Mengenal Berbagai Jenis Atap Bangunan, Mulai yang Tradisional Hingga yang Canggih

Atap keramik, unik bercahaya. Sumber: unsplash.com @ricardogomez

Mempelajari ilmu tentang bangunan rasanya tidak sesederhana yang dikira. Ada banyak material dan bahan pembentuk bangunan yang perlu diketahui dan dipelajari dengan seksama. Atap bangunan merupakan salah satu bagian penting dalam bangunan yang tidak bisa Anda lewatkan begitu saja. Untuk menghasilkan sebuah bangunan idaman, memilih jenis atap bangunan yang sesuai adalah satu hal yang harus dilakukan.

Mengenal Atap, Material Bangunan Cukup Important

Apa itu atap? Atap merupakan sebuah bagian dalam suatu bangunan yang berada paling atas, merupakan sebuah penutup dari suatu bangunan agar bangunan tersebut dapat terhindar dari berbagai hal yang datang silih berganti seperti hujan, salju atau yang semisalnya. 

Bila Anda amati, atap biasanya memiliki bentuk yang agak miring ke samping, meski tidak sedikit pula bangunan saat ini yang memiliki atap datar. Mengapa atap miring ke samping? Hal ini dilakukan agar benda-benda yang berada di atap seperti air dapat langsung turun dengan sendirinya. Karena itulah meski ada bangunan dengan atap yang datar, perlu dipikirkan pula bagaimana agar air di atas dapat jatuh turun ke bawah.

Atap bangunan, bagian penting yang tak bisa asal pilih. Sumber: unsplash.com @davidcashbaugh
Atap bangunan, bagian penting yang tak bisa asal pilih. Sumber: unsplash.com @davidcashbaugh

Bagian-Bagian Atap

Atap ternyata tersusun atas bagian atau komponen-komponen penting yang saling berpadu menjadi satu kesatuan. Secara umum ada tiga bagian yang membentuk sebuah atap bangunan, yaitu bagian penutup atap, rangka atap dan plafon yang ada di dalam rumah. Mari kita simak satu per satu.

1. Penutup Atap

Bila Anda menanyakan apa nama bagian atap yang paling luar, maka jawabannya adalah penutup atap. Ini merupakan bagian cukup penting dalam sebuah atap, karena kebocoran atap oleh hujan biasanya terjadi disebabkan penutup atap yang kurang tertutup dengan rapat. 

Maka dari itu, biasanya ketika pemasangan awal atap para tukang bangunan bersama tim ahlinya memastikan dengan berulang apakah penutup sudah benar-benar tertutup rapat. Ada beberapa penutup atap yang merupakan andalan dari para tukang seperti genteng asbes, tanah liat, metal, beton, baja dan lain-lain.

2. Rangka Atap

Adapun bagian atap yang tak kalah penting berikutnya yaitu rangka atap. Inilah salah satu bagian dari pada sebuah bangunan yang mana mempunyai peran strategis, yaitu sebagai penopang dari pada penutup atap. Jadi boleh dibilang, sebaik apapun penutup atap dipasang dan disiapkan, semua akan tidak ada hasilnya jika tidak ada rangka atap berkualitas yang menjaganya.

Ini menunjukkan betapa pentingnya elemen satu ini. Karenanya Anda bisa menentukan atap yang sesuai dengan situasi kondisi bangunan Anda. Beberapa atap yang bisa dipilih yaitu seperti atap baja ringan, atap kayu, atap besi, atap beton dan masih banyak lagi.

3. Plafon

Plafon bisa dibilang bagian atap bangunan yang ada di dalam ruangan alias indoor. Karena plafon ini adalah sebutan bagi langit-langit di dalam rumah yang juga merupakan bagian dari dekorasi rumah. Namun jangan dikira, meski berada di dalam rumah plafon ini merupakan salah satu bagian penting dari pembentukan atap, karena tugas plafon ini adalah sebagai penghubung antara rangka atap dengan penutup atap. 

