh industri, termasuk juga pariwisata, baik secara global maupun nasional. Presiden Joko Widodo dalam pidatonya pernah mengatakan, bahwa perekonomian semua negara, termasuk juga Indonesia sedang macet. Untuk itu, semua negara harus menjalani proses mati komputer sesaat, melakukan restart, dan melakukan rebooting. Pemerintah pun mulai menyiapkan berbagai strategi agar sektor pariwisata dapat kembali bangkit usai pandemi COVID-19 berakhir. Namun, sejauh ini prediksi mengenai akhir dari pandemi COVID-19 masih belum dapat dipastikan.

Continue reading

Dark Tourism: Mendatangi dan Merenungi yang Kelam

Dark Tourism

Pariwisata merupakan sektor yang memberikan sumbangan cukup signifikan bagi pendapatan negara. Dilansir dari CNN Indonesia, berdasarkan data dari Laporan Kinerja Kementrian Pariwisata tahun 2018, sektor pariwisata turut menyumbang 5,25% pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB) di Indonesia. Tingginya kontribusi pariwisata membuat Pemerintah RI bersama pemerintah daerah menggunakan momentum ini untuk terus mengembangkan sektor kepariwisataan di daerahnya masing-masing. 

Continue reading