Apa yang Menjadi Penyebab Kegagalan Konstruksi? Berikut Penjelasan Detailnya!

Faktor dari kegagalan konstruksi, Sumber: concretecivil.com

Industri konstruksi merupakan industri dengan karakter yang unik, tidak teratur, banyak pihak yang terlibat dengan berbagai tujuan yang berbeda, serta berbahaya karena prosesnya yang dilakukan di alam terbuka. Dari semua keunikan prosesnya, maka setiap tahapannya pun memiliki risiko yang dapat menimbulkan kegagalan, seperti kegagalan konstruksi misalnya.

Secara kasat mata, kegagalan konstruksi diartikan sebagai kegagalan fisik suatu bangunan atau infrastruktur. Tetapi jika dikaji lebih lanjut, kegagalan tidak hanya berdasarkan pada kondisi fisik bangunan saja, namun dapat dilihat pula dari aspek fungsi dan manfaatnya bagi lingkungan di sekitarnya.

Kegagalan konstruksi juga kerap dikaitkan dengan tidak terpenuhinya kualitas dan spesifikasi yang seharusnya ada pada tahap konstruksi berlangsung. Kegagalan konstruksi bangunan gedung dapat disebabkan karena berbagai faktor, baik faktor teknis maupun non teknis. 

Faktor teknis karena adanya penyimpangan atau ketidaksesuaian terhadap spesifikasi, manfaat, fungsi, serta kesepakatan dalam kontrak yang telah dibuat baik dari pihak pengguna jasa, konsultan, maupun pelaksana konstruksi. Sedangkan faktor non teknis lebih disebabkan karena kesalahan atau kegagalan dari pihak-pihak yang terlibat dalam proyek konstruksi.

Standar Keberhasilan Konstruksi Bangunan

Yang harus diperhatikan dalam projek pembangunan konstruksi, Sumber: linkedfield.com
Yang harus diperhatikan dalam projek pembangunan konstruksi, Sumber: linkedfield.com

Kegagalan artinya apa yang terjadi tidak sesuai atau berada di bawah standar yang sudah ditetapkan. Maka dari itu, untuk mengatasi kemungkinan kegagalan dibutuhkan sebuah standar keberhasilannya. Standar keberhasilan pada sebuah proyek konstruksi dapat diukur dari 4 aspek berikut ini:

  • Waktu pelaksanaan pekerjaan. Artinya proyek konstruksi dapat selesai dalam waktu yang cepat dan tepat.
  • Kualitas hasil pekerjaan. Artinya kualitas bangunan yang dibuat bagus, struktur bangunan kuat dan tahan lama dalam jangka waktu perencanaan masa pakai.
  • Biaya pelaksanaan. Artinya biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan hemat dan sesuai dengan yang sudah ditetapkan.
  • Keselamatan kerja. Artinya tidak ada kecelakaan kerja yang terjadi atau zero accident.

Apa Saja Penyebab Kegagalan Konstruksi?

Perancangan yang gagal, Sumber: gleassociates.com
Perancangan konstruksi yang keliru berdampak besar bagi keseluruhan proyek, Sumber: gleassociates.com

Secara garis besar, terdapat berbagai faktor yang berpengaruh besar dan dapat menjadi parameter terhadap kegagalan konstruksi, faktor-faktor tersebut dapat berasal dari faktor eksternal (luar) dan faktor internal (dalam). Lantas apa saja yang menjadi penyebab kegagalan konstruksi tersebut?

1. Kesalahan dalam Perencanaan dan Perancangan

Perencanaan dan perancangan merupakan aspek utama yang sangat vital dan perlu diperhatikan. Karena dengan perencanaan yang kurang matang dan kurang tepat justru dapat menyebabkan kerusakan dan kegagalan pada konstruksi tersebut.

Jika rencana tidak sesuai dengan acuan dan sedikit saja kesalahan dalam perhitungan, akibat yang ditimbulkan akan sangat merugikan. Bukan hanya untuk penghuninya atau pemiliknya saja, tetapi juga dapat mencelakakan para pekerja dan semua orang yang ada di lingkungan tersebut.

Karena itulah, dalam proses perencanaan dan perancangan perlu dilakukan dengan hati-hati dan teliti untuk memastikan desain bangunan yang akan dibuat. Salah satu yang perlu diperhatikan dalam perencanaan struktur bangunan gedung adalah beban minimum perancangan bangunan gedung itu sendiri.

Dengan begitu ketinggian bangunan dan beban bangunan yang ditanggung tersebut seimbang.

2. Kesalahan dalam Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan juga memiliki peranan penting dalam terjadinya kegagalan konstruksi yang tentunya berorientasi pada pihak pelaksana proyek/kontraktor.

Faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab utama pada tahap ini diantaranya seperti metode pelaksanaan yang salah, kualitas bahan baku yang digunakan tidak sesuai dengan kontrak dan dibawah standar, tenaga kerja yang kurang berpengalaman dan tidak bisa dipercaya, hingga penggunaan peralatan yang tidak efektif.

Maka dari itu, membuat konstruksi bangunan sesuai kontrak yang ada dengan tenaga kerja ahli serta pemilihan material yang berkualitas adalah sebuah keharusan untuk menghindari sebuah kegagalan.

3. Kesalahan dalam Pengawasan

Pada saat melakukan pembangunan tentu para pekerja tidak boleh dilepaskan begitu saja, tetapi perlu didampingi oleh seorang pengawas. Hal ini bertujuan agar pembangunan yang sedang dilakukan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan di awal, dan terhindar dari kegagalan struktur bangunan.

Karena apabila pengawasan dilakukan secara sembarangan atau bahkan tidak ada pengawasan sama sekali, maka potensi kegagalan struktur bangunan gedung akan lebih besar dan dapat menyebabkan kerugian.

Faktor yang menjadi penyebab kegagalan konstruksi pada tahap pengawasan diantaranya pengawasan yang tidak sesuai dengan prosedur, penyetujuan pada proposal pembangunan yang asal dan tidak sesuai, serta melakukan penyetujuan pada gambar rencana kerja tanpa perhitungan teknis.

4. Kesalahan Operasional

Pada tahapan ini, kesalahan lebih berorientasi kepada pihak pengguna atau pemilik bangunan dalam penggunaan dan operasional bangunan tersebut. Dimana pemilik bangunan melakukan pergantian atau merubah fungsi awal pada bangunan yang dibuat.

Misalnya, bangunan yang awalnya dibuat dan difungsikan sebagai gedung perkantoran tetapi oleh pemilik bangunan justru dialih fungsikan menjadi gudang atau bangunan lain. Perubahan-perubahan fungsi yang menyimpang dari fungsi rencana awal itulah yang dapat berpotensi terhadap terjadinya kegagalan bangunan baik bersifat fisik maupun non fisik.

5. Perawatan/Maintenance

Perawatan atau maintenance merupakan salah satu aspek penting yang berpengaruh pada keberlangsungan umur bangunan. Jika dilakukan perawatan dan pemeliharaan secara rutin dan berkala, maka bangunan dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Sebaliknya, jika frekuensi perawatan tidak dilakukan secara berkala atau bahkan tidak dilakukan perawatan sama sekali, maka potensi terhadap risiko kegagalan bangunan juga akan semakin besar. Perawatan dan pemeliharaan bangunan dilakukan bukan semata-mata hanya untuk menjaga keindahan bangunan tersebut. 

Tetapi juga untuk mendeteksi apakah terdapat kerusakan fisik bangunan dan infrastruktur bangunan tersebut. Dengan mengetahui kerusakan bangunan sejak dini, langkah perbaikan juga dapat dilakukan dengan cepat sehingga dapat mencegah tingkat kerusakan bangunan yang lebih parah.

6. Disaster/Bencana Alam

Kegagalan konstruksi akibat bencana alam, Sumber: amazonaws.com
Kegagalan konstruksi akibat bencana alam, Sumber: amazonaws.com

Terjadinya bencana alam yang menyebabkan kegagalan sebuah konstruksi merupakan faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan dan diprediksi kehadirannya oleh manusia. Faktor ini bisa dianggap sebagai salah satu faktor yang sangat fatal terhadap kegagalan sebuah bangunan.

Oleh karena itu, untuk mengurangi tingkat risiko akibat bencana alam, pemilik bangunan dapat mengalihkan risiko tersebut kepada pihak ketiga yaitu pihak asuransi. Adapun berbagai bencana alam yang dapat menyebabkan kerusakan konstruksi karena faktor alam maupun kelalaian manusia seperti banjir, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, kebakaran, dan lain sebagainya.

Dari berbagai faktor tersebut tentunya kita tahu bahwa untuk membuat sebuah konstruksi dibutuhkan banyak pemahaman bagi semua pihak yang terlibat. Dengan pemahaman tersebut, tentu dapat mengurangi terjadinya kerusakan konstruksi bangunan yang merugikan semua pihak baik secara material maupun non material.

Namun selain itu, kegagalan konstruksi bisa diantisipasi dan dihindari dengan melakukan pengujian atau uji kelayakanan bangunan, yakni dengan mengurus SLF (Sertifikat Laik Fungsi) untuk bangunan. SLF adalah sertifikat yang diberikan oleh pemerintah daerah atau pusat untuk menyatakan kelaikan fungsi bangunan sebelum bangunan tersebut dipergunakan. 

PT Eticon Rekayasa Teknik merupakan konsultan SLF profesional dan bisa Anda percaya untuk membantu mengurus SLF bangunan Anda. Dengan mengurus SLF, Anda selangkah lebih maju dalam upaya mengurangi kerusakan konstruksi bangunan Anda.

Menyambut Bulan K3 2023, Ketahui Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja

Faktor penyebab kecelakaan kerja, Sumber: mediak3.com

Kecelakaan kerja adalah sebuah hal yang bukan tanpa sengaja terjadi. Kecelakaan kerja dapat terjadi karena adanya kesalahan yang dikerjakan tidak sesuai dengan prosedur dan standar yang ditetapkan. Nah, untuk menyambut pelaksanaan Bulan K3 tahun 2023 yang dimulai pada tanggal 12 Januari – 12 Februari 2023, kita cari tahu yuk apa saja faktor penyebab kecelakaan kerja.

Di semua tempat kerja hampir tidak ada yang sama sekali bebas dari sumber bahaya dan potensi terjadi kecelakaan kerja. Persentase faktor penyebab kecelakaan kerja yaitu 3% karena sebab yang tidak bisa dihindari (bencana alam), 24% karena lingkungan atau peralatan yang tidak memenuhi syarat, dan 73% karena perilaku yang tidak aman dari manusia (human error).

Oleh sebab itu, setiap tempat kerja harus memiliki prosedur keselamatan dan kesehatan yang mumpuni bagi setiap orang yang berada di lingkungan tersebut. Hal ini bertujuan sebagai upaya penanggulangan dan meminimalisir kecelakaan kerja yang bisa saja terjadi sewaktu-waktu.

Selain itu, dengan memahami berbagai faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja juga sangat membantu perusahaan dalam menyiapkan tindakan preventif maupun represif. Sehingga sederet dampak kecelakaan kerja pun dapat dikurangi.

Apa Saja Faktor Penyebab Kecelakaan Kerja?

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, terjadinya kecelakaan kerja bukanlah tanpa sebab atau faktor kebetulan saja. Setidaknya terdapat berbagai faktor yang menjadi penyebab terjadinya kecelakaan kerja pada lingkungan tersebut. Lantas, apa saja faktor penyebab kecelakaan di lingkungan kerja?