Fungsi Atap Bangunan

Apa fungsi dari atap? Sebagai salah satu bagian terpenting dalam sebuah bangunan, tentunya atap memiliki segenap fungsi-fungsi yang menjadi pondasi dalam menciptakan kenyamanan para penghuninya. Sehingga berbicara mengenai atap sebuah bangunan tidak bicara apakah atap tersebut nantinya bisa memperindah sebuah hunian, namun apakah atap tersebut sudah memenuhi fungsinya dengan baik.

Adapun fungsi dasar atap pertama yang patut Anda ketahui ialah atap merupakan pelindung, agar sinar matahari tidak masuk secara langsung. Sudah menjadi informasi umum bahwa sinar matahari pada siang hari mengandung UV yang tidak baik bagi kesehatan kulit. Dengan adanya atap maka penghuninya akan terlindungi dan merasa betah berada dalam bangunan.

Atap juga berfungsi sebagai pelindung agar berbagai debu-debu jahat tidak bisa memasuki rumah. Tidak hanya itu, atap juga mempunyai fungsi untuk melindungi orang-orang yang ada dalam bangunan dari aneka macam hal yang datang dari atas seperti air hujan, salju, erupsi gunung merapi, hujan es dan lain sebagainya.

Dari sini sudah jelas bahwa atap memiliki fungsi utama yakni untuk melindungi segenap orang-orang yang ada di dalamnya agar terhindar dari mara bahaya dan semua yang dapat mengganggu aktivitas orang-orang pada umumnya. Karena itu, penting untuk bisa memilih atap yang tepat agar para penghuni bangunan merasa nyaman dan aman.

Berbagai Jenis Material Atap

Bila Anda amati dengan seksama, saat ini ada banyak sekali jenis material atap yang ada. Berbagai material atap ini tentunya memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda. Maka dari itu, penting mengenali jenis-jenis material atap sebelum Anda hendak membangun bangunan impian Anda.

Pertama, Atap Tanah Liat

Atap tanah liat merupakan jenis atap yang akan sering Anda temui di bangunan-bangunan saat ini. Boleh dibilang atap tanah liat ini adalah karakter atau ciri khas bangunan Indonesia sejak zaman dulu kala. Dengan sistem pemasangan saling mengunci, membuat atap tanah liat ini kuat dan saling bergantung satu dengan lainnya.

Atap tanah liat, kokoh dan tahan lama. Sumber: unsplash.com @johnkinnander. https://id.wikipedia.org/wiki/Tanah_liat
Atap tanah liat, kokoh dan tahan lama. Sumber: unsplash.com @johnkinnander

Atap jenis satu ini dibuat melalui proses pembakaran yang tidak sederhana, menjadikan atap ini memiliki kelebihan kekuatannya yang cukup kokoh dan kuat. Untuk pemasangan, atap tanah liat dipasang dengan sudut kemiringan tertentu, yang disesuaikan dengan rangka bangunan. Biasanya dengan sudut 35 derajat.

Meski kokoh dan kuat, atap jenis ini juga memiliki kekurangan. Adapun kekurangan atap ini yaitu munculnya jamur dan memudarnya warna seiring bertambahnya usia. Namun Anda jangan khawatir, karena ini semua tidak mengurangi performa yang dimiliki atap tersebut.

Kedua, Atap Keramik

Sebenarnya atap keramik ini juga berasal dari tanah liat. Yang membedakan ialah proses sentuhan akhir yang mana atap keramik ada proses finishing berupa pemberian warna glossy atau mengkilap. Karena finishing inilah atap keramik lebih tahan dengan jamur dan lumut, dengan warna yang pastinya lebih tahan lama. Namun perlu diketahui, setiap kualitas memiliki harga, begitu pula dengan atap keramik ini. Untuk rangka atap keramik dibanderol dengan harga yang tidak ramah dikantong, dengan pengerjaan yang memerlukan waktu tidak sebentar tersebab dibutuhkan ketelitian dalam pengerjaannya.

Atap keramik, unik bercahaya. Sumber: unsplash.com @ricardogomez.
Atap keramik, unik bercahaya. Sumber: unsplash.com @ricardogomez

Ketiga, Atap Seng

Jenis atap berikutnya yaitu atap seng. Atap seng ini adalah baja berupa lembaran tipis yang dilumuri oleh lapisan seng sehingga tahan terhadap karat. Jenis atap satu ini cukup banyak diminati tersebab mudah dipasang dan tak perlu ada banyak kerangka. Namun Anda juga perlu mengetahui kekurangan dari atap seng ini. Jenis atap satu ini akan mengeluarkan bunyi cukup nyaring ketika sedang tertimpa sesuatu seperti hujan dan semisalnya.

ringan tak begitu kokoh. Sumber: catbesi.com.
Atap seng, ringan tak begitu kokoh. Sumber: catbesi.com

Keempat, Atap Metal

Atap metal merupakan jenis atap yang punya bentuk hampir mirip dengan atap seng Hanya saja nanti akan ada banyak bahan dasar atap metal seperti tembaga, spandek, stainless steel, milenium dan sebagainya.Para insinyur dan ahli bangunan merekomendasikan atap metal tersebab kemampuan atap ini yang mampu melawan berbagai cuaca yang ekstrem. 

Atap seng, ringan namun tidak kokoh. Sumber: unsplash.com @ryunosuke.
Atap metal, ringan namun tidak kokoh. Sumber: unsplash.com @ryunosuke

Tidak hanya itu, untuk bobot dari atap ini sendiri cukup ringan dan mudah dalam pemasangan. Untuk ukuran, atap metal memiliki ukurang yang sedikit lebih besar dari pada atap-atap tanah liat. Besarnya sekitar 60-120 cm dengan ketebalan 0,3 mm. Salah satu atap metal yang juga banyak diminati yakni atap baja ringan.

Akhir kata, itulah sedikit pengenalan mengenai atap banguna beserta jenis-jenis atap yang beraneka ragam. Apabila Anda mempelajari atap ini lebih mendalam, akan Anda temui bahwa ada banyak macam-macam bentuk atap dengan segenap kegunaannya. Semoga bermanfaat, sampai jumpa.

Waspadai Jejak Karbon pada Bangunan yang Dapat Membahayakan Manusia dan Lingkungan!

Beton menjadi salah satu penghasil karbon. Sumber: unsplash.com @evandemicoli

Banyak yang tidak sadar bahwa ternyata aktivitas yang kita lakukan sehari-hari dapat membahayakan kelangsungan hidup bumi dan segenap makhluk hidup yang ada di dalamnya. Yap, ada banyak kegiatan sehari-hari yang berkontribusi dalam peningkatan jejak karbon di muka bumi yang menjadi cikal bakal berbagai bencana alam. Sebagai seorang warga yang baik sudah selayaknya kita menjaga bumi ini dengan cara mengurangi jumlah jejak karbon di negeri ini.

Apa itu Jejak Karbon?

Barangkali masih banyak diantara pembaca sekalian yang belum mengetahui tentang jejak karbon. Jejak karbon bisa dibilang ialah ukuran banyak sedikitnya jumlah gas emisi atau gas rumah kaca (termasuk diantaranya gas metana dan karbon dioksida) yang dihasilkan dari beragam kegiatan manusia dalam rentang waktu tertentu yang mana mempunyai dampak negatif bagi lingkungan. 

Ada banyak sekali dampak atau efek yang ditimbulkan dari jejak karbon yang semakin banyak di muka bumi, dan semuanya adalah efek negatif. Setidaknya dengan jejak karbon yang semakin meningkat menjadikan munculnya cuaca ekstrim, berbagai bencana alam, kekeringan, kurangnya pasokan air bersih, serta beragam kerusakan alam lainnya.