1. Faktor Teknis

Kendaraan konstruksi yang bisa jadi faktor penyebab kecelakaan kerja, Sumber: ruang-sipil.com
Kendaraan konstruksi yang bisa jadi faktor penyebab kecelakaan kerja, Sumber: ruang-sipil.com

Faktor pertama yang dapat menjadi penyebab kecelakaan di lingkungan kerja adalah faktor teknis. Faktor teknik adalah faktor yang berhubungan dengan sesuatu di luar manusia. Misalnya seperti kondisi mesin, bahan dan peralatan yang bergerak, lokasi tempat kerja, dan lain-lain.

Lokasi Kerja

Setiap lokasi kerja tentu memiliki risiko kecelakaan yang berbeda-beda. Namun bekerja di area yang tinggi memiliki potensi lebih besar untuk mengalami kecelakaan pada saat bekerja dibandingkan mereka yang bekerja di area terbuka.

Tidak hanya itu, desain tempat kerja yang tidak sesuai dengan keamanan dan kenyamanan pun juga berpotensi menimbulkan kecelakaan. Maka dari itu, sejak awal tempat kerja perlu didesain lebih aman dengan mempertimbangkan suhu, tingkat kebisingan, dan lain-lain.

Kondisi Mesin dan Peralatan

Mesin dan peralatan yang bergerak, bergesekan, berputar, dan sebagainya juga memiliki potensi sebagai faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja. Kondisi mesin yang digunakan perlu diperhatikan, misalnya dengan melakukan pengecekan secara berkala dan pembaharuan pada mesin yang sudah tua.

Karena semakin tua usia mesin, tidak hanya dapat menurunkan tingkat produktivitasnya saja tetapi juga dapat membahayakan operatornya.

Bahan dan Segala Hal yang Bergerak

Memindahkan barang yang berat dan berbahaya juga dapat berpotensi menyebabkan kecelakaan pada lingkungan kerja. Oleh karena itu, untuk memindahkan barang tersebut perlu dilakukan perhitungan yang matang terlebih dahulu baik dari cara pemindahannya, jalur yang digunakan untuk memindahkan, hingga alat yang digunakan untuk memindahkan.

2. Faktor Manusia (Human Error)

73% kecelakaan pada lingkungan kerja disebabkan oleh faktor manusia itu sendiri, atau kita menyebutnya sebagai human error. Umumnya, human error terjadi karena kelalaian perusahaan dan pekerjanya yang terkesan menganggap remeh atau menyepelekan.

Kewajiban menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), Sumber: merahputih.com
Kewajiban menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) agar aman dari kecelakaan kerja, Sumber: merahputih.com

Perilaku Manusia

Banyak kecelakaan kerja yang terjadi karena hal sepele dan sesederhana perilaku disiplin. Disiplin masalah waktu misalnya, jika pekerja berangkat tidak tepat waktu maka mereka akan melakukan pekerjaan secara tergesa-gesa dan “grusah-grusuh” karena dikejar waktu.

Ketidakdisiplinan itulah yang akhirnya membuat suasana kerja menjadi tidak kondusif dan menyebabkan kecelakaan kerja bagi dirinya sendiri bahkan orang disekitarnya.

Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)

Mengabaikan keselamatan diri dengan menganggap remeh SOP perusahaan juga dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja, salah satunya yaitu tidak menggunakan APD. Sesuai dengan namanya, alat pelindung diri (APD) adalah seperangkat alat yang dapat melindungi diri dari potensi terjadinya kecelakaan di lingkungan kerja.

Karena itu, APD lengkap harus digunakan oleh mereka yang berada di lokasi kerja, sayangnya tidak semua orang mematuhi prosedur ini. Padahal penggunaan APD adalah hal vital karena dapat meminimalisir dampak dari kecelakaan kerja.

Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Ketidaktahuan pekerja dalam menjalankan serangkaian jobdesknya juga dapat membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain, karena dengan begitu mereka akan melakukan pekerjaan sesukanya. Faktor ini dapat diminimalisir dengan adanya pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja.

Karena dengan begitu, para pekerja akan memperoleh dan dapat meningkatkan keterampilan sesuai dengan jobdesknya. Sehingga dapat mengurangi potensi kecelakaan kerja, kerusakan, dan lain-lain.

3. Faktor Alam

Faktor terakhir yang dapat menjadi penyebab terjadinya kecelakaan kerja adalah faktor alam. Bencana alam merupakan peristiwa yang sangat sulit diprediksi dan tidak bisa dihindari. Sekalipun kita sudah bekerja dengan menerapkan K3 yang mumpuni dan sesuai standar, namun kecelakaan kerja tetap akan terjadi jika disebabkan karena faktor alam.

Faktor alam yang kerap menjadi penyebab kecelakaan kerja antara lain banjir, gempa bumi, dan badai.

Kerugian Akibat Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja mengorbankan keselamatan nyawa pekerja, Sumber: republika.co.id
Kecelakaan kerja mengorbankan keselamatan nyawa pekerja, Sumber: republika.co.id

Mematuhi prosedur perusahaan dan K3 dengan baik bisa dijadikan sebagai salah satu cara untuk menghindari kecelakaan kerja. Karena dampak menyepelekan K3 akan sangat merugikan baik secara material maupun nonmaterial. Di bawah ini adalah berbagai kerugian akibat kecelakaan kerja, yakni sebagai berikut:

1. Mengakibatkan Kerugian Material

Secara kasat mata, kecelakaan kerja yang terjadi akan menimbulkan kerugian secara material atau ekonomi. Karena dengan begitu, perusahaan harus mengeluarkan biaya tambahan untuk biaya pengobatan dan tunjungan kecelakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Bahkan apabila pekerja tidak mampu lagi melanjutkan pekerjaannya, perusahaan harus menyiapkan biaya tambahan untuk rekrutmen dan pelatihan untuk pekerja pengganti. Selain itu, perusahaan juga harus mengeluarkan biaya untuk untuk memperbaiki kerusakan infrastruktur, fasilitas, kerusakan peralatan dan mesin, material dan bahan baku yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

2. Adanya Cedera dan Korban Jiwa

Selain dapat memberikan dampak secara material, terjadinya kecelakaan kerja juga dapat menyebabkan para pekerja menjadi cedera, baik cedera ringan maupun cedera berat, cacat, bahkan yang lebih parah dapat mengakibatkan adanya korban jiwa.

Hal ini tentunya sangat harus dihindari karena korban dan keluarga akan menderita sedangkan sesama pekerja pun ikut bersedih dan berduka cita.

3. Proyek yang Terhambat

Adanya kecelakaan kerja memberikan dampak pula pada proyek yang menjadi terhambat. Karena kegiatan pasti akan terhenti sementara waktu untuk membantu korban yang cedera, penanggulangan kejadian, perbaikan kerusakan, hingga penyelidikan kejadian.

Dengan begitu, jam kerja akan hilang dan dapat mempengaruhi produktivitas dan perusahaan dapat kehilangan peluang untuk mendapatkan keuntungan.
Demikianlah ulasan mengenai faktor penyebab terjadinya kecelakaan di lingkungan kerja dan juga kerugian dari kecelakaan tersebut. Setelah mengetahui penyebab dan juga akibatnya, semoga kita selalu senantiasa bekerja sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan. Semoga informasinya bermanfaat.

Mengenal 7 Alat Surveyor dan Fungsinya

Proses survey menggunakan alat survey, Sumber: landpoint.net

Untuk mendapatkan hasil yang akurat dalam pemetaan, tentu diperlukan alat surveyor yang dapat menunjang itu semua. Mengapa alat surveyor penting? Karena kita semua tahu bahwa relief permukaan bumi tidaklah rata, maka dari itu untuk dapat menghitung dan mengetahui besarnya sudut dan jarak permukaan bumi kita membutuhkan bantuan dari alat surveyor.

Alat surveyor sendiri merupakan alat yang digunakan untuk pengukuran suatu objek yang dilakukan para surveyor (orang yang melakukan survey) dalam proyek lapangan. Alat ini memiliki banyak manfaat untuk proyek konstruksi seperti pembuatan jalan, pemetaan, geologi, pertambangan, kehutanan, konstruksi bangunan, dan masih banyak lagi.

Alat ukur atau alat survey banyak sekali jenisnya dan untuk menggunakan salah satunya bisa disesuaikan dengan berbagai faktor. Seperti objek yang akan diukur, efisiensi proses pengukuran, serta hasil yang diinginkan.

Berbagai Alat-Alat Surveyor dan Fungsinya

Setidaknya, terdapat berbagai alat surveyor yang bisa digunakan saat melakukan survey. Mulai dari yang sederhana hingga alat ukur yang lebih modern. Di bawah ini adalah beberapa alat-alat surveyor, yakni sebagai berikut:

1. Meteran

Alat pengukur meteran, Sumber: serviceacjogja.pro
Alat pengukur meteran, Sumber: serviceacjogja.pro

Meteran merupakan salah satu nama alat surveyor yang cukup sering kita dengar. Meteran juga dikenal sebagai pita ukur, tape, atau roll meter yang memiliki 2 satuan ukur yaitu satuan inggris (inch, feet, dan yard) dan satuan metrik (mm, cm, dan m). Umumnya, meteran terbuat dari plastik tipis, kain, atau plat besi yang fleksibel dan memiliki ukuran beragam.

Alat ukur yang satu ini berfungsi untuk mengukur panjang atau jarak, mengukur sudut, membuat sudut siku-siku, serta dapat juga digunakan untuk membuat lingkaran. Alat surveyor yang satu ini juga tergolong praktis karena dapat dibawa kemana-kemana dan tidak memakan banyak tempat.

Selain itu, ketika sedang tidak digunakan, alat ukur satu ini dapat disimpan dengan cara digulung atau di roll. Cara menggunakan meteran juga tergolong mudah, karena cukup merentangkannya saja dari satu titik ke titik lainnya pada bidang yang akan diukur.

2. Kompas

Kompas sebagai alat bantu surveyor, Sumber: rakasmada.org
Kompas sebagai alat bantu surveyor, Sumber: rakasmada.org

Kompas merupakan alat surveyor sederhana yang komponen utamanya adalah jarum dari magnet dan lingkaran berskala. Bagian tengah jarum dipasang sebuah sumbu yang dapat membuat jarum bergerak bebas ke arah horizontal ke utara dan selatan.

Fungsi utama dari kompas yaitu untuk membantu menunjukkan arah mata angin, khususnya arah mata angin utara dan selatan dengan memanfaatkan medan magnet bumi. Selain itu, kompas juga berfungsi untuk melakukan orientasi lapangan atau kegiatan untuk mengenal area yang akan disurvei serta mengetahui pula seberapa luas daerah tersebut.

Cara menggunakan kompas yaitu dengan memegang dan mengatur kompas agar dalam keadaan mendatar, sehingga jarum dapat bergerak dengan bebas. Akan lebih baik jika menggunakan kompas yang memiliki cairan nivo, karena cairan nivo dapat menstabilkan gerakan jarum dan juga alat pembidik atau visir.

3. Klinometer

Salah satu alat surveyor sederhana ini digunakan untuk mengukur sudut elevasi atau sudut kemiringan antara garis datar dan sebuah garis yang menghubungkan sebuah titik pada garis datar tersebut dengan titik puncak (ujung) sebuah objek.

Dalam pengaplikasiannya klinometer digunakan untuk mengukur tinggi atau panjang suatu objek dengan memanfaatkan sudut elevasi atau sudut kemiringan. Atau dengan kata lain, klinometer berfungsi untuk menentukan besar sudut elevasi dalam mengukur tinggi objek secara tidak langsung.