Berbagai Penyebab yang Ditimbulkan

Lalu mengapa jejak karbon semakin meningkat dari tahun ke tahun? Ternyata hal ini bukan karena alasan. Ada banyak sekali kegiatan sehari-hari yang biasa kita lakukan yang ternyata turut andil dalam meningkatkan jejak karbon. Sebut saja saat hendak bepergian menggunakan alat transportasi, ketika sedang menggunakan listrik untuk sekedar menyetrika, atau memakai AC di rumah.

Waspadai jejak karbon di sekitar kita. Sumber:  unsplash.com @marcinjozwiak
Waspadai jejak karbon di sekitar kita. Sumber: unsplash.com @marcinjozwiak

Berikut ini beberapa aktivitas yang paling banyak menyumbang dalam peningkatan jejak karbon yang ada.

1. Menggunakan Alat Transportasi

Sudah bisa dipastikan bahwa dalam satu hari setiap orang membutuhkan sebuah alat transportasi untuk membantu menunaikan aktivitas sehari-hari. Sehingga bila dihitung banyak sekali waktu yang dihabiskan setiap orang untuk berada di transportasi seperti mobil, bus, motor, kereta, sepeda, dan sebagainya.

Perlu diketahui dengan seksama, semua alat transportasi yang berbahan bakar minyak, disaat alat transportasi tersebut digunakan maka kendaraan itu akan memperburuk lingkungan karena menghasilkan emisi dan polusi yang akhirnya mengancam kesehatan bumi ini. Kendaraan akan menghasilkan CO2 yang ini nanti menjadi efek rumah kaca.

2. Memakai Energi Air dan Listrik 

Tidak hanya alat transportasi, listrik juga menjadi penyumbang terbesar capaian emisi karbon di bumi. Mengapa bisa? Ini karena di negeri ini sumber energi masih menggunakan bahan bakar yang cukup usang dan tak terbarukan, yaitu batu bara. Karena itulah apabila suatu listrik semakin banyak digunakan, maka secara logika semakin banyak gas emisi yang digunakan.

Untuk air bersih sendiri, perlu adanya banyak proses guna mengelola sebuah air. Adapun proses untuk menjadikan air mineral bersih dan dapat digunakan memerlukan proses yang tidak singkat, yang jikan semakin lama durasi prosesnya maka semakin banyak pula gas emisi yang dihasilkan. Karena dalam proses tersebut menggunakan energi fosil sebagai bahan bakarnya.

Maka dari itu, cobalah untuk bisa menggunakan air sebaik-baiknya, secukupnya saja. Tidak perlu berlebih-lebihan dalam menggunakan air agar air bisa awet untuk waktu yang lama sehingga tidak perlu sering melakukan proses pengelolaan air. Begitu pula dengan penggunaan listrik, gunakan seperlunya dan hemat sebisanya.

3. Limbah Makanan

Salah satu penyumbang limbah terbesar yakni makanan. Sumber gas emisi ternyata juga ada pada setiap makanan yang dikonsumsi. Proses pembuatan makanan dari hulu, yakni dari bagaimana mengekstrak bahan baku, lalu proses produksi dengan menjaga kualitas, kemudian proses distribusi yang rapi sampai sebuah produk sampai ke tangan konsumen menghasilkan gas emisi yang tidak sedikit.

Limbah makanan menjadi salah satu penyebab banyaknya jejak karbon. Sumber: unsplash.com
Limbah makanan menjadi salah satu penyebab banyaknya jejak karbon. Sumber: unsplash.com

Maka dari itu, setelah mengetahui demikian Anda bisa mengurangi keinginan untuk menjajal jajanan yang banyak limbahnya, dan juga mengurangi makanan yang berasal dari luar negeri. Mengapa bisa? Makanan dari luar negeri memerlukan proses distribusi yang cukup panjang, yang dalam proses tersebut banyak gas emisi yang dihasilkan. Karenanya jika seseorang suka mengkonsumsi makanan dari luar negeri, secara tidak langsung ia telah membantu proses peningkatan jejak karbon.