Penggunaan klinometer ini akan lebih efektif jika dilakukan oleh dua orang. Satu orang melakukan pengamatan objek yang diukur dan yang lainnya membaca sedut dan mencatat hasil pengamatan.

4. Waterpass

Alat surveyor waterpass, Sumber: darmasakti.com
Alat surveyor waterpass, Sumber: darmasakti.com

Secara umum, alat ukur yang satu ini memiliki tiga macam atau jenis, yaitu waterpass manual, waterpass digital, dan waterpass auto level. Meskipun memiliki beberapa jenis, tetapi secara keseluruhan waterpass berfungsi untuk mengukur perbedaan ketinggian dan kemiringan suatu benda atau garis, baik pada posisi vertikal maupun posisi horizontal.

  • Waterpass manual. Tipe manual yang terdapat fitur gelembung pada bagian tengahnya sebagai acuan saat proses pengukuran sedang dilakukan. Jika gelembung sudah berada di level datar, maka kedua bidang yang diukur sudah berada di posisi yang sejajar.
  • Waterpass digital. Tipe ini memanfaatkan laser untuk menentukan kesejajaran dan ketepatan posisi sebuah objek.
  • Waterpass auto level. Waterpass tipe ini memanfaatkan teropong yang dilengkapi dengan nivo dan sumbu mekanis tegak sehingga teropong dapat berputar ke arah horizontal. Untuk hasil yang lebih optimal dan detail, biasanya waterpass auto level menggunakan bantuan dari tripod.

5. Theodolit

Alat surveyor yang satu ini bisa dikatakan sebagai alat paling canggih yang digunakan pada proses survei. Pada dasarnya, alat ini berupa teleskop yang diletakkan pada suatu dasar atau alas berbentuk piringan. Sehingga dapat dengan mudah diputar yang membantunya untuk dapat membidik ke segala arah.

Secara umum, alat survey ini berfungsi untuk menentukan tinggi tanah dengan sudut mendatar dan sudut tegak. Survei dengan menggunakan theodolit dilakukan jika situs yang akan dipetakan luas dan cukup sulit untuk dilakukan pengukuran. Terutama situs tersebut memiliki relief atau perbedaan tinggi yang cukup signifikan.

Karena dengan menggunakan alat ini, keseluruhan kenampakan atau gejala akan dapat dipetakan dengan cepat dan mudah. Dalam pekerjaan yang berhubungan dengan ukur tanah, alat ini sering digunakan untuk pengukuran poligon, pemetaan situasi, dan pengamatan matahari.

Sedangkan pada gedung dan bangunan, theodolit sering digunakan untuk menentukan sudut siku-siku pada perencanaan pondasi dan mengukur ketinggian sebuah bangunan.

6. Total Station

Total station merupakan alat ukur elektronik yang berasal dari pengembangan theodolit. Total station sendiri dirancang untuk mengukur jarak horizontal, sudut dan ketinggian horizontal dan vertikal secara otomatis dalam survey topografi dan pekerjaan geodetik.

Alat surveyor yang satu ini dilengkapi dengan chip memori, sehingga data pengukuran sudut dan jarak dapat disimpan dan dapat ditransfer ke komputer untuk diolah. Fungsi keseluruhan total station ialah untuk menghitung jarak, arah, titik koordinat, dan juga beda tinggi secara elektronis.

Dengan menggunakan alat ini, tingkat akurasi pengukuran cukup tinggi, perhitungan koordinat cepat dan akurat, serta pengumpulan data akan relatif lebih cepat. Sehingga lebih banyak pula pekerjaan yang dapat diselesaikan.

7. Global Positioning System (GPS)

Global Positioning System (GPS), Sumber: learnz.org.nz
Global Positioning System (GPS), Sumber: learnz.org.nz

Alat surveyor yang terakhir adalah GPS. GPS atau Global Positioning System adalah sistem yang terdiri atas konstelasi satelit radio navigasi dan segmen kontrol tanah. GPS sendiri berfungsi untuk mengelola operasi satelit dan pengguna dengan penerima khusus menggunakan data satelit untuk memenuhi persyaratan dari posisi.

Untuk hasil yang diberikan GPS berupa gambar permukaan bumi dalam bentuk 3D. GPS tidak hanya dapat digunakan untuk kepentingan militer dan survey pemetaan saja. Namun juga dapat digunakan untuk penelitian geofisika. Sayangnya, alat ini tidak dapat digunakan pada tempat-tempat yang tidak mampu menerima sinyal.

Itulah ulasan mengenai berbagai alat surveyor beserta dengan fungsinya. Karena banyak jenisnya, maka bisa menggunakannya sesuai dengan objek yang diukur, dan lain-lain. Selain alat surveyor yang dijelaskan di atas, terdapat alat pendukung lainnya yang juga membantu menunjang keberhasilan proses pemetaan.

Ya, apalagi jika bukan drone. Drone umumnya dimanfaatkan untuk pemetaan wilayah seperti hutan, jurang, dan berbagai lokasi yang sulit dijangkau. Jika tidak memiliki drone untuk membantu pemetaan di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau, Anda bisa mengandalkan jasa sewa drone yang ada. Dengan begitu, proses pemetaan di lokasi sulit dijangkau dapat dilakukan dengan lebih mudah dan praktis.

Semoga informasinya bermanfaat. Apabila Anda ingin mengetahui berbagai informasi lainnya, Anda bisa langsung mengunjungi website Eticon dan temukan berbagai informasi menarik pilihan Anda.

Jangan Sembarangan, Inilah Peraturan Tangga Darurat Gedung yang Wajib Diketahui!

Peraturan Tangga Darurat Gedung yang Wajib Diketahui, Sumber: workplaceemergencymanagement.com.au

Seperti yang kita semua tahu, selain lift dan eskalator gedung bertingkat selalu dilengkapi dengan tangga darurat. Keberadaan tangga darurat sangatlah penting, karena sebagai akses keluar saat terjadi peristiwa yang tidak diinginkan. Namun, konsep tangga darurat berbeda dengan tangga pada umumnya. Setidaknya, terdapat beberapa peraturan tangga darurat pada gedung.

Diberikannya ketentuan pembangunan tangga darurat bertujuan untuk membuat proses evakuasi menjadi lebih aman dan efektif. Namun, sebelum membahas apa saja ketentuan pembuatan tangga darurat, akan lebih baik jika kita mengenal terlebih dahulu tangga darurat itu sendiri.

Mengenal Tangga Darurat

Bentuk dari tangga darurat gedung, Sumber: anbmetal.com
Bentuk dari tangga darurat gedung, Sumber: anbmetal.com

Adanya lift dan eskalator pada sebuah gedung tentu dapat mempermudah para pengguna gedung dalam akses naik turun pada gedung tersebut, apalagi pada gedung bertingkat. Hal ini karena lift dan eskalator lebih praktis dan tidak membuat capek, hanya tinggal pencet tombol saja sudah sampai lantai tujuan.

Namun, hal tersebut tidak berlaku jika sedang terjadi bencana seperti kebakaran gedung ataupun gempa bumi. Dengan alasan keselamatan, pada saat terjadi keadaan darurat para penghuni gedung tidak diperbolehkan menggunakan lift dan eskalator untuk menyelamatkan diri.

Oleh karena itu, gedung-gedung bertingkat perlu dilengkapi dengan tangga darurat. Karena praktis penggunaan tangga darurat sangat dibutuhkan pada situasi tersebut. Sebuah gedung dianggap sebagai gedung aman digunakan apabila memenuhi salah satu persyaratan, yaitu memiliki sarana tangga darurat.

Tangga darurat sendiri adalah tangga yang direncanakan dan digunakan khusus pada saat terjadi keadaan darurat. Dibandingkan dengan nilai estetikanya, tangga darurat lebih mementingkan fungsi utamanya, yaitu sebagai jalur evakuasi.

Fungsi Tangga Darurat

Secara prinsip, tangga darurat harus mampu membatasi penyebaran api dan asap agar para penggunanya bisa melintasi tangga dengan aman dan tenang. Adanya sarana tangga darurat juga dapat menjamin proses evakuasi yang lebih mudah dan setidaknya akan mengurangi jumlah korban jiwa secara signifikan jika ada kemungkinan terjadi peristiwa darurat.

Baik karena peristiwa alam maupun peristiwa yang disebabkan oleh kelalaian manusia. Kemudahan evakuasi disini diartikan kecepatan dan keamanan evakuasi. Mengingat pentingnya sarana tangga darurat pada sebuah gedung, maka dalam pembuatannya juga harus sesuai dengan peraturan yang sudah ditentukan.

Karena jika tangga darurat tidak tertata dan tidak terencana dengan baik, atau bahkan difungsikan untuk hal-hal yang lain maka bukan tidak mungkin justru akan menjadi jebakan yang mematikan bagi penggunanya.

Apa Saja Peraturan Tangga Darurat Gedung Bertingkat?

Tangga darurat ditempatkan dekat pintu keluar darurat, Sumber: squarespace-cdn.com
Tangga darurat ditempatkan dekat pintu keluar darurat, Sumber: squarespace-cdn.com

Pada Peraturan Pemerintahan RI Nomor 36 Tahun 2005, Pasal 59 disebutkan bahwa setiap gedung harus menyediakan sarana evakuasi atau sistem keamanan gedung, salah satunya adalah menyediakan tangga darurat.

Maka dari itu, dalam rencana pembangunan tangga darurat harus sesuai dengan ketentuan dan standar yang disyaratkan. Lalu apa saja peraturan tangga darurat untuk sebuah gedung?

1. Ketentuan Jarak Antar Tangga

Pada gedung bertingkat dengan lantai lebih dari 3 setidaknya harus mempunyai 2 buah tangga darurat. Hal ini bertujuan agar saat terjadi peristiwa darurat, banyaknya penghuni gedung bisa dengan mudah melewati tangga tanpa perlu berdesak-desakan pada satu tangga yang dapat menimbulkan kepanikan.
Selain itu, jarak antar tangga juga perlu diperhatikan. Jarak maksimum antara kedua tangga adalah 45 meter. Namun, apabila di dalam gedung tersebut tersedia alat pemadam kebakaran, maka jarak maksimal antar tangganya 67,5 meter.

2. Ketentuan Pintu Tangga Darurat

Peraturan tangga darurat gedung lainnya yaitu mengenai ketentuan pintunya. Tangga darurat harus dilengkapi dengan pintu yang terbuat dari material tahan api sekurang-kurangnya dalam waktu 2 jam. Hal ini bertujuan untuk menjaga keamanan area tangga darurat dari rambatan api dan menghalau atau mencegah masuknya asap yang bisa mengganggu pernafasan.

Pintu tersebut juga harus dapat tertutup secara otomatis dan dilapisi dengan cat warna merah. Kenapa warna merah? Karena warna merah merupakan warna yang melambangkan emergency. Pintu darurat dari setiap titik posisi orang dalam satu blok bangunan gedung berjarak maksimal 25 meter.

Di samping itu, pintu keluar dari tangga darurat juga harus diletakkan pada lantai dasar dan harus langsung menghadap ke arah titik kumpul atau assembly point.

3. Tata Letak Tangga Darurat

Tata letak tangga darurat sendiri harus dipisahkan dari ruang-ruang lainnya tetapi dilengkapi dengan pintu yang mudah diakses. Selain itu, pintu pada tangga darurat harus diberi petunjuk berupa tulisan “keluar” atau “exit” yang secara otomatis dapat menunjukkan arah keluar dan harus dilengkapi dengan lampu yang dapat tetap menyala sekalipun dalam keadaan listrik padam.

Idealnya, letak tangga darurat adalah di dalam ruangan yang kedap api dengan dinding cukup tebal dan minimal tidak bisa ikut terbakar dalam waktu dekat. Sehingga dapat menjadi jalur evakuasi yang efektif bagi para penghuni gedung untuk menyelamatkan diri terlebih dahulu untuk meminimalisir adanya korban jiwa.

4. Ukuran Ideal Tangga Darurat

Ukuran tangga yang pas juga merupakan salah satu peraturan dari tangga darurat pada sebuah gedung. Idealnya, tangga darurat harus memiliki kelebaran yang cukup, yaitu dengan lebar 1,5 meter. Hal tersebut bertujuan agar tangga darurat dapat dilalui oleh dua orang secara bersebelahan.

Di samping itu, tidak boleh ada penyempitan lebar pada tangga di bagian bawah, tidak boleh pula melingkar, dan dilengkapi dengan pagar pengaman atau railing tangga yang kokoh. Railing tangga perlu ditambahkan pada kedua sisi tangga darurat sebagai upaya untuk memudahkan pengguna pada saat melintasinya.

Untuk tinggi railing tangganya sendiri berkisar antara 75-100 cm seperti tinggi railing pada tangga umumnya. Tidak hanya itu, antara tangga dan bordes juga harus memiliki lebar yang sama dan lebarnya tidak boleh lebih dari 120 cm jika jalur tangganya lurus serta kemiringan anak tangga tidak boleh lebih dari 2 cm per meternya.

5. Konstruksi Tangga Darurat

Peraturan terakhir tangga darurat pada sebuah gedung adalah ketentuan konstruksinya. Semua tangga yang digunakan sebagai jalur evakuasi harus terbuat dari konstruksi tetap yang permanen. Permanen disini artinya material-material yang digunakan harus terbuat dari material yang tidak mudah terbakar.

Material sesuai standar peraturan tangga darurat gedung, Sumber: constructionor.com
Material sesuai standar peraturan tangga darurat gedung, Sumber: constructionor.com

Setidaknya, material yang digunakan harus memiliki standar kelas A atau minimal kelas B. Sebagai jalur untuk jalan keluar, konstruksi anak tangga dan bordes harus padat, memiliki permukaan pijak yang tidak licin, serta permukaannya pun harus bebas dari tonjolan yang dapat membuat penggunanya tergelincir dan terjatuh.

Demikianlah penjelasan mengenai peraturan atau persyaratan dalam pembangunan tangga darurat pada sebuah bangunan atau gedung lainnya. Adanya peraturan tersebut bertujuan untuk meminimalisir adanya korban jiwa saat sedang terjadi peristiwa darurat.

Selain mengandalkan keberadaan tangga darurat, sebuah bangunan juga perlu menyediakan alat pemadam kebakaran sebagai antisipasi. Semoga informasinya bermanfaat, ya. Anda juga bisa simak informasi menarik lainnya pada halaman website Eticon!

Inilah Jenis-Jenis Kabel Listrik, Sesuaikan Penggunaannya!

Kabel listrik NYM, Sumber: thecityfoundry.com

Listrik merupakan salah satu kebutuhan yang tidak kalah penting bagi kehidupan manusia. Karena hal itulah, kabel listrik merupakan salah satu unit yang sering dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Agar tidak salah pilih, Anda perlu tahu terlebih dahulu jenis-jenis kabel listrik beserta dengan fungsinya masing-masing.

Secara umum, kabel listrik merupakan media yang berfungsi untuk menghantarkan arus listrik yang terdiri dari bahan isolator dan konduktor. Konduktor biasanya terbuat dari tembaga maupun aluminium yang berguna untuk menghantarkan arus listrik. Sedangkan isolator merupakan bahan pembungkus kabel yang tidak dapat menghantarkan listrik.

Karena adanya isolator, kita dapat terhindar dari bahaya tersengat listrik saat sedang melakukan instalasi listrik. Di pasaran sendiri terdapat berbagai jenis kabel listrik dengan berbagai variasi bentuk, ukuran, serta fungsi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penggunaan satu kabel listrik belum tentu bisa digunakan untuk kebutuhan yang lainnya.

Berbagai jenis kabel listrik, Sumber: thespruce.com
Berbagai jenis kabel listrik, Sumber: thespruce.com

Berbagai Jenis Kabel dan Fungsinya

Meskipun sekilas semua kabel terlihat sama, namun sebenarnya kabel listrik didesain berbeda dan memiliki fungsinya masing-masing. Agar tidak salah pilih, Anda perlu tahu jenis jenis dari kabel listrik tersebut, yakni sebagai berikut:

1. Kabel NYA

Salah satu dari jenis jenis kabel listrik yang penggunaannya cukup populer adalah kabel NYA. Kabel NYA biasanya digunakan pada kebutuhan instalasi listrik dalam skala kecil seperti instalasi perumahan atau kabel udara di lingkungan yang bersifat kering. Kabel NYA memiliki ukuran diameter 1,5 mm hingga 2,5 mm. 

Kabel NYA didesain dengan memiliki satu inti tunggal yang dilapisi dengan pelindung berbahan PVC yang juga melapisi konduktornya. Untuk harga dari kabel NYA relatif terjangkau dan dapat dipasang dengan mudah meskipun pada bagian lekukan sekalipun. 

Namun karena lapisan yang dimiliki tidak terlalu tebal, jenis kabel listrik ini dianggap memiliki keamanan yang kurang memadai. Maka dari itu, agar kabel tidak mudah rusak dan kita terhindar dari risiko tersengat atau kesetrum listrik, terkadang penggunaan kabel NYA menggunakan pengaman tambahan.

2. Kabel NYM

Kabel NYM merupakan jenis kabel listrik yang biasanya ditemukan pada instalasi rumah dan gedung. Kelebihan dari kabel ini adalah dapat diaplikasikan pada lingkungan yang kering maupun lembab, namun tidak disarankan untuk ditanam di dalam tanah. Kabel listrik ini memiliki diameter antara 1,5 mm hingga 10 mm dengan voltase antara 300 hingga 750 volt. 

Berbeda dengan kabel NYA, kabel NYM memiliki komponen inti hingga 4 bagian dan memiliki dua lapisan isolator yang terbuat dari material PVC. Karena memiliki dua lapisan isolator, kabel jenis ini memiliki tingkat keamanan yang cukup baik. Hal itulah yang membuat harga dari kabel NYA relatif lebih mahal.

Kabel listrik NYM, Sumber: thecityfoundry.com
Kabel listrik NYM, Sumber: thecityfoundry.com

3. Kabel NYY

Dari jenis jenis kabel listrik yang ada, kabel NYY merupakan salah satu kabel yang banyak ditemukan pada instalasi listrik rumah tangga dan bangunan lainnya. Kabel NYY memiliki 4 komponen inti yang masing-masing intinya dilapisi dengan pelindung dari material PVC. 

Selain itu, kabel NYY memiliki selubung ganda yang membuatnya memiliki tingkat keamanan cukup baik dan bisa digunakan untuk pemakaian jangka panjang. Jenis kabel listrik ini dapat digunakan pada lingkungan yang kering maupun lembab, bahkan bisa juga untuk instalasi tetap yang ditanam di dalam tanah.

Dengan kelebihan yang dimilikinya, membuat kabel NYY memiliki harga yang relatif mahal. Di samping harganya yang mahal, kabel ini merupakan salah satu jenis kabel yang lapisan isolatornya tergolong kaku sehingga untuk pengaplikasiannya kurang fleksibel terutama pada bagian yang terdapat lekukan.

4. Kabel NYAF

Kabel NYAF merupakan jenis kabel listrik dengan tipe tembaga serabut. Karena memiliki tipe tembaga serabut, membuat kabel NYAF dapat dengan fleksibel diaplikasikan bahkan pada panel listrik yang memiliki banyak lekukan. Kabel listrik yang satu ini memiliki satu lapis isolator yang terbuat dari material PVC.

Namun sayangnya, kabel listrik NYAF tidak disarankan digunakan pada lingkungan terbuka baik kering maupun basah, karena sifatnya yang mudah terkelupas. Kabel NYAF memiliki voltase 300 hingga 500 volt dengan diameter antara 1,5 mm hingga 2,5 mm. Warna yang ditawarkan juga cukup bervariasi seperti hitam, biru, merah, dan abu-abu, hijau dengan strip kuning.

5. Kabel NYYHY

Sama halnya dengan jenis kabel NYAF, kabel NYYHY memiliki beberapa inti kabel berupa serabut yang masing-masing dilapisi isolator dengan warna berbeda dan terbuat dari bahan PVC. Jenis kabel ini sering digunakan untuk instalasi pada rangkaian listrik di rumah, perkantoran, dan lain-lain.

Kabel NYYHY sendiri termasuk jenis kabel listrik yang dapat diaplikasikan pada lingkungan yang kering maupun lembab. Memiliki bagian inti serabut, membuat kabel NYYHY tergolong dalam jenis kabel yang fleksibel. Kabel NYYHY memiliki voltase 450 hingga 750 volt dengan diameter 1,5 mm.

Kabel NYYHY, Sumber: inet.detik.com
Kabel NYYHY, Sumber: inet.detik.com

6. Kabel NYMHY

Kabel NYMHY memiliki spesifikasi yang hampir sama dengan jenis kabel NYYHY, salah satunya memiliki lebih dari satu inti tembaga serabut yang dilindungi oleh lapisan berbahan PVC. Mungkin sebagian besar dari kita tidak asing dengan jenis kabel listrik yang satu ini. 

Pasalnya kabel listrik NYMHY sering digunakan untuk mengalirkan arus listrik rumah tangga dengan daya dibawah 900 watt. Kabel NYMHY memiliki isolasi berwarna putih yang hanya dapat diaplikasikan untuk indoor, dan tidak dilengkapi dengan bahan anti gigitan tikus.

7. Kabel NYMHYO

Jenis kabel listrik yang satu ini juga memiliki lebih dari satu inti tembaga serabut yang membuatnya fleksibel. Sama dengan jenis jenis kabel listrik lainnya, kabel NYMHYO dilindungi dengan isolator dari material PVC dan memiliki selubung luar. Kabel ini sering digunakan di berbagai peralatan audio seperti sound system, kabel loudspeaker, dan lain-lain. 

Memiliki selubung luar yang tidak tahan terhadap cuaca, membuat kabel NYMHYO didesain untuk instalasi arus listrik besar yang penggunaannya hanya untuk di dalam ruangan. 

8. Kabel BC

Kabel BC (Bare Copper) atau kabel tembaga telanjang merupakan kabel listrik yang terbuat dari beberapa kawat tembaga yang dianyam. Sesuai dengan namanya, inti dari jenis kabel ini tidak dilindungi oleh isolator. Kabel BC biasanya digunakan sebagai kabel untuk penangkal petir dan bisa juga diaplikasikan untuk sistem grounding penangkal petir.

Jenis kabel ini memiliki ukuran 6-500 mm2 dengan tegangan 500 V. Untuk masalah harga, kabel BC memiliki harga yang relatif lebih murah dibandingkan jenis kabel konduktor lainnya.

Kabel bare copper, Sumber: grainger.com
Kabel bare copper, Sumber: grainger.com

9. Kabel NYFGBY/NYRGBY/NYBY

Kabel listrik terakhir yaitu kabel NYFGBY/NYRGBY/NYBY. Jenis kabel ini memiliki satu inti tembaga atau lebih dengan bahan isolator PVC di bagian terluar. Selain itu, juga memiliki pelindung berupa kawat baja bulat dan lilitan plat baja.

Kabel ini sering diaplikasikan untuk suplai penerangan lampu jalan, lampu merah, maupun penghubung antara panel satu dengan lainnya. Kabel listrik yang satu ini didesain dengan memiliki ketahanan di dalam tanah ketika ditanam tanpa perlu bahan tambahan lainnya.

Namun jika kabel NYFGBY/NYFGBY/NYBY digunakan untuk instalasi yang ditanam di bawah jalan raya maka tetap diperlukan pipa PVC sebagai pelindung agar kondisi kabel tetap terjaga.Nah, demikianlah jenis jenis kabel listrik yang ada beserta dengan fungsinya. Dengan mengetahui jenis kabel dan fungsinya akan lebih memudahkan kita dalam memilih jenis kabel tanpa takut salah pilih. Semoga informasinya bermanfaat.

Wajib Diperhatikan! Inilah 7 Prinsip Pembuatan Rumah Tahan Gempa agar Tetap Kuat

Prinsip pembuatan bangunan anti gempa, Sumber: wzhhouse.com

Memiliki rumah yang aman dan nyaman tentu menjadi impian bagi semua orang. Untuk membuat bangunan yang aman, perlu memperhatikan berbagai aspek. Seperti halnya dengan rumah tahan gempa, yang dalam pembuatannya perlu memperhatikan aspek dan prinsip-prinsip yang penting.

Seperti yang kita tahu, Indonesia dikenal sebagai negara Ring of Fire karena dikelilingi oleh ratusan gunung berapi. Secara geografis, Indonesia diapit oleh tiga lempeng tektonik dunia yang terus bergerak, seperti Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik.

Hal itulah yang akhirnya membuat Indonesia menjadi negara yang rawan dilanda berbagai bencana alam, salah satunya gempa bumi. Mengingat rawannya Indonesia dilanda gempa bumi, maka penting bagi kontraktor, arsitek, bahkan pemilik rumah itu sendiri untuk memahami prinsip-prinsip pembuatan rumah tahan gempa.

Mengenal Rumah Tahan Gempa

Berbicara mengenai prinsip pembuatannya, kurang lengkap rasanya jika kita tidak mengenal apa itu rumah tahan gempa. Mungkin sebagian besar dari kita beranggapan bahwa bangunan tahan gempa adalah bangunan yang kokoh, kuat, dan tidak mudah roboh. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, namun konstruksi tersebut tidak cukup dikatakan sebagai konstruksi tahan gempa.

Lalu seperti apa sebuah bangunan dapat dikatakan sebagai bangunan yang tahan gempa? Setidaknya, bangunan tahan gempa perlu memperhatikan desain dan analisis secara detail terhadap kombinasi beban, massa struktur, dan penggunaan materialnya.

Rumah tahan gempa perlu memiliki sistem penahan gaya dinamis dari gempa, terdapat komponen dengan sistem penahan gempa, serta struktur rumah tahan gempa harus memenuhi standar dan prinsip yang telah ditentukan. Sehingga nantinya rumah tersebut akan menjadi bangunan aman digunakan dalam jangka waktu yang lama.

Contoh bangunan tidak tahan gempa, Sumber: wgtn.ac.nz
Contoh bangunan tidak tahan gempa, Sumber: wgtn.ac.nz

Prinsip Dasar Pembuatan Rumah Tahan Gempa

Dalam membuat bangunan tahan gempa tentu tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Karena untuk membuatnya diperlukan prinsip-prinsip dasar dan penting. Terdapat beberapa prinsip dalam pembuatan rumah tahan gempa yang perlu diperhatikan, yakni sebagai berikut:

1. Denah dan Struktur Bangunan Simetris dan Sederhana

Rumah tahan gempa haruslah dibangun sesuai dengan denah dan struktur bangunan yang simetris. Mengapa demikian? Karena dengan menggunakan denah dan struktur bangunan yang simetris dan sederhana dapat memudahkan untuk menentukan titik kolom dan pondasi yang nantinya akan menjadi rangka utama pada struktur bangunan tersebut.

Di samping itu, denah dan struktur bangunan yang simetris dapat mempermudah dalam menentukan jalur gaya vertikal maupun horizontal. Denah dan struktur bangunan yang simetris juga akan lebih mampu untuk menahan guncangan dan getaran.

Sebaliknya, jika denah dan struktur bangunan tidak beraturan justru akan membuat bangunan menjadi lebih rentan terhadap getaran dan guncangan gempa bumi.

2. Kemampuan Bangunan Menahan Beban

Prinsip pembuatan rumah tahan gempa selanjutnya yaitu harus mempertimbangkan kemampuan bangunan dalam menahan beban. Konstruksi rumah tahan gempa yang terdiri dari beberapa aspek wajib seperti pondasi, struktur atap, balok, dan kolom perlu dibuat agar dapat menahan beban apabila terjadi gempa dengan skala yang kecil hingga skala besar.

Di samping struktur bangunan yang harus mampu menahan beban, penempatan dan penataan interior rumah pun juga perlu diperhatikan. Karena pada dasarnya, struktur bangunan dan interior saling mempengaruhi satu sama lain. Sehingga penempatan interior tidak boleh luput dari perhatian.

Pastikan bahwa berbagai furniture dan perabotan rumah tersebut ditempatkan di area rumah yang aman. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir kerusakan yang mungkin saja terjadi apabila getaran gempa yang ditimbulkan kuat.

3. Kestabilan Tanah untuk Membangun Rumah

Kondisi tanah merupakan salah satu hal penting yang perlu diperhatikan apabila ingin membuat bangunan tahan gempa. Maka dari itu, letak bangunan tahan gempa harus dibangun pada tanah yang stabil. Tanah yang stabil memiliki karakteristik permukaan yang kering, rata, dan tidak miring.

Semakin padat dan keras kondisi tanah tersebut, maka gerak partikel tanah juga akan semakin kecil. Apabila gerakan tanah di bawah bangunan tersebut kecil maka akan menghasilkan getaran yang kecil pula pada permukaan tanah.

Pembangunan rumah tahan gempa di atas tanah liat yang lunak atau pasir lepas juga perlu dihindari. Hal ini karena dapat berisiko pada terjadinya gerakan berlebihan apabila terjadi gempa bumi, bahkan bisa saja menyebabkan bangunan menjadi runtuh.

4. Kekuatan Pondasi Bangunan

Pondasi merupakan komponen yang paling penting untuk sebuah bangunan, apapun jenis bangunannya. Pondasi merupakan struktur bangunan paling bawah dan dasar yang berfungsi sebagai penopang beban untuk bangunan diatasnya. Selain itu, pondasi juga merupakan penentu utama dari seberapa kuat sebuah bangunan.

Karena alasan itulah, pondasi untuk sebuah bangunan perlu dibuat kokoh dan kuat, begitupun dengan pondasi rumah tahan gempa. Membangun pondasi yang terlalu dangkal juga tidaklah baik, karena akan membuat strukturnya menjadi kurang mampu menahan guncangan dari gempa bumi.

Setidaknya, letak pondasi rumah tahan gempa harus dibuat lebih tinggi 45 cm dari permukaan tanah. Untuk jenis pondasi bangunan bisa disesuaikan dengan kebutuhan dari bangunan itu sendiri.

Kekuatan pondasi bangunan tahan gempa, Sumber: hunker.com
Kekuatan pondasi bangunan tahan gempa, Sumber: hunker.com

5. Keseluruhan Kerangka Harus Kokoh dan Kaku

Untuk mendapatkan rumah yang tahan terhadap gempa, keseluruhan kerangka harus dibuat terikat dengan kokoh dan kaku. Struktur rangka bangunan yang kokoh dan dipasang sampai kaku, akan membuatnya menjadi berdiri tegak dan tidak mudah goyang.

Sehingga hal inilah yang membuat sebuah bangunan menjadi lebih tahan terhadap getaran dan goncangan saat terjadi gempa bumi. Dengan begitu, rumah tersebut akan terhindar dari kerusakan yang parah.

6. Perhatikan Bahan Adukan

Prinsip pembuatan bangunan tahan gempa selanjutnya adalah bahan adukan yang digunakan. Bahan adukan untuk bangunan tahan gempa terdiri dari campuran semen, kerikil, pasir, dan beton. Selain menggunakan material yang berkualitas, ketepatan komposisi material juga menjadi kunci utama dari bahan adukan ini.

Maka dari itu, komposisi dari masing-masing material harus tepat dan seimbang. Pastikan juga proses pengadukan dilakukan dengan benar agar semua material tercampur dengan sempurna. Dengan begitu, beton yang dihasilkan akan menjadi lebih padat namun tetap memiliki bobot yang ringan.

7. Pemilihan Material Bangunan yang Sesuai

Pemilihan material bangunan yang tepat juga menjadi salah satu prinsip penting dalam pembuatan rumah yang tahan gempa. Karena jika salah dalam memilih material justru bangunan tersebut akan mudah roboh bahkan ketika guncangan gempa tidak terlalu besar. 

Untuk bangunan tahan gempa, akan lebih baik jika menggunakan material yang memiliki bobot ringan namun tetap kokoh, seperti kayu dan baja ringan. Material yang ringan dapat membuat beban bangunan menjadi lebih ringan juga. Sehingga bangunan tersebut menjadi bangunan yang aman untuk digunakan.

Tetapi, pastikan juga bahwa material yang dipilih merupakan material yang sudah SNI (Standar Nasional Indonesia), karena sudah diakui kualitasnya.

Prinsip pembuatan bangunan anti gempa, Sumber: wzhhouse.com
Prinsip pembuatan bangunan anti gempa, Sumber: wzhhouse.com

Itulah beberapa prinsip penting dalam pembuatan rumah tahan gempa yang perlu diperhatikan dan dipahami. Semoga ulasan tersebut dapat memberikan manfaat bagi Anda yang ingin mengaplikasikan bangunan tahan gempa.

Mengenal Lebih Dekat dengan Alat Bore Pile yang Penting Bagi Pondasi Bangunan

Jenis mesin bore pile, Sumber: bauer.co.id

Dalam dunia konstruksi, alat berat merupakan salah satu elemen yang banyak digunakan karena dapat memberikan berbagai keuntungan. Berbicara mengenai alat berat, tentu tidak lengkap rasanya jika tidak membahas alat berat bore pile. Nah, ingin tahu informasi lengkap mengenai alat bore pile? Simak sampai selesai ya!

Apa Itu Alat Bore Pile?

Mungkin bagi sebagian orang yang tidak mengenal dunia konstruksi akan sangat asing dengan alat bore pile. Namun, mesin atau alat bore pile sendiri merupakan salah satu jenis alat berat yang banyak dimanfaatkan pada dunia konstruksi, khususnya untuk pembuatan pondasi bangunan.

Kegunaan utama mesin bore pile adalah untuk membantu memudahkan proses pembuatan pondasi bore pile. Mesin bore pile berfungsi untuk membuat lubang pada tanah dengan cara pengeboran dengan kedalaman serta diameter tertentu yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan pondasi.

Kemudian lubang tersebut digunakan untuk menancapkan rangkaian tulangan baja serta campuran beton yang kemudian di cor. Mengingat pembuatan pondasi merupakan salah satu aspek yang sangat penting, maka alat berat bore pile ini memiliki andil yang cukup besar dalam pekerjaan pembuatan pondasi bore pile tersebut.

Karena dengan menggunakan mesin bore pile, penggalian yang dilakukan untuk pondasi akan lebih efisien, mudah, dan cepat jika dibandingkan dengan penggalian secara manual yang memakan banyak waktu dan tenaga. Namun yang perlu diingat adalah kecepatan tersebut tergantung juga pada aspek-aspek pendukung lainnya, seperti kondisi tanah, lokasi pembangunan, dan aspek lainnya.

Bore pile dalam dunia konstruksi, Sumber: bauer.co.id
Bore pile dalam dunia konstruksi, Sumber: bauer.co.id

Jenis-Jenis Alat Bore Pile

Dalam dunia konstruksi, alat berat bore pile sudah sangat dikenal dengan beberapa jenis yang dimilikinya. Spesifikasi alat bore pile pun juga tergantung dari jenis alat itu sendiri. Berikut ini adalah jenis-jenis alat bore pile, yakni antara lain:

1. Alat Bore Pile Mini Crane

Salah satu jenis mesin bore pile ialah mesin bore pile mini crane. Mesin bore pile mini crane terdiri dari kerangka utama dan juga crane (menara). Material rangka utama terbuat dari besi kanal UNP yang berfungsi sebagai dudukan Winch dan diesel penggerak. Sedangkan cranenya terbuat dari pipa besi galvanis dengan diameter 3 hingga 4 inch.

Panjang cranenya sendiri bervariasi antara 4 hingga 9 m. Komponen yang dimilikinya dirancang dengan sedemikian rupa agar dapat berdiri dengan kokoh dan tidak mudah goyang saat proses pengeboran tanah. Sehingga proses pembuatan lubang pada tanah bisa berjalan dengan lancar dan dapat meminimalisir kesalahan yang bisa saja terjadi.

Mesin bore pile mini crane dapat beroperasi di area yang sempit dan juga terjal. Selain itu, bore pile mini crane dapat digunakan untuk membuat lubang dengan diameter 30 cm hingga 80 cm dengan kedalaman maksimal 30 m dengan metode wash boring (pengeboran dengan bantuan air)

2. Mesin Bore Pile Tipe Giwangan

Dari segi tampilan, bore pile tipe giwangan terdiri dari kerangka serta tiang pipa baja yang tinggi. Tiang pipa baja tersebut dilengkapi dengan tambang atau tali pengait pada sisi kanan dan kirinya. Tali pengait pada pipa baja tersebut kemudian dikaitkan pada tempat lain yang lebih kuat.

Hal ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan dari bore pile gawangan agar tidak jatuh ke tanah saat sedang dioperasikan. Dinamakan sebagai bore pile tipe gawangan karena jenis alat berat satu ini didesain dengan menyerupai bentuk gawang.

Mesin bore pile gawangan sendiri cukup populer dan sering digunakan karena kemudahan alatnya yang dapat dirangkai dan dibongkar sehingga memudahkan pada proses pengerjaan. Berbeda dengan bore pile yang dioperasikan oleh operator secara praktis, bore pile tipe giwangan sendiri dioperasikan secara semi manual.

Namun keduanya memiliki cara kerja yang tidak jauh berbeda satu sama lain, yaitu menggunakan air yang cukup banyak.

Jenis mesin bore pile, Sumber: bauer.co.id
Jenis mesin bore pile, Sumber: bauer.co.id

Keuntungan Menggunakan Alat Berat Bore Pile

Adanya jenis alat berat yang satu ini tentu dapat memberikan berbagai keuntungan dalam dunia konstruksi, khususnya pada proses pengeboran. Keuntungan-keuntungan tersebut yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan untuk menggunakan alat berat satu ini. Diantara berbagai keuntungan menggunakan alat berat bore pile yakni sebagai berikut:

1. Kemudahan Mobilisasi

Keuntungan pertama dengan adanya jenis alat berat yang satu ini adalah kemudahan dalam mobilisasi, karena alat ini memiliki tingkat mobilisasi yang cukup baik. Mesin bore pile dapat dipindah-pindahkan dari satu lokasi proyek ke lokasi lainnya dengan sangat mudah.

Jadi ketika Anda ingin membuat sebuah bangunan di lokasi manapun, Anda tidak perlu khawatir karena terdapat kemudahan pemindahan pada mesin bore pile ini. Selain itu, alat bore pile juga memungkinkan untuk mengakses lokasi bangunan yang tidak terlalu luas atau di tengah pemukiman padat dengan mudah.

Karena dengan kemudahan mobilisasi alat berat juga dapat berpengaruh terhadap berjalanya proses pembangunan yang menjadi lebih mudah dan lancar.

2. Kemampuan Pengeboran Mumpuni

Mesin bore pile memiliki kemampuan pengeboran yang tidak perlu diragukan lagi. Alat berat yang satu ini mampu melakukan pengeboran pada diameter yang bervariasi antara 30 cm hingga 100 cm. Anda hanya perlu menyesuaikannya sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap jenis bangunan yang dibuat.

Dengan menggunakan mesin bore pile, proses pengeboran yang dilakukan juga akan lebih mudah, dibandingkan dengan menggunakan tenaga manusia yang tentu saja membutuhkan tenaga ekstra. Selain itu, hasil pengeboran yang dilakukan dengan bantuan bore pile juga tentunya akan lebih sempurna.

3. Lebih Aman untuk Bangunan Lain

Kelebihan lainnya dengan menggunakan mesin bore pile yaitu lebih aman. Membangun sebuah rumah di pemukiman yang padat penduduk dan padat bangunan tentu perlu mempertimbangkan banyak hal. Salah satunya yaitu aspek keamanan untuk bangunan lain di sekitar bangunan yang akan dibuat.

Dengan menggunakan alat bore pile, pembangunan pondasi untuk bangunan Anda akan lebih aman. Karena tidak akan menimbulkan dampak yang dapat merugikan bagi bangunan di sekitarnya, seperti menimbulkan keretakan atau kerusakan.

Tentu dengan kelebihannya yang satu ini, mesin bore pile akan sangat aman digunakan untuk daerah yang bangunannya padat seperti di kota-kota besar. Dengan begitu, membuat bangunan di lokasi yang padat bangunan tentu bukan menjadi masalah yang harus dikhawatirkan lagi. Karena mesin bore pile bisa dijadikan sebagai solusi yang tepat.

4. Mampu Membuat Pondasi pada Tanah Keras

Mesin bore pile memiliki kelebihan dapat digunakan sebagai salah satu pendukung untuk mendirikan sebuah pondasi bangunan pada lahan yang keras. Alat berat yang satu ini akan sangat bermanfaat digunakan untuk jenis tanah tersebut karena jika menggunakan tenaga manual tentu akan sangat merepotkan.

Dengan bantuan mesin bore pile, membuat bangunan di tanah yang keras bukanlah menjadi sebuah penghalang lagi.

Keuntungan menggunakan mesin bore pile, Sumber: xcmgindodrill.com
Keuntungan menggunakan mesin bore pile, Sumber: xcmgindodrill.com

Itulah sedikit ulasan mengenai alat bore pile yang banyak dimanfaatkan pada dunia konstruksi. Bagi Anda yang belum familiar, semoga ulasan tersebut dapat memberikan tambahan informasi.

Penting untuk Diperhatikan, Begini Alur Pengelolaan Limbah B3 yang Tepat!

Pengelolaan limbah B3 pada landfill, Sumber: money.kompas.com

Dari beragam jenis limbah yang ada, salah satu limbah yang cukup berbahaya adalah limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun). Karena alasan itulah, pembuangan limbah B3 pun juga tidak bisa sembarang. Setidaknya limbah B3 perlu melewati pengelolaan yang tepat terlebih dahulu sebelum dilakukan pembuangan.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai bagaimana alur pengelolaan limbah industri B3, akan lebih baik jika kita juga mengenal apa itu limbah B3. Karena limbah B3 atau bahan berbahaya dan beracun menjadi bagian dari limbah anorganik yang turut berkontribusi menyebabkan pencemaran lingkungan.

Limbah B3 sendiri berasal dari aktivitas rumah tangga, aktivitas pelayanan kesehatan, sektor pariwisata, hingga aktivitas industri.

Alur pengolahan limbah B3, Sumber: tender-indonesia.com
Alur pengolahan limbah B3, Sumber: tender-indonesia.com

Apa Itu Limbah B3?

Sesuai dengan namanya, limbah B3 merupakan salah satu jenis limbah yang memiliki kandungan beracun dan berbahaya. Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dapat dikatakan sebagai limbah yang paling tidak ramah lingkungan jika dibandingkan dengan jenis limbah lainnya.

Maka dari itu, perlu dilakukan pengelolaan limbah B3 secara khusus dan tepat karena limbah ini mengandung zat beracun yang cukup tinggi. Apabila limbah B3 dibuang secara ilegal tanpa pengolahan yang tepat terlebih dahulu, maka bukan tidak mungkin akan memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan manusia.

Adanya limbah B3 dapat menyebabkan pencemaran dan kerusakan lingkungan serta mempengaruhi kesehatan dan keberlangsungan hidup semua makhluk hidup. Untuk mencegah bahaya dan dampak dari limbah B3, Pemerintah Indonesia membuat peraturan pengelolaan limbah B3 melalui Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2014 tentang pengelolaan limbah bahan bahaya dan beracun.

Dalam peraturan tersebut dimuat berbagai aturan mulai dari penetapan limbah B3, pengurangan, pemanfaatan, penyimpanan, hingga pengelolaannya yang baik dan benar. Berbicara mengenai pengelolaan limbah B3, tidak lepas juga pembahasan tentang AMDAL. Karena setiap kegiatan yang berdampak penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki AMDAL.

Limbah bahan beracun dan berbahaya, Sumber: kbeonline.id
Limbah bahan beracun dan berbahaya, Sumber: kbeonline.id

Karakteristik Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)

Limbah B3 tentunya memiliki sifat dan karakteristik tertentu yang membedakannya dari jenis limbah lainnya. Berikut ini adalah beberapa karakteristik limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), yakni antara lain:

  • Mudah Meledak. Limbah B3 memiliki sifat explosive atau mudah meledak sekalipun pada suhu dan tekanan normal. Hal ini dapat terjadi karena limbah B3 menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi melalui reaksi fisika atau kimia sederhana. Apabila tidak ditangani dengan hati-hati, maka dapat menyebabkan ledakan yang tak terduga dan membahayakan.
  • Mudah Terbakar. Limbah B3 adalah limbah berbahaya yang dapat dengan mudah terbakar (flammable) apabila terkena kontak langsung dengan udara, nyala api, dan bahan kimia lainnya. Sehingga bukan tidak mungkin dapat menyebabkan kebakaran di lingkungan sekitar.
  • Beracun (toxic). Limbah B3 merupakan jenis limbah yang mengandung zat beracun. Limbah B3 dapat menyebabkan keracunan, sakit, bahkan kematian jika terjadi kontak dengan pernapasan, kulit, atau mulut. Tidak hanya mengandung racun untuk manusia dan hewan, namun limbah B3 juga memiliki kandungan beracun yang membahayakan bagi lingkungan.
  • Korosif. Karakteristik limbah B3 selanjutnya yaitu bersifat korosif. Karena sifat yang dimiliki itulah, limbah B3 dapat menyebabkan iritasi kulit dan juga dapat menyebabkan karat pada baja.
  • Karsinogenik. Limbah B3 memiliki karakteristik dan sifat karsinogenik. Limbah ini mengandung bahan yang dapat menyebabkan sel kanker pada makhluk hidup, manusia khususnya.
Karakteristik limbah B3, Sumber: be-stylish.info
Karakteristik limbah B3, Sumber: be-stylish.info

Bagaimana Alur Pengelolaan Limbah B3?