Cara Mencegah Timbulnya Jejak Karbon

Setelah mengetahui sedikit banyak tentang jejak karbon, ada beberapa yang dapat Anda lakukan untuk mencegah peningkatan jejak karbon di bumi ini.

1. Menggunakan Transportasi Non BBM

Cara pertama mencegah peningkatan jejak karbon adalah dengan mengurangi penggunaan kendaraan berbahan bakar minyak. Bila Anda ada keperluan pergi ke suatu tempat, usahakan untuk menggunakan alat transportasi non BBM seperti sepeda terlebih dahulu. BBM akan menguap dan menjadi gas emisi yang pastinya tidak baik bagi kesehatan bumi kita.

2. Transportasi Umum

Apabila Anda ingin bepergian ringan sekitar diatas satu dua jam, tentunya menggunakan sepeda akan cukup melelahkan. Karenanya, memakai transportasi umum bisa menjadi pilihan tepat. Transportasi merupakan kendaraan yang selalu menjadi kebutuhan setiap orang. Dengan transportasi umum setidaknya jejak karbon bisa diminimalisir. 

Transportasi umum menjadi pilihan tepat kurangi jejak karbon. Sumber: unsplash.com @ashgerlach
Transportasi umum menjadi pilihan tepat kurangi jejak karbon. Sumber: unsplash.com @ashgerlach

3. Bijak dalam Penggunaan Listrik

Sudah disampaikan sebelumnya bahwa ternyata penggunaan listrik dalam keseharian di rumah juga memberikan andil peningkatan jejak karbon. Agar tidak meningkat secara drastis, Anda bisa membantu mengurangi jejak karbon dengan cara memanajemen penggunaan listrik sesuai kebutuhan.

Dengan ikut melakukan berbagai upaya diatas, harapannya Anda bisa berkontribusi untuk senantiasa menjadikan bumi sehat dan berbagai bencana tidak datang melanda.

Jejak Karbon pada Bangunan

Anda jangan salah, ternyata pembuatan bangunan juga dapat menghasilkan banyak CO2 yang sangat mencemari bumi kita. Baja dan beton yang merupakan bahan utama berbagai bangunan ternyata banyak melepaskan karbon dioksida. Setidaknya produksi baja punya andil sebesar 8 persen emisi bahan bakar di bumi. Ini jelas merupakan kabar yang kurang menyenangkan.

Beton menjadi salah satu penghasil karbon. Sumber: unsplash.com @evandemicoli
Beton menjadi salah satu penghasil karbon. Sumber: unsplash.com @evandemicoli

Lantas bagaimana membangun bangunan yang baik dan tanpa polusi? Bagi Anda yang menginginkan bangunan dengan desain yang hijau dan menyehatkan, maka Anda bisa mencoba konsep desain arsitektur hijau yang tidak hanya estetik dan apik namun juga menyehatkan. 

Secara singkat konsep desain arsitektur menyehatkan ini adalah  sebuah desain yang menitik beratkan pada proses pembuatan bangunan yang tetap memperhatikan kesehatan lingkungan alias ramah lingkungan. Dimulai dari bahan bangunan yang tidak menyebabkan pencemaran lingkungan seperti kayu dan minimalisir beton juga baja, sampai kepada sirkulasi udara, dan pemberian ecogreen atau tanaman-tanaman hijau di dalam dan disekitar bangunan.

Harapannya dengan didirikannya bangunan seperti ini bisa menjadi bahan percontohan bagi masyarakat umum agar juga membangun bangunan dengan model demikian. Mudah-mudahan semakin banyak bangunan yang mengusung desain ramah lingkungan hal ini dapat turut berperan dalam menjadikan bumi sehat seperti sedia kala.

Akhir kata, jejak karbon merupakan hal sederhana yang tidak bisa dianggap sebelah mata. Karena seremeh apapun aktivitas kita ternyata punya dampak pada kesehatan bumi, yang berimbas pada kelangsungan kehidupan seluruh umat manusia. Semoga artikel ini bermanfaat, sampai jumpa.