Seperti yang sudah dijelaskan di awal, limbah B3 merupakan salah satu limbah yang memiliki tingkat bahaya paling tinggi yang membuatnya perlu dilakukan pengelolaan secara khusus. Nah, lalu bagaimana alur pengelolaan untuk limbah B3?

Sebelum dibuang, limbah B3 perlu diolah atau dikelola menggunakan metode yang sesuai dengan kandungan dari limbah B3 tersebut. Metode yang digunakan untuk pengelolaan limbah B3 bisa berupa metode kimiawi, fisika, maupun biologi.

1. Metode Pengelolaan Secara Kimiawi

Pengelolaan limbah dengan cara kimiawi dilakukan dengan bantuan bahan kimia tertentu sesuai dengan jenis dan kadar limbahnya. Pengelolaan ini dilakukan untuk menghilangkan partikel yang sulit mengendap, logam berat, senyawa fosfor, dan zat organik beracun lainnya.

Umumnya, pengelolaan limbah B3 dengan bahan kimia dilakukan menggunakan metode stabilisasi/solidifikasi. Yaitu proses mengubah senyawa kimia dengan menambah bahan pengikat atau zat pereaksi tertentu. Zat tersebut berfungsi untuk memperkecil kelarutan, pergerakan, dan penyebaran racun limbah sebelum dibuang.

2. Metode Pengelolaan Secara Fisika

Pengelolaan secara fisika dilakukan dengan cara menyisihkan bahan tersuspensi berukuran besar dan bahan yang mudah mengendap maupun mengapung. Selain itu, cara ini juga digunakan untuk menyisihkan bahan tersuspensi atau pemekatan lumpur endapan dengan memberikan aliran udara ke atas.  

3. Metode Pengelolaan Secara Biologi

Selain kimiawi dan fisika, limbah B3 juga bisa dikelola dengan cara biologi. Metode pengelolaan ini dikenal juga dengan istilah bioremediasi dan fitoremediasi. Bioremediasi merupakan pengelolaan limbah menggunakan mikroorganisme untuk mengurai limbah B3. Sementara fitoremediasi adalah pengelolaan menggunakan tumbuhan untuk mengaborsi dan mengakumulasi bahan beracun dari tanah.

Kemudian setelah dilakukan pengelolaan, barulah limbah B3 bisa dibuang. Namun dalam membuangnya pun juga tidak bisa dibuang secara sembarangan di sungai, laut, maupun tempat terbuka lainnya. Cara pembuangan limbah B3 bisa dilakukan dengan beberapa cara berikut.

Pengelolaan limbah B3 pada landfill, Sumber: money.kompas.com
Pengelolaan limbah B3 pada landfill, Sumber: money.kompas.com

4. Pembuangan Limbah B3 ke Sumur Injeksi

Cara pertama yang bisa dilakukan ialah pembuangan limbah B3 ke sumur dalam atau sumur injeksi. Pembuangan limbah ke sumur dalam dilakukan dengan cara memompa limbah melalui pipa ke lapisan batuan yang dalam.

Nantinya, limbah B3 yang dipompa ke batuan dalam akan terperangkap di lapisan tersebut. Sehingga limbah-limbah tersebut tidak akan mencemari tanah maupun air.

5. Pembuangan Limbah B3 ke Kolam Penyimpanan

Selain sumur injeksi, limbah B3 juga bisa dibuang ke kolam penyimpanan. Kolom penyimpanan ini sengaja dibuat dengan lapisan pelindung untuk menghindari kerembesan yang bisa saja terjadi. Ketika air limbah menguap, maka senyawa yang berbahaya akan terkonsentrasi dan mengendap di bagian dasar kolam penyimpanan tersebut.

6. Landfill untuk Limbah B3

Landfill atau tempat pembuangan akhir juga bisa dijadikan sebagai solusi untuk pengelolaan dan pembuangan limbah B3. Namun landfill untuk limbah B3 adalah landfill khusus dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi dan terjaga.

Umumnya, metode pembuangan ini dilakukan dengan cara memasukkan limbah B3 ke dalam drum atau tempat khusus, kemudian dikubur dalam landfill tersebut. Jika dilakukan dengan benar, maka metode pengelolaan limbah B3 dengan landfill bisa menjadi sangat efektif. 

Maka dari itu, untuk menunjang keamanannya, landfill harus dilengkapi dengan peralatan monitoring yang lengkap untuk mengawasi kondisi limbah yang ditimbun.

Itulah cara pengelolaan limbah B3 yang perlu dilakukan agar tidak mencemari lingkungan dan mengganggu kesehatan manusia. Semoga ulasan tersebut memberikan tambahan informasi dan juga manfaat bagi kita semua.

Penasaran dengan Apa Itu Maket Bangunan dan Kegunaannya? Temukan Jawabannya Disini!

Fungsi adanya maket, Sumber: kompiancur.blogspot.com

Jika Anda berada di halaman website ini, besar kemungkinan jika Anda sedang mencari informasi mengenai maket bangunan. Jika benar, maka Anda berada di halaman website yang tepat. Karena kami akan memberikan berbagai informasi menarik seputar maket bangunan.

Pengertian Maket Bangunan

Sebagian besar dari kita tentunya sudah mengenal apa itu maket, apalagi bagi mereka yang menyukai dunia arsitektur. Tetapi bagi Anda yang belum familiar, maket bangunan adalah sebuah model miniatur atau bentuk tiruan dari objek bangunan yang dibuat kecil dengan ukuran tertentu dalam model tiga dimensi.

Umumnya, keberadaan maket digunakan untuk merepresentasikan bangunan yang akan dibuat atau yang sudah jadi dengan skala dan ukuran yang lebih kecil. Maket sendiri biasanya diletakkan di dalam kaca. Dengan begitu, kita dapat melihat keseluruhan bangunan secara mudah meskipun tanpa mengamati langsung objek aslinya.

Banyak bangunan yang bisa direpresentasikan melalui maket, seperti rumah, bangunan masjid, kampus, museum, gedung perkantoran, dan masih banyak lagi. Dalam membuat maket pun nyatanya tidak bisa dilakukan secara sembarangan dengan ukuran yang asal. Ukuran maket perlu disesuaikan dengan ukuran dari gedung aslinya.

Misalnya, sebuah gedung memiliki ukuran 10 x 10 meter, maka maket tersebut idealnya juga memiliki ukuran 10 x 10 namun dengan satuan yang berbeda dari ukuran aslinya. Atau untuk mempermudah dalam mengubah ukuran asli gedung dalam sebuah maket, Anda bisa menggunakan skala 1:100.

Mengingat ukurannya yang kecil dengan segala detail yang dimiliki, maka dalam membuat maket diperlukan ketelitian yang tinggi untuk menyatukan satu elemen dengan elemen lainnya. Selain itu, ketelitian tersebut juga bermanfaat untuk menciptakan maket yang tampak lebih sempurna dan sesuai dengan realitasnya.

Mengenal maket bangunan, Sumber: sgtgrup.com
Mengenal maket bangunan, Sumber: sgtgrup.com

Bahan-Bahan Membuat Maket

Umumnya, bahan untuk membuat maket bangunan bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Namun biasanya membuat maket untuk gedung diperlukan bahan-bahan berikut ini.

  • Alas maket. Untuk alas dasar maket bangunan, pada umumnya menggunakan triplek, duplek, atau bahan lainnya yang kaku. Kemudian pada bagian alasanya dilapisi dengan styrofoam atau karpet.
  • Bahan untuk bangunan. Untuk membuat dinding atau bangunannya, bisa menggunakan bahan duplek atau kertas ivory dengan ketebalan 0,75 mm. Sedangkan untuk membuat elemen kaca pada jendela bisa menggunakan mika bening.
  • Bahan pendukung lainnya. Biasanya bahan-bahan ini digunakan untuk membuat perintilan-perintilan yang ada di sekitar bangunan. Seperti stik es krim untuk membuat pagar, miniatur pohon sintetis untuk memberikan nuansa alam seperti pada rumah adat Bali, rumput sintetis untuk membuat rumput, kardus, hingga korek api.

Apa Saja Fungsi Maket Bangunan?

Dibuatnya maket tentu bukanlah tanpa alasan. Apalagi dengan detail-detail yang kecil dan dengan tujuan-tujuan tertentu. Berikut ini adalah beberapa fungsi atau kegunaan dari maket, yakni antara lain:

1. Merepresentasikan Sebuah Bangunan Secara Visual

Fungsi utama dibuatnya maket adalah sebagai media untuk merepresentasikan sebuah gedung itu sendiri. Seringkali, gambar 2D tidak dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai sebuah bangunan. Maka dari itu, untuk mendapatkan kejelasan dan keutuhan sebuah gedung, dibuatlah maket ini.

Karena dengan keberadaan maket dapat memungkinkan kita untuk melihat keseluruhan bangunan secara mudah dan jelas meskipun tanpa mengamati dan melihat langsung objek aslinya.

2. Merepresentasikan Ide dan Konsep Bangunan

Sebelum membuat sebuah bangunan, tentu dibutuhkan ide dan konsep yang matang terlebih dahulu. Maket ini dapat digunakan untuk membantu merepresentasikan ide, konsep, dan bentuk dari proyek yang akan dibuat. Sehingga ketika akan disampaikan kepada khalayak umum, akan lebih mudah dipahami dan dimengerti.

Dengan begitu, khalayak umum juga akan lebih bisa membayangkan bagaimana rancangan bentuk properti yang nantinya akan dibangun. Selain itu, keberadaan maket dalam model 3D juga bisa membuat para arsitek mengetahui kelebihan dan kekurangan lebih jauh dari desain yang telah dibuat.

3. Media Promosi

Fungsi dari adanya maket bangunan selanjutnya yaitu sebagai media promosi yang dapat memperkuat fungsi brosur yang dapat menarik minat calon pembeli. Penggunaan maket sebagai media promosi biasanya banyak ditemukan pada perusahaan properti yang menawarkan apartemen maupun perumahan.

Nah, maket 3D digunakan sebagai media untuk memberikan informasi mengenai spesifikasi bangunan yang ditawarkan. Jika dibandingkan dengan media promosi dalam bentuk 2D, maket dengan pemodelan 3D jauh lebih efektif. Karena calon pembeli dapat melihat secara langsung desain bangunan yang ditawarkan meskipun dalam bentuk yang lebih kecil.

Dengan begitu, bukan tidak mungkin akan menumbuhkan rasa penasaran yang dapat berubah menjadi ketertarikan untuk memiliki bangunan tersebut. Sehingga dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan tersebut.

4. Sarana Pembelajaran

Selain dapat digunakan untuk kepentingan promosi, kehadiran maket juga bisa digunakan sebagai sarana pembelajaran. Misalnya ketika berkunjung ke suatu bangunan seperti museum, para pengunjung akan diberikan informasi dan pengenalan terlebih dahulu oleh pemandu mengenai museum tersebut melalui maket.

Hal tersebut dilakukan, agar pengunjung dapat lebih mengenal bagian-bagian dari bangunan sebelum memulai untuk “menelusuri” bangunan tersebut secara langsung. Selain itu, maket juga bisa digunakan untuk media pembelajaran sebagai upaya pengenalan geometri

Maket sebagai sarana pembelajaran dinilai lebih efektif karena selain mendapatkan penjelasan secara lisan, kita juga mendapatkan gambaran secara visual. Jadi, kita tidak perlu “mengawang” jauh untuk tahu bangunan seperti apa yang dimaksud. Karena kita dapat melihatnya secara langsung.

Fungsi adanya maket, Sumber: kompiancur.blogspot.com
Fungsi adanya maket, Sumber: kompiancur.blogspot.com

Jenis-Jenis Maket Bangunan

Secara umum, maket dibuat dengan berbagai jenis model. Mulai dari maket yang sederhana hingga maket yang paling rumit sekalipun. Setiap jenis maket memiliki fungsinya masing-masing. Berikut ini adalah beberapa jenis maket bangunan, yakni antara lain:

1. Conceptual Model

Sesuai dengan namanya, jenis maket yang satu ini merupakan jenis maket yang paling dasar untuk membuat sketsa gedung terutama untuk membuat sketsa awal, seperti bentuk-bentuk dasar dari gedung yang akan dibuat. Karena jenisnya yang paling dasar, sehingga membuat jenis maket ini sangat mudah untuk digunakan dan juga dibuat.

2. Working Model

Working model merupakan jenis maket yang berada satu tingkat dari conceptual model. Pada jenis ini, maket dibuat lebih rumit dari model yang sebelumnya. Mengapa lebih rumit? Karena maket dibuat lebih spesifik dalam segala aspek.

Sebut saja seperti dalam hal ukuran bangunan, bentuk, dan material yang akan digunakan. Dengan aspek yang lebih detail, akan membuat siapapun yang melihatnya menjadi lebih mudah untuk memahaminya.

3. Presentation Model

Dari kedua jenis maket sebelumnya, maket yang satu ini memiliki detail yang lebih tinggi dalam proses pembuatannya. Maket bangunan jenis ini dibuat semirip mungkin dengan bentuk aslinya tetapi dalam bentuk yang mini. Jenis maket ini biasanya digunakan untuk presentasi kepada klien atau calon pembeli bangunan.

Berbagai jenis maket bangunan, Sumber: pusatlasercutting.com
Berbagai jenis maket bangunan, Sumber: pusatlasercutting.com

Itulah sedikit ulasan mengenai maket bangunan, semoga ulasan tersebut dapat memberikan tambahan informasi untuk kita semua.

Ingin Menggunakan Pondasi Sarang Laba-Laba? Kenali Dulu Kelebihan dan Kekurangannya Berikut Ini!

Kelebihan konstruksi laba-laba, Sumber: mitrarakyat.com

Pondasi merupakan salah satu elemen penting bagi sebuah bangunan. Karena alasan itulah, pondasi perlu terbentuk dengan kuat dan kokoh. Jika pondasi kokoh, maka bangunan yang tertopang pada pondasi tersebut juga akan menjadi kokoh. Terdapat banyak jenis pondasi untuk bangunan, salah satunya adalah pondasi sarang laba-laba.

Pengertian Pondasi Sarang Laba Laba

Mungkin sebagian besar orang sudah familiar dengan konstruksi sarang laba-laba ini. Konstruksi sarang laba-laba pertama kali ditemukan oleh Ir. Ryantori dan Ir. Sutjipto pada tahun 1976 dan mulai diaplikasikan di proyek bangunan pada tahun 1978. 

Sarang laba-laba merupakan salah satu jenis pondasi bangunan dangkal yang memanfaatkan tanah sebagai bagian dari struktur bangunan. Konstruksi sarang laba-laba merupakan kombinasi antara pelat beton pipih menerus yang di bawahnya dikakukan oleh rip-rip tegak yang pipih tinggi dan sistem perbaikan tanah diantara rip-rip.

Perpaduan inilah yang menghasilkan sistem pondasi dengan kekuatan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan sistem pondasi dangkal lainnya. Dinamakan sarang laba-laba, tentu bukanlah tanpa alasan. Hal ini karena pembesian pada plat pondasi di daerah kolom memiliki bentuk seperti sarang laba-laba.

Selain itu, bentuk jaringannya juga tarik-menarik yang bersifat monolit atau berada dalam satu kesatuan. Konstruksi sarang laba-laba sendiri terdiri dari dua bagian konstruksi, yaitu konstruksi beton dan perbaikan tanah. Pada dasarnya, pondasi laba laba bertujuan untuk memperkaku sistem pondasi itu sendiri dengan cara memanfaatkan tanah pendukungnya. 

Apabila semakin kaku sebuah pondasi, maka distribusi tegangan atau stres tanah semakin merata yang dapat memberikan pengaruh terhadap kekuatan pondasi tersebut. Atau dengan kata lain, jika pondasi semakin kaku, maka pondasi akan semakin kuat.

Mengenal pondasi sarang laba-laba, Sumber: docplayer.info
Mengenal pondasi sarang laba-laba, Sumber: docplayer.info

Apa Saja Kelebihan Konstruksi Sarang Laba-Laba?

Sama halnya dengan jenis pondasi bangunan lainnya, pondasi sarang laba-laba juga memiliki berbagai keunggulan yang bisa dijadikan sebagai pertimbangan ketika membangun sebuah bangunan. Di bawah ini adalah beberapa kelebihan dari pondasi sarang laba-laba yakni sebagai berikut:

1. Sistem Pondasi yang Tahan Gempa

Salah satu kelebihan dari jenis pondasi laba-laba ini adalah sistem pondasi yang tahan terhadap gempa. Pondasi sarang laba-laba memang terkenal sebagai pondasi yang tahan terhadap gempa dan sudah teruji ketahananya.

Seperti yang kita semua tahu, Indonesia merupakan negara yang berada di jalur gempa teraktif karena dikelilingi Cincin Api Pasifik dan berada di atas tiga lempeng benua, yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik.

Dengan keadaan itulah, membuat Indonesia menjadi negara yang rawan terhadap gempa. Maka dari itu, jenis pondasi laba-laba sangat cocok diaplikasikan pada bangunan-bangunan di Indonesia.

2. Ramah Lingkungan

Ramah terhadap lingkungan merupakan salah satu kelebihan dari jenis pondasi yang satu ini. Hal ini karena dalam proses pembuatannya, pondasi laba-laba hanya menggunakan sedikit material kayu. Sehingga tidak perlu menebang banyak pohon yang dapat menyebabkan kerusakan pada hutan.

Selain itu, mengapa jenis pondasi ini disebut ramah lingkungan, karena dalam proses pembuatannya juga menghasilkan polusi udara yang lebih rendah. Atau dengan kata kata lain, ketika Anda membuat pondasi laba-laba, suara yang dihasilkan tidak menimbulkan suara bising atau berisik yang dapat mengganggu lingkungan sekitar pembangunan.

Di samping tidak menimbulkan suara bising, pembuatan pondasi sarang laba-laba juga tidak menimbulkan dampak yang dapat menyebabkan kerusakan pada bangunan lainnya.

3. Proses Pengerjaan Relatif Singkat

Pondasi sarang laba-laba juga terkenal dengan kelebihannya sebagai pondasi yang proses pengerjaannya relatif singkat. Hal ini karena pada proses pengerjaannya, konstruksi sarang laba-laba menggunakan sistem ban berjalan dan padat karya.

Sistem tersebut merupakan sistem yang sederhana dan tidak menuntut memiliki keahlian tinggi pada proses pembuatannya. Sehingga hal tersebut membuat proses pengerjaan pondasi laba-laba tidak membutuhkan waktu yang lama.

Konstruksi sarang laba-laba pada rumah, Sumber: docplayer.info
Konstruksi sarang laba-laba pada rumah, Sumber: docplayer.info

4. Memiliki Tingkat Kekakuan (Rigidity) yang Tinggi

Jika dibandingkan dengan jenis pondasi dangkal lainnya, sistem pondasi sarang laba laba mempunyai tingkat kekakuan (rigidity) yang jauh lebih tinggi. Hal inilah yang akhirnya mampu membuat konstruksi sarang laba-laba menjadi sistem struktur bawah yang sangat kaku dan kokoh yang membuatnya aman terhadap penurunan tanah maupun gempa.

Tingkat kekakuan yang dimiliki konstruksi sarang laba-laba juga membuatnya menjadi salah satu jenis pondasi dangkal yang tingkat ketahanan maupun kekuatannya patut diunggulkan. Hal ini terbukti dengan potensi pengaplikasikannya dalam pembangunan gedung-gedung bertingkat 2 hingga 10 lantai, terminal peti kemas, hingga landasan pesawat.

5. Jenis Pondasi yang Multifungsi

Pondasi sarang laba laba tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk satu kebutuhan saja. Namun lebih dari itu, plat konstruksi sarang laba-laba memiliki fungsi ganda atau multifungsi.

Selain dapat digunakan sebagai pelat pondasi, jenis pondasi ini juga dapat dimanfaatkan sebagai septic tank, bak reservoir, lantai, pondasi, kolom praktis, hingga dinding. Tentunya Anda bisa memanfaatkan sesuai dengan kebutuhan Anda.

6. Mampu Memperkecil Penurunan Bangunan

Keunggulan terakhir dari konstruksi sarang laba-laba yaitu mampu memperkecil penurunan bangunan. Hal tersebut karena konstruksi sarang laba-laba dapat membagi rata kekuatan pada seluruh pondasi dan mampu membuat tanah menjadi bagian dari struktur pondasi.

Sehingga jenis pondasi ini juga berpotensi digunakan pada tanah lunak yang memiliki potensi terhadap penurunan yang mungkin saja terjadi. Dengan begitu, kerusakan pada bangunan tersebut dapat diminimalisir. Sekalipun terjadi kerusakan, dapat menekan biaya untuk proses renovasinya.

Kelebihan konstruksi laba-laba, Sumber: mitrarakyat.com
Kelebihan konstruksi laba-laba, Sumber: mitrarakyat.com

Kekurangan Pondasi Sarang Laba-Laba

Di samping berbagai kelebihan yang dimiliki, jenis pondasi ini juga tidak luput dari kekurangannya. Di bawah ini adalah kekurangan dari konstruksi sarang laba-laba, yakni sebagai berikut:

1. Tidak Dapat Diaplikasikan Pada Kondisi Tanah Basah

Satu kekurangan dari konstruksi sarang laba-laba yaitu akan sangat sulit jika diaplikasikan pada kondisi tanah yang basah. Oleh karena itu, curah hujan yang tinggi dan terus menerus merupakan suatu kendala atau penghambat pada proses pembuatan pondasi ini.

Dimana curah hujan tersebut membuat tanah dan pasir yang merupakan bagian penting dari struktur pondasi akan menjadi lunak dan sulit untuk dipadatkan kembali. Nah, apabila tanah menjadi basah dan becek maka mobilitas kerja di lapangan pun menjadi terhambat.

Sehingga uji kepadatannya pun membutuhkan waktu pengeringan yang dapat berpengaruh juga pada proses pengerjaan yang menjadi lebih lama dari waktu normalnya.

Kekurangan pondasi laba-laba, Sumber: arsitektur.asia
Kekurangan pondasi laba-laba, Sumber: arsitektur.asia

Demikianlah ulasan mengenai konstruksi sarang laba-laba beserta dengan kelebihan dan kekurangannya. Nah, tahukan Anda selain pondasi, elemen penting lainnya untuk sebuah bangunan yaitu legalitas kelayakan pemakaian?

Sebelum digunakan, sebuah bangunan perlu ada legalitas kelayakan demi keamanan, kesehatan, kenyamanan, serta kemudahan dalam pemakaian. Mengingat pentingnya legalitas kelayakan pada bangunan, Anda perlu mengurus sertifikat SLF untuk gedung Anda pada ahlinya.Jika Anda membutuhkan konsultan SLF, maka PT Eticon Rekayasa Teknik adalah solusi yang tepat bagi Anda. Dengan tenaga ahli yang kami miliki, kami mampu menjadi partner terbaik bagi Anda. Semoga informasi tersebut dapat memberikan manfaat bagi kita